
"Huahhhhhhh ..." teriak Shasha keras sambil refleks melempar bantal ke arah Daniel.
"Apaan sih! pagi-pagi berisik," sambil mengambil bantal yang menutupi wajahnya karena lemparan Shasha.
"Ngapain bapak disini!" Shasha mulai panik.
"Ini kamar aku yang bayar, aku yang pesan wajar aku tidur disini." ucap Daniel.
Mendengar itu Shasha terdiam dan mulai beranjak dari tempat tidurnya. Tanpa ia sadari jika dirinya yang sedang datang bulan membuat sprei berwarna putih mulus berubah menjadi warna merah pekat dengan gambar bulatan yang cukup besar.
Setelah memandangi Shasha yang berjalan dengan langkah gontai kini Daniel mengarahkan pandangannya ke sebuah sprei yang bernoda.
"Sha, kamu kenapa?" teriak Daniel panik sambil mengejar Shasha. "Sha ..." Daniel memegang pundak Shasha.
"Apa sih!" kesal Shasha.
"Itu darah kamu?"
Mendengar kata darah membuat Shasha panik dan mulai mencari kaca, ia pun mulai memutar-mutar tubuhnya dan segera ia masuk ke kamar mandi.
Melihat Shasha yang lari Daniel heran dan mulai menelpon Melly, maminya. Berulang kali dicobanya untuk menghubungi mami' nya tapi tak kunjung diangkat. Hingga ia mendengar suara yang begitu keras terdengar dari kamar mandi.
"Tolong .....!" teriak Shasha keras.
Daniel yang berada di balkon segera menghampiri sumber suara.
Saat hendak mendobrak kamar mandi Shasha tiba-tiba memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa?" panik Daniel.
"Pak ...,"
"Iya apa?" tanya Daniel tak sabar.
"Pak ...., saya ... saya minta tolong."
"Apa?"
"Tolong belikan saya pembalut."
"Apa?"
"Pembalut."
"Gak ah, kamu pesan online saja."
"Harus datang jam berapa pak jika saya pesan online?"
"Pilih yang tiga jam sampai."
"Jangan gila dunk pak! masa iya saya harus menunggu di dalam kamar mandi sampai pesanan datang." kesal Shasha menanggapi ucapan Daniel.
"Bukannya itu lebih baik daripada saya harus beli di minimarket. Malu tau."
"Yasudah, tolong ambilkan ponsel saya." pinta Shashsa.
"Dimana?"
"Diatas nakas."
__ADS_1
Daniel menuju ke nakas dimana ponsel Shasha berada. Ponsel'pun diambil, mungkin sedang ada pesan masuk sehingga ponsel pun menyala. Tanpa sengaja ia membaca sebuah pesan masuk dari mertuanya yang mengatakan agar Shasha selalu bisa melayani suami dengan sepenuh hati, dan jangan pernah menolak kecuali jika dia sedang kedatangan tamu bulanan.
Membaca pesan itu membuat dirinya merasa bersalah karena selalu Shasha yang bersikap baik selama mereka menikah sedangkan dirinya tidak.
Hatinya yang terbawa suasana akan rasa bersalah mulai terhanyut dan dengan sigap keluar kamar hotel untuk pergi ke minimarket yang ada disebelah hotel membeli pembalut. Begitu dirinya berada di rak ia kebingungan pembalut macam apa yang harus ia beli.
Kerena bingung dan tak ingin bertanya Daniel pun membeli semuanya berbagai ukuran dan merk ia ambil dan taruh ke keranjang belanja.
Saat hendak antri membayar di meja kasir ia berpapasan dengan seorang wanita jadi-jadian.
"Hi, tampan. Banyak banget itu belanjaan. Buat eike satu, boleh ye?"
Daniel kaget karena baru ini ia berada di dekat waria.
"Idih tampan, sok jual mahal dan cuek. Pasti baru pertama ya belanja begini."
Tanpa sopan santun wanita jadi-jadian itu menarik tangan Daniel kebelakang dan kembali ke rak tempat pembalut.
"Ni, eike bantuin milih pembalut idaman para wanita. Wanita itu demen banget ama yang namanya sayap. Ingat Sa - yap, yang motonya tak tembus ke samping." sambil memperagakan gaya bak iklan pembalut. "Nah dan ini merek yang eike saranin." sambil menunjuk merek dan mengembalikan merk dan ukuran yang tak perlu."
"Apa kamu yakin istri saya pakai yang ini." dengan nada tak percaya ia bertanya.
"Iya, percaya sama eike. Eike udah ada di dunia per wanitaan bertahun-tahun, Cin. So, gue hafal." ucapnya dengan nada gemulai.
"Makasih ya."
"Sama-sama, Cin."
Kini Daniel segera menuju ke kasir dan membayar. Setelah itu buru-buru menuju hotel dan membuka pintu kamarnya. Dengan langkah cepat ia mengetuk pintu kamar mandi.
Tok!
Tok!
Tok!
Mendengar suaranya yang menurutnya tak biasa membuat Shasha bertanya siapa yang berada di depan pintu kamar mandi.
"Siapa?"
"Kamu kira siapa lagi!" bentak Daniel.
"Bapak darimana aja, memang ambil ponsel dimana? Korea."
"Sudah jangan cerewet! Ini." sambil memberikan bungkusan."
Shasha segera mengambil bungkusan yang diberikan Daniel dan menutup pintu kamar mandi.
Baru saja Daniel berjalan menuju kamar lagi-lagi ia mendengar Shasha berteriak.
"Tolong ... Tolong ...."
"Kamu kenapa?" berlari sambil tergopoh-gopoh.
"Tolong ambilkan sprei yang berdarah tadi pak."
"Kamu nyuruh saya! Ogah. Ambil sendiri! Kamu siapa suruh-suruh saya!"
"Saya gak nyuruh. Saya minta tolong! bapak jangan keterlaluan jadi manusia dong. Bisa gak! Ingat ya pak, orang meninggal itu gak jalan sendiri!" bentak Shasha yang tak kalah galak.
__ADS_1
Mendengar Shasha bicara kematian dengan nada galak membuat Daniel merinding. Karena baru ini ia tahu jika sisi galak Shasha tampak.
Daniel berjalan menuju kamar sambil tercengang dan tak percaya melihat kelakuan Shasha.
Kenapa dia jadi begitu galak, mirip Sadako. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang benar jangan pernah ganggu cewe PMS. Jangan pernah sekali-kali lu ganggu cewe PMS bisa kelar hidup lu.
Daniel segera mengetuk kembali pintu kamar mandi dan memberikan sprei bernoda merah tersebut.
"Emang mau diapain itu seprei nya?"
"Cuci.!"
"Kenapa di cuci kan nanti ada yang cuci?"
"Gak mau. Sudah lah pak. Bapak diam saja!" ucap Shasha sambil membuka pintu dan keluar dengan pakaian lengkap.
"Mau kemana? katanya cuci" tanya Daniel heran.
"Bapak kug tanya terus sih! Lebih baik bapak di depan nonton tv saya mau disini!"
Mendapat perintah tersebut segera Daniel keluar dan berniat mengajak mertuanya untuk makan di luar hotel.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel kini berada di sebuah restauran bersama dengan mertuanya.
"Ayah dan Bunda mau pesan apa?" tanya Daniel ramah.
"Kami berdua ini saja." tunjuk pak Idris.
"Bunda juga?"
"Iya, selera kami sama."
"Baiklah," ucap Daniel sambil tersenyum.
"Apa Shasha masih tidur, sampai tak ikut makan?" tanya pak Idris.
Sally yang salah sangka kerena kelakuan anak dan menantunya tadi mencoba menggoda menantunya.
"Tidak ayah, Shasha sudah bangun. Namun, sepertinya anak kita kehilangan banyak tenaga karena ulah suaminya." sambil tertawa dan menutup sedikit mulutnya.
Uhuk ...
Uhuk ...
Mendengar ucapan mertuanya Daniel yang sedang minum tiba-tiba terbatuk karena kaget.
"Maksud bunda?" tanya pak Idris, suaminya.
"Sudah, jangan dibahas, lihat menantu kita sampai terbatuk mungkin dia malu." "Daniel, itu wajar, maklum kalian masih pengantin baru. Tadi bunda ke kamar kalian karena diminta Shasha memberikan bajunya."
"I---iya, tak apa bunda."
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak