TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 104. PANGGILAN SAYANG.


__ADS_3

Pulang lembur Shasha mendapat kejutan yang tak terduga dari Daniel, suaminya. Ia merasa jika suaminya itu mulai tertarik pada dirinya.


Apa karena sikapku yang berubah dingin sehingga dia menjadi perhatian?


Sepertinya lebih baik bersikap seperti ini terus.


Dirinya yang lelah mulai tertidur, ia sama sekali tak memperhatikan ponselnya. Ponselnya dibiarkan mati dan sudah di cas saat sebelum tidur tadi.


**


Disebuah kamar yang sangat besar dengan design sepak bola favoritnya, Daniel duduk diatas sofa bed yang pernah Shasha tempati. Ia duduk sambil tersenyum sendiri, rasa bahagia menyelimuti dirinya. Setidaknya ia tak terlalu banyak menanggung dosa, karena ia mulai memberikan nafkah untuk istrinya. Meski baru nafkah lahir, bukan nafkah batin.


Kedengarannya biasa namun tidak bagi Daniel, meski terlambat namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Kini ATM pribadinya sudah dipegang oleh Shasha untuk keperluan rumah tangga mereka, begitu juga dengan black card miliknya.


Semoga dengan perubahan sikapku dia dapat melihat bahwa aku mulai mencintainya dan tak ingin kehilangan dirinya. Semoga ikatan hati kita berdua akan menyatu, dan kamu bisa merasakan apa yang sesungguhnya aku rasakan jika jauh darimu.


Aku tahu aku salah tak menceritakannya padamu tapi aku punya cara tersendiri menyelesaikan masalahku agar kamu tak kecewa. Semoga kamu sabar ya sayang.


Setelah capek tersenyum dan bergulat dengan pikirannya kini Daniel merasa lelah dan mulai tertidur di sofa bed. Seperti biasa ia tak pernah tidur menggunakan baju, dia hanya bertelanjang dada dan memakai boxer. Dirinya sangat terbiasa dengan hawa dingin yang tentunya sangat berbeda dengan Shasha.


**


Pagi pun tiba, Shasha masih tak bisa terlepas dari kasur empuk di kamarnya.


"Hoammmm, jam berapa ini?" sambil meraba-raba ponselnya. "Lha, kemana ponselku." Shasha mulai berdiri dengan terhuyung karena baru bangun langsung berdiri untuk mengambil ponselnya.


Setelah memeriksa ponselnya ia segera melakukan aktivitasnya seperti biasanya, namun saat menoleh kebelakang ia dikejutkan dengan kehadiran suaminya yang duduk di pantry.


"Masya Allah , Bapak!" dengan terkejut Shasha memandang ke arah Daniel.


Daniel mengerutkan keningnya saat ia mendengar bahwa Shasha masih memanggil dirinya dengan panggilan BAPAK.


"Coba ulangi tadi panggil saya apa?"


"Ba–," Shasha berhenti berkata ia ingat bahwa semalam dirinya menyanggupi persyaratan yang diberikan Daniel padanya.


Shasha bingung harus memanggil apa, tak ingin menghabiskan waktunya dengan berfikir panggilan apa yang tepat diberikan kepada Daniel ia pun kembali membalikkan badannya dan sibuk memasak.


Melihat sikap Shasha yang seperti itu membuat Daniel semakin gemas dengan sikap istri kecilnya itu.


Aku tak sabar mendengar-mu memanggilku dengan panggilan selain bapak.


Daniel dengan setia menunggu Shasha memasak sampai selesai, dia sengaja berada disana agar puas memandangi istrinya dari segala arah. Cukup lama ia berada di pantry hingga Shasha pun selesai dan kini ia mulai membalikkan badannya ke arah suaminya.


Gawat ni, gue harus panggil apa nih?


Gila-gila-gila, kenapa otak gue jadi buntu gini.


God, gue harus panggil dia apa ni.


“Masak apa?” tanya Daniel yang berusaha memulai pembicaraan diantara mereka.”


“Nasgor ayam, Bie.” dengan spontan Shasha menjawab.

__ADS_1


Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan Bie membuat Daniel melayang.


“Apa? Masak apa Ay?”


Dengan spontan Daniel juga membalas Shasha dengan panggilan Ay. Mendengar dirinya dipanggil Ay membuat Shasha tersenyum. Dirinya tak menyangka jika dirinya dan Daniel akan sama-sama memanggil dengan panggilan baru.


"Kenapa tersenyum?" tanya Daniel yang sengaja menggoda Shasha.


"Bukannya pagi akan lebih indah jika diawali dengan sapaan, senyuman, dan makanan?" ucap Shasha dengan sedikit malu-malu.


“Sepertinya aku tak jadi makan jika seperti ini.” ucap Daniel tiba-tiba.


“Kenapa?” tanya Shasha panik.


“Hanya dengan melihat senyummu aku sudah kenyang.” Daniel berkata sambil memandang wajah Shasha yang kini mulai berubah warna.


“Jangan berlebihan, Bie.” sambil tersenyum Shasha menjawab.


“Cukup! Jangan tersenyum seperti itu.” ucap Daniel sedikit membentak hingga membuat Shasha sedikit kaget dan menormalkan warna wajahnya kembali ke asalnya.


“Kenapa, pak?” dengan khawatir ia bertanya.


“Bisa-bisa aku terserang penyakit diabetes.”


“Kenapa begitu, kalau gitu saya ganti dengan menu lainnya pak.” dengan panik Shasha hendak kembali ke dapur. Namun segera Daniel menarik tangan Shasha hingga membuat Shasha terduduk di pangkuan Daniel. Mereka berdua pun saling pandang.


“Senyummu yang membuatku terserang Diabetes.”


Bibir Daniel mulai menghirup leher belakang istrinya secara perlahan, bau aroma vanilla milik istrinya benar-benar membuat dirinya candu. Kini keduanya hendak melepas hasrat yang lama mereka pendam dan ¬¬..


Bunyi suara ponsel Daniel berdering nyaring, posisi keduanya yang pas kini menjadi berantakan. Shasha segera berdiri dari pangkuan Daniel dan membetulkan posisi bajunya lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil beberapa peralatan makan yang harus ia taruh di meja makan.


”Ay, aku angkat telepon dulu. Lalu kita sarapan bersama.” ucap Daniel sedikit kacau dan salah tingkah.


Shasha hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Daniel. Ia dengan cepat mengambil piring dan gelas lalu ia pun segera menghabiskan makannya dan tak mempedulikan permintaan Daniel.


Sekitar hampir 30 menit Daniel kembali ke ruang makan dan sudah melihat Shasha tak ada di tempat. Ia yakin bahwa istrinya itu sudah sarapan dulu, terlihat dari tempat nasi goreng yang sudah berkurang.


“Kenapa dia tak mendengarkan-ku? Padahal aku ingin makan bersama.” Daniel bertanya-tanya. “Sepertinya terlalu lama aku meninggalkannya disini.” Dengan menghela nafas panjang Daniel memaklumi sikap Shasha karena dirinya juga merasa menyesal harus membawa ponselnya tadi ikut dengan dirinya berada di dapur.


Beberapa saat kemudian muncul Shasha yang keluar dari kamar mandi yang berada di dekat ruang wardrobe.


“Kamu sudah makan, Ay?”


Shasha hanya mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Daniel.


“Kenapa senyumnya berbeda dengan tadi?” tanya Daniel penasaran.


Dia pun penasaran dan mulai menyusul Shasha ke kamarnya.


“Ay, kamu kenapa?” tanya nya sambil mengetuk pintu kamar Shasha.


Shasha di dalam pura-pura tak mendengar. Ia kesal kepada Daniel.

__ADS_1


“Kenapa tak jawab? Ay? Kamu ngapain sih? Aku masuk ya.”


Mendengar Daniel berencana masuk membuat Shasha berteriak. “Jangan!!”


“Jangan apa? Jangan lama-lama?” goda Daniel.


Tak menanggapi godaan Daniel, Shasha fokus untuk mempersiapkan keperluannya yang akan dia bawa untuk bekerja.


Sudah tak ada suaranya. Sepertinya dia sudah kembali ke kamarnya. Lebih baik sekarang aku cepat-cepat keluar dan menyiapkan air mineral yang akan kubawa nanti.


Shasha keluar kamar, apa yang ia pikirkan salah ternyata Daniel masih berada di depan kamarnya sambil bersedekap.


“Kenapa tak jawab? Kamu marah?”


Shasha hanya menggeleng.


“Lihat aku!” perintah Daniel sambil memegang dagu Shasha.


“Jangan seperti ini, Pak!” dengan sedikit kesal Shasha berucap.


“Kenapa panggilnya Pak, lagi? Kamu gak ingat apa yang saya ucapkan semalam?”


Shasha menghela nafas panjang dan bersiap hendak memanggil Daniel dengan panggilan baru.


“Iya B -,”


“Sudah, gak usah dilanjutin, jika memang tak bisa memanggilku dengan panggilan seperti tadi!” dengan emosi Daniel berucap.


Tak mau kala dengan Daniel, merasa dirinya tak salah Shasha pun ikut menjawab dengan emosi, “Yasudah, gak usah goda-goda! Gak usah panggil-panggil Ay atau apalah. Urus saja wanita kelinci di ponselmu itu.”


Setelah berkata demikian Shasa segera keluar dari apartemen dan berangkat. Ia tak jadi membawa bekal minuman yang sudah dia siapkan di dapur.


Mendengar itu Daniel sadar sepertinya Shasha melihat siapa tadi yang menelpon dirinya.


Dia cemburu. Baguslah, artinya dia masih mencintaiku.


Gara-gara wanita sinting itu pagi ini sarapan terlezat dengan istri harus terlewatkan.


Lain halnya dengan Shasha, ia yang kini masih berada di mini market dekat apartemennya merasa jengkel.


Dasar buaya! Bilangnya aku buaya gak tahunya dia yang buaya! Enak ya rasanya punya dua wanita. Bosan yang sana baik sama yang disini, bosan yang disini baik sama yang disana. Dasar !!


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2