
Beberapa saat setelah kepergian Shasha, Daniel mulia terbangun. Dia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ada apa dengan diriku?
Kenapa rasanya berbeda?
Mengapa aku jauh lebih segar.
Siapa yang membawaku kemari?
Deniel berusaha mengingat -ingat peristiwa semalam apa saja yang telah ia lakukan.
Bukannya malam itu aku bertemu Asia disini? Dia berniat untuk menunjukkan kebohongan Shasha.
Tidak ... aku ingat semalam aku tidak dengannya.
Yang diingatnya adalah ia bertemu Johan di kamar mandi lalu dibawanya ke sebuah kamar.
Ya, aku ada disini. Aku dibawa oleh Johan kesini. Setelah itu aku melihat Shasha. Lalu dimana dia sekarang?
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Dilihatnya dari monitor seorang pria dengan rambut panjang kumis yang tebal.
"Siapa pria itu?"
Daniel tak kunjung membuka pintu tersebut, dari arah jasnya yang berada di lantai ia mendengar suara bergetar.
Ponsel ... itu suara ponsel gue.
Segera Daniel mengambil jas yang tergeletak di lantai lalu diambil lah ponselnya. Muncul sebuah nama yaitu "BLACK PANTHER", yang tak lain adalah Johan.
"Untuk apa, pagi-pagi begini telefon?" tanya Daniel penasaran.
Daniel: "Apa?"
Johan: "Buka!"
Daniel: "Apanya?"
Johan: "Pintunya, itu gue! Gue lagi nyamar.'
Segera Daniel melangkah menuju pintu dan membuka pintunya.
"Ngapain, nyamar?"tanya Daniel.
"Ini bedanya gue sama lu! Gue selalu penuh taktik tanpa mengedepankan emosi. Mana Shasha?" tanya Johan yang langsung masuk ke dalam dengan wajah was-was.
"Sekarang jelasin semuanya apa dan kenapa kemarin lu bawa gue ke kamar?"
Johan pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=FLASH BACK ON\=\=\=\=\=\=
Dret ....
Dret .....
__ADS_1
(suara ponsel yang bergetar)
Terlihat sebuah nama dari nomor yang pernah dia simpan sebelumnya.
Johan : " Halo,"
Dion : " Shasha, saat ini bersamaku tapi dia pingsan. Mungkin karena rasa traumanya melihatku."
Johan : "Bagaiamana bisa kamu bersamanya? Bukannya kamu berjanji untuk berhenti mencintainya dan mengikhlaskan dia bahagia bersama suaminya?" pancing Johan yang tahu sebenarnya apa yang telah terjadi dari anak buahnya.
Dion: "Apa aku harus diam jika melihat wanita yang masih ada di hatiku disakiti oleh mantan pacar suaminya dan saudara kembarnya?"
Johan: "Lalu dimana sekarang Shasha?"
Dion: "Aku menaruh dia hotel yang berada dekat dengan kantorku."
Johan: "Terimakasih. Selanjutnya serahkan padaku, aku yakin dua wanita racun itu telah mengikuti mu dan akan membuat fitnah.
Dion: "Aku sampai sekarang tidak paham kenapa mereka berdua sangat ingin Daniel dan Shasha tidak bersatu?"
Johan: "Bukannya sama denganmu?" sambil terkekeh Johan menyindir lawan bicaranya di telepon.
Dion: "Aku tidak seburuk yang kamu kira, meski aku masih menaruh besar perasaanku padanya tapi aku bukan manusia egois yang hanya memikirkan perasaanku saja.
Setelah saling memberi informasi, mereka berdua memutuskan sambungan teleponnya.
Melihat Daniel yang tidur terlelap ia segera menyusun rencana. Ternyata dugaannya benar bahwa Asia dan kembarannya berada ditempat yang sama di hotel tempat Shasha berada saat ini.
Beberapa anak buahnya bahkan sudah ia sebar untuk memata-matai semua gerak-gerik Asia dan Medi. Sebuah rencana yang ia siapkan untuk mempermalukan Shasha dan menjebak Daniel sudah ia siapkan. Namun sayangnya semua rencananya itu telah diketahui oleh Johan.
