TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 28 NARKOBA DAN POLISI GADUNGAN


__ADS_3

Saat ini Shasha sedang duduk santai menunggu pintu gate dibuka. Beberapa jam lagi dirinya akan masuk ke pesawat. Sambil membunuh waktu Shasha menghabiskannya dengan membaca novel. Dirinya yang terhanyut dengan jalan cerita novel membuatnya teringat masa lalu. Masa lalu itu berhubungan dengan novel yang sedang dia pegang. Gara-gara novel ini Abra dan Shasha saling berkenalan hingga terjalin hubungan terlarang yang dilakukan Shasha.


Entah pilihannya benar atau salah yang jelas dirinya sudah menjadi orang yang salah, telah mengkhianati hubungan dan menyakiti perasaan seseorang. Dirinya yakin Sang Pencipta tidak tidur, dia pasrah jika mendapatkan sebuah karma.


Tak terasa air matanya keluar dan jatuh membasahi pipinya. Saat sedang menyeka air mata muncul dua orang di depannya meminta Shasha agar ikut dengannya karena dirinya di duga membawa narkoba. Shasha yang merasa tak masuk akal dengan dugaan itu menyangkal karena pada saat dirinya melewati pintu pemeriksaan dia dinyatakan aman. Namun kedua petugas tetap bersikukuh bahwasannya Shasha harus ikut dengan mereka.


Dengan rasa jengkel Shasha mengikutinya dan berdoa agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


Saat ini Shasha melewati sebuah lorong sepi jauh dari ingar bingar , tak ada seorang pun di sekitar ruang itu, hanya ada dua orang petugas tadi. Shasha diminta untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Semua barang bawaannya digeledah, dalam benaknya jika seseorang dicurigai membawa narkoba pasti dia akan diminta untuk melakukan tes urin. Sedangkan dirinya tidak namun hanya barang-barang saja yang digeledah, dan yang lebih mengejutkan adalah Shasha diminta melepas pakaiannya. Alibi mereka jika barang tidak ada didalam tas, sepatu kemungkinan disembunyikan didalam b*a.


Mendengar itu Shasha menjadi emosi, dirinya menolak karena pemeriksaan tersebut sudah diluar batas. Seharusnya, jika Shasha diminta melepas baju pasti ada seorang petugas wanita disini.


Tanpa mereka sadari wajah mereka terlihat tersenyum nakal, Shasha dapat melihat jelas itu. Shasha ingin melepaskan diri namun dirinya dilema, dirinya takut jika benar-benar akan dituduh, lalu jika dia dituduh dia harus menghubungi siapa karena Shasha tak memiliki ponsel. Dirinya berusaha tenang tetap berdoa dan berucap "Ya Allah bantu saya. Tidak ada yang boleh melihat tubuhku selain suamiku. Tolong lindungi saya"


Tanpa menunggu lama doanya di dengar.


Brraakk ... (suara pintu terbuka)


Terlihat Daniel dan Patrik beserta beberapa petugas keamanan datang untuk mengepung tempat tersebut. Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka segera Shasha mundur dan menendang senjata pamungkas salah seorang yang hendak membuka kancing bajunya, hingga orang itu berjongkok sambil memegang senjatanya karena kesakitan. Sedangkan rekan satunya mengeluarkan senjata dan diarahkan ke wajah Shasha. Shasha sama sekali tak merasakan panik, karena sedari tadi dia sudah memandang aneh pada senjata itu yang terlihat berbeda. Sedangkan Daniel yang melihat itu panik bukan main, dia takut jika peluru itu mengenai Shasha.


"Put the gun down(letakkan senjata-mu)!"


Petugas gadungan tersebut tetap mengarahkan pistol tersebut ke wajah Shasha dan ...


Door ....(terdengar suara tembakan)


Daniel tak sanggup mendengar suara itu seketika dirinya lemas dia tidak bisa membayangkan, belum sempat dia mengucapkan perasaannya dan masih membenci Shasha dia harus melihat tubuh Shasha mengeluarkan darah sangat banyak.


Lain halnya dengan Shasha, sedari tadi dirinya tenang, berdiri tidak melakukan apa-apa justru bingung dengan Daniel yang tiba-tiba lemas terduduk. Sedangkan orang disekitar mereka diam-diam sudah berada di belakang kedua petugas gadungan tersebut lalu menangkap petugas gadungan itu.


Shasha yang masih berdiri sambil mengeluarkan banyak darah mulai menyadarkan Daniel dengan menyentuh bahu Daniel.


"Pak, bapak kenapa?" tanya Shasha heran.


"Kamu itu yang kenapa? lihat tubuhmu berdarah kenapa kamu bisa kuat seperti ini?! kalian yang ada disini kenapa diam saja cepat tolong dia!" bentak Daniel sambil berusaha memeluk Shasha.


Shasha tak suka dengan pelukan yang diberikan Daniel. Dia berusaha melepaskan pelukan tersebut namun Daniel tetap mengeratkan pelukan itu. Shasha yang tak menyerah mulai mencubit perut Daniel dengan keras hingga Daniel berteriak "aaww ...! sakit!"


"Lepaskan saya! ini bukan darah pak, gak usah lebay." sinis Shasha.

__ADS_1


Daniel mencoba mencium cairan warna merah yang menempel di baju Shasha dan benar ternyata itu darah palsu karena tidak berbau anyir. Daniel merasa malu dengan tindakan konyolnya tadi.


"Kenapa kamu gak bilang kalau ini darah palsu!" ucapnya sambil tidak memandang Shasha lalu berdiri.


"Bapak kira saya komplotan petugas tadi sehingga saya tahu isi dari airsoftgun tadi!"


"Jadi, tadi itu airsoftgun? darimana kamu tahu?"


