TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 126. KEBETULAN ATAU TAKDIR.


__ADS_3

"Pak, kenapa diam?"


"Pak .. Pak Dion?" sapa Shasha lagi sambil menyentuh bahu Dion. Merasa bahunya disentuh membuat sekujur tubuh nya menghangat seperti tersengat aliran arus listrik, degup hatinya yang bergetar tak karuan bahkan sudah membuat otak encernya menjadi kongslet. Hingga membuat dirinya diam tak sapat berbicara.


Semenjak kematian sang ibu, Dion tak pernah lagi merasakan kehangatan dari seorang wanita. Ibunya yang selalu menemani dan menguatkan hatinya dengan ucapan jodoh tak kan pernah tetukar, kata-kata itulah yang selalu ia tanamkan. Dirinya yang terlalu yakin bahwa Shasha adalah jodohnya sempat tak terima dengan status Shasha yang sudah menikah, namun semua itu menjadi kesempatannya untuk merebut kembali setelah tahu bahwa pernikahan yang dijalani Shasha tidak dilandasi dengan cinta.


Merasa tak mendapat jawaban, Shasha mulai menyentuh pundak Dion  lagi hingga membuat dirinya tak sengaja memegang tangan lembut yang menyentuh bahunya.


"Iya," ucapnya sambil memegang tangan lembut Shasha.


Shasha kaget, tak menyangka jika Dion membalas sentuhannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu sikap lembut mantan kekasihnya itu telah berubah menjadi pemarah. Mereka berdua pun saling berpandangan, kedua mata mereka saling bertatapan. Netra mata berwarna hitam milik keduanya saling berpandangan tak tahu apa yang sedang mereka berdua pikirkan. Hingga terdengar bunyi seseorang yang memanggil nama Dion masuk ke dalam ruangan.


Riko tertegun melihat pemandangan indah di depannya itu, dua insan yang pernah saling mencintai kini dipertemukan lagi, sebuah waktu yang tidak tepat tapi apakah ini yang dinamakan sebuah takdir. Riko mencoba mencairkan suasana itu dengan deheman panjang.


Eheeeeemmmm....


Pandangan Dion tersadar saat ia merasa tangannya dihempaskan oleh Shasha.


"S--sa--saya ke toilet dulu." ucap Shasha dengan terbata-bata sambil keluar dari ruangan tersebut.


**


Setelah kejadian tadi siang kini Dion harus mendamaikan hatinya dengan tidak berada di dalam ruangan yang sama, karena ia malu. Sejujurnya tak ada rasa malu, ia justru bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia dapat menyentuh Shasha meski tanpa ada status apapun diantara mereka berdua selain status atasan dan bawahan.


Sedangkan bagi Shasha kejadian pagi tadi membuat dirinya tiba-tiba menjadi bimbang.


Gak, gue ini istri Daniel. Gue ini udah menikah dan gue bukan lagi seorang ABG labil.


Lagipula Dion adalah masa laluku, dan aku tak pantas untuk memilikinya, aku pernah menghianatinya.


Suasana ruangan CEO yang sedari pagi terdengar ricuh akan suara emosional Dion kini harus berubah menjadi sepi, tak ada suara gurauan. Dan ini berlangsung cukup lama hingga jam pulang kerja berlangsung.


Jam sudah menunjukkan pukul lima artinya jam kerja telah selesai, Shasha tak langsung beranjak keluar dari ruangan meski sudah tak ada seorangpun di ruangan termasuk Riko. Dirinya tak tahu kemana jejak langkah atasannya yang sempat membuat keduanya saling pandang tadi.


"Kenapa hujannya belum berhenti?" tanya Shasha sambil melihat jam yang ada ditangannya. "Lebih baik aku disini dulu sambil menunggu hujan redah," gumam Shasha.

__ADS_1


Sambil menunggu hujan reda Shasha membuka beberapa buku dan agenda yang harus ia pelajari. Dinginnya cuaca membuat tubuhnya merasakan rasa lapar. Diambilnya ponsel yang ada diatas meja dan betapa sialnya ia harus melihat ponselnya dalam kondisi mati dan sialnya semakin bertambah bahwa ia lupa membawa charger ponsel.


