
"Ayah .... Ibu ..." teriak Ecka sambil jingkrak-jingkrak.
"Anak kesayangan ayah, apa kabar?"
"Baik. Ayah dan ibu bagaiamana?"
"Ibu baik, ayah apalagi."ucap Shasha sambil berjongkok.
"Mana?" tanya Ecka sambil celingukan.
"Apanya?"
"Adik Ecka, adik Ecka." tanya Ecka bingung.
Daniel dan Shasha saling menatap berusaha mencari penjelasan dari pertanyaan jagoan nya.
"Sayang, Ehem ... Begini." Daniel berdehem sambil melanjutkan penjelasannya. "Adik Ecka masih disini, dan dia belum mau keluar." ucapnya sambil mengelus perut istrinya.
"Kenapa ayah?"
"Karena adik ingin dibelai abangnya tiap hari baru nanti dia mau muncul."
"Benarkah? Apa hanya dibelai saja?"
"Tidak, tapi ajaklah bicara dan doakan agar adik cepat keluar dan bisa bermain bersama Ecka."
"Adik, baik-baik ya di peyut. Abang beldoa agal adik sehat dan bisa cepat kelual, mainan Abang banyak. Abang sayang adik" ucap Ecka sambil mengelus dan mencium perut Shasha.
Shasha yang melihat tingkah sang putra tanpa sadar meneteskan air mata sambil tersenyum. Dirinya tak menyangka putranya yang ia besarkan seorang diri dari masih belum munculnya benih kini sudah berusia empat tahun. Tak hanya itu dirinya tak pernah membayangkan kehidupan lengkap adanya seorang suami atau ayah diantara mereka berdua.
"Ibu, kenapa menangis?" tanya Ecka tiba-tiba. "Apa tangan Ecka melukai ibu?"
"Tidak, Nak. Yang keluar ini adalah air mata bahagia. Ibu bahagia memiliki mu. Zanecka Habbie, putraku.
"Ecka juga bahagia punya ibu baik, sayang dan pintal masak jago main kayak ibu." balas Ecka.
"Jago main? Main apa?" tanya Shasha heran.
"Kata ayah ibu jago sekali mainnya, ibu bahkan bisa mengalahkan ayah." jawab Ecka tanpa tahu maksud ucapan dari sang ayah.
"Kapan ayah bilang?" tanya Shasha penuh selidik.
"Dayi satu.. dua... tujuh Minggu ayah dan ibu jalan-jalan pas bikin adik." jawab Ecka enteng sambil menghitung jari jemarinya.
Shasha yang mendengar ucapan putranya mulai melirik ke arah Daniel, merasa dilirik oleh istrinya ia pura-pura menggaruk kepala dan mulai menyingkir takut Shasha mencubitnya.
***
Setelah kepulangan nya dari honey moon, Shasha menjalani perannya menjadi seorang ibu yang mengurus anak dan suami. Ecka yang makin besar mulai bisa memahami dan mengerti apa yang boleh dan tidak dilakukan sedangkan Daniel yang makin lama makin terlihat bucin dengan sang istri jika sehari saja ia tidak melihat kehadiran Shasha.
"Ecka .... Ecka....!" panggil Daniel lembut.
"Ya ayah." jawab Ecka sambil berlari ke arah Daniel.
"Ayah bawa ini, sayang." sambil memberikan sebuah hadiah satu set Lego seri terbaru.
"Waw ... terimakasih ayah." ucap Ecka yang sekarang sudah bisa berucap huruf r.
"Sama-sama, mana ibu?" tanya Daniel sambil celingukan.
"Ibu sedang istirahat di kamar, ayah." jawab Ecka.
"Kalau gitu ayah ke kamar dulu ya, mau lihat ibu."
__ADS_1
Ecka melihat ayahnya sambil mengangguk dan memainkan Lego yang baru saja Daniel berikan.
Mendengar bahwa istrinya sedang istirahat ia sepertinya harus menahan hasratnya untuk tidak menggoda Shasha.
Dengan langkah pelan ia memasuki kamar dan saat ini sedang melihat istrinya tidak sedang istirahat melainkan sedang berada di matras dan melakukan yoga.
Kenapa sore-sore begini ia menggoda ku?
Hanya menggunakan bra sport dan legging berwarna pastel seperti itu membuat senjataku tegak paripurna.
Melihat istrinya yang sedang yoga iya memilih untuk tidak menganggu, ia hanya melepas pakaian kerja nya lalu menggantinya dengan hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan yang mengekspos dada bidang Daniel yang terlihat begitu seksi.
Shasha yang tahu jika suaminya datang ia pun segera mengakhiri kegiatannya itu.
"Bie .... Sudah datang." sapa Shasha sambil mencium tangan suaminya.
"Iya, Ay kenapa setiap kali aku pulang kerja pakaianmu selalu membuat senjataku berdiri."
"Bukan pakaiannya tapi memang kamu yang selalu mau di mainkan senjatanya." ledek Shasha.
"Hahahaha .... Makin pintar istriku. Kalau begitu boleh ya. Aku dari delapan jam tadi sudah ingin rasanya memasuki lorong gelap yang hangat itu." goda Daniel sambil menghirup aroma wangi istrinya tepat di telinga hingga membuat bulu roma Shasha berdiri.
"Bie, geli!" ucap Shasha manja sambil membelai dada bidang suaminya itu.
"Boleh ya." izin Daniel sambil menggendong Shasha ke arah matras tempat Shasha berlatih yoga tadi. "Jangan protes ya, aki inginnya disini." ucap Daniel.
Shasha yang tak dapat menghentikan hasrat suaminya hanya dapat menuruti dan memberi pelayanan terbaik untuk suaminya.
Pergulatan panjang dimulai, hampir 45 menit mereka saling menyerang mulai dari pemanasan hingga puncak dan saling mengerang satu sama lain.
Seperti biasa setelah puas ia selalu mencium perut istrinya sambil berdoa agar segera kembali hadir anak kedua mereka.
"Halo calon bayiku yang ada di dalam. Ayah, ibu dan Abang Ecka menunggumu." sambil mencium perut istrinya ia berucap dan mengusap.
"Ia ayah, aku sudah hadir." jawab Shasha yang membalas perkataan Daniel.
Melihat suaminya yang sedang bicara dengan perutnya Shasha tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan di balik matras sedari tadi.
"Bie... Lihat ini." ucap Shasha sambil mengelus rambut Daniel.
"Apa ini?" tanya Daniel penasaran.
Daniel membuka dan melihat sebuah alat, dirinya tahu jika alat tersebut untuk mengecek kehamilan atau tidak namun ia tak paham cara membacanya namun ia berusaha mengerti dengan gambar petunjuk yang ada.
"Ay... Benarkah ini?" tanya Daniel tak percaya.
Shasha tersenyum sambil mengangguk.
Spontan Daniel menggendong Shasha menuju ke tempat tidur sambil menciumi bibir, wajah hingga perut Shasha.
"Ay, anak kita akan bertambah. Makasih ya." ucap Daniel sambil menghujani ciuman pada Shasha berulang kali.
"Bie..., terimakasih nya sama sang Pencipta."
"Iya Ay, kalau itu pasti. Aku senang banget sayang."
"Sama aku juga senang banget."
Daniel mendekap Shashsa dengan begitu erat, tak henti-hentinya ia berucap syukur dan terimakasih. Dirinya tak menyangka masih diberi kesempatan untuk merawat seorang calon buah hati yang saat ini ada di dalam perut Shasha.
"Ay, ini adalah kali pertama aku akan merasakan semuanya, dulu saat Ecka lahir aku tak dapat membelainya di perut sampai kelahirannya. Kali ini aku akan bisa merasakan itu."
"Iya, kamu akan merasakannya semuanya termasuk ngidam nanti aku berharap kamu akan merasakannya."
__ADS_1
"Ngidam? Seperti apa itu?"
"Ngidam itu seperti pengen banget makan ini itu, kayak misal maunya makan mangga, belum abis mangganya maunya makan lontong kikil."
"Ah masak begitu, apa dulu Ecka begitu?"
"Ya,"
"Apa yang kamu inginkan saat itu?"
"Bukan aku yang mau,Bie. Itu keinginan si bayi. Waktu itu aku mau makanan yang terbuat dari kentang. Aku sama sekali gak bisa makan nasi."
"Oh ya?"
Daniel cekikikan mendengar cerita istrinya meski ada sedikit kesedihan menghinggapinya karena saat kehamilan pertama Shasha ia tidak berada disampingnya.
***
Tak terasa kini kehamilan Shasha sudah memasuki usia 12 Minggu. Shasha sama sekali tidak merasakan ngidam seperti yang ia bicarakan kepada Daniel sebelumnya, namun ia merasakan perubahan pada sikap suaminya yang cenderung lebih sensitif.
Baru beberapa hari kemarin Shasha sudah ke dokter untuk memeriksakan kandungannya tapi Daniel tiba-tiba menyuruhnya lagi untuk kembali memeriksa kan kandungan nya ke dokter yang sama seperti kemarin.
"Kenapa harus sekarang lagi, Bie? Ini berlebihan. Bukannya beberapa hari lalu sudah?"
"Tidak ada yang berlebihan, aku hanya ingin mengetahui keadaannya saja. Setidaknya aku ingin mendengarkan denyut jantungnya atau tendangan kakinya."
"Bie, kemarin kan sudah."
"Pokoknya aku ingin kita ke dokter sekarang!" ucap Daniel dengan nada merajuk lalu pergi meninggalkan Shasha.
Kenapa dia? tiba-tiba ngambek.
Melihat suaminya seperti itu Shasha heran, ia tak pernah melihat suaminya sensitif.
Shasha segera menyusul Daniel yang ia rasa saat ini berada di balkon kamar.
"Bie ... Sayang." panggil Shasha menghampiri suaminya.
Melihat kehadiran istrinya yang memanggil dirinya, ia pura-pura tak mendengar dan tetap fokus membaca majalah yang dipegangnya.
"Sudah jangan ngambek. Nanti gantengnya pudar, lho." goda Shasha.
"Gak usah bercanda. Aku gak suka." jawab Daniel.
"Hem, Bie sudah dunk jangan ngambek..Ayo aku sudah siap."
"Gak usah, gak jadi. Besok aja." jawab Daniel singkat tanpa melihat ke arah Shasha.
"Yasudah, kalau gitu aku berangkat sendiri saja " goda Shasha lalu pergi meninggalkan Daniel.
Melihat istrinya yang pergi meninggalkan dirinya membuat Daniel mengejar sang istri.
"Ay..!" teriak Daniel sambil mengejar Shasha yang hendak keluar dari pintu kamar.
"Apa?"
"Jangan lewat tangga. Lewat lah lift, tunggu aku. Aku ganti baju dulu."
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.