
Keesokan paginya Shasha yang sudah bersiap lebih pagi dari biasanya, ia bahkan tidak menyempatkan diri untuk sarapan karena memang hari ini ia akan berangkat sendirian tidak dijemput oleh Rianda. Dirinya memilih untuk jalan karena memang jarak dari kantor dan kontrakan nya bisa ditempuh kurang dari setengah jam.
Kondisi kantor yang masih sepi, membuat Shasha tak perlu mengantri saat masuk ke dalam lift. Keluar dari lift segera ia mampir ke pantry untuk membuat minuman dan mi instan seduh yang Shasha bawa untuk mengganjal perutnya agar tidak terlalu lapar.
Saat sedang menikmati mie seduh terdengar suara telepon.
Shasha: "Pagi, PT TRATA LAND, ada yang bisa dibantu?"
Dion : "Ikut saya, hari ini kita ada seminar di kota B.. Segeralah bersiap aku tunggu di tempat parkir 15 menit dari sekarang. Cepat!"
Shasha : "Halo ... Halo?"
Biarkan saja, aku gak akan berangkat sebelum pak Brata yang menyuruh.
Shasha tak menganggap telepon Dion dengan serius, ia pun tetap melanjutkan makanan. Tak terasa sudah lebih dari 15 menit lamanya tiba-tiba terdengar suara telepon berdering.
Pak Brata : "Shasha, temani Dion untuk seminar di kota B, saya hari ini berhalangan hadir karena ada sesuatu yang harus saya lakukan."
Shasha yang tadinya santai kini segera mengemasi barang-barangnya yang akan wajib dibawa saat akan seminar, setelah itu ia segera pergi kebawah untuk menemui Dion yang sudah menunggunya. Ditempat parkir ia sudah melihat mobil Dion berada disana.
Mobil yang dibawa Dion hanya berisi dua penumpang sehingga tak ada pilihan bagi Shasha untuk masuk di kursi mobil yang ada dibelakang supir.
Dug ..(suara pintu mobil terbuka).
Dug ..(suara pintu mobil tertutup).
Shasha sudah masuk, Dion yang sedari tadi menunggu pun mulai kesal.
__ADS_1
"Pasang sabuk mu!" ucap Dion tanpa melihat ke arah Shasha.
Segera Shasha memasang sabuknya dan Dion pun mulai mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Shasha berusaha biasa dan tidak protes dengan apa saja yang dilakukan Dion. Baginya jika Dion marah maka ia pun juga bisa marah.
Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka berdua hingga tidak terasa kini mereka tiba di sebuah ballroom hotel tempat diadakannya seminar. Acara berlangsung cukup lama hingga hampir petang.
"Aku tidak pulang, aku menginap disini. Sudah malam lagipula aku lelah." ucap Dion sambil melonggarkan dasinya.
"Aku juga, lagipula besok hari Sabtu."
"Kalau begitu temani aku, semua anggota seminar tadi sedang berpesta di club." ucap Dion enteng.
Mendengar kata-kata club membuat Shasha merasa takut, dia tak mengira jika Dion benar-benar berubah. Dion yang dikenalnya dulu tak akan pernah mengajak dirinya untuk pergi ke suatu tempat hiburan malam.
"Tidak terima kasih, aku akan memesan kamar." ucap Shasha dengan tegas.
"Silakan diminum, Kak." ucap ramah seorang pelayan kepada Shasha.
Dengan cepat Shasha mulai minum minuman tersebut hingga habis tak tersisa. Melihat itu Dion tersenyum puas. Tidak ada yang tahu apa arti dari senyum Dion. Selesai minum Shasha mulai berjalan untuk mencari kamarnya yang berada di lantai lima. Selama di dalam lift Shasha merasakan kantuk yang tak biasa, tiba-tiba badannya terasa lemah dan rasanya ingin cepat tidur, beruntung lift beroperasi dengan cepat sehingga Shasha tak perlu terlalu menunggu.
Kini ia mulai membuka pintu kamarnya dengan sebuah kartu yang sudah ia pengang, segera Shasha memasuki kamarnya, belum sempat mengganti pakaian Shasha pun sudah tertidur lelap diatas tempat tidur. Selama ia tidur ia tak mendengarkan suara gaduh di dalam kamar yang ia sewa.
Tidak ada yang tahu ternyata diam-diam Dion sudah berada di dalam kamar Shasha. Tak banyak yang dilakukan oleh Dion, ia mulai menjunjung Shasha ke atas tempat tidur. Segera Dion membuka bajunya dan melepas pakaian Shasha, sebuah br* yang menutupi bagian tubuh terindahnya mulai terekspos. Dion tahu apa yang dilakukannya terlalu kejam, namun hanya cara ini yang dapat membuat Daniel membenci Shasha dan segera menceraikan Shasha.
Dengan beberapa pose Dion mulai memfoto dirinya dan Shasha yang seakan sedang tidur bersama dalam satu ranjang dan seakan-akan sedang melakukan hubungan suami istri. Berulang kali dia mengambil foto tersebut, dan beberapa foto pun sudah berhasil ia kirimkan ke sebuah email yang ia yakini itu adalah email Daniel.
Aku minta maaf, mungkin caraku hina tapi percayalah aku jauh mencintaimu ketimbang suamimu.
__ADS_1
Jika kamu dibuang, maka aku yang akan mengambil.
Jika kamu disakiti, maka aku yang akan menyayangi.
Setelah itu Dion pun keluar dari kamar tempat Shasha menginap.
***
Keesokan paginya, Shasha yang sudah terbangun dari tidurnya merasa biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Setelah sarapan pagi Ia berniat untuk kembali ke Ibukota, Saat dia berjalan ke restoran ia tak sengaja mendengar percakapan yang sedikit samar lewat telfon.
"Gila kamu, aku tak mungkin melakukannya. Secinta-cinta nya aku kepadanya aku tak akan merengut kewanitaannya dengan cara hina seperti itu." dengan keras Dion berkata sambil sedikit emosi dan tanpa sengaja ia menendang sebuah kaleng kosong yang tepat mengenai Shasha.
Kedua mata mereka saling berpandangan, Shasha tak mengetahui apa yang sedang dibicarakan Dion lewat telepon. Sedangkan Dion merasa takut jika Shasha mendengar semua ucapannya tadi saat di telepon.
"Aku makan dulu." ucap Shasha tanpa melihat ke arah Dion.
Setelah makan Shasha segera kembali ke kamarnya untuk berkemas. Didalam kamar ia sama sekali tidak tahu sebuah peristiwa besar telah terjadi semalam. Sebuah hal nekat yang telah dilakukan Dion dengan harapan dapat merebut istri orang.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1