
"Ayah ... Bunda ..." teriak Shasha. "Aku gak mimpi kan?" lanjut Shasha terheran. "Bie... Aku gak mimpi kan?" tanya Shasha lagi yang masih tak percaya.
"Gak, Ay ... ini nyata." ucap Daniel yang tersenyum lebar melihat istrinya bahagia. "Ay, ada lagi,"
"Apa?" tanya Shasha sambil menoleh kearah suaminya.
"Shasha ini mommy." teriak Melly menghampiri menantu tercintanya diikuti oleh Joshka.
"Mommy .. Dady ..." seru Shasha sambil membalas ciuman ibu mertuanya.
"Ini semua rencanamu, Bie?" tanya Shasha kepada suaminya. "Terima kasih ya semua orang yang aku sayangi ada disini." ucap Shasha sambil memeluk dan mencium suaminya dengan kegirangan.
"Ay jangan disini kalau mencium ku begini, lebih baik kita dikamar saja." goda Daniel.
"Gak sayang. Ini ciuman terima kasih, ini bukan ciuman nafs*." bisik Shasha.
"Memang beda ya ciuman terima kasih dan nafs*?" gumam Daniel dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sha, kami semua rindu kamu terutama cucu kami Echa. Kembaran Dady." ucap Joshka bangga.
"Kembaran saya juga pak." ucap pak Idris yang tak mau kalah.
"Daniel, mertuamu dan Dady sudah berebut saatnya kalian punya anak lagi." celetuk Melly.
"Ia Sha, sudah waktunya Ecka punya adik." imbuh Sally.
"Iya Bun."
Kini mereka semua berkumpul, lama tak berjumpa mereka saling bertukar kabar masing-masing termasuk Shasha. Daniel yang melihat merasa bahagia akhirnya ia bisa melihat istrinya tersenyum tanpa beban.
***
Tak terasa malam pun semakin larut, Joshka yang baru sembuh dari sakit merasa lelah, ia meminta izin untuk istirahat terlebih dahulu. Diikuti oleh Melly yang mengiringi langkah suaminya.
Berbeda dengan pak Idris yang masih bersama Shahsha, ia begitu merindukan putri kesayangannya. Karena banyak yang ingin ia utarakan termasuk rasa penyesalan yang telah menghardik hingga membuat hati putri satu-satunya itu terluka dan hampir kehilangan nyawa karena bunuh diri. Dirinya juga menyesal karena telah membuat putrinya itu mengalami depresi.
"Shasha ..., maafkan ayah. Ayah terlalu emosi seharusnya ayah mendengarkan penjelasan mu bukan malah mengutamakan amarah."
"Sudah ayah, yang lalu biar berlalu. Yang penting sekarang Shasha bisa disayang ayah seperti dulu." ucap Shasha manja.
"Ay, kenapa kamu manja sekali ke ayah." ucap Daniel dengan nada cemburu.
"Suamimu cemburu. Biar kamu lebih tampan dari ayah tapi ayah adalah mantan pertama istrimu." jelas Idris kepada menantunya dengan terkekeh. "Ingat Daniel, seorang ayah adalah lelaki pertama di kehidupan putrinya. Kamu akan merasakannya kelak saat kamu memiliki seorang putri." imbuh ayah Shasha.
Daniel yang mendengar itu manggut-manggut sambil memegang tangan istrinya. "Kalau begitu aku berdoa agar di rahim istriku ini akan lahir seorang anak perempuan yang cantik, baik, pintar dan sabar seperti ibunya nanti." ucap Daniel sambil mengusap perut istrinya.
Shasha yang merasakan usapan perut suaminya merasa nyaman, sedangkan pak Idris dan istrinya yang melihat keharmonisan putrinya saling tersenyum. Mereka berharap kebahagian seperti ini akan terus ada di kehidupan pernikahan putra dan putrinya. Jikalau ada cobaan yang menerpa rumah tangga mereka semoga bisa dilalui.
***
Beberapa bulan kemudian di sebuah pulau privat milik Daniel.
"Kenapa diluar?" tanya Daniel sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku tidak menyangka kita bisa berada disini." ucap Shasha sambil mengeratkan tangan suami yang sedang mendekap dirinya.
"Seharusnya luar negeri tapi kamu memilih kemari." ucap Daniel sambil memanyunkan bibirnya.
"Pulau ini tak kalah indahnya dengan luar negeri, Bie. Aku suka pulau ini. Setidaknya hanya ada kita berdua disini." ucap Shasha sambil menghadap ke arah Daniel.
"Iya-iya aku nurut saja." "Ay...!" panggil Daniel manja.
"Apa?"
"Kamu cantik."ucap Daniel sambil melihat menatap wajah istrinya.
"Makasih. Oh ya, mengapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Tentang?"tanya Daniel.
"Bikini?"
__ADS_1
"Gak, aku gak rela. Pakaian begini saja beberapa karyawan banyak yang melirik. Apa lagi bikini." ucap Daniel sewot. "Kamu hanya boleh berpakaian begitu jika di dalam." ucap Daniel sambil menggendong tubuh Shasha kedalam pelukannya.
Shasha yang merasakan tubuhnya terbang hanya tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Daniel.
Daniel menaruh tubuh Shashsa di atas tempat tidur. Balutan kain yang begitu tipis menutupi lekuk tubuhnya. Dirinya yang hanya menggunakan celana pendek kini menghampiri Shasha.
"Ay, apa aku boleh melakukanya?"
Mendengar pertanyaan itu membuat wajah Shasha merah karena Daniel meminta izin sebelum melakukan.
"Boleh, berkali-kali pun boleh bahkan tanpa meminta izin."
"Benarkah? Apa kamu sanggup?"
"Asal kamu setia dan hanya namaku seorang yang ada di hatimu, Bie."
"Pasti. Kamu wanita terbaikku dan teristimewa." "Bagaiamana denganmu? Apa kamu akan selalu menyimpan namaku di hatimu?" tanya Daniel balik.
"Pasti sayang."
Kini Daniel sudah menanggalkan semua pakaiannya, sedangkan Shasha tidak. Karena bagi Daniel dengan balutan kain tipis seperti ini membuat istrinya terlihat begitu seksi. Shasha yang tak tahu keinginan suaminya hendak melepaskannya sendiri namun Daniel menarik tangannya lembut sambil berkata, "Jangan, biar aku yang melakukannya, ini masih pemanasan biarkan aku yang menguasai." bisik Daniel tepat ditelinga Shasha.
Shasha mengikut permainan suaminya, hingga sehelai kain tipis itu tidak lagi menghiasi tubuh indahnya.
"Aku candu dengan tub*hmu," bisik Daniel dengan suara yang seksi seperti sedang merasakan kenikmatan.
"Lakukanlah, aku tak tahan." ucap Shasha dengan suara yang berbeda dari biasanya.
"Lepaskan Ay, jangan ditahan. Aku akan memulainya lagi." ucap Daniel yang sekarang sedang memainkan gunung kembar istrinya.
Ah ... Ah ....
Terdengar suara khas, suara yang pernah Daniel dengar dulu saat dia melakukan itu dengan keadaan Shashsa tidur.
Ah ... Ah ....
Suara yang makin terdengar nyaring. Hingga membuat Shashsa bernafas menggebu.
"Jangan. Aku suka suara itu. Aku akan melakukannya lagi, bahkan lebih dari itu. Aku akan membuat kamu benar-benar kehabisan tenaga.
Belum sempat Shashsa berfikir apa yang akan dilakukan Daniel kini dia sudah berada di bawah perut Shasha. Shasha kaget dengan kelakuan suaminya. Spontan ia berkata," untuk apa disana? ja-"
Lagi-lagi kata-kata Shasha harus terputus karena sebuah rasa nikmat itu datang lagi. Ia kembali mengerang dengan suara yang makin keras.
Ah ... Ah..
Ah ... Ah...
Mendengar suara istrinya yang keras membuat Daniel semakin dalam memainkan lidahnya. Shasha yang tak tahan segera melepaskan hasr*tnya itu. Daniel begitu bahagia meski ia harus sedikit kebasahan.
"Sayang, maaf membuatmu basah."
"Tak apa." ucapnya sambil tersenyum nakal sambil memainkan gunung kembar istrinya itu.
Kini nafas Shasha tersengal-sengal, ia mulai bisa mengikuti ritme permainan Daniel dan ia yang sudah panas kini mulai merubah posisinya.
"Ay, kamu kenapa?" tanya Daniel yang kaget saat istrinya tiba-tiba bangun dari tidurnya.
"Aku juga ingin melakukannya."
Daniel bingung maksud dari istrinya itu, dirinya yang sedang duduk kaget saat istrinya merebahkan dirinya dan mulai melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Dia tak bisa berkata-kata, yang kini dirasakan Daniel adalah sebuah kenikmatan bagai berada di puncak nirwana.
"Bolehkan lebih dalam?" ucap Daniel dengan suara yang tak begitu jelas.
Shasha yang mengerti maksud itu mulai melakukannya. Daniel yang begitu nikmat segera menarik Shasha lembut untuk berada di tempat tidur.
"Bie, kamu tak suka?" tanya Shasha polos.
"Bukan tak suka tapi aku ingin memasukinya sekarang, agar adik Ecka segera berada di rahimmu." ucap Daniel yang kini berada diatas tubuh Shasha.
__ADS_1
Daniel yang candu dengan tubuh istrinya kembali mencumbu bibir, menghisap telinga dan leher jenjang yang kini sudah terlihat banyak bekas his*pan dari kelakuannya. Perlahan ia kembali memainkan tubuh paling indah sang istri.
Kini keduanya merasakan panas, dan sama-sama saling membasahi. Suara keduanya begitu indah. Setelah melakukannya mereka berhenti sejenak sambil terdiam.
"Bie, apa aku bisa membuatmu puas?"
"Pasti, kamu lihat sekarang milikku mulai berdiri lagi. Itu semua karena aku sudah candu dan nikmat dengan tubuhmu sayang." bisik Daniel ke telinga Shasha.
Shasha kaget. Dia tak menyangka baru beberapa menit berlalu kini sang suaminya mencoba meminta nya lagi.
"Apa kamu mau lagi, Bie?" tanya Shasha ragu.
"Nanti saja, saat kamu lengah aku akan melakukannya." Daniel berkata sambil mencium bibir istrinya.
***
Sudah seminggu Daniel dan Shasha berbulan madu di sebuah pulau yang begitu indah. Mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua. Menyusuri pantai dengan jet ski dan menghabiskan waktu untuk sun bathing di tepi pantai. Bermain pasir, berlarian di lantai bersama Daniel sambil menikmati sunset kala sore dan sunrise kala pagi tiba.
Meski terasa singkat namun mereka berdua terlihat begitu bahagia. Menghabiskan waktu mereka berdua meski terasa singkat namun begitu berarti. Mereka berdua makin memahami diri mereka satu sama lain.
Hari ini adalah hari terakhir mereka berdua harus meninggalkan pulau yang indah karena kesibukan Daniel dan kerinduan pada sang putra.
"Bie, semua sudah aku siapkan. Pesawat kita jam berapa?"
"Sebentar lagi." ucap Daniel sambil bercermin membenahi tatanan rambut nya.
"Sebentar lagi? Kita naik apa?"
"Aku naikin kamu, dan kamu naikin aku." ucap Daniel yang tiba-tiba kembali menyerang Shasha.
"Bie, kita kan mau kembali." ucap Shasha cemberut karena sudah tiga kalinya Shasha berganti pakaian gara-gara ulah suaminya.
"Sebentar saja ya, aku ingin. Daripada kita melakukannya di pesawat."
Shasha menurut apa kata suaminya, karena menurutnya itu adalah ibadah, dan harus dilaksanakan.
Kembali keduanya bergulat bahkan lebih panas.
"Kamu semakin pintar, Ay." goda Daniel.
"Bagaiamana tidak pintar dalam sehari aku telah dilatih berulang kali."
Mendengar itu Daniel tersenyum. "Tapi kamu suka kan.
***
Saat ini keduanya telah berada di dalam helikopter. Shasha terlihat malu dengan beberapa kru yang ada di pesawat pribadi karena tadi mereka harus menunggu Shasha yang sedang mandi sehabis digempur oleh Daniel berulang kali.
Rambutnya yang basah masih menetes terlihat jika ia baru saja selesai melayani suaminya yang ternyata begitu panas saat berada di ranjang.
"Bie, jangan seperti ini. Aku malu." bisik Shasha.
"Sama siapa?"
"Semuanya, kalau kamu mau lagi nanti saja saat kita sampai ya." ucap Shasha lirih.
"Benarkah?"
"He'em, Bie. Pasti."
Mendengar itu membuat Daniel makin mengeratkan tubuh Shasha untuk tetap bersandar di dadanya sambil membelai-belai rambut istrinya.
Shasha yang diperlakukan suami nya layaknya seorang ratu tak menyangka jika kehidupan yang penuh liku pernah ia alami dan kini telah berubah menjadi bahagia.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.