
"Kenapa kamarmu begitu panas?" alibi Daniel untuk memecah suasana canggung diantara mereka.
"Bapak terbiasa dengan temperatur berapa?"tanya Shasha.
"18." jawab Daniel asal.
"Gila, bapak pinguin atau manusia," celetuk Shasha lirih.
"Kamu bicara apa?" ucap Daniel sambil mendelik tak percaya jika ia dikatai oleh Shasha seorang gadis yang asing baginya namun kini menjadi istrinya.
"Gak pak, saya jadi ingat pinguin, kenapa selera bapak mirip dengan pinguin?"
"Maksudnya?" tanya Daniel lagi sambil menatap Shasha tajam.
"Kamar segini bapak minta 18 derajat apa tak kedinginan?" tanya Shasha tak percaya.
"Yang pasti sekarang saya kepanasan! kalau kamu kedinginan pakai saja selimut."
Mencoba mengalah dengan sikap Daniel yang sering ingin menang sendiri, tanpa banyak bicara segera Shasha mengambil remot AC yang berada di dekat Daniel duduk.
"Mau apa kamu mendekat?" tanya Daniel heran melihat Shasha berjalan ke arahnya dan mendekati dirinya.
"Bapak kenapa panik, saya hanya mau ambil ini," tunjuk Shasha sambil menyalakan temperatur sesuai kemauan Daniel.
Daniel yang salah tingkah mencoba berdiri dan menggaruk tengkuknya lehernya yang tidak gatal.
"Aku mandi dulu, gerah." ucap Daniel sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Shasha yang tak terlalu tahan dengan hawa dingin memilih keluar kamar dan berbincang dengan kakaknya yang sedang duduk santai menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang-bintang.
Pembicaraan mereka bertiga terlihat begitu akrab, antara Shasha dan Jihan benar-benar hangat bahkan tak terlihat jika mereka adalah ipar.
Saat sedang berbicara di halaman belakang terdengar dua langkah yang berbeda, langkah tersebut adalah langkah milik pak Idris dan bu Sally. Mereka menghampiri anak dan menantunya karena penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kalian sedang apa?" tanya bu Sally sambil mengelus pundak Jihan dan Shasha.
"Bunda ...,"Jihan menoleh kebelakang diikuti oleh Shasha.
"Sedang membicarakan masa depan Bun." jawab Erza asal.
"Masa depan siapa, Nak?"
"Masa depan Shasha." ucap Erza.
"Kenapa dengan masa depan adikmu? bukannya sekarang sudah ada yang bertanggung jawab atas dirinya?"
"Erza tahu bunda. Aku dan Jihan sedang merencanakan masa depan cemerlang antara Daniel dan Shasha.
Mendengar ucapan Erza, Sally bingung dengan maksud anak pertamanya itu.
"Bunda bingung ya?" tertawa Erza renyah sambil tersenyum." Shasha sedang bertanya apa yang harus dilakukan saat malam pertama." lanjut Erza sengaja menggoda adiknya.
__ADS_1
Mendengar celetukan Erza dengan spontan Shasha mencubit kakaknya hingga membuat Erza kesakitan.
"Erza, kamu tidak pernah berubah selalu saja membuat adikmu jengkel."
"Lagian buat apa di ajari, jaman sekarang sudah canggih. Tinggal ketik d goo*e maka akan muncul semua, bukan begitu Sha?" imbuh pak Idris.
Mendengar ucapan ayahnya membuat Shasha malu. Akhirnya Shasha pun memilih untuk pamit dan kembali ke kamar.
Hoaaaam(suara Shasha menguap)
"Kalian selalu saja mengolok-olok ku. Aku kembali saja ke kamar. Perasaan tadi kita bahas healing bukan masa depan," protes Shasha sambil memajukan bibirnya.
"Hahaha ... Sha! semoga GOL ya!" teriak Erza kepada adiknya yang sedang berjalan.
Shasha yang dipanggil menoleh dan mulai membuang muka karena jengkel dengan sikap kakaknya.
Masuk ke dalam kamar seperti biasa tak ada yang berubah, namun sebuah pemandangan tak biasa muncul di atas tempat tidurnya, ia melihat Daniel yang sedang meringkuk di dalam tebalnya selimut.
"Darimana saja kamu!" kamu tak ingat saya tadi pesan sesuatu!"
"Pesan apa?"
"Kamu mau saya mati kedinginan!" omel Daniel.
"Tadi bapak tidak pesan apa-apa, mungkin bapak lupa ya! kalau dingin kan tinggal kecilkan temperatur suhunya, selesai bukan!?" ucap Shasha jengkel sambil mengambil remot AC dan mematikannya.
"Lho, kenapa dimatikan? kan jadi panas lagi!" omel Daniel lagi.
"Ya tapi jangan dimatikan, kan tinggal dikecilkan."
"Nah, tuh bapak tahu, kenapa harus ngomel-ngomel kedinginan?!"
"Iya, iya. Bajuku, bajuku ada di dalam mobil. Ambilkan ya." perintah Daniel.
"Kenapa bukan bapak sendiri, malah sembunyi dibalik selimut?"
"Kamu yakin saya yang ambil?" Daniel pun keluar dari balik selimut dan sukses membuat Shasha berteriak kencang.
"Aawww, iya pak, iya Aku aja yang ambil." ucap Shasha sambil menutup pintu kamarnya dengan cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Shasha kini berada di dalam mobil warna merah yang sedang terparkir di halaman rumahnya, segera ia membuka bagasi dan mengambil pakaian yang dimaksud Daniel.
Sebuah celana pendek santai dilengkapi dengan sebuah kaos kini sudah ada ditangan Shasha.
Tanpa mengetuk Shasha masuk kedalam kamarnya sambil membawa baju yang ada ditangannya dan segera diberikannya kepada Daniel yang masih bersembunyi didalam selimut. Belum sempat Daniel menggunakan baju terdengar ponsel keduanya yang berdering.
Daniel segera mengangkat panggilan Vidio call dari ponselnya yang berbunyi tanpa mengingat jika dirinya belum menggunakan pakaian begitu juga dengan Shasha.
Melly : "Daniel, maafkan mami harus menelpon malam-malam."
__ADS_1
Daniel : "Ada apa mi?"
Melly : "Mami sudah mempersiapkan tiket bulan madu untuk kalian."
Daniel : "Iya mi," ucap Daniel dengan nada malas.
Melly : "Kamu kenapa? kenapa wajahmu tak bersemangat begitu seperti sedang kecewa."
Daniel tidak menjawab pertanyaan Melly ia hanya mengangguk pertanda ia setuju dengan rencana Melly.
Melihat Daniel yang hanya mengangguk membuat Melly merasa jengkel.
Melly : "Kenapa hanya mengangguk?! ingat ya. Daniel kamu sudah menikah jadi perlakukan istrimu sebaik mungkin. Pernikahan tanpa undangan dan mendadak mama yakin itu adalah akal bulusmu saja agar kami menyembunyikan status pernikahan mu, bukan?!"
Daniel : "Mami, are you okay? kesalahan Daniel kan hanya mengangguk kenapa jadi meluber kemana-mana?!"
Ucapan Daniel benar bahwa ia emosi dan mulai meluber kemana-mana meskipun alasan yang Melly sampaikan tadi tentang pernikahan mendadak sebenarnya adalah benar.
Melly : "Habis kamu bikin emosi! Niel, kamu sakit?"
Daniel : "Tidak."
Melly : "Lalu mengapa harus berselimut seperti itu? mana istrimu?"
Daniel : "A--aku tak enak badan, kedinginan."
Melly : " Tak enak badan? kenapa tidak memakai baju?
Deg, ketahuan. 'Mati gue, bisa-bisa disangka gue sudah begitun' batin Daniel.
Melly : "Shasha kemana?"
Daniel : "Sepertinya dia di kamar mandi, Mi."
Melly : "Kug sepertinya? kamu sedang apa sih, Niel?"
Daniel : "Mami, please. Daniel baru memulai Mami sudah menggoda. Mami kan juga pernah muda dan menjadi pengantin baru. Jadi please jangan ganggu kami malam ini."
Mendengar Daniel emosi membuat Melly paham jika anaknya sedang melakukan ritual malam pertama.
Melly : "Baiklah, Mami tak akan menganggu." Melly tersenyum lebar sebelum mengakhiri Vidio Callnya
Sepertinya Mami salah sangka. Beberapa saat kemudian Shasha muncul dari balkon.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1