TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 58. EKSPRESI SHASHA.


__ADS_3

Setelah berbicara berdua kini Shasha dan ayahnya saling bercanda. Ayahnya tak bertanya pertanyaan yang dia takutkan yaitu tentang Abra.


"Mungkin ayah benar-benar mengganggap bahwa Abra adalah suruhan Leon." batin Shasha sambil tetap tersenyum menanggapi candaan yang dilakukan ayahnya.


Senyum dan canda riuh mereka berdua terhenti oleh kedatangan Erza dan Jihan yang keluar dari kamar mereka menuju taman belakang.


"Ayah, aku dengar adikku akan menikah dalam waktu dekat. Mana calon suaminya?" Erza bertanya sambil matanya melihat kearah Shasha.


Seketika itu juga muncul Sally dan Melly berjalan kearah mereka berkumpul. Beberapa menit kemudian disusul oleh Joshka dan Daniel.


"Itu, lelaki gagah dan tampan itu calon suami adikmu." jawab ayah tanpa menunjuk kedatangan kedua lelaki tampan blasteran yang datang menghampiri mereka.


"Yang mana? itu ada dua lelaki bule berjalan?" goda Erza kepada adiknya.


"Kakak pikir aja sendiri," kesal Shasha menanggapi pertanyaan tak penting kakaknya.


"Aku serius, apa dia lelaki 13 tahun silam?" bisik Erza ditelinga ayahnya.


Pak Idris menganggukan kepalanya.


"Artinya dia seusia denganku?" kaget Erza.


"Kenapa? tapi masih terlihat tampan, bukan?" ucap Sally berbisik kepada Erza.


"Sayang, kenapa dari tadi berbisik terus?" bisik Jihan kepada suaminya.


Apa yang dibisikkan istrinya rasanya benar tak pantas jika dia bertanya sambil berbisik-bisik.


"Kakak gak pernah sangka bahwa adikku yang manja akan menikah diusia yang masih belia." suara lantang Erza memecah keheningan setelah Jihan menegurnya karena dari tadi berbisik-bisik terus.


Suara Erza membuat Shasha menjawab olokan kakaknya.


"Dan aku tak pernah menyangka kakakku yang galak menikah dengan kak Jihan yang sabar." ledek Shasha kepada kakaknya sambil menjulurkan lidahnya hingga membuat semua orang tertawa dengan tingkah Shasha.


"Wajah galak tidak berlaku jika sudah menjadi suami karena ada yang lebih galak yaitu istri." ejek Erza sambil melirik istrinya hingga membuat Jihan salah tingkah dan mencubit perut Erza.


Melihat kebahagian kakaknya membuat Shasha senang karena akhirnya ada seseorang yang dapat meluluhkan hati kakaknya. Senyum yang terlukis di bibir merah Shasha menghilang saat Daniel berdiri mendekatinya.

__ADS_1


"Jangan pernah membayangkan kehidupan pernikahan indah bersamaku." bisik Daniel di telinga Shasha.


Mendengar bisikan Daniel membuat Shasha tak dapat membayangkan bagaimana hidupnya setelah menikah. Ia hanya bisa membuang nafas dalam-dalam sambil memaksakan senyuman.


"Ehem, jadi tepatnya kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?" tanya Erza berusaha lebih mencairkan suasana.


"Lusa kami akan menikah." Daniel berbicara dengan tegas dan penuh keyakinan hingga membuat semua orang terbelalak kaget termasuk Shasha.


"Maksudmu dua hari lagi?" tanya Melly tak percaya dengan ucapan anaknya.


"Iya mi, kami sudah memutuskan, kami tinggal di kota yang sama. Jadi lebih baik dilakukan secepatnya." jelas Daniel.


"Cha, kamu tidak bercanda kan? tanya Sally sambil memandang lekat wajah putrinya.


"I---iiya mi." ucap Shasha terbata karena Daniel sudah memintanya untuk selalu berkata iya jika ditanya.


"Kenapa mendadak dek? kamu sedang tidak berbadan dua, kan?" Erza bertanya dengan spontan.


"Kakak mencurigaiku?" Shasha jengkel menjawab pertanyaan kakaknya.


"Untuk saat ini belum kak, tapi setelah nikah aku akan menghamilinya." jawab Daniel dengan tenang membalas pertanyaan Erza.