"Diawal saat mereka membawa saya sudah curiga dengan pistol yang berada disamping bentuknya seperti plastik bukan logam. Lalu saat dia mengarahkan pistol itu ke wajah saya melihat barrel yang diameternya relatif lebih kecil dan terdiri dari dua bagian sedangkan senjata asli hanya ada satu bagian barrel. Kemudian yang terakhir pada bagian bawah magazine(tempat peluru) yang terpasang terdapat lubang bisa dipastikan itu adalah airsoftgun karena yang asli bagian bawah magazine-nya mulus tanpa lubang."


"Kug kamu lebih tahu daripada saya!"


"Karena gak semua orang tua itu tahu segalanya," ucapnya ketus lalu melihat jam ditangannya yang menunjukkan bahwa penerbangannya kurang 45 menit lagi segera take off.


"Hei, maksud kamu apa bilang saya tua, ucap Daniel sambil membalikkan tubuh Shasha karena Shasha telah mengejeknya."


"Apa sih pak, pesawat saya mau berangkat, minggir pak!"


"Kamu mau kemana?"


Shasha berjalan cepat agar sampai di gate "semoga pesawatnya belum berangkat." ucapnya lirih. Sedangkan Daniel melihat Shasha yang berjalan cepat hanya tertawa kecil dan membatin "dasar, aneh! apa dia gak lihat bajunya berwarna merah semua gara-gara darah palsu tadi."


Shasha tertunduk lesu saat mengetahui bahwa pesawat yang dia tumpangi sudah berangkat. Daniel mendekatinya.


"Buruan kamu ganti bajumu, baju merah-merah begitu seperti korban aja!"


"Saya memang sudah jadi korban, korban keterlambatan pesawat!" tandas Shasha.


Patrik melihat bahwa sepertinya Daniel sangat perhatian kepada Shasha. Dia menghampiri kedua insan yang terlihat saling menguatkan padahal mereka berdua sedang saling mengejek.


"Daniel, ajak pacarmu ke ruang keamanan ada yang perlu dibicarakan disana, tapi sebelumnya suruh ganti baju dulu." seru Patrik kepada keponakannya itu.


"Dia bukan pacarku paman!"


"Ayo cepat berdiri, jangan buang waktuku. Apa kamu tidak dengar kamu dipanggil ke ruang keamanan!"


"Aku gak mau, aku mau pulang. Pesawat ku sudah hilang, lalu bagaimana saya pulang, pak?" rengek Shasha.


"Saya gak perlu kamu nangis di depan saya. Memang dengan kamu menangis dan merengek pesawatnya akan kembali?"

__ADS_1


"Koperku sudah di bagasi, isinya cukup banyak di koper, belum lagi laptop dan bajuku juga bagaiamana aku pulangnya? masa iya aku harus bayar tiket sendiri!! uang darimana! ponselku rusak! sekarang harus bayar beli tiket sendiri!!" teriak Shasha sambil menggaruk kepalanya.


"Sudah jangan ngomel terus, buruan ke kamar mandi cuci wajahmu!"


Shasha menurut dan berjalan ke toilet untuk mencuci muka dan bajunya yang terkena darah. Di dalam kamar mandi pintunya terdengar ada yang mengetuk.


Tok ... tok ...


"Hei, ini aku. Buka pintunya! Ni baju buat kamu."


Shasha tak bisa menolak baju pemberian itu, karena memang dia harus ganti baju.


Kini Shasha sudah berganti pakaian. Daniel yang menunggu diluar toilet. Kini mereka berdua berjalan bersama tanpa ada pembicaraan sama sekali hingga tiba di ruang interogasi keamanan. Disana Shasha melihat Johan dan salah satu teman asramanya yang memberikan ponsel kemarin malam.


"Bang, kug disini?"


"Kamu bagaiamana? kamu baik-baik saja? gak ada yang lecet kan?" tanya Johan sambil mengecek semua tubuh Shasha."


"Apaan sih bang, aku gak papa. Yang kenapa-kenapa itu dompet dan koperku!"


"Kenapa dompet dan koper-mu?"


"Aku ketinggalan pesawat jadi aku harus beli tiket sendiri, sedangkan koperku ada di pesawat itu."


"Oh kirain, Uda tenang saja. Semua ditanggung Daniel!" ucap Johan asal.


Di ruang interogasi itu antara Shasha dan Clara serta Johan diperiksa di ruangan yang berbeda. Sedangkan Daniel, Patrik dan beberapa petugas mengamati mereka semua melalui cermin satu arah. Mereka bertiga tidak dapat melihat jika sedang diamati namun sebaliknya.


Setelah dilakukan interogasi, akhirnya dapat diketahui bahwa Clara diminta seseorang untuk memberikan ponsel kepada Shasha. Awalnya dia menolak memberikan ponsel tersebut yang dianggapnya sebuah ponsel misterius.


Namun Clara tak berdaya, dia berani melakukan itu karena di desak dan diancam jika dirinya akan dijadikan budak se*s di sebuah klab malam terbesar bahkan tak hanya menjadi budak tapi juga akan dijual jika berani membocorkan rahasia ini. Clara mengetahui saat si pengantar ponsel itu menelpon seseorang dengan inisial Mr. LG.


Selesai interogasi, kini Clara menemui Shasha dan meminta maaf. Sedangkan Johan sedari tadi selesai diinterogasi segera dia menyibukkan dirinya membantu mengurus kepulangan Shasha agar Shasa bisa segera kembali ke tanah kelahirannya.


Hi, guys... ada yang tahu siapa itu Mr.LG?


Lalu bagaimana Shasha akan kembali?


Ditunggu updatenya ya readers setia ku ...🥰🥰

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment..


Salam sayang dari aku🥰🥰🥰


__ADS_2