TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 110. PINGSAN.


__ADS_3

"Kenapa pertanyaannya banyak sekali. Saya bahkan belum menjawab satu dari pertanyaan bapak."


"Darimana kamu?"


"Dari kamar mandi." jawab Shasha sengaja berucap seperti itu agar Daniel tidak bertanya lagi.


"Bukan itu maksud saya. Kamu darimana saja ?"


"Dari kamar mandi pak, memang di kamar mandi ada pintu kemana saja?"


"Oke. Pertanyaan saya salah. Baru mandi jam segini apa karena baru saja pulang dari kantor?" ucap Daniel dengan menahan kesabarannya karena ucapan Shasha yang lumayan menjengkelkan.


"Itu baru benar benar.” koreksi Shasha. “ Iya." ucap Shasha singkat.


"Iya apa! Jawab yang benar pertanyaan saya." bentak Daniel.


Kali ini ucapan Daniel membuat Shasha tersentak kaget. Dirinya tak menyangka Daniel akan merespon dengan suara lantang seperti membentak.


"Kenapa baru datang?" kembali Daniel melanjutkan pertanyaannya lagi.


"Karena hujan."


"Saya tahu kalau hujan, tapi tak mungkin di dalam kendaraan kehujanan, bukan?"


"Meskipun naik kendaraan kan saya harus berjalan beberapa meter dulu, melewati jembatan hingga bertemu dengan kendaraan yang saya tumpangi. Saya ini manusia biasa pak, bukan manusia super yang dapat dengan mudah melakukan teleportasi. Dari kantor langsung naik kendaraan!" jelas Shasha.


Penjelasan Shasha justru membuat Daniel sedikit kesal dan emosi. Bukan jawaban seperti itu yang diharapkan Daniel melainkan sebuah jawaban jujur. Yang mana ia mendapat laporan bahwa seseorang yang diminta Daniel untuk mengawasi Shasha tak melihat Shasha berada di jalur busway. Yang artinya Shasha sudah berbohong kepada dirinya. Itulah alasan dirinya bertanya banyak pertanyaan kepada Shasha namun justru pertanyaannya dijawab Shasha dengan jawaban yang tak sesuai dengan pikirannya, yaitu sebuah jawaban menjengkelkan.


“Kamu pulang kantor jam berapa?” tanya Daniel penuh selidik.


“Jam pulang kantor jam empat tapi saya baru keluar kantor sekitar setengah tujuh.”


“Setengah tujuh? Apa saja yang kamu lakukan di kantor?”


“Apa saja? Kenapa bapak masih tanya? Sudahlah pak, saya lebih baik tak menjawab pertanyaan bapak. Pertanyaan bapak semakin dijawab malah semakin lebar dan bertambah kemana-mana.” ucap Shasha dengan jengkel sambil melewati Daniel yang berada di depan Shasha.


“Tunggu!” cegah Daniel menghentikan langkah Shasha.


“Apa lagi? Saya lelah, badan saya tak enak semua. Ijinkan saya istirahat.” ucap Shasha membelakangi Daniel.


“Saat ini saya kacau, saya tak bisa berfikir jernih. Bahkan sebuah pertanyaan yang tak perlu saya tanyakan harus saya tanya ke kamu.”

__ADS_1


“Kalau begitu lebih baik kita sama-sama saling istirahat saja. Lagipula ini sudah malam, bukan.”


“Tapi, ada satu hal yang masih membuat saya tak bisa istirahat dengan nyenyak. Jawab pertanyaan saya.”


“Apa? Bapak mau bertanya apa?”


“Dengan siapa dan bagaimana kamu pulang?”


Jantung Shasha mulai berdetak kencang, kenapa tiba-tiba pertanyaan Daniel seperti ini. Padahal ini kan pertanyaan biasa. Shasha mencoba menetralkan hatinya agar tidak terlihat gagap dalam menjawab. Sedangkan Danil bertanya seperti itu karena ia penasaran akan ucapan orang suruhannya dan kesalahan dia adalah seharusnya ia menyuruh suruhannya untuk mengawasi Shasha disekitar kantor bukan malah di area busway.


“Rianda. Aku sudah dua kali diantarkannya. Kemarin dan hari ini” bohong Shasha.


Daniel lega, saat Shasha menyebutkan sebuah nama. Ia pun mengingat nama tersebut.


“Apa sekarang saya sudah boleh pergi?”


“Belum.”


“Bapak mau bertanya apa lagi?” sambil menghela nafas panjang Shasha menawari Daniel untuk bertanya.


“Kenapa tak memanggilku Bie?”


“Untuk apa aku harus memanggil panggilan sayang untuk seseorang yang hatinya bercabang.” Shasha kaget dengan ucapannya sendiri, ia tak menyangka jika mulutnya akan berkata demikian. Ia pun memejamkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Hatinya bercabang? Kamu cemburu?”


“Sama sekali tidak.” ketus Shasha lalu melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


Daniel yang gemas dengan tingkah laku istrinya itu menarik baju Shasha dari belakang, hingga membuat Shasha berjalan seperti ditempat.


“Mau kemana?” tanya Daniel dengan nada menggoda.


“Saya mau istirahat. Lepaskan!”


“Tidak, hadap-lah kemari.”


“Untuk?”


“Untuk menjelaskan ucapanmu tadi dan menemaniku makan malam. Kerena aku belum makan.”


“Ucapan yang mana lagi?”

__ADS_1


“Bercabang.”


Haduh kenapa dia harus bahas perkataan-ku yang bodoh tadi.


“Jika kamu tak dapat menjelaskan, maka malam ini aku akan meminta hak-ku sebagai suami.”


Mendengar itu membuat Shasha kaget, ia masih belum siap jika suaminya itu meminta haknya sebagai suami. Kekagetan Shasha membuat dirinya yang sedang lemas karena demam ditambah dengan asam lambungnya yang kambuh pagi tadi hingga membuat dirinya pingsan.


Beruntung Daniel memegang erat baju belakang Shasha, dengan sigap Daniel menggendong Shasha ala bridal style lalu membawanya ke kamar miliknya. Daniel sendiri tak menyangka dengan ucapannya tadi membuat istrinya sampai pingsan seperti ini.


Tidak sepertinya bukan karena ucapan-ku. Badannya panas begini. Jangan-jangan asam lambungnya naik lagi.


Terlihat Daniel begitu panik, wajah Shasha yang bening kali ini terlihat pucat.


“Siapa yang harus aku telepon malam-malam begini?” sambil memegang ponsel.


Dirinya bingung siapa yang hendak ia telepon karena tak mungkin ia harus menelfon dokter keluarganya. Bukan karena tak ingin namun ia tahu jika dokter keluarganya adalah dokter laki-laki. Dirinya tak rela jika bentuk tubuhnya istrinya itu dilihat oleh lelaki lain selain dirinya.


Daniel tak kehilangan akal, ia segera menelfon dokter keluarganya dan menjelaskan apa yang dialaminya Shasha termasuk penyakit yang Shasha miliki.


Beruntung Daniel tak perlu membeli obat, karena obat beberapa bulan yang masih ada dan ia pun menyimpan stok. Seperti suami bertanggung jawab, ia pun merawat Shasha. Mulai dari mengompres Shasha, memijat kaki dan tangan Shasha.


“Maafkan aku, aku telah mengagetkan-mu karena ucapan-ku. Namun suatu saat aku pasti akan meminta hak-ku itu. Aku harap kamu akan siap. Aku berjanji, aku akan segera menyelesaikan misi ini. Jadi tolong bersabarlah untuk tidak membuka hatimu untuk orang lain, karena apa yang aku lakukan ini demi kita. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Karena aku mulai mencintaimu, istriku Nesha Himalaya Ayesha.” ucap Daniel sambil memegang tangan Shasha dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.


“Maafkan aku yang tak bisa berkata jujur, alasan dibalik misi ini. Karena aku tak mau kamu kecewa bahwa aku pernah berhubungan badan dengan wanita itu. Aku ingin terlihat suci di matamu, aku malu jika kamu harus mendapatkan lelaki tak baik seperti aku yang tak bisa menjaga keperjakaannya.”


“Aku tahu aku buruk, aku pernah mengata-ngatai mu. Dan aku baru tahu bagaimana kejamnya mantan kekasihmu itu memperlakukanmu. Kamu wanita baik. Dan bagiku kamu adalah istri terbaik, se-marah-marahnya dirimu kepadaku kamu tak pernah sekalipun melupakan kewajiban-mu untuk melayaniku, membuatku sarapan dan menyiapkan keperluanku. Aku beruntung memilikimu.”


Setelah bercerita panjang lebar kepada Shasha ia pun mencium kening Shasha berulang kali. Setelah mencium kening istrinya itu ia pun segera ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Shasha saat bangun nanti. Dengan hati riang Daniel membuatnya. Senyum di bibirnya terlihat sedari tadi.


Selesai memasak bubur, ia kembali menjaga Shasha hingga tak sengaja ia tertidur di sebelah Shasha dengan menggenggam erat jemari istrinya.


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2