
Taksi yang Shasha tumpangi kini berada di sebuah gedung apartemen megah milik Abra. Segera Shasha turun dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantar dirinya ke apartemen ini dengan cepat dan selamat.
Keluar dari taksi segera Shasha memasuki apartemen dan menghampiri resepsionis, disana dirinya dimintai data diri dan dia mengaku bahwa dirinya adalah saudara Abra.
"Kebetulan pak Abra sedang tidak mengangkat telepon. Jika ibu berkenan menunggu atau mau langsung ke kamar pak Abra?"
"Saya langsung kesana saja mba."
Shasha segera menaiki lift dan menekan tombol dan pintu lift terbuka. Shasha keluar dan mencari kamar milik Abra. Kamar XXX. Ditekannya tombol pintu apartemen kamar Abra dan ...
Ceklek(suara pintu terbuka)
"Hi, kak ..." sapa Shasha bahagia.
Abra yang melihat kedatangan Shasha begitu terkejut. Tak ada ekspresi bahagia yang muncul dari wajahnya bahkan senyum juga tak ada.
"Surprise, aku datang kak." ucap Shasha penuh bahagia.
"Buat apa datang kesini!" ucap Abra dengan nada tinggi.
"Mau ketemu kaka, bukannya kita sudah lama tak bertemu. Aku kira Kaka sibuk jadi aku yang kesini." jelas Shasha.
Abra mulai menyuruh Shasha masuk dan mempersilakan Shasha duduk. Melihat kedatangan Shasha Abra panik karena dia tak ingin gara-gara Shasha maka rencana dia akan kacau dan terbengkalai.
"Kamu tahu darimana aku tinggal disini dan kenapa kamu tak bilang kalau kamu akan kesini!" tanya Abra dengan emosi.
"Kaka kenapa? sepertinya gak suka Shasha datang. Kalau Kaka gak suka Shasha minta maaf."
"Harusnya kamu bilang dulu, jangan bikin kejutan-kejutan begini. Yasudah kamu tunggu disini saja aku mau berangkat kuliah dulu." bentak Abra.
Shasha yang dibentak kecewa dia tak menyangka bahwa kedatangannya justru membuat Abra marah.
"Kamu tunggu aku disini, jangan kemana-mana, aku hanya ke kampus sebentar mau bertemu dengan dosen pembimbingku." ucap Abra sambil mengunci kamar dan mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.
Tanpa berpamitan lembut Abra mulai keluar pintu dan meninggalkan Shasha yang berada didalam. Dan tanpa Abra sadari bahwa dirinya lupa membawa kunci. Kunci tersebut masih menempel di pintu.
Lama menunggu kedatangan Abra hingga Shasha tertidur di sofa. Cukup lama Shasha tertidur hingga waktu sore. Shasha yang lelah harus menunggu kedatangan Abra mulai mencari-cari apa yang harus dia kerjakan daripada dia hanya diam duduk untuk melihat televisi dan berbaring di ruang tamu. Shasha mulai berjalan ke arah dapur untuk memasak beberapa bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Setelah selesai memasak dia menyapu dan membersihkan semua ruangan.
Langkah kakinya terhenti pada sebuah kamar yang terdapat kunci sedang menggantung. Sekilas dia ingat bahwa tadi Abra sempat keluar dari kamar ini dan menguncinya. Penasaran dengan apa yang ada di dalam kamar mengapa Abra sampai mengunci kamar tersebut. Dengan perasaan takut Shasha mencoba untuk memberanikan diri membuka kamar tersebut.
Ceklek (suara pintu tersebut)
Ketika memasuki kamar Abra tak ada yang aneh dan perlu dicurigai namun dirinya penasaran dengan beberapa foto yang terpasang di dekat tempat tidur Abra, di dekatinya foto tersebut deg.
Matanya tertuju dengan beberapa foto. Foto Abra dengan seorang wanita yang tak asing pernah dilihatnya, dirinya lupa pernah melihat foto tersebut dimana. Foto yang terpasang tidak hanya satu dua namun banyak dan membuat hati Shasha menjadi sesak, dia tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
__ADS_1
Kaki Shasha merasa lemas, dia terduduk dilantai sambil memegang dadanya. Pikirannya masih berusaha mengingat siapa wanita tersebut karena wajahnya pernah dia lihat sebelumnya. Pandangan matanya terlihat kosong namun dia tertarik mendekati lemari yang sedikit terbuka.
Shasha mencoba berdiri dan berjalan tertatih untuk menghampiri lemari itu. Dibukanya lemari tersebut, betapa terkejut dirinya kala melihat banyak beberapa pasang baju wanita termasuk lingerie. Baju-baju wanita tersebut berada di dalam lemari milik Abra bahkan dirinya melihat tergantung rapi beberapa pakaian dalam wanita dan milik Abra. Disitu Shasha juga melihat sebuah kotak besar rapi. Diambilnya kotak tersebut, dilihatnya kotak itu terdapat sebuah kertas dengan tulisan
my ❤️
Sometimes, I wish I could pause time so that I could stare at you for some more time.(terkadang, aku berharap bisa menghentikan waktu agar aku bisa menatapmu lebih lama lagi.)
Happy birthday, love.
Deg ... deg
Shasha menjadi semakin lemas dan tak berdaya, dirinya kali ini benar-benar diam tak dapat berkata-kata. Mulutnya terkunci dan hanya air mata yang keluar tak terbendung hingga air juga mengalir dari hidungnya. Suara isak tangisannya mulai terdengar.
Hatinya begitu hancur saat tahu lelaki yang begitu dia cintai dan dia beri kesempatan ternyata benar-benar mengkhianatinya. Dirinya tak menyangka pilihannya benar-benar salah.
Hiks ... hiks ....(suara tangis Shasha)
"Tega, kenapa kamu tega kak!" teriak Shasha sambil melempar kado itu dengan keras.
Shasha tertunduk, sambil masih melanjutkan tangisannya. Dirinya tak menyadari jika Abra sudah datang dan sedang melihat dirinya sedang menangis.
Melihat Shasha yang sedang menangis di depannya membuat Abra bingung, dirinya benar-benar merasa berdosa dan tak berdaya, karena sebelumnya dia juga pernah melihat mamanya yang menangis terisak saat mengetahui bahwa ayahnya telah berselingkuh dan memilih untuk pergi dengan wanita lain.
"Sha, kakak minta maaf. Kakak gak bermaksud berbohong ke kamu ..." ucap Abra sambil duduk di dekat Shasha.
"Cukup kak, Kakak masih mengelak atas kebohongan kakak?!, tapi ini sudah jelas, tanpa kakak menjelaskan, ini semua sudah jelas kak. Jadi ini semua jawabannya, semua kesibukan kakak ternyata ini jawabannya!! Lebih baik kita selesai saja." ucap Shasha sambil menghempas tangan Abra yang berusaha menyeka air matanya.
"Tunggu penjelasanku dulu! Jangan kamu potong ucapan ku!" bentak Abra.
"Apa lagi yang perlu dijelaskan. Ini semua sudah jelas. Baju lingerie, foto - foto mesramu itu bahkan kita saja tak pernah berfoto seperti itu. Kenapa? kenapa kak?" bentak Shasha keras.
Abra yang kaget tak percaya jika Shasha dapat membentak dirinya dengan keras menjadi terdiam.
"Kakak tak bisa kan menjelaskan sekarang? Bahkan surat yang ada pada kotak itu sudah menjelaskan bagaimana hubunganmu dengan wanita yang ada di foto itu." ucap Shasha tanpa memandang wajah Abra.
"Aku akan jelaskan semuanya tanpa ada yang aku tutupi tapi percaya lah aku mulai mencintaimu sejak saat itu."
"Jika kakak mencintaiku kenapa berulang kali menyakitiku?" tanya Shasha lirih.
"Justru karena aku sering membuatmu sakit maka perasaan cintaku semakin besar ke kamu. Tak ada satupun wanita yang bertahan dengan egoku. Kamu satu-satunya wanita yang belum pernah aku sentuh lebih. Dan aku sadar saat kamu benar-benar menolak ku beberapa tahun yang lalu. Bahkan saat kamu mengetahui perselingkuhanku dengan Rosullina dan Riko kamu tetap memaafkan ku. Dan aku minta kali ini tolong sekali lagi kamu dengar kan kakak. Kakak melakukan ini karena terpaksa. Kakak tak mau kehilangan masa depan Kakak. Kakak capek jika harus dihina terus. Tolong kamu bertahan sampai kakak lulus kuliah dan bekerja."
"Untuk apa Shasha harus bertahan? jika Kakak tak mau kehilangan masa depan. Sudah jelas artinya bahwa wanita ini menjadi penerang hidup kakak. Jadi setelah lulus pun dia akan berperan besar dalam masa depan Kakak. Bukan begitu kak?"
"Pernyataanmu tidak sepenuhnya salah, yang pasti aku mencintaimu dan aku akan menikahimu seperti apa yang pernah aku ucapkan. Aku tahu aku adalah satu-satunya lelaki yang pernah melihat sebagian tubuhnmu, aku pernah hampir memperkosamu jadi tolong beri aku kesempatan lagi. Aku ingin memperbaikinya." ucap Abra penuh harap sambil mencoba meraih tangan Shasha.
__ADS_1
"Sudah lah kak, apa yang mau diperbaiki. Kesempatan yang aku beri sudah cukup dan itu sudah menjawab semuanya." ucap Shasha yang hendak berdiri namun tangan dan kakinya ditahan oleh Abra.
"Tidak, tolong beri aku kesempatan lagi. Aku janji akan setia." ucap Abra sambil mengeluarkan air mata.
"Cukup kak, simpan air matamu. Air matamu terlalu berharga jika dikeluarkan hanya untuk meminta diriku bertahan. Aku akan ikhlas melepas semuanya." ucap Shasha mencoba berdiri sambil menyeka air matanya.
"Dalam keadaan marah pun kamu masih memikirkan kebahagian dan diriku. Air mata ini pantas keluar untuk mempertahankan dirimu, aku mencintaimu tulus Sha, tolong jangan tinggalkan aku. Aku melakukan itu karena aku tak ingin dihina, dia berbeda denganmu namun aku berhutang banyak dengannya."
"Kalau begitu lepaskan aku. Aku yang akan pergi. Cobalah untuk tulus mencintainya, belajarlah untuk mencintainya. Kesalahan yang pernah kakak perbuat dimasa lalu jadikan pelajaran. Aku ikhlas, terimakasih atas semua perhatian yang pernah kakak beri kepada Shasha." ucap Shasha tegar.
"Please, jangan tinggalkan kakak. Tunggu kakak. Setidaknya aku akan menjadikanmu istri keduaku."
Mendengar itu Shasha terkejut dan berbalik untuk menghampiri Abra.
"Tidak kak. Cobalah belajar setia dengan satu wanita. Wanita ini yang menerangi hidupmu jadi jaga dan sayangi dia. Aku adalah masa lalumu dan dia adalah masa depanmu."
Abra yang masih tak terima jika hubungannya harus kandas dengan Shasha mencoba untuk terus meminta Shasha agar setuju untuk dijadikan istri keduanya kelak. Tanpa Abra sadari bahwa sedari tadi ponselnya bergetar hingga dia mendengar ada ketukan pintu.
Tok ... tok ...
Abra kebingungan siapa yang datang jam segini. Segera dia mengintip di lubang pintu kecil dan dia terpaku melihat bahwa yang datang adalah Medi, kekasihnya.
Tok ... tok ....
Tok ... tok ....
Ketukan pintu yang dilakukan Medi makin keras. Hingga membuat Abra terpaksa membukakan pintu karena percuma saja jika pintu tak dibuka karena Medi akan tetap nekat masuk dengan meminta bantuan petugas apartemen. Sebelum Abra keluar ke kampus pagi tadi dia sengaja mengganti paswordnya untuk menghindari jika Medi tiba-tiba datang dan akan melihat keberadaan Shasha.
Ternyata Medi benar-benar datang.
Ceklek
" Kenapa harus ubah password?" tanya Medi sambil memaksa masuk karena dia merasa ada yang tidak beres.
Betapa terkejutnya Medi saat melihat ada seorang wanita cantik yang baru keluar dari kamar Abra dengan wajah sembab.
Medi murka dan geram .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰
__ADS_1