
Hari ini suasana kantor tidak seperti biasanya. Beberapa staf bagian HR-GA tampak sangat sibuk, entah apa yang sedang mereka persiapkan. Mereka mengerjakan tugasnya dengan teliti dan cekatan. Entah sebuah acara apa yang sedang dipersiapakan.
“Ada acara apa?”Sibuk amat di dalam," tanya Amanda kepada Rianda. Saat ini mereka berdua sedang melewati depan aula yang berada dilantai paling dasar tempat biasanya diadakan perlombaan antara karyawan.
”Gak tahu, mungkin mau ada lomba, tapi dalam rangka apa ya?" tanya Rianda balik.
"Gue tanya dulu ya kedalam." Manda mencoba masuk mencari informasi.
"Gimana, ada apa?" tanya Rianda yang sedang menunggu kabar dari Manda.
"Lu mau tahu jawabannya? Jawabanya RAHASIA, jengkelin banget gak sih." kesal Amanda.
"Sapa yang jawab gitu, sini gue pencet dia!" geram Rianda.
"Emang dia kutu beras lu pencet."
"Habis kesel gue."
"Yasudah, ayo naik. Di grup, Dimas bilang kalau Shasha bikin sesuatu buat kita semua." ucap Manda yang emosinya sudah reda.
Keduanya penasaran dengan kabar yang Dimas bilang tentang kejutan. Dengan segera keduanya memasuki lift yang kebetulan sedang stand by dan kosong. Sepertinya hanya tinggal mereka berdua saja yang memasuki ruang kerja.
“Tumben sepi ya? Biasanya kita nunggu beberapa kloter baru naik.”
“Ia sepi soalnya yang lain udah pada masuk dan tinggal kita berdua.” ucap Rianda yang masih kesal.
Setelah keluar dari lift, segera keduanya berjalan kearah ruangan mereka dengan langkah panjang dan cepat karena mereka masih diliputi rasa penasaran.
"Pagi semuanya," sapa Manda dan Rianda kepada semua orang yang berada di ruangan.
Saat mereka sudah masuk dan hendak duduk ke meja masing-masing, mereka mencium bau yang khas. Bau tersebut benar-benar menusuk hidung keduanya hingga membuat rasa jengkel yang dialami Rianda hilang dan beralih.
"Hemmmmm, bau sedap apa ini?" tanya Rianda.
Dengan gaya lucu keduanya ala iklan di TV, baik Rianda maupun Amanda mencari sumber bau tersebut.
"Tara ...., ketemu. Gue pilih ini, ini, dan ini." Manda menunjuk beberapa gelas kopi dengan jari telunjuknya dengan penuh kegirangan.
"Sama, gue juga. Ini, ini, dan ini." imbuh Rianda sambil bertepuk tangan kegirangan.
"Woi … woi …, jangan lu ambil semua. Itu pas jumlahnya dengan yang ada di ruangan." ucap Dimas menggoda keduanya. Dia sengaja berkata demikian untuk menggoda keduanya.
"Akhirnya gue bisa merasakan kopi buatan Shasha?" tanya Amanda.
Shasha hanya tersenyum sambil memikirkan kejadian tadi pagi di pantry. Jujur kali ini dirinya bingung harus bagaiamana, menurutnya Dion yang sekarang berubah. Dia lebih berani, padahal dulu saat mereka masih berstatus pacaran tak pernah sekalipun Dion memeluk Shasha apalagi sampai bercumbu.
Dion selalu meminta izin jika hendak menggenggam tangan Shasha, namun apa yang dia rasakan tadi pagi tidak seperti itu. Pelukan dari belakang yang dilakukan Dion membuat Shasha sedikit ketakutan dan teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika Abra hendak melecehkan dirinya.
*Apa yang harus aku lakukan jika berhadapan lagi dengan Dion,
Apa aku harus mengaku jika aku sudah menikah agar dia tak mengharapkan-ku?
Tapi aku memiliki perjanjian dengan Daniel untuk menyembunyikan status pernikahan kita, lagi pula isi perjanjian kerja kemarin sudah jelas bahwa selama satu tahun kerja tak boleh menikah. Aku gak mau kehilangan pekerjaanku ini*.
__ADS_1
"Woi, ngelamun. Mikirin apa ni?” bisik Rianda kepada Shasha.
“Kak,” jawab Shasha dengan kaget.
“Apa? Makasih ya, kopinya enak tahu. Ternyata benar apa yang pak Brata bilang benar. Kamu, hebat meracik kopi." ucap Rianda sambil menyeruput kopi."
"Kakak suka? Lain kali Shasha buatin lagi.”
Rianda pun mengangguk sambil memberikan dua jempol kepada Shasha. Begitu juga dengan Amanda.
Jam pun menunjukkan tepat jam kerja dimulai, mereka semua pun mulai bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan masing-masing termasuk Shasha. Pekerjaan Shasha belum terlalu banyak, namun ia selalu berusaha membantu para seniornya dalam mengerjakan namun tetap masih dalam pengawasan mereka semua.
Pekerjaan yang cukup banyak membuat Shasha lupa dengan kejadian pagi tadi. Tak terasa kini sudah hampir menunjukkan jam makan siang. Pak Arie yang merupakan SPV dari departemen Shasha.