"Jadi, kamu ingin mempercepat pernikahan karena ingin segera menghamili adikku?" Erza bertanya kembali.


Daniel hanya tersenyum memperlihatkan gigi indahnya sambil melirik ke arah Shasha.


Melihat itu Shasha menjadi takut, karena ia yakin ada perjanjian besar setelah menikah yang akan diberikan Daniel kepada dirinya. Dan ternyata apa yang Shasha yakini sama dengan isi dalam pikiran Daniel yang telah merencanakan perjanjian.


Daniel menginginkan pernikahan cepat diselenggarakan agar acara dibuat sesimpel mungkin dan tak terendus oleh media.


"Betul kak. Kakak kan tahu bagaimana aku. Aku simpel." Shasha berusaha mendukung ucapan Daniel.


"Tapi terlalu mendadak nak. Kalian belum memesan cincin dan baju pengantin." ucap Melly seperti ragu.


"Jari Shasha tidak terlalu kecil ataupun besar, sepertinya akan mudah mengepaskan cincin, betulkan?" Daniel bertanya dengan tatapan manis kepada Shasha.


"Iya." balas Shasha sambil melemparkan senyum kepada Daniel.

__ADS_1


"Tapi kan perlu ..." ucapan kekhawatiran Melly terhenti dengan suara Joshka.


"Tenang mi, untuk cincin akan selesai dalam waktu 24jam." Joshka berusaha menenangkan Melly dengan memegang jari istirnya.


"Lalu baju pengantin, bagaiamana?" khawatir Melly lagi.


"Saya ada baju kebaya mi, pak Daniel bisa memakai baju formal." usul Shasha berusaha menenangkan kekhawatiran calon mertuanya.


"Bagaimana mi, ide Shasha bagus juga. Atau kita menyewa saja?"


"Tidak, setidaknya jangan menyewa. mau ditaruh mana muka mami. Shasha adalah anak perempuan mami yang akan bersanding denganmu. Jadi jangan pernah bicara menyewa didepan mami." omel Melly kepada Daniel.


"Maaf ya Sha, bukannya mami gak setuju sama saran kamu, nak."


"Lalu bagaimana bu?" tanya Sally khawatir.


Melly yang biasanya banyak ide cemerlang tiba-tiba menjadi buntu. Ia masih berfikir keras bagaimana caranya agar tidak menyewa. Beberapa saat kemudian idenya mulai muncul.


"Mami ada butik langganan. Baju kebaya yang mereka jual bagus. Malam ini kita harus segera kesana." ajak Melly agar calon besannya tersebut lega dan yakin.


"Bagaimana dengan undangan, penghulu dan juga catering?" kali ini pak Idris mulai bersuara karena sedari tadi ia hanya menyimak.


"Jika waktunya hanya tinggal besok maka tak perlu undangan yah, hanya keluarga inti saja untuk penghulu kita bisa meminta tolong pak Ridwan tetangga sebelah rumah kita." Kali ini Sally berusaha membuat tenang suaminya.


"Catering saya yang akan menghandel, pak." Joshka menenangkan calon besannya.


"Baiklah pak. Acara pernikahan anak kita benar-benar mendadak semoga diberi kelancaran." pak Idris berkata pasrah.


Melihat nada suara ayahnya ia tahu bahwa ada kekecewaan. Ia berharap Shasha dapat melangsungkan pernikahan secara umum. Dimana ada sebuah persiapan matang bukan yang seperti ini. Semuanya dilakukan mendadak.


Shasha merasa bersalah kepada orangtuanya hanya karena mengikuti kemauan Daniel. Impian masa kecilnya yang mana dia akan bertemu dengan pangeran tampan hingga dapat membuat dirinya bahagia kini hanya sebuah mimpi. Mimpi dari dongeng yang selalu bunda dan ayahnya bacakan setiap malam menjelang tidur.


Jihan melihat ada yang tak beres dengan raut wajah adik iparnya. Ia merasa Shasha sepertinya terpaksa, hal itu terlihat dari sebuah senyuman palsu yang muncul dari garis kerutan pada sudut bibir. Ekspresi wajah antara bagian kiri dan kanan yang berbeda, tak hanya itu kedipan mata Shasha yang terlalu sering membuat dirinya yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2