
Johan segera membuka pintu kamar tersebut.
"Kamar siapa ini?" tanya Daniel dengan suara seakan menahan sesuatu.
"Lu masuk aja. Gue tinggal sebentar." ucap Johan dengan nada bahagia.
Tanpa curiga Daniel mulai masuk ke dalam.
Kenapa terasa panas semua, padahal gue di ruangan ber AC.
Saat Daniel hendak masuk ke kamar ia melihat seorang wanita yang tidur diatas tempat tidur.
****, siapa lagi ini yang ada di dalam kamar?*
Tak tahan dengan rasa panas di sekujur tubuhnya ia segera membuka satu persatu baju yang menutupi tubuhnya, jas yang tadi ia gunakan ia lemparkan begitu saja, baju kemeja yang tertutup rapi perlahan-lahan ia buka dengan paksa hingga membuat sebagian kancingnya terlepas namun ia tetap mempertahankan untuk tetap menggunakan celana panjang.
Meski jas dan kemeja sudah ia buka dirinya tetap merasakan kepanasan. Daniel yang sadar jika ada yang tidak beres dengan dirinya segera ia memilih meringkuk di pinggir tempat tidur dengan menggigit bantal sambil mendobrak-dobrak meja. Apa yang dilakukan Daniel membuat wanita yang tertidur itu menjadi terbangun.
Saat matanya terbuka dia kaget melihat wajah dan kelakuan suaminya yang terlihat ganas.
"Bie, akhirnya kamu datang." sapa Shasha dengan senyum manisnya.
"Mana Dion?!"
"Dion? Aku tidak tahu."
"Dasar wanita pembohong!" ucap Daniel dengan nada berat seakan sedang menahan sesuatu.
"Kamu kenapa, Bie? Kenapa berkata bahwa aku pembohong."
"Kamu kira aku tidak tahu kelakuanmu di belakangku! Jelas-jelas aku melihat jika kamu digendong oleh dia dan yang aku tahu kamu berada disini pasti dengan dia, bukan?"
__ADS_1
Shasha mencoba mengingat-ingat peristiwa tadi siang, ia ingat sesaat setelah dirinya jatuh dan terkilir dia bertemu dengan Dion namun ia berusaha menelfon Daniel tapi tidak diangkat hingga ia pingsan. Sesaat setelah dirinya pingsan ia tak ingat setelahnya, yang dirinya tahu sekarang dia berada di kamar hotel bersama suaminya.
"Terserah mau berkata apa? Jika engkau mencintai ku harusnya kamu tahu apa yang harus dilakukan bukan malah menghardik ku seperti ini. Aku tahu kamu bicara seperti ini karena telah melihat foto yang dikirimkan oleh mantan pacarmu itu!"
"Tak perlu kamu tahu darimana aku mendapatkan foto itu yang pasti kamu pendusta tak ada bedanya dengan dia."
Mendengar itu Shasha merasa sedih dan kecewa. Baru beberapa bulan yang dirinya diperlakukan layaknya seorang ratu oleh suaminya, namun kini malah diinjak-injak. Rasa emosi nya mulai muncul namun ia melihat suaminya yang meringkuk di pojokan dengan hanya bertelanjang dada dan menggigit bantal membuat Shasha penasaran dan mulai mendekat. Shasha menempelkan punggung telapak tangannya ke kening Daniel sambil mengelap keringat yang keluar sebesar biji jagung.
"Bie kamu kenapa?"
"Jangan hiraukan aku! Tak perlu pura-pura baik. Minggir! " bentak Daniel.
"Gak. Aku gak mau minggir!"
"Kamu pikir aku semudah itu memafkanmu? Jangan salah, aku sampai sekarang masih kecewa dengan sikapmu."
Mendengar itu hati Shasha terluka, dirinya tak menyangka bahwa Daniel masih menyimpan rasa kecewa kepada dirinya.
Shasha tahu saat ini Daniel sedang mengalami sebuah libido yang begitu tinggi karena pengaruh obat perangsang. Dirinya menduga bahwa ada seseorang yang sengaja memberikan obat perangsang kepada suaminya. Perlahan Shasha mendekati suaminya dan satu persatu ia mulai melepaskan celana yang dipakai oleh Daniel.
"Kenapa kamu membuka semuanya!" bentak Daniel.
"Diam kamu!" bentak Shasha yang tak kalah galak.
Melihat Daniel yang kekeh tak ingin menyentuh dirinya, maka Shasha segera mendekat dan mulai memejamkan mata sambil menghembuskan nafas panjang. Dalam hati ia mulai menghitung mundur.
Tiga..
Dua..
Satu..
__ADS_1
Melihat tubuh indah istrinya membuat Daniel makin tak bisa membendung ga*rahnya yang mulai panas tak terkendali. Mereka berdua yang baru pertama kali melihat tubuh masing-masing membuat Daniel semakin berga*rah. Dua gunung kembar yang indah dan matang terlihat begitu kenyal bagai jelly mulai Daniel sentuh. Terlihat permen berwarna merah muda menempel pada gunung kembar membuat nya juga tak kuasa untuk mengul*mnya.
Daniel mulai menguasai permainan, puas memainkan bagian atas istrinya ia mulai membuka lebar sebuah gua yang selama ini ia impikan, sebelum ia memasuki lorong tersebut dirinya menghujani lorong tersebut dengan lidahnya yang panjang. Shasha yang baru pertama kali merasakan pun tak kuat menahan semuanya hingga sebuah suara tak biasa keluar dari mulutnya.
Mendengar suara Shasha yang mendesah membuat Daniel semakin berga*rah. Hingga dia mulai memasukkan senjatanya ke sebuah lorong. Senjata nya yang begitu besar dan panjang membuat Shasha menjerit dan menangis kesakitan. Mendengar suara jeritan Shasha membuat Daniel kembali tertantang, ia pun mulai menyesapi leher jenjang Shasha sambil memasukkan senjata nya itu secara perlahan-lahan. Keduanya saling bergerak membuat mereka tak sanggup menahan hingga saling melakukan pelepasan.
Setelah melakukan pelepasan Daniel yang menguasai permainan mulai lelah hingga tertidur. Lain halnya dengan Shasha, setelah merasakan kenikmatan kini ada yang berbeda dengan dirinya, rasa perih mulai menghinggapi lorongnya, dirinya yang baru pertama kali merasakan senjata seorang pria kini sudah ia rasakan. Melihat Daniel yang sedang terbaring lemas membuat Shasha bahagia sekaligus sedih. Dia bahagia akhirnya bisa memberikan mahkota keperawan*nnya hanya untuk suaminya sedangkan ia bersedih karena sebuah impian yang ia inginkan adalah dapat bercinta dengan indah, dengan penuh sayang, saling bicara tidak ia rasakan tadi.
Yang ia rasakan justru Daniel yang terlihat kasar dan tidak memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang dirinya inginkan seperti layaknya suami istri yang baru menikah. Shasha yang juga mulai lemas tak sadar tertidur di sebelah Daniel.
***
Tak terasa pagi telah tiba, Shasha segera beranjak dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat berdiri dari kamar mandi Shasha merasakan perih yang begitu dalam hingga dirinya harus berjalan pelan-pelan.
Shasha segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dengan langkah pelan ia berusaha melatih cara berjalannya agar tidak terlihat aneh. Selesai membersihkan dirinya segera dirinya pergi meninggalkan Daniel dengan kondisi pagi-pagi buta.
Sebelum meninggalkan Daniel, Shasha mencium kening suaminya itu dengan lama .
Sesuaikan janjiku, aku akan pergi meninggalkan dirimu.
Maafkan aku harus meninggalkanmu,
Apa yang telah kita lakukan semalam adalah hal terindah di pernikahan kita.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.