
Dia pikir aku akan semudah itu disentuh.
Maaf ya aku bukan Shasha yang lemah hanya karena ucapan.
Setelah bergumam seperti itu ia segera melanjutkan untuk merapikan beberapa perabot yang masih berantakan, dan seperti biasa dirinya selalu membenahi serta membersihkan bagian apapun yang dianggapnya kurang rapi dan bersih.
Selesai semuanya ia mulai masuk kedalam kamar untuk mempersiapkan materi pengajaran besok pagi di kampus. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dirinya yang masih terjaga dalam kesibukannya mendengar suara orang sedang melangkah menuju ke dapur.
Siapa yang malam-malam ke dapur?
Apa dia belum makan?
Ah biar saja, untuk apa aku peduli dengannya. Lagi pula dia sudah berumur seharusnya dia tahu apa yang harus ia lakukan jika dia lapar.
Beberapa saat kemudian terdengar langkah yang tak asing baginya, lalu mulai bersuara,
"Ayah, sedang apa?" tanya Ecka sambil mengucek-ucek matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Ecka bangun? Apa karena ayah?" tanya Daniel kaget yang melihat anaknya terbangun.
"Iya, aku takut ayah pelgi lagi." ucap Ecka lirih.
"Tidak Nak, ayah akan bersamamu selalu."
"Benalkah, ayah janji?"
"Ya, ayah janji." ucap Daniel dengan berjongkok menghampiri putranya.
Shasha yang mendengar anak dan suaminya bicara tertegun anaknya yang selama ini tampak baik-baik saja tanpa kehadiran seorang ayah ternyata sangat mengharapkan sosok ayah. Bahkan celotehan Ecka yang sama sekali belum pernah Shasha dengar sebelumnya akhirnya keluar yaitu beberapa kalimat "ayah, aku ingin ayah datang ke sekolah menemani ku, aku ingin pelgi libulan belsama ayah ibu, ayah aku ingin melakukannya semuanya belsama dengan kalian sepelti teman-temanku."
Deg
Hati Daniel dan Shasha seakan teriris saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut anaknya. Daniel merasa gagal menjadi seorang suami dan seorang ayah bagi anaknya bertekad untuk memperbaiki semuanya dan berharap agar Shasha mau menerima dirinya lagi. Sedangkan Shasha yang berada di dalam kamar menangis terisak namun ia tutup dengan bantal agar tangisannya tak terdengar.
Ecka anakku, maafkan ibu yang telah menjauhkan mu dari ayah di awal ibu yakin pasti akan mengandung.
Gara-gara rasa kecewa ibu, ibu melupakan bahwa kamu perlu sosok ayah untuk tumbuh.
Maafkan ibu yang egois dan belum bisa berdamai dengan diri ibu untuk menerima dia berada diantara kita.
Maafkan ibu yang membuatmu pura-pura tegar melihat teman-temanmu bercerita tentang ayah mereka.
***
Shasha yang sudah bangun pagi-pagi sekali seperti biasa menyiapkan sarapan pagi dan bekal yang akan dibawa Ecka ke sekolah. Sambil memasak dan menyiapkan sarapan Shasha masuk kedalam kamar untuk membangunkan jagoan kecilnya.
Ceklek
Shasha tidak melihat keberadaan suaminya, dirinya hanya melihat Ecka masih tidur pulas. Segera dirinya mendekatkan diri dan menciumi kening sang putra dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Sayang, ayo bangun. Bunda uda bikin bento kesukaan kamu."
"Iya bu, lima menit ya."
"Hem,,,ayo bangun Nak,"
"Belum ibu, ini masih dua menit." jawab Ecka sambil memejamkan mata.
"Oke, kalau begitu ibu keluar kamar dulu, ibu kembali kesini kamu harus sudah bangun ya." ucap Shasha lalu meninggalkan putranya ke dapur untuk melanjutkan membuat sarapan.
Dirasa sudah lebih dari lima menit segera Shasha kembali ke kamar untuk memastikan apakah sang putra sudah masuk ke kamar mandi.
Shasha kembali membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat Daniel sedang melepas handuk yang ia lilitkan di pinggang.
"Ahhhhh!!" teriak Shasha yang segera dibungkam mulutnya oleh Daniel.
"Kamu kenapa? Bukankah kamu pernah melihat sebelumnya."
"Jangan pernah membuka pakaianmu di depan Ecka seperti tadi!" ucap Shasha pelan namun dengan penekanan.
"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku hanya melakukannya di depanmu."
Shasha tidak menanggapi ucapan Daniel, setelah ia membalikkan badan segera dia keluar kamar.
"Apa-apaan dia, dia kira aku akan tergoda.
***
Saat ini Daniel dan Ecka sudah berada di meja makan, sedangkan Shasha masih sibuk berada di dapur. Ecka yang tahu jika ibunya sedang menyibukkan diri di dapur karena biasanya dirinya selalu ditemani sang ibu untuk sarapan pagi.
"Ayah tidak makan?" tanya Ecka.
"Nanti, ayah akan makan bersama ibu."
"Benalkah? Kalau begitu kita makan belsama saja." ajak Ecka.
"Ibu, ayo kita makan belsama." teriak Ecka kegirangan sambil berlari menuju dapur.
Shasha yang ingin menolak ia urungkan karena dirinya tak tega melihat ekspresi buah hatinya yang terlihat bahagia.
"Oke, ibu ambil piring dulu." jawab Shasha sambil mengeluarkan senyumnya yang sedikit ia paksakan untuk membuat anaknya bahagia.
Kini mereka bertiga makan bersama, berulang kali Ecka tersenyum melihat ke arah ke dua orangtuanya. Sadar dengan tatapan anaknya hati Shasha kembali merasakan perih, dirinya dilema ingin membahagiakan anaknya namun dirinya masih merasakan kepedihan dari semua apa yang telah Daniel lakukan padanya.
Daniel memandang istrinya dengan tatapan yang dalam, dia tahu jika istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Selesai makan Daniel membantu Shasha mencuci piring,
"Ay ..." panggil Daniel dengan suara lembut kepada istrinya.
__ADS_1
Shasha yang tahu bahwa dirinya sedang dipanggil pura-pura tidak mendengar. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya.
"Ay, lihat aku. Apa tidak ada kesempatan untukku?" ucap Daniel sambil memegang pundak Shashsa secara paksa agar menatap ke arahnya.
"Apa-apaan kamu, lepas!"
"Tidak! Aku ingin kamu memberiku kesempatan! Demi anak kita."
"Anak kita? Dia anakku." ucap Shasha egois.
"Bagaiamana bisa dia hanya anakmu jelas-jelas kita melakukannya bersama."
"Aku melakukannya karena untuk menolong mu."
"Ya berarti dia tetap anakku. Apa kamu tidak lihat wajah kami mirip?"
"I---iya itu kebetulan. Itu karena aku sering memikirkan mu." ucap Shasha yang terjebak dengan ucapannya sendiri.
Seketika Daniel tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Saat mereka saling memandang tiba-tiba Ecka masuk ke dalam.
"Ayah, apa yang sedang kamu lakukan kepada ibu?"
"I--ibumu rindu ingin ayah cium." ucap Daniel asal.
Mendengar itu Shasha melotot ke arah Daniel.
"Lihatlah nak, ibumu tak sabar ingin ayah cium. Apa boleh ayah menciumnya?"
"Tentu ayah, silakan."
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Daniel untuk mengobati rasa rindunya kepada sang istri.
Saat hendak mencium istrinya, Shasha pasrah. Daniel yang siap mencium istrinya merasa jika dirinya terlalu egois ia tak jadi ******* bibir istrinya yang merah. Dia hanya menempelkan bibirnya ke pipi sang istri yang mulus sambil berbisik, "Aku tidak akan memaksamu." Lalu Daniel melepas Shasha dengan lembut.
"Hole... Hole .... Ayah dan ibu baikan." ucap Ecka sambil bertepuk tangan.
"Apa kamu senang, Nak?"
"Tentu, altinya kita akan tinggal belsama-sama." sambil meloncat-loncat Ecka kegirangan.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1