Sepertinya hari ini aku diminta untuk program diet. Oke fix gue gak makan alias puasa.


Hawa dingin dan rasa lapar yang sudah bercampur menjadi satu membuat tubuhnya lemas dan rasa kantuk pun mulai menghinggapi dirinya. Shasha pun tertidur diatas meja kerjanya. Entah sudah berapa lama Shasha tertidur disana, hingga sebuah ruangan dibelakang rak buku bergerak sendiri. Dari pintu rahasia itu Dion keluar, dirinya kaget saat melihat Shasha sedang tertidur diatas meja kerja.


Dihampirinya meja kerja tersebut, dari dekat ia melihat Shasha yang sedang pulas tertidur dengan tangannya sebagai alas. Melihat itu Dion tersenyum, baginya ini adalah kali pertama ia melihat mantan kekasihnya itu tertidur. Wajahnya yang cantik tertutupi oleh beberapa helain rambut. Gemas dengan pemandangan itu reflek Dion merapikan rambut yang menutupi wajah Shasha.


Cantik, andai saja kamu sudah menjadi milikku pasti di malam dingin ini aku sudah memelukmu dengan erat.


Gue ngmong apaan sih!


"Jam berapa ini?" ucap Dion sambil melihat jam di tangannya."


Dion pun memastikan sesuatu, yaitu ia berjalan menuju ke sebuah pintu dan di pegangnya gagang pintu dan benar apa yang ia takuti terwujud, ternyata pintu sudah dikunci oleh sekuriti.


"Apa ini takdir atau hanya sebuah kebetulan? Kita berdua terkurung dalam sebuah ruangan." tanya Dion lirih sambil memandang wajah Shasha yang menggemaskan.


Dengan penuh kelembutan Dion mengangkat Shasha menuju ke ruangan rahasia miliknya untuk istriahat disana sedangkan Dion memilih untuk tidur di sofa yang ada di ruangannya.


Dalam tidurnya yang lelap Shasha harus terbangun karena cacing-caing yang ada didalam mulai berontak ingin dipeliahara dengan diperhatikan.


Kenapa tatanan ruangannya menjadi berubah? Mungkin perasaan ku saja,


Setelah membatin, Shasha kembali memejamkan matanya, dirinya yang amat lelah tak bisa menyeimbangkan dirinya sendiri.


Dion yang beristirahat di sofa berulang kali memandangi wajah Shasha yang ia lihat dari ponselnya. Ponselnya yang terhubung dengan CCTV yang berada di ruangan tersebut.Berulang kali Dion memandangi wajah cantik itu hingga ia pun tertidur.


***


Dion tersentak kaget saat ia mendengar sebuah suara orang sedang membereskan sesuatu.


"Acha?" sapa Dion.


"Pagi, pak."

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?"


"Iya."


"Maafkan aku, karena telah menggendongmu tanpa ijin." ucap Dion dengan perasaan bersalahnya.


"Tidak, akulah yang minta maaf karena telah membuatmu susah, hingga kamu harus tertidur di sofa."


"Jangan pikirkan itu. Lebih baik kamu mandi."


"Sudah, aku hanya ingin minta satu padamu."


"Apa?"


"Tolong pesankan makanan, ponselku mati aku tak membawa charger."


"Itu saja pesananmu? mau berapa porsi?" goda Dion.


"Satu saja. Maaf ya merepotkan."


"Sudahlah jangan bicara demikian."


Dion pun segera memesankan pakaian, dan tak hanya makanan yang dipesan namun pakaian kerja wanita lengkap dengan sepatu dan tas telah ia pesan untuk Shasha gunakan pagi ini agar pakaiannya tak sama dengan pakain kemarin.


***


Ditempat lain, setelah tiga bulan lamanya akhirnya Daniel kembali ke apartemen, tujuannya adalah ia ingin bertemu dengan Shasha untuk berbicara kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Namun semua itu sia-sia, ia menunggu Shasha tidak kunjung tiba hingga pagi tiba. Rasa geram dan emosi menghinggapi dirinya, ia mulai memasuki kamar Shasha. Daniel tak menyangka ternyata Shasha mengingkari janjinya yaitu ia telah melepas cincin pernikahannya.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.


__ADS_2