
Tak disangka di hari pertamanya bekerja ia dan beberapa tim-nya diminta harus lembur karena akan diadakan audit. Beruntung Shasha sudah mengisi perutnya dengan makanan pemberian dari pak Mukit yang ia makan saat
sore hari.
Namun yang ia takuti adalah bagaimana saat pulang nanti, jarak antara kantor dan apartemen yang cukup jauh, dirinya tak biasa naik kendaraan umum saat malam hari, tak hanya itu ia yang biasanya menyiapkan makan malam untuk suaminya kali ini harus absen.
.
.
Siang hari, di kantor milik Daniel.
“Jo, sampai kapan misi ini berakhir?” Daniel mendengus kesal merasa tersiksa dengan keadaan yang ada.
“Kenapa tanya ke gue? Lu tanya ke diri lu. Sebelum terjadi kesalahpahaman antara lu dan Shasha.”
“Lu yakin Shasha gak tahu?”
“Gak, gue paham sifat Shasha. Dia tipe wanita yang tak suka ribut.”
“Jadi menurut lu dia tahu jika aku dan Asia sering jalan bareng?”
“Ya, gue yakin dia tahu.”
“Apa yang bikin lu yakin?”
“Hem ..., Apa sifatnya ada yang berubah setelah kedatangan Asia?”
“Iya, beberapa hari ini dia cenderung dingin, tak mau menatapku jika bicara, bahkan ia tak lagi menggodaku.”
Mendengar kata-kata menggoda membuat Johan tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahahahha, jadi lu suka digoda.”
“Apaan sih gue serius nih. Terus apa pacar baru lu itu gak cerita apa-apa ke lu?”
“Cerita. Kemarin sore saat nganterin Shasha pulang ke apartemen dia ngelihat lu dan Asia berada di dalam mobil dan beruntung saat itu Shasha sedang tidur di mobil." "Gara-gara dia ngelihat kalian berdua gue kena imbasnya. Tiba-tiba dia marah-marah gak jelas waktu kita sedang enak-enak ngobrol. Dia minta supaya gue nasehatin lu biar lu tobat. Gak hanya itu ia minta agar lu di ruqyah.” ucap Johan berlebihan.
“Emang gue kesetanan pakai di ruqyah. Sialan! Dasar anak ingusan.”
“Siapa yang lu bilang ingusan? Cewe gue? Dia itu benar, lu kan memang ketempelan setan cewe.”
“Iya juga ya.” seketika Daniel sadar. “Tapi Jo, kali ini gue benar-benar bingung harus gimana? Lu tahu kan hubungan sebenarnya gue dan Shasha.”
Johan hanya mengangguk.
“Lu bersuara dunk jangan mengangguk-angguk kayak kakak tua aja.”
“Iya gue tahu, pura-pura ya kan?”
“Iya, dan sekarang gue ngerasa gak mau kehilangan Shasha. Apa lebih baik gue hamilin dia dulu ya biar dia gak diambil lelaki lain.”
“Lebih baik jangan Niel, kasihan Shasha. Selesaikan misi lu dulu. Gue yakin Shasha tipe wanita setia. Sejengkel-jengkel nya dia sama lu dia tetap tahu kodratnya jika dia wanita yang sudah menikah.”
“Gue rasa juga begitu. Cuman kadang-kadang godaan selalu datang Jo.”
“Paham gue, emang nafsuh lu gede.”
“Sialan lu, emang lu gak!”
“Sama kali, gue aja gak tahan lihat Secil. Gue heran sama circle pertemanan kita. Gue dan Arden harus jatuh cinta sama sahabat istri lu.
Ini kan amazing banget Niel.”
“Biasa aja kali, di novel-novel pada umumnya juga gitu.” “Oya Jo, lu tahu gak, kemarin ada seseorang yang kirim bunga buat bini gue.
Bunga anyelir warna merah muda.”
“Anyelir merah muda, artinya ia sangat mengagumi istri lu.”
“Iya, gue uda cari di Internet. Lu bisa bayangin kan Jo, gimana perasaan gue ngelihat istri gue nerima bunga dari lelaki.”
__ADS_1
“Gue lebih bayangin perasaan Shasha, gimana jika ia ngelihat lu dan Asia berjalan mesra tapa lu beritahu alasan sebenarnya mengapa lu ngelakuin itu.”
“Gue dilema Jo, jika gue bilang alasan gue ngelakuin itu gue takut dia gak bisa nerima gue karena gue pernah tidur bareng wanita sinting itu.”
“Yasudah, berati lu boleh cemburu tapi lu jangan marah sama Shasha terlalu jika ada seseorang yang mengagumi Shasha dan jika ia juga tak mengakui hubungan pernikahan kalian di depan umum."
Saat sedang enak-enaknya berbicara , telepon Daniel berdering, telepon tersebut dari resepsionis bahwa ada seorang wanita yang nekat ingin bertemu dengan dirinya. Mendengar laporan itu ia yakin jika wanita itu tak lain adalah Asia.
Belum sempat Daniel menutup telepon antara dirinya dengan resepsionisnya ia dikejutkan dengan kedatangan Asia.
“Apa-apaan resepsionis-mu melarang aku datang!” sambil menghampiri Daniel dan bergelayut manja ia hendak duduk di pangkuan Daniel.
Daniel yang tahu jika Asia akan duduk di pengakuannya segera berdiri dan hendak mengambil rokok yang ia taruh di dekat Johan duduk.
Asia mendengus kesal melihat kelakuan Daniel yang lebih
memilih duduk di dekat Johan ketimbang memangku dirinya.
“Kenapa kamu kesini? Bukannya aku sudah memberikan kartu itu padamu.”
“Iya tapi rasanya hampa jika hanya kartu tak ada kamu disisiku.” bohong Asia.
“Pret,” ucap Daniel dan Johan dalam hati.
"Kamu tak seharusnya datang kesini. Bagaimana jika orang melihat dan melaporkannya ke orangtuaku?"
"Bagus dunk, biar kita dinikahkan." jawab Asia
enteng.
"Dari dulu lu memang sinting. Lu gak tahu sekarang Daniel sudah nikah!" jelas Johan tegas.
"Tahu, Daniel tidak mencintai istrinya yang dia cinta cuman aku. Gue yakin Daniel tak akan pernah menyentuh istrinya."
"Sok tahu lu! Emang lu punya bukti?"
"Mudah, buktinya sampai sekarang wanita itu belum juga hamil bukan?"
"Cukup, gue pusing dengar kalian berdua berdebat." kesal Daniel yang sebenarnya jengkel dengan kehadiran Asia.
"Asal lu tahu aja wanita yang lu benci dan lu anggap buruk itu lebih setia."
"Setia? Lu belum lihat aja kelakuan asli dia. Suatu saat gue akan tunjukkan kalau wanita yang lu banggain itu ternyata sebaliknya."
Mendengar ancaman Asia membuat Daniel dan Johan tersentak kaget.
"Awas saja jika lu berani sentuh Shasha, lu bakal berhadapan sama gue." ancam Johan keras.
"Sayang kamu lihat. Sepertinya Johan suka dengan istri bohongan mu." ucap Asia berusaha memprovokasi Daniel.
Daniel tetap santai dengan ucapan Asia tentang Johan, justru yang dia takuti ucapan dari mantan kekasihnya itu. Dirinya tak bisa
membayangkan apa yang akan ia lakukan jika melihat istrinya berpaling.
“Sayang, mengapa kamu diam?”
“Aku sedang memikirkan meeting hari ini.”
“Aku kira hari ini kita akan jalan-jalan lagi,” sambil
memajukan bibirnya dan berbicara manja.
Mendengar mantan pacar dari sahabatnya itu berbicara membuat
Johan merasa muak dan hendak keluar dari ruangan.
“Jo, mau kemana kamu?” teriak Daniel.
Johan tak menjawab dia hanya mengisyaratkan jarinya bahwa dirinya hendak menelfon.
Sialan Johan, gue ditinggalin sendirian disini.
__ADS_1
Daniel yang memang tak ingin banyak bicara dengan Asia memilih untuk tetap diam dan sambil membaca dokumen yang ada di tangannya sambil menghisap rokok yang tadi sempat dia sulut.
Sedangkan Asia sibuk memainkan ponselnya, hingga tak lama kemudian ia berpamitan kepada Daniel setelah menerima pesan singkat dari seseorang.
“Sayang, aku pulang dulu ya, sepertinya kamu sedang sibuk. Jika kamu ingin bertemu hubungi aku dulu ya takutnya aku tak ada di apartemen.”
“Oke.” sambil membalas lambaian tangan Asia.
Hah, akhirnya keluar juga dia dari ruangan ini. Dasar wanita sinting berani-beraninya dia nekat masuk ke kantor ini. Bagaimana jika sampai Dady dan Mami tahu, sepertinya aku
harus mempersiapkan jawaban yang tepat.
.
.
Siang hari di sebuah restoran.
“Sorry, telat. Gue tadi kena macet.” Ucap Asia kepada seorang lelaki dengan badan tegap mirip seorang body guard namun wajahnya begitu tampan. “Jadi gimana, apa dia mudah untuk ditaklukkan?”
“Maaf, sepertinya aku mundur. Aku tak bisa membantumu.”
“Kenapa? Apa bayaran yang aku berikan kurang?”
Lelaki tersebut menggelengkan kepalanya.
“Lalu karena apa? Apa alasanmu tak bisa membantuku?”
“Karena masalah hati, aku takut jatuh cinta dengannya.”
“Itu bagus jika kamu jatuh cinta dengannya, setidaknya kamu bisa membuat dia meninggalkan suaminya.”
“Kamu gila! Kenapa kamu tega dengannya?”
“Gara-gara dia aku kehilangan kakakku.”
“Kakakmu yang mana?”
Akhirnya Asia menceritakan tentang kematian kakaknya, yaitu Xavier, namun sayang apa yang Asia ceritakan banyak yang tak sesuai dengan kenyataan. Terlihat Yoga hanya diam mendengarkan cerita Asia. Diamnya Yoga
penuh arti, ia melihat mimik dan mulut teman kecilnya itu dengan seksama. Dalam
hati Yoga hanya tersenyum kecil dan tak menduga jika Asia kini telah berubah.
“Yog, kamu paham kan bagaimana bencinya aku sama tuh cewe.”
“Tapi kenapa harus aku yang harus melakukannya, kenapa kamu percaya denganku padahal kita baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah.”
“Karena aku tahu kamu bisa diandalkan.”
“Bagaimana jika Shasha tetap mencintai suaminya?”
“Maka aku akan membuat Daniel benci dengan Shasha apapun caranya.”
“Gila, wanita kejam.” batin Yoga.
“Yog, aku tinggal dulu ya. Aku mau ketemu Medi .”
“Ya, titip salam buat Medi dan suaminya.”
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1