
"Shasha .... Sha!!!" teriak Mutia masuk kedalam kamar.
"Apaan? jadi yang dibawa itu calon suami lu?" tanyanya sedih.
"Apaan sih gue gak ngerti." ucap Shasha heran. Sedangkan Mutia masih menekuk wajahnya dan menyembunyikan kesedihannya.
"Lebih baik segera temuin dua lelaki yang dibawah itu. Jangan sampai kanjeng mami pinjam buat tagih biaya sewa kos anak-anak agar bayar di awal."
"Memang buat apa Mi?" tanya Secil bingung.
"Ya kan lumayan manfaatin ketampanan mereka berdua untuk meraup untung." ucap ibu kos sambil tertawa cekikikan.
Melihat ibu kos yang heboh Shasha yakin bahwa yang datang pasti lelaki tampan namun dia sendiri tak tahu siapa. "Apa jangan-jangan kak Eza dan temannya yang sengaja datang tapi menggoda dirinya?" batin Shasha.
"Ayo turun, gue penasaran!" ajak Mutia kepada Shasha dan Mutia.
Shasha pun turun diikuti kedua temannya dan kanjeng mami yang mengekor di belakangnya. Shasha yang terbiasa menggunakan kaos rumahan dengan celana pendek lupa tidak memperhatikan penampilannya, dirinya yang terbiasa tak pernah menggunakan pakaian dalam jika berada di dalam kos.
Mungkin karena sehabis mandi dan mendadak ada tamu tak diundang jadi dirinya tergopoh, Shasha yang sudah sampai dibawah tangga mengintip siapa tamu yang datang, baru saja sampai diambang pintu kanjeng mami yang berada diurutan paling terakhir sengaja mendorong barisan yang ada di depannya, badannya yang sedikit tambun membuat Mutia, Secil dan Shasha terjungkal keluar hingga Shasha muncul didepan tamu tersebut.
Kedatangan Shasha yang tiba-tiba muncul dengan kaos Tedy bear sedikit menarik perhatian, rambutnya yang sedikit basah membuat kedua mata Tedy bear itu basah ditambah dirinya yang tak mengenakan pakaian dalam terlihat jelas bentuk gunung kembar milik Shasha. Melihat itu Daniel segera menarik tangan Shasha dan mengajak untuk duduk disampingnya.
"Pak, ada apa bapak kesini bersama bang Arden?" tanya Shasha heran.
"Kenapa kamu berpakain seperti ini? apa biasanya kamu seperti ini?" tanya Daniel pelan dan tak menjawab pertanyaan Shasha.
"Ada apa dengan pakaian saya? pakaian seperti ini nyaman jika didalam kos." ucap Shasha enteng, dirinya yang masih tak sadar jika tidak mengenakan pakaian dalam.
"Pakai ini!" perintah Daniel.
"Untuk apa?"
"Kalau saya bilang pakai ya pakai." perintah Daniel pelan sambil melotot.
"Untuk apa?" tanya Shasha kedua kali dan masih tak mengerti.
"Gunung kembar'mu basah karena rambut basah'mu itu dan kamu tak memakai pakaian dalem, bukan?" bisik Daniel tepat di telinga Shasha.
Mendengar itu seketika dia sadar bahwa dirinya yang sehabis mandi biasa tak menggunakan pakaian dalam mulai menutupi tubuhnya sambil menyilang'kan kedua tangannya.
"Bapak mesum!" ucap Shasha dengan dihiasi wajahnya yang memerah bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Kamu yang mesum! cepat pakai!" perintah Daniel sambil memakaikan jaket miliknya ke Shasha.
Saat memakaikan jaket kepada Shasha dirinya menelan ludah bahwa Shasha benar-benar menggoda, kulitnya yang putih bersih, harum sabun dan shampo yang masih menempel pada badan Shasha ditambah wajah Shasha yang natural tanpa make up membuat Shasha terlihat semakin cantik alami.
"Jadi maksud kedatangan bapak kesini apa? sampai membuat heboh." tanya Shasha membuyarkan lamunan Daniel.
"Tedy bear'mu ketinggalan. Gara-gara itu saya terkena skandal." ucap Daniel jengkel.
"Skandal apa pak?" tanya Shasha kepada Daniel, sedangkan Daniel yang ditanya terus-terusan mulai malas menjawab dan mulai mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Melihat Daniel yang tak memperdulikan dirinya, Shasha mulai melihat Arden yang asyik berbicara dengan Secil dan Mutia yang duduk selisih beberapa kursi dengan dirinya dan Daniel.
Shasha sedikit heran mengapa kedua sahabatnya terlihat begitu akrab dengan Arden padahal baru pertama kali bertemu.
"Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya dengan abang' ku?" tanya Shasha memecah pembicaraan antara Arden dengan Secil dan Mutia.
"Aku mengenalnya saat mereka di Jogja." jawab Arden.
"Kapan kalian ke Jogja, kenapa kalian berdua berangkat tanpa aku?" tanya Shasha penuh selidik.
"Saat kamu ke Finlandia, Sha." jawab Secil enteng.
"Mungkin saat itu ada job fair yang diadakan kampus X jadi mereka kesana. Lagipula saat itu aku sedang ke kampus Zamora." jelas Arden. Arden membantu menjawab pertanyaan Shasha kepada kedua sahabatnya karena dirinya tahu bahwa kedua sahabatnya tersebut datang ke kampus tersebut ingin mencari tahu tentang Abra.
Mendengar jawaban Arden Mutia dan Secil sedikit lega, karena dia tahu jika Shasha tahu bahwa mereka menyelidiki Abra maka Shasha akan marah.
"Oh ... jadi secara kebetulan kalian bertemu." ucap Shasha sambil berfikir. Dirinya merasa ada yang janggal dengan jawaban Arden karena dia tahu siapa sikap dan sifat kedua sahabatnya yang tak terlalu tertarik dengan acara-acara job fair apalagi sampai keluar kota.
Kini Shasha diam sedangkan kedua sahabatnya dan Arden tetap melanjutkan pembicaraan mereka. Daniel yang sedari tadi membuka ponsel untuk mengecek email masuk tak terlalu memperhatikan pembicaraan Shasha dengan kedua wanita muda tersebut dan Arden.
"Pak, pertanyaan saya belum dibalas tadi?" tanya Shasha lagi karena kini pikirannya mulai menanyakan lagi tentang skandal. Skandal apa yang dimaksud Daniel.
"Gak usah banyak tanya. Yang pasti skandal." bentak Daniel sambil tak melihat Shasha melainkan tetap fokus kepada ponselnya.
"Bapak ini niat bertamu atau tidak? kenapa tidak menatap saya? pakai kacamata pula kenapa tidak dilepas?" tanya Shasha dengan banyak pertanyaan.
"Gak sama sekali." jawabnya ketus sambil beranjak dari kursi. "Sudah sore ni, kita balik yuk." ajak Daniel kepada Arden.
"Oke, tunggu ya." ucap Arden kepada Daniel. " Saya pulang ya." pamit Arden kepada Mutia dan Secil.
Sedangkan Shasha hanya diam mengambil kopernya yang ada dipojok pintu.
__ADS_1
Sedangkan Mutia dan Secil yang sudah berdiri disamping Arden.
"Bang, kapan kita bisa ketemu lagi?" tanya Mutia berani kepada Arden.
"Aku pastikan kita akan sering bertemu. Ingat kata-kataku." janji Arden kepada Mutia sambil memberikan sebuah jam tangan Rolex Daytona berwarna gold
"Ini buat saya?" tanya Mutia dengan kaget.
"Iya."
"Maaf bukan ini yang saya mau, saya mau yang paling berarti." ucap Mutia dengan penuh harapan. Berharap Arden mengerti maksud dari ucapannya.
Arden yang mengerti maksud Mutia tersenyum. Lalu segera berpamitan kepada ibu dan bapak kos.
Shasha terkejut saat mendengar ucapan Mutia.
Sedangkan Daniel yang sedari tadi sudah pamitan kembali mendekati Shasha yang terlihat terkejut.
"Teman kamu saja punya harga diri kenapa kamu tidak." bisik'nya lalu menuju ke mobil.
Mendengar itu Shasha merasa tersinggung. Segera dia menghampiri mobil dan mengetuk pintu kaca Daniel.
"Maksud bapak apa?" tanya Shasha dengan nada emosi.
"PR buat kamu." ucap Daniel lalu menutup kaca mobilnya.
Mendengar ucapan Daniel Shasha berputar kearah Arden duduk.
"Bang, titip ini buat orang tua yang duduk disamping." ucap Shasha yang telah melepaskan jaket dan memberikan jaket yang tadi diberikan Daniel.
"Kenapa gak diberikan langsung?" tanya Arden.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰
__ADS_1