\=\=\=\=\=\=FLASH BACK OFF\=\=\=\=\=\=\=
"Dia Medi."
"Kenapa dia harus ikut andil?"
"Medi iri dengan Shasha karena Abra masih menyimpan cinta kepada Shasha."
"Untuk apa? Bukannya dia yang selingkuh dan memilih Medi hingga mereka menikah? Harusnya Abra bersyukur semua fasilitas yang ia miliki tak lain adalah milik istrinya."
"Apalah arti sebuah materi jika memiliki pendamping hidup yang angkuh, semena-mena dan tidak menghargai suami sendiri?"
"Itu adalah pilihannya.
"Kalau begitu pilihan Shasha juga sama, dia memilih pergi meninggalkan dirimu pagi ini.
"Tidak, gue rasa dia masih ada disini." sambil berdiri dari sofa ia mulai mencari keberadaan Shashsa yang menurutnya berada di kamar mandi.
"Kemana dia?" tanya Johan yang melihat Daniel dengan wajah tegang.
"Aku rasa kamu tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk melihatnya."
"Maksudmu? Dia istriku dan -."
Plak..
__ADS_1
"Dan lu tak pantas memilikinya. Lu baca ini!" ucap Johan sambil menunjukkan secarik kertas yang tadi dia ambil di bawah sofa.
Dear Pak Daniel
Aku tidak tahu harus menulis apa,
Karena aku tidak pandai menulis kata-kata.
Namun kejujuran mu semalam mengatakan bahwa kamu kecewa atas apa yang pernah aku lakukan, padahal aku sendiri tidak tahu apa aku benar-benar melakukannya.
Tapi tak apa ..lebih baik jujur meski menyakitkan daripada harus diam dan berpura pura baik-baik saja.
Semalam aku melakukannya hanya untuk menolong mu tidak lebih. Dan apa yang sudah kita lakukan anggaplah sebagai tugasku sebagai seorang istri. Selanjutnya bersikaplah biasa jika suatu saat kita bertemu.
Hubungan kita berakhir setalah engkau membaca surat ini.
Dan satu lagi, lihatlah apa yang ada di atas meja.
Aku tidak pantas menerimanya, tapi maafkan aku yang aku bawa hanya cincin yang melingkar di jariku karena aku tidak bisa melepasnya.
"Apa yang lu ucapkan kepadanya?"tanya Johan emosi.
"Ini gak nyata! Ini bagian dari rencanamu kan! Aku tahu kamu menyembunyikannya!" bentak Daniel.
"Ini tidak ada direncana ku, justru gue berharap jika kalian berdua akan kembali rukun dan segera memiliki anak!"
Mendengar ucapan anak membuat Daniel ingat bahwa semalam dia yang sudah melakukan hubungan suami istri dengan Shasha melihat jika Shashsa benar-benar merasakan kesakitan dan menjerit seketika saat ia memasukkan senjatanya ke lorong yang begitu sempit.
"Minggir!" Daniel berjalan ke arah tempat tidur dan -
"Ada apa?" tanya Johan kaget melihat sikap sahabatnya itu.
"Ada darah Jo! Artinya dia masih perawan. Dan gue yakin sebentar lagi Shasha akan hamil anak gue."
"Terlambat! Lu baca kan dia ingin mengakhiri semuanya."
"Aku tidak mau."
"Lu terlambat Daniel. Lu beg*, bukannya gue udah bilang Dion sudah mengaku bahwa ia sama sekali tak melakukan apapun tapi kenapa masih lu bahas! Wanita mana yang sanggu jika dituduh dirinya sudah tidak tersegel."
"Bantu aku mencari Shashsa, kerahkan anak buah kita."
"Mau kamu cari kemana dia?"
"Kantor Dion, gue yakin dia masih ingin bekerja disana."
"Pikiranmu memang tidak berubah! Masih saja lu mengaitkan Shasha dengan mantan kekasihnya."
"Lu cari aja sendiri, gue kesal sama lu." ucap Johan lalu pergi meninggalkan Daniel yang masih duduk memandangi surat dan sprei putih yang bernoda merah.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.