“Baik rekan-rekan, saya ingin menyampaikan bahwa jam makan siang nanti kita diminta untuk memenuhi aula. Untuk makan siang tenang saja, kantor sudah menyiapkan. “
“Acara apa, pak?”
“Saya tidak tahu, kita lihat saja nanti disana.”
Mereka semua bersorak ria karena mereka dapat berkumpul jadi satu dari semua departemen.
“Oye, gue bisa ketemu si bahenol disana.” bisik Kevin kepada Dimas.
“Oye juga, gue bisa ketemu si seksi disana.” bisik Dimas yang tak mau kalah dengan Kevin.
“Hei kalian berdua, apa enaknya sih suka sama cewe bahenol dan seksi?” tanya Bu Silla, yang merupakan karyawan paling senior di departemen Shasha.
“Rasanya bu,” jawab mereka berdua dengan kompak.
“Masa iya bu? Gak papa deh bu, yang penting rasanya kalau pas adegan begituan bu pasti WAW.” Jelas Kevin.
Bu Silla yang mendengar jawaban itu hanya menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan dua anak muda tampan tersebut yang masih berusia belum genap 30 tahun.
**
Siang hari di Aula kantor.
“Mana Shasha?” tanya pak Arie kepada anak buahnya.
“Dia tak enak badan pak, tadi diantar oleh Rianda.” Jawab Sisil.
“Sayang sekali, padahal hari ini adalah hari kalian semua akan bertemu dan berkenalan dengan CEO yang selama ini menjadi teka-teki dan membuat kalian semua penasaran.” jelas pak Chandra yang merupakan manager.
Setelah beberapa karyawan terkumpul, acara pun dimulai. Seorang lelaki gagah, tampan dan berbadan tinggi memasuki ruangan. Semua karyawan terpaku saat melihatnya lelaki yang kini berdiri di depan podium.
Lelaki tersebut memperkenalkan dirinya. Semua karyawan yang berada disana dibuat kagum dan terpesona. Kini mereka mengetahui jika CEO yang selama ini menjadi misteri kini muncul di depan mereka. Dia adalah Dion Putra Agung
Semua karyawan menyambutnya dengan bahagia, termasuk pak Brata yang bangga dengan kemunculan Dion. Dalam hatinya menangis bahagia, akhirnya ia dapat memenuhi amanah almarhum adiknya. Kini diusia Dion yang pas serta kemampuan yang dimilikinya membuat kredibilitasnya tak diragukan.
Adikku Putra, kamu lihat. Anakmu sedang berada di depan. Dia memperkenalkan diri di depan semua pegawai kita.
Adikku Icha, kamu lihat. Anakmu sudah dewasa.
__ADS_1
Aku tak menyangka, bahwa aku dpat mendidik anakmu menjadi seperti ini. Kini, karirnya sejajar dengan para bisnis muda lainnya
Setelah memperkenalkan diri, Dion mempersilakan semuanya untuk kembali duduk. Dengan celingukan Dion mencari kehadiran seorang wanita yang dikenalnya. Tak ingin banyak bicara segera ia menghampiri salah satu tim resepsionis untuk melihat masing-masing karyawan.
Dilihatnya isi buku tersebut, dari atas kebawah, dari halaman pertama hingga berikutnya, tak ada nama dari karyawan yang dicarinya.
Kemana Acha? Apa dia menghindari-ku?
Dion pun meminta asistennya untuk bertanya kepada beberapa Manager siapa karyawan yang tak hadir. Pak Chandra pun dengan mengatakan bahwa ada karyawannya yang tak hadir karena sedang berada di ruang P3K kantor.
Dilihatnya nama Nesha Himalaya Ayesha membuat Dion segera keluar meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ke ruangan dimana Shasha berada. Selama perjalanan menuju ruangan Shasha, Dion merasa tak tenang.
Maafkan aku,aku tahu asam lambung-mu, pasti naik karena kaget melihatku.
Lama tak melihatmu membuatku rindu, Cha.
Perasaan ini tak akan pernah berubah sampai kapanpun.
Dion yang masih mengharapkan Shasha tak mengetahui jika Shasha telah menikah dan berniat untuk menjalin hubungan lagi dan tak akan melepaskannya.
Lamunan Dion buyar saat tak sengaja ia bertabrakan dengan Rianda.
“Maaf,” ucap Rianda.
“Tak apa.” Boleh saya tahu ruangan P3K sebelah mana ya?” tanya Dion sedikit panik.
“Bapak lurus belok kiri,” jelas Rianda.
“Oke terimakasih.
Gila, ganteng banget. Sepertinya dia bukan karyawan dilihat dari bajunya.
Apa tamu pak Brata ya?
Tapi ngapain dia ke P3K, padahal ada Shasha disana.
Ah biarkan saja, toh ruangan P3K lumayan luas, bisa digunakan lebih dari tiga orang.
Rianda yang saat ini berada di dalam toilet segera merapikan tampilannya yang dinilai berantakan. Ia pun mulai mengoleskan lipstick di bibirnya yang seksi itu.
Oke, uda cantik. Waktunya jagain Shasha.
Beberapa saat kemudian ia masuk ke ruangan P3K, disana ia harus menghentikan langkahnya dengan sangat pelan. Ia mendengar sedikit pembicaraan antara Shasha dengan seseorang. Rianda penasaran apa lelaki yang sedang ditabraknya tadi adalah lelaki yang sekarang berbicara dengan Shasha.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak