TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 25 KEMARAHAN DANIEL


__ADS_3

Pembicaraan antara Melly dan Shasha masih berlanjut. Melly mengatakan bahwa Daniel tidak mengetahui jika Asia adalah anak dari Leon. Asia sendiri juga tidak tahu jika Daniel adalah seseorang yang telah menewaskan Xavier, Kakaknya.


"Tapi Mi, aku tidak yakin jika aku bisa merebut hati pak Habbie."


"Mami gak percaya. Lalu ini apa?" tanya Melly sambil mengeluarkan beberapa foto ciuman mereka berdua, di taman perpustakaan dan kolam renang.


Shasha kaget melihatnya, dia tak percaya ada seseorang yang memotret semua tindakannya.


"Mi, b--bagaimana mami bisa dapat ini?"


"Mami sudah bilang, akan mengawasi mu, karena kami sekeluarga sudah berjanji untuk selalu melindungi mu. Coba kamu lihat bagaimana Daniel mencium mu, dia begitu berna*su, bukan?" goda Melly.


Shasha malu dengan kelakuannya karena telah membalas ciuman panas itu dan menundukkan wajahnya.


"Nak, mami tahu apa yang kamu rasakan, Daniel tak seharusnya melakukan itu."


"Ia Mi, aku merasa menjadi wanita gampangan, dengan mudahnya mau dicium oleh seseorang yang sama sekali tidak ada hubungan denganku."


"Mami yakin, sedikit demi sedikit Daniel mulai mencintai kamu. Johan, bagaiamana pendapatmu?"


Johan menghembuskan nafasnya, lalu berkata "kita coba saja, aku yakin kalian bisa bersama."


Johan tidak memberitahu bahwa Daniel telah mengetahui semua rahasia Shasha dari ponsel lama Shasha.


Setelah perbincangan lama mereka pun saling berpamitan untuk pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di dalam mobil


"Sha, apa yang kamu pikirkan?" Kenapa dari tadi diam saja?"


"Aku tak menyangka bang, gara-gara aksi heroik ku kini aku malah menyusahkan banyak orang. Termasuk memaksa pak Habbie untuk meniggalkan kekasihnya dan menikahi-ku hanya demi melindungi-ku."


"Tindakanmu tepat telah menolong seseorang yang diculik, bagiku itu tindakan cukup berani bagi anak seusia-mu, umur delapan tahun. Kita bukan memaksa Daniel untuk menikahi-mu lalu melindungi-mu. Justru itu adalah janji kami dan cara kami berterimakasih. Kami berhutang padamu, Sha. Lagipula Daniel pantas mendapatkan-mu, bukan Asia."


"Kenapa aku yang pantas? Bukannya dengan mereka berdua menikah bisa jadi hubungan dua keluarga akan terjalin, Bang."


"Tapi kami sekeluarga tak ingin Daniel memiliki istri seperti Asia."


"Apa kurangnya Asia bang, dia cantik dan dia terkenal."


"Tapi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan dibelakang Daniel. Aku sendiri kasihan melihat Daniel. Cinta yang diberikan Daniel kepada Asia begitu besar, hingga dia rela berselisih paham dengan Melly. Selama mereka berpacaran hubungan antara anak dan orang tua terutama Maminya tidak harmonis."


"Memang apa yang dilakukan oleh Asia dibelakang Daniel?"


Johan menceritakan keburukan Asia kepada Shasha, Shasha sendiri tak menyangka jika orang setampan dan sesukses Daniel di duakan oleh wanita.


"Lalu apa pak Habbie sudah tahu?"


"Dia mengetahuinya sendiri tanpa aku yang memberitahu."


"Jadi sudah satu tahun mereka tak saling bertemu dan menanyakan kabar?"

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Shasha kini sudah berada di asramanya. Dia memikirkan semua ucapan Melly dan Johan. Justru sekarang dirinya menjadi khawatir dengan orangtuanya. Dia ingin sekali menghubungi kedua orangtuanya. Kerinduan akan kedua orangtuanya dibawanya hingga dia tertidur.


Hari ini dirinya mendapat kabar bahwa dia diminta untuk menuju ke keruangan kemahasiswaan, karena ada sebuah berkas yang memerlukan tanda tangan Daniel Habbie. Setelah pulang kuliah dirinya berencana akan mampir ke gedung konsulat, namun karena jauhnya jarak kantor dengan asrama akhirnya Shasha berencana datang rumah dinas pak Habbie.


Tok ... tok ...(suara ketukan pintu)


"Pak, ada neng Shasha. Katanya ingin bertemu dengan bapak."


"Ia Mbok, suruh tunggu di ruang kerja saja."


"Iya, pak." ucapnya dengan heran. Karena setahu mbok Jum yang boleh masuk ke ruang kerja hanya Johan, 'ah sudahlah, mungkin bapak sedang ingin berbicara empat mata dengan si Neng.'


Sudah hampir satu jam Shasha menunggu kedatangan Daniel, namun tak juga Daniel menampakkan batang hidungnya. Shasha yan menuggu sedari tadi mulai gelisah dan gerah. Shasha yang bosan karena sedari tadi duduk menunggu kini mulai berdiri dan membaca beberapa buku yang tersedia. Matanya terlihat begitu berbinar, kala melihat ponselnya ada d meja dengan kondisi sudah baik. 'Apa benar ini ponselku?ah terimakasih pak ...'


Shasha yang bahagia saat melihat ponselnya lupa bahwa saat ini dia berada di ruang kerja Daniel, seharusnya dia tidak mengambil satupun barang-barang yang ada di ruangan tersebut, namun rasa sopan nya terkalahkan dengan rasa bahagia kala melihat ponselnya itu.


Segera dia menekan tombol hijau dan menelfon kedua orangtuanya.


Shasha : " Bunda dan ayah, bagaiamana kabarnya?"


Bunda : " Kita semua disini baik, kamu bagaiