
Setelah pembicaraan yang dilakukan antara dua keluarga dan telah disepakati bahwa lusa adalah acaranya dan hanya akan dihadiri oleh keluarga inti masing-masing.
Malam hari di sebuah kamar yang luas bernuansa ungu putih warna kesukaan Shasha dimana ia sedang memandang langit-langit atap kamarnya. Apa yang tadi siang dibicarakan sama sekali membuat dirinya pusing, ia yang masih membayangkan kehidupan setelah pernikahan dengan Daniel bahagia atau sedih. Diambilnya bantal untuk menutupi wajahnya karena ia ingin berteriak kencang.
Lelah memikirkan hidupnya ia mulai mengambil ponsel dan mencoba mengotak-atik ponselnya, ia mulai membuka aplikasi novel online yang sangat mirip dengan kehidupannya dimana calon suaminya masih terjebak dengan kisah masa lalu yaitu masih menyamakan sikap mantan kekasih dengan sikap dirinya dimasa lalu.
Untuk saat ini hanya rasa benci yang muncul namun terkadang ada rasa was-was pada diri Shasha jika rasa benci Daniel pada sang mantan berubah tumbuh menjadi rasa cinta disaat mantan kekasih ingin kembali dan meminta maaf.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Shasha masih belum bisa menutup matanya meski dirinya sudah merasa lelah dan kantuk. Matanya yang sudah panas ditambah dengan ponselnya yang sudah hampir mati karena habis baterai. Dirinya beranjak dari tempat tidur.
Lagi-lagi sikap aneh Shasha muncul, yaitu ia selalu bersih-bersih jika hatinya kacau atau jengkel dengan sesuatu. Ia mulai beberes dan membersihkan bagian dalam rumah. Sebenarnya tak terlalu kotor karena Sally rutin membersihkan.
Jihan yang sedang mengandung di trimester dua sering merasa haus. Tanpa membangunkan Erza ia keluar dari kamar untuk mengambil minuman di dapur. Dia yang melewati ruang keluarga berhenti sejenak karena melihat lampu menyala dan suara orang yang sedang bernyanyi dengan suara lirih.
"Cha, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" terdengar suara Jihan dari belakang.
"Kakak belum tidur?" Shasha yang kaget menoleh kebelakang sambil menghentikan aktivitasnya.
"Sudah tapi aku haus. Kamu sedang apa malam-malam begini?" tanya Jihan lagi.
"Aku sedang beberes rumah kak, karena mata ini susah diajak tidur. Padahal aku sudah lelah." keluh Shasha menjawab sambil menguap.
"Kalau begitu kakak temani ya?" Jihan berharap bisa menemani Shasha dengan harapan bisa mengetahui isi hati adik iparnya tersebut.
"Jangan kak, kakak sedang hamil. Kakak istirahat saja." tolak Shasha halus karena tak ingin kakak iparnya kecapekan.
"Kakak tak bisa tidur, bayi di dalam ingin menemani aunty nya," rengek Jihan dengan wajah melas dan suara seperti anak kecil.
"Oke oke. Dedek diperut lagi apa?" sapa Shasha dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"Lagi duduk manis nunggu aunty beres-beres." jawab Jihan yang masih dengan suara anak kecil.
"Oia kak, bisa tolong ceritakan bagaimana awal pertemuan kak Je dan kak Erza sampai kalian menikah." tanya Shasha sambil membawa kain lap dan semprotan pembersih.
Sebelum menjawab pertanyaan Shasha dalam hati Jihan tertawa riang karena setidaknya dia akan dengan mudah mengetahui isi hati Shasha yang sebenarnya.
Dengan antusias Jihan bercerita tentang pertemuan dirinya dan Erza diselingi dengan mimik wajah Jihan yang lucu dan galak saat menirukan gaya sang suami dalam berucap.
__ADS_1
Kelucuan Jihan dalam bercerita membuat Shasha tersenyum hingga tertawa. Ia tak menyangka Erza, kakaknya bisa sebucin itu.
Selesai bercerita Jihan diam sejenak sambil menunggu Shasha yang sedang mencuci tangannya. Kini Shasha duduk disamping Jihan dengan menyandarkan punggungnya pada sofa empuk.
Jihan yang melihat Shasha kecapekan reflek mengelus bahu adik iparnya sambil berkata, " kamu hebat, aku bangga memiliki adik ipar seperti kamu." puji Jihan.
"Hebat apa kak?" Shasha penasaran dengan pujian yang diberikan Jihan.
"Kamu akan lulus di usia yang terbilang mudah dan sebentar lagi akan menikah dengan pengusaha muda yang terkenal."
"Huh ... itu karena bonus kak." Shasha menjawab dengan membuang nafas panjang.
"Bonus apa?" Jihan bertanya seakan-akan dia tidak tahu padahal selama ini ia lah yang ditugasi Melly untuk melindungi Shasha sampai dia memutuskan berhenti sementara dari kerjaannya hingga ia berjodoh dengan kakak Shasha.
"Panjang ceritanya kak." Jawab singkat Shasha.
Jihan yang pandai dalam mengorek informasi tak berhenti sampai disitu hingga akhirnya Shasha bercerita bagaimana dia dianggap menjadi seorang pahlawan.
"Iya juga ya kak kenapa aku bisa berani padahal biasanya aku takut dengan rumah tua itu jika sedang bermain disana. Saat itu aku menjadi penasaran dengan rumah tua itu kala melihat sekelebat bayangan seorang anak seusia kakak namun wajah berantakan." cerita Shasha
"Dan sekarang karena keberanianmu itu kamu berjodoh dengannya."
"Kenapa wajahmu berubah sendu?" Jihan bertanya sambil menampilkan senyum indahnya.
"Tidak, mungkin mata sudah mulai lelah kak. Oia kak, apa pernikahan tanpa cinta itu ada?"
"Pernikahan tanpa cinta jujur Kakak belum pernah tahu setahu kakak itu hanya terjadi disebuah novel dan drama film."
"Bagaiamana jika terjadi di dunia nyata kak?"
"Pertanyaanmu berat sekali. Begini Acha, cinta itu bisa dipelajari apalagi jika sampai menikah hingga memiliki anak. Memiliki anak itu kamu tahu kan bagaiamana prosesnya?"
Shasha hanya mengangguk sambil sedikit mengingat mata pelajaran biologi yang pernah gurunya ajarkan dulu.
"Apa kamu sudah membayangkan proses pembuatan anak? anak adalah hasil dari buah cinta kalian, artinya ada cinta diantara kalian."
"Tapi ada juga yang melakukannya karena nafsuh kak, bagaimana jika melakukan begitu namun yang terlintas adalah wajah orang lain." tanya Shasha serius.
__ADS_1
"Pada saatnya dia pasti akan menyesali perbuatannya. Menikah itu bukan hanya antara dua insan tapi sebuah ikatan suci yang disaksikan oleh para malaikat dan didengar oleh Yang Maha Pencipta." terang Jihan berusaha membuat adik iparnya menjadi tenang.
"Bagaiamana jika diawal menikah belum ada perasaan cinta?" tanya Shasha dengan resah.
"Belajarlah untuk jatuh cinta, cinta itu bisa dipelajari." ucap Jihan sambil tersenyum.
"Mengapa kakak tersenyum?"
"Kak Je ingat saat-saat kakakmu memaksaku untuk menikah." Jihan membayangkan saat-saat dirinya masih membenci Erza.
"Kakak tidak mencintai kakakku sebelumnya?" penasaran Shasha.
"Bukan aku saja tapi kami. Saat itu kami belum saling cinta, kami sering bertengkar jika bertemu hingga saat itu kakakmu mendapat sebuah tugas cukup lama dan disaat itu lah aku merasa tak bisa jauh dari mas Erza, dan apa yang aku rasakan pun juga dirasakannya." sebuah senyuman muncul dibibir Jihan.
"Apa sebelum bertemu kalian pernah pacaran dengan orang lain?"
"Iya. Tapi kami berdua sadar itu hanya masa lalu. Setiap orang pasti memiliki masa lalu, dan masa lalu itu yang membuat kita belajar menjadi lebih baik. Jadi jangan pernah terjebak dengan masa lalu. Karena jika kita terjebak maka masa depan kita akan terganggu."
Perkataan Jihan seakan sebuah nasehat yang menusuk hatinya. Apa yang dikatakan Jihan benar. Ia tak dapat membayangkan kehidupan yang akan dijalani nanti setelah menikah karena Daniel masih dibayangi oleh masa lalu yang kelam.
"Sekarang kakak yang bertanya. Apa kamu sungguh mencintai Daniel?" tanya Jihan hingga membuat lamunan Shasha buyar.
"Aku akan belajar mencintainya kak."
"Bagus, buat Daniel jatuh cinta kepadamu dan jangan biarkan seseorang dari masa lalu kalian masuk." ujar Jihan.
"Maksudnya kak?"
"Kalian berdua sama-sama memiliki masa lalu. Jadi jangan pernah membandingkan pasangan kita sekarang dengan pasangan di masa lalu.
Ucapan Jihan begitu mengena dihati Shasha. Baginya itu adalah sebuah jawaban dari sekian banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak