TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 30. INGATAN KELAM(13 TAHUN SILAM)


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


Ketukan pintu yang terdengar membuat Daniel sadar dari lamunannya. Dibukanya pintu tersebut ternyata Johan yang muncul.


"Niel, ada yang perlu gue bicarakan sama lu."


"Tentang?"


" Asia."


"Kenapa?"


"Dia adalah adik Xavier."


Ingatan tentang kejadian masa lalunya mulai terputar kembali. Dirinya kembali terdiam.


FLASHBACK ON


13 tahun yang lalu,


Daniel berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadinya. Pagi ini kebetulan hujan begitu deras, pak Danu yang sedang menyetir mengendarai dengan hati-hati, laju mobilnya diperlambat agar cipratan mobil tidak mengenai orang-orang disekitar yang sedang melintas.


Pak Danu yang sedang konsen menyetir begitu juga dengan Daniel konsen bermain game. Tiba-tiba ada sebuah mobil menghadang didepan mereka, salah seorang dari mobil tersebut mengetuk keras kaca milik pak Danu.


Tok ... tok ...


Tok ... tok ...


Pak Danu enggan menurunkan kaca mobilnya, namun ketukan itu semakin kencang hingga seorang tersebut mengeluarkan pistol. Pak Danu sebenarnya tidak takut namun yang dia takutkan adalah anak majikannya, dirinya takut tidak bisa melindungi Daniel.


"Pak Danu, ada apa?" tanya Daniel dengan panik.


"Gak papa Den, tenang saja. Ini hanya orang iseng."


"Tapi mengapa mobil itu menghadang perjalanan kita dan mereka menodongkan pistol ke arah kita?"


"Den, tenang ya, berdoa."


"Gimana saya bisa tenang pak, apa yang mereka inginkan jika mereka ingin mobil dan barang-barang kita suruh mereka ambil saja,pak."


"Ia Den, saya coba keluar meladeni mereka."


"Hati-hati ya pak, diluar sedang hujan deras."


"Ingat pesan saya, jika saya kenapa-napa den Daniel ingat cara tipuan yang pernah saya ajarkan?


"Ia pak, beri pemberat pada pedal gas mobil lalu aku keluar dari mobil dan menyelamatkan diri."


"Bagus Den."


Sudah setengah jam Pak Danu belum juga kembali, Daniel berusaha menelpon kedua orangtuanya namun panggilan tidak dijawab. Berulang kali mencoba telepon namun tetap saja tak membuahkan hasil dan terdengar suara


Door ... door ... door

__ADS_1


Suara tembakan itu terdengar sebanyak tiga kali, dari dalam mobil Daniel melihat tubuh Pak Danu sudah terbujur kaku dan da**h keluar dari kepala. Melihat itu Daniel meneteskan air mata, lalu dia mulai melakukan apa yang selama ini dia pelajari dari Pak Danu. Perlahan-lahan dia keluar dari mobil dengan menggulingkan badan nya ke aspal dan naas, sebuah batu mengenai kakinya sehingga membuat kakinya terkilir.


Daniel yang tak tahu arah jalan pulang karena memang dia tadi hanya asal berjalan tak ada tujuan kemana arahnya. Dia mengikuti jalan yang menurut hatinya benar.


Disana dia melihat hutan. Dia berharap di hutan dirinya akan aman. Dengan langkah tertatih-tati Daniel berjalan menghampiri sebuah rumah yang cukup besar. Dia sama sekali tak merasakan takut karena memang rumah tersebut terlihat tidak mengerikan. Dengan berucap salam dan langkah pasti Daniel mulai melangkahkan kakinya. "Aku akan menunggu disini selama beberapa hari sampai kaki ku sembuh." batinnya. Rumah ini tidak memiliki pagar, dan dengan mudah Daniel dapat memasuki halaman tersebut. Setelah itu dia mencoba mendorong pintu rumah tersebut


Krek ... krek ....(suara pintu)


Daniel dapat memasuki rumah tersebut tanpa kendala. Kini dirinya sudah berada didalam rumah cukup besar tanpa penghuni. Tak ada rasa takut ataupun curiga pada rumah ini. Pikirannya tak dapat berfikir jernih, peristiwa pagi tadi membuatnya merasakan letih karena baru ini dia harus berjalan jauh dengan kondisi kaki yang terkilir dan tak hanya itu hatinya yang sedih melihat supir kesayangannya yang sudah dia anggap sebagai ayahnya angkatnya harus meninggal dengan kondisi luka tembak di kepala.


Daniel mulai merasakan kedinginan, karena tadi dia harus menerjang derasnya hujan. Kelelahan Daniel membuat dirinya tidur terlelap. Dalam tidurnya dia tak sengaja meneteskan air mata bukan air mata cengeng yang dikeluarkan namun air mata kehilangan seseorang.


Bugh ... bugh ... bugh ....(suara tendangan)


Dalam tidurnya dia merasakan tubuhnya begitu kesakitan seakan-akan tubuhnya sedang ditendang berkali-kali.


Bugh ... bugh ... bugh ....


Kali ini Daniel merasakan bahwa beban yang membuat tubuhnya makin berat adalah ...


belum sempat Daniel berfikir dalam tidurnya dia sudah merasakan guyuran air.


Byurr ... byurr ... byurr ....


"Woi bangun! Dasar anak manja! bangun!" bentak salah satu penculik sambil mengguyurkan air.


"Siapa kalian?"


"Salah saya apa?"


"Salah kamu karena kamu tidak mati bersama dengan supir mu yang sok itu!"


"Jadi kalian orang yang menghadang kami tadi."


"Benar sekali, dan rumah ini adalah perangkap kami juga. Kami sengaja merawat rumah ditengah hutan ini agar terlihat bagus agar tidak ada orang yang curiga bahwa kami sedang menculik dan akan membunuh kamu! Hahahaha ....."


"Mau kalian apa?"


"Kami hanya menjalankan perintah! ibumu telah memilih orang yang salah! seharusnya ibumu menikah dengan bos kami. Dan hidup bahagia dengan bos kami."


"Kalian bo*oh! itu namanya gak jodoh b*go!! untung mami gue gak mau sama bos kalian yang bodoh itu!"


"Kurang ajar!!"


"Dasar anak kurang ajar! gara-gara ibu lu nikah sama bule anaknya gak punya otak, gak ada sopan santunnya!" ucapnya sambil menendang perut Daniel hingga mulutnya mengeluarkan da*ah. Tak puas menendang perut Daniel kini mereka menampar wajah Daniel hingga Daniel mengeluarkan da*ah dari hidung."


Sekarang adalah hari ke dua Daniel diculik, selama diculik Daniel hanya diberi makan mie instan dan air putih. Setiap malam Daniel akan tinggal sendirian di rumah durjana ini. Jika siang dia akan mengalami penyiksaan dan jika malam dia akan dibiarkan kedinginan tanpa adanya cahaya lampu. Daniel pasrah dengan nasib hidupnya, ponselnya yang mati tidak bisa dihidupkan sama sekali.


Rumah tempat dirinya berada sekarang berada ditengah hutan. Dalam pikiran beberapa orang yang melintasi hutan ini akan memiliki pikiran yang bermacam-macam tentang rumah ini. Mungkin rumah ini adalah rumah seseorang yang merawat hutan karet ini, atau rumah ini hanya sebuah rumah kosong yang sengaja ditinggal pemiliknya karena rumah ini bau akan aroma pohon karet. Dari luar rumah ini tampak tidak terawat namun tetap terlihat bersih. banyak yang bilang rumah tersebut adalah rumah angker sehingga tak ada seorang pun berani menengok rumah itu, rumah tersebut tidak dilengkapi dengan pagar jadi hanya orang-orang yang bernyali saja dapat mendekat rumah tersebut.


Beruntung saat ini tidak ada penjaga sama sekali yang datang. Biasanya setiap pagi hingga sore dia akan datang.


Tepat hari ke tiga, dia mendengar suara gaduh. Didengar dari suaranya sepertinya ada dua orang.

__ADS_1


"Kakak, hari ini adalah tugasku menyadap pohon karet ini."


"Tidak bisa, Kaka juga ingin. Semakin kita rajin menyadap maka uang jajanku akan bertambah dari kakek."


"Tapi ini kan giliran ku, kak!"


Brak ...(suara barang jatuh)


"Kak, itu suara apa? sepertinya berasal dari rumah itu."


"Acha, jangan. Jangan kau dekati rumah itu. Itu rumah kosong."


"Kalau itu rumah kosong kenapa kita tidak coba singgah disana sejenak kak, kakiku capek, kak."


"Sudah istirahat lah disini kakak akan membeli minuman di seberang jalan itu.


Daniel yang mendengar percakapan itu ingin rasanya berteriak meminta tolong tapi kondisi tangan terikat, dan mulut yang tertutup oleh lakban membuatnya susah untuk berteriak.


Nasib baik menghampiri Daniel, ternyata dua orang yang didengarnya tadi adalah seorang anak bocah perempuan kira-kira masih sekolah dasar dengan kakaknya yang sepertinya sudah dewasa berumur 18 tahun. Melihat kakaknya pergi membeli minum dengan rasa penasaran bocah perempuan itu mendekati rumah dan kaget, dari jendela dia melihat ada seseorang sedang diikat dengan kondisi yang lemas.


Deg ....


"Apa yang barusan aku lihat? kenapa seperti di sinetron," monolognya.


Tanpa rasa takut bocah perempuan itu memasuki rumah tersebut dan menghampiri Daniel yang sedang terikat. Dibukanya lakban tersebut dengan cepat, lalu di bukanya tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Daniel menggunakan cutter yang sedang dibawanya.


"**--tolong saya, saya diculik." ucapnya lirih


Daniel dibantu gadis kecil keluar dari rumah tersebut dengan langkah tertatih lalu dia menyalakan api dan membakar rumah tersebut dengan korek api yang tanpa sengaja dia temukan di dekat kursinya. Daniel membakar rumah itu untuk menghilangkan jejak.


Langkahnya belum terlalu jauh, dari tempatnya memandang dia melihat mobil yang tak asing berada disitu, mobil milik Xavier. Xavier mencoba menerobos masuk rumah dengan kobaran api, tanpa memikirkan dirinya. Namun api yang semakin membesar membuat dirinya tidak dapat berbuat banyak. Tak hanya mobil Xavier yang datang namun beberapa mobil lainnya juga datang.


Dari jauh Daniel dan gadis itu melihat kebakaran yang barusan di buatnya dan mereka yang berada di lokasi tadi berusaha untuk memadamkan dengan segala keterbatasan sambil menunggu mobil Pemadam kebakaran tiba. Salah seorang yang sepertinya Bos mereka terlihat sedih, dirinya tak menyangka bahwa anaknya dengan nekat masuk kedalam rumah tersebut. Dan butuh sekitar satu jam mereka memadamkan api.


Terdengar suara terisak tangis kala seorang yang menangis itu adalah ayah dari Xavier, sedangkan Xavier tidak dapat diselamatkan karena kobaran api sudah membakar dirinya.


Daniel dan gadis kecil yang sedari tadi sembunyi mulai berdiri namun langkahnya begitu mengundang orang disekitar yang berada dirumah tersebut. Melihat Daniel yang sedang menyelamatkan dirinya diam saja. Dia yang duduk lemas meratapi kepergian anak lelakinya. Hatinya hancur, gara-gara ulahnya kini dia kehilangan anak lelakinya.


Daniel dan gadis tersebut berjalan dan beruntung kaka dari bocah itu menemukan adiknya.


"Darimana saja kamu, Kaka mencari mu kemana-kemana. Siapa dia?"


"Kakak kita tolong dia, dia tadi berada di rumah itu, dia di culik."


FLASHBACK OFF


"Daniel ... Daniel ....", panggil Johan.


Ditunggu updatenya ya readers setia ku ...🥰🥰


Jangan lupa like dan comment..


Salam sayang dari aku🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2