
Mengetahui istrinya yang sedang hamil mudah membuat Daniel begitu over protektif dan juga bawel. Shasha tidak keberatan, ia menyadari sikap suaminya yang berlebihan karena ini adalah pertama kalinya Daniel benar-benar menjadi seorang ayah yang siaga.
"Ay, apa kamu tidak ingin sesuatu?" tanya Daniel yang saat ini sedang duduk sambil memegang ponselnya.
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Disini diberitahu bahwa orang hamil biasanya mengalami ngidam. Ini sudah minggu ke dua belas kenapa aku tidak melihat kamu sama sekali menginginkan sesuatu."
"Tidak semua ibu-ibu hamil yang mengalaminya bisa jadi suami mereka yang mengalaminya."
"Tidak mungkin, kan yang hamil kamu, Ay."
"Ia ayah yang hamil memang ibu tapi semenjak ada adik di perut ibu sepertinya yang makan banyak dan banyak maunya ayah bukan ibu." celetuk Ecka sambil bermain.
Mendengar ucapan Ecka membuat Shasha tersenyum sambil menutupi mulutnya agar tak terlihat Daniel.
"Benar begitu? Kenapa ayah tidak merasa ya, ayah merasa normal saja." Tak percaya dengan celetukan anaknya Daniel bertanya kepada Bi' Sinta dan pak Jojo pengasuh Ecka.
"Apa benar saya lebih doyan makan dan rewel Bi' dan Pak?"
Mereka berdua hanya saling pandang, tak berani menjawab.
"Jawab saja, tidak papa." ucap Shasha.
"Maaf pak sebelumnya, apa yang dikatakan oleh den Ecka benar." ucap Pak Jojo yang diikuti anggukan Bi' Sinta.
"Kalau menurut kamu gimana, Ay?"
"Ia kamu lebih doyan makan, rewel dan bawel." ucap Shasha yang sengaja menggoda suaminya.
"Rewel dan bawel? Kenapa ada tambahan kata-kata itu?"
"Iya dan satu lagi ngam-be-kan." ucap Shasha dengan mengeja kata perkata dari kata ngambekan.
Merasa di ledek oleh istrinya, kini dirinya berdiri dari duduk dan pergi menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar.
"Ibu, apa ayah marah?" tanya Ecka takut.
"Tidak, ayah hanya ingin istirahat saja. Mungkin dia lelah kelamaan pegang ponsel."
"Harusnya ayah tidak boleh marah karena apa yang Ecka, bibi, paman dan ibu katakan itu benar."
"Ia ayahmu tidak marah, ia hanya kelelahan saja. Ibu ke dapur dulu ya mau bikin minuman untuk ayah."
Tok..!
Tok..!
Shasha masuk ke dalam kamar sambil menghampiri Daniel.
"Bie, kamu marah?" tanya Shasha sambil memegang pundak suaminya.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya tanpa menatap istrinya.
"Kamu ngambek?"
"Gak, Ay. Gak. Aku gak ngambek!" teriak Daniel kecil dengan suara manja.
Shasha yang mendengar itu menahan tawanya.
"Yasudah kalau begitu. Ini, diminum." perintah Shasha kepada suaminya.
***
Saat ini Shasha dan Ecka sedang berada di ruang bermain bersama Ecka, dirinya yang sedang makan sepiring nasi rawon kesukaannya menemani Ecka yang baru saja selesai belajar dan kini ia sedang bermain.
"Ibu...," sapa Ecka yang sedang bermain.
"Ada apa?"
"Apa yang sedang adik lakukan di dalam perut?"
"Adik sedang makan." ucap Shasha sambil menyendok makanan yang sedang ia makan.
"Benarkah? Bagaimana bisa? Bukankah adik masih bayi dan belum bisa makan sendiri? tanya Ecka heran.
"Sayang, di dalam perut bunda ada semacam selang penghubung antara ibu dan adik yang mana apapun yang ibu makan pasti adik juga akan ikut makan makanan yang ibu makan." jelas Shasha menjawab pertanyaan putranya yang mulai kritis bertanya.
__ADS_1
"Jadi apapun yang dimakan ibu adik juga ikut. Kalau begitu ibu makannya harus banyak. Dua piring."
"Kenapa begitu?"
"Karena sepiring buat ibu dan sepiring lagi buat adik agar kalian tidak lapar, kan sekarang perut ibu semakin besar artinya adik mulai tumbuh, dan makanan sehat bergizi itu perlu untuk masa pertumbuhan." jelas Ecka dengan lugu.
"Kenapa kamu meng copy ucapan ibu?"
Echa hanya meringis menanggapi ucapan ibunya.
Saat sedang berbincang dengan anaknya, Daniel tiba-tiba datang.
"Halo, jagoan ayah. Bagaimana hari ini, apa saja yang Ecka lakukan disekolah dan dirumah?" tanya Daniel sambil menggendong jagoan nya.
Ecka pun mulai bercerita tentang hari-harinya dengan begitu antusias.
"Anak ayah memang hebat." ucap Daniel.
"Ecka itu anak ayah dan ibu bukan anak ayah saja!" protes Ecka.
"Iya maksud ayah begitu. Kalau begitu Ecka main dulu ya, ayah ke kamar dulu." ucap Daniel yang pergi ke kamar tanpa menyapa istrinya.
Melihat gelagat suaminya yang aneh membuat Shasha heran.
Ada apa? Kenapa tidak menyapa ku?
Dari raut wajahnya sepertinya ia sedang ngambek.
Huh.... semenjak aku hamil kenapa kamu lebih sensitif.
"Ecka, ibu naik dulu ya mau nyiapin baju ayah."
"Iya bu."
Shasha berjalan dengan hati-hati menuju ke dapur untuk menaruh piring bekas makanannya tadi. Setelah itu ia menuju ke lift, ia untuk masuk ke dalam kamar. Dilihatnya suaminya tidak berada di kamar namun pintu kamar mandi terbuka.
"Bie ..." sapa Shasha kepada suaminya yang sedang bercermin memandangi wajahnya sendiri.
"Hem ...,"
"Kenapa lagi?"
"Maksudnya?"
"Johan bilang aku terlalu berlebihan dan sensitif."
"Sudah jangan diambil hati, mungkin tadi bang Johan hanya menggodamu."
"Tapi tadi dia juga membentakku." ucap Daniel lirih.
"Kenapa tiba-tiba di bentak?"
"Katanya aku menjengkelkan."
"Lalu?"
"Aku ingin marah tapi tidak bisa."
"Jadi kamu hanya diam dan marahnya ke aku?"
"Gak.. gak gitu aku gak suka aja dibentak."
Melihat sikap Daniel membuat Shasha tertawa dalam hati. Karena hampir setiap hari ia selalu mendengar curhatan suaminya bahwa Johan itu menjengkelkan dan keesokan harinya mereka akan kembali rukun.
Sejenak Shasha berfikir bahwa kelakuan Daniel hampir mirip dengan Johan. Seperti yang diceritakan oleh Secil semenjak kehamilan keduanya Johan lebih tegas dan tidak terlalu suka bercanda. Tak hanya itu saja Secil bercerita bahwa hampir tiap hari Johan selalu bercerita tentang sikap Daniel yang menjengkelkan dan terlalu sensitif.
Shasha dan Secil merasa jika suami mereka mengalami Couvade Syndrome. atau yang dikenal dengan sindrom kehamilan simpatik. Karena baik Shasha dan Secil sama sekali tak mengalami morning sickness, sakit punggung berlebihan, pusing bahkan moody. Justru kondisi itu dialami suami mereka di kehamilan mereka yang kedua.
"Ay, apa saat kamu hamil anak pertama kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini?"
"Iya,"
"Ternyata Tuhan itu maha adil ya, dulu kamu sendiri merasakan tanpa adanya aku disisimu sekarang aku yang merasakan semuanya. Lalu waktu hamil Ecka makanan apa saja yang kamu inginkan?"
"Aku menginginkan jajanan pinggir jalan tapi aku tahan dan untuk sehari-harinya aku lebih memilih makan yang terbuat dari kentang bukan nasi."
"Tak heran wajah dan warna korneanya begitu bule mirip denganku tapi bentuk mulut, gigi, mata dan hidung mirip sekali dengan mu. Tapi, kenapa kamu menahan untuk tidak makan jajanan pinggir jalan? Bukankah orang ngidam harus dituruti, Ay?" tanya Daniel penasaran.
__ADS_1
"Aku fokus mengumpulkan uang untuk biaya lahiran dan hidup, jadi aku tak terlalu mementingkan cemilan yang aku pentingkan adalah makanan pokok yang harus aku konsumsi serta susu untuk menambah kalsium. Dan ada satu lagi yang harus aku konsumsi yaitu sebuah vitamin yang bagiku saat itu harganya begitu mahal."
"Maafkan aku ya sayang, aku benar-benar gagal menjadi seorang suami dan ayah. Dan sekarang apa yang kamu rasakan saat itu kini aku merasakan."
"Sabar ya, ini akan berakhir saat trisemester akhir atau saat aku melahirkan kelak." jelas Shasha kepada Daniel.
Daniel mengangguk dan bersandar manja di bahu istrinya.
***
Saat ini Shasha dan Daniel berada di rumah sakit, tepatnya di ruang dokter Niko untuk melakukan kontrol wajib.
"Kandungannya sehat, berat bayi normal, lingkar kepalanya juga normal bapak dan ibu." ucap seorang dokter spesialis kandungan sambil melihat ke arah USG.
"Tolong detak jantung nya, Dok. Saya ingin mendengar nya." pinta Daniel.
Dengan perasaan haru dan ingin meneteskan air mata Daniel mendengar. Baginya ini pertama kalinya ia mendengar suara jantung buah hatinya.
"Anak bapak ibu sehat, detak jantungnya bagus."
"Syukur alhamdullilah."
"Apa bapak dan ibu masih tidak ingin melihat jenis kelaminnya?"
"Iya biar nanti saja setelah lahir karena suami saya ingin sebuah kejutan, Dok."
Daniel tersenyum sambil tanpa malu mencium Shasha yang sedang berbicara kepada dokter.
Shasha heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba mencium dirinya di depan sang dokter.
"Maaf dok, saya kelepasan. Saya bahagia dok."
"Untuk persalinannya saya usahakan normal ya Bu, dulu saat pertama kali ibu melahirkan SC dan jarak antara kelahiran anak pertama dan kedua cukup panjang yaitu lima tahun."
"Ay, bagaiamana apa tidak masalah normal?"
"Iya, aku tak masalah. Apapun cara lahirnya aku tetap merasa bahagia merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu selama hamil hingga melahirkan nanti."
Setelah mendapat jawaban, saran dan masukan serta melihat perkembangan bayi di dalam perut, kini Daniel berjalan ke tempat parkir dengan wajah berseri-seri sedangkan Shashsa hanya diam merasakan sesuatu yang entah apa yang sedang ia rasakan dan hanya ia dan dokter yang mengetahui.
"Kenapa kamu dari tadi tersenyum terus?" tanya Shasha.
"Aku bahagia sebentar lagi anak kita lahir."
"Setelah anak kita lahir tolong jaga dan rawat ya."
"Pasti sayang, itu anak kita. Anak ke dua kita. Kita jaga dan didik dia bersama ya, Ay." ucap Daniel dengan suara bahagia.
Pulang dari rumah sakit seperti biasa Daniel tidak langsung pulang, ia memilih untuk memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena ia ingin membeli jajanan pinggir jalan yang begitu menggiurkan.
"Ay, aku turun ya. Kamu mau?"
"Tidak, makanlah sayang. Melihatmu makan aku sudah merasa kenyang."
Dari dalam mobil Shasha melihat betapa bahagianya suaminya yang sedang mencoba semua makanan di setiap stand yang ada.
Di dalam mobil Shasha menyibukkan dirinya dengan membaca novel favoritnya di aplikasi noveltoon yang judulnya Remember Me, Dears. Yang mana ceritanya menguras air mata, dia yang harus kehilangan ayah sedangkan calon suaminya yang baru sadar dari komanya ternyata tidak mengenali dirinya.
Shasha yang sedang asyik membaca tak menyadari jika suaminya telah memasuki mobil.
"Ay, kenapa melihat ponsel sambil mengisi?"
"Haha, aku terlalu menjiwai saat membaca. Ceritanya seru, Bie."
"Aku kira kamu kenapa."
"Hehehe, bagaimana apa sudah puas jajannya?"
"Puas banget. Enak." ucap Daniel sambil mengelus perutnya. "Kenapa senyum-senyum?"
"Gak, aku suka aja lihat kamu makan seperti ini. Makan yang banyak ya sayang. Biar buncit." goda Shasha sambil mengelus perut Daniel.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.