
"Sha, diantar mobil atau motor?"
"Idih gaya, yang sekarang udah bisa nyetir mobil."
"Hihihi, gaya sama sahabat sendiri gak papa kan."
"Iya-iya. Naek mobil aja ya gue pake rok span ni. Yang ada nanti gue dikira jual paha ayam gratis dunk."
"Hahahha. Gak papa kali lu dapat pahala." Secil tertawa terbahak-bahak.
"Pahala dan dosa bedanya tipis kali, Ciel."
"Yaya, ayo! Tuh sabuk pake jangan sampai kita ditilang."
"Oke bu Johan." goda Shasha sambil senyum sehingga membuat Secil tersenyum dan salah tingkah.
Di dalam mobil Shasha yang lelah ditambah matanya yang terkena AC perlahan-lahan membuat matanya menjadi sayu dan ia mulai tertidur.
Melihat sahabatnya yang tertidur membuat Secil tersenyum.
Pasti kecapekan, apa gue nanti juga gitu ya? tiap malam harus lembur sampai pagi? Haduh gila kenapa pikiranku itu aja mulai dari tadi.
Secil yang sedang menyetir berusaha untuk fokus tak memikirkan sesuatu yang menggelikan itu. Saat ini dirinya harus berhenti karena lampu yang sedang menyala merah. Secil yang merasa kesepian menyalakan radio yang populer di kalangan anak muda metropolitan. Sebuah lagi romantis menjadi lagu pertama yang menemani dirinya. Sedang enak-enaknya menikmati alunan musik matanya bergerak stereo dan dirinya melihat seorang yang dia kenal berada di dalam mobil.
"Cantik sekali wanita itu tapi dimana ya aku mengenalnya?" Secil berusaha mengingat pertemuan dirinya dengan wanita yang ada di dalam mobil tersebut.
"Ya, gue ingat dia siapa. Berarti yang disebelah itu Abra dunk. Gila itu mobil bagus banget, gue gak percaya itu mobil Abra. Masa iya itu mobil punya tuh cewe, perasaan dia gak tajir-tajir amat." ucapnya dalam hati.
Secil masih penasaran ia pun berusaha melihat siapa yang berada di kemudi mobil tersebut. Betapa kaget dirinya ternyata yang berada disitu adalah Daniel, suami sahabatnya.
Gue gak salah lihat kan? Ini gak nyata kan? Apa mata gue lagi sakit? Atau otak gue yang sakit gara-gara sekarang sering telponan lama.
Ditengah kebingungannya itu ia masih tak percaya, dirinya mencoba berfikir keras sambil melihat kembali ke mobil yang ada disebelahnya itu namun sudah tak ada karena tanpa disadarinya lampu sudah berubah hijau dan terdengar suara Tat ... Tit ... Tut ... dari arah belakang yang artinya mobil Secil harus segera jalan juga.
Mendengar suara bel yang gaduh membuat Shasha terbangun.
"Ada apa Ciel? Kenapa rame banget? Apa sudah sampai?"
"G–gak, ini mobil belakang gak sabar banget. Gak tahu apa yang nyetir ini masih amatir." bohong Secil. "Uda lu bubu aja, nanti gue bangunin kalau sudah sampai."
"Heem terharu. Pengertian banget si lu. Love u Ciel."Shasha membentuk kata love pada jarinya.
Secil hanya tersenyum melihat kekocakan sahabatnya itu.
Dalam perjalanan ke apartemen Secil masih diselimuti dengan banyak pertanyaan yang menari-nari di otaknya.
“Kurang aj*r. Dasar lelaki gak tahu diri. Masih untung sahabat gue mau sama lu. Lu itu uda tua! Jangan mentang-mentang tajir seenaknya dua-in sahabat gue.” geram Secil.
Sangking geramnya Secil ia tak sengaja menginjak gas hingga lajunya begitu kencang dan membuat Shasha terbangun dan tanpa mereka berdua sadari seorang polisi telah mengejar mereka karena menyetir dengan kecepatan terlalu tinggi.
“Ciel, lu gak ngantuk kan?”
“Lu kug kebangun, gue kekencangan ya?”
“Gak kenceng tapi banter.” ucap Shasha menggunakan bahasa Jawa. “Tuh ulah lu, ada polisi dibelakang kita.”
“Terus gimana dunk Sha, gue gak tahu harus gimana ni Sha. Gue gak bisa hadapin beginian. Apa gue kabur aja ya. Gue tancap gas ya?”
“Udah tenang aja. Nanti gue yang hadapi. Pinggirin aja mobilnya dan buka kacanya.” perintah Shasha pada Secil.
__ADS_1
Tok!
Tok!
“Selamat siang bu, bisa tunjukkan SIM dan STNK,” ucap seorang polisi kepada Secil dan Shasha.
“Ini pak,” jawab Secil sambil memberikan SIM dan STNK nya.
“Baik, surat-suratnya lengkap ya. Tapi ada kesalahan yang tadi ibu lakukan. Apa ibu tahu kesalahan ibu apa?” tanya pak polisi tersebut dengan ramah.
“Iya pak, maafkan teman saya. Tadi saya yang memintanya.” ujar Shasha.
“Kenapa ibu memintanya untuk melaju kencang. Apa ibu tak tahu jika terjadi laka bagaimana. Kalian berdua dapat celaka ataupun mencelakai.”
“Maafkan saya pak, lain kali saya tidak akan menyuruh apapun itu kondisinya.”
“Alasannya ibu apa kenapa menyuruh teman anda menaikkan gasnya?”
“Saya harus segera sampai apartemen bos saya pak untuk memasak jika tidak gaji saya bisa dipotong.”
“Kalau begitu jangan berangkat terlalu mepet. Ibu harus ingat Jakarta itu macet jadi kalau gak kejebak macet berangkat lebih awal.”
“Baik pak. Kalau begitu apa kita sudah boleh jalan?”
“Tunggu, boleh saya pinjam ponselnya?”
“Ponsel saya pak?”
“Iya kamu.” tunjuk nya ke arah Shasha.
“Untuk apa pak?” tanya Shasha.
Shasha pun memberikannya.
“Nama saya Yoga Andika, saya sudah menyimpan nama saya di ponsel kamu. Jika ada apa-apa silakan hubungi saya. Saya akan selalu berada disamping kamu.” sambil mengembalikan ponsel Shasha.
“I-iya pak. Baik terimakasih banyak ya pak.”
Segera Secil menutup kaca dan mulai kembali mengemudikan mobilnya.
“Hahahahhaha. Sepertinya dia terpesona oleh lu Sha. Dia gak tahu kalau lu uda nikah.”
“Padahal gue pakai cincin lu Ciel,”
“Kali cincin gak ngaruh. Makanya lu punya wajah jangan kecantikan dunk.”
“Ah, bisa aja. Semua wanita itu cantik Ciel.”
“Tuh polisi asli naksir lu, gue jamin bentar lagi ponsel lu bakal bergetar.”
“Hahahaha masa sih, kayaknya ponsel lu deh yang bakal bergetar bukan punya gue.”
“Kug bisa?”
“Iya yang gue kasih kan ponsel lu bukan punya gue.”
“What ?” Secil kaget. "Dasar sahabat laknat! Kalau lu gak mau digoda harusnya lu jangan bilang bos lu marah tapi suami lu yang marah." lanjut Secil.
Shasha hanya tersenyum dan mereka berdua pun melanjutkan tertawanya. Hingga tak terasa sudah sampai di apartemen.
__ADS_1
Secil pun menurunkan Shasha di depan lobi.
“Sorry ya gue gak mampir. Gue takut kalau kemalaman nyetir.”
“Oke, makasih ya. Selamat berkenalan dengan Yoga Andika ya. Hahahaha.” Shasha tertawa.
Secil yang melihat Shasha tertawa hanya dapat bergumam, “Sialan. Kenapa nasib lu kasihan banget Sha. Gue harus ketemu bang Johan buat beritahu. Setidaknya biar dia negur si kuda nil tua itu.
.
.
Di Apartemen.
Sesampai di apartemen seperti biasanya ia mulai membereskan semuanya, termasuk mengambil semua pakaian kotor Daniel dan mencucinya. Tak lupa dia juga memasak seperti biasanya. Meskipun ia sedang marah dan kecewa kepada Daniel. Yang tak dilakukan Shasha adalah menghindar dan berusaha untuk tak bertegur sapa.
Selesai semuanya ia segera mandi dan masuk ke dalam kamar untuk membaringkan tubuhnya yang lelah. Sambil berbaring seperti biasa ia membuka ponselnya untuk membaca novel online kesukaannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia pun menghangatkan makanan untuk makan malam.
Saat masih berada di dapur ia tak mendengar jika pintu sedang terbuka yang artinya Daniel sudah datang. Daniel mencium bau aroma masakan yang sedang di hangatkan oleh Shasha membuat Daniel ingin segera masuk dan menanyakan sesuatu kepada istrinya itu.
“Sha, kamu sedang masak.”
“Iya,” jawab Shasha singkat sambil masih terfokus pada kompor dan tak melihat kehadiran Daniel.
“Pagi tadi kamu kemana, kenapa pagi-pagi sekali berangkat? Bukannya kamu sudah tak ada keperluan lagi di kampus?” tanya Daniel untuk berbasa-basi sebelum bertanya ke pertanyaan inti.
“Ada keperluan.” ucapnya sambil menaruh hidangan makanan yang baru saja dipanaskan untuk ditaruh di meja makan.
“Keperluan apa? Apa tadi kamu mampir di mini market daerah X?”
“Tidak. Bapak makan dulu saya kembali dulu ke kamar.” tanpa melihat Daniel Shasha menjawab pertanyaan Daniel seadanya lalu mempersilakan suaminya untuk makan sedangkan dirinya berjalan menuju kamar.
“Tung —”
Belum sempat berbicara ia mendengar bel yang artinya sedang ada tamu datang.
Mendengar suara bel segera dimanfaatkan oleh Shasha untuk menuju ke arah pintu dan membuka.
“Halo Sha, pak Daniel ada?”
Melihat siapa yang datang membuat Shasha malas, karena memang keperluannya selalu mencari Daniel. Ia pun segera masuk dan memanggil suaminya itu.
“Ada yang mencari bapak di depan.”
“Siapa?”
“Pengagum rahasia bapak.”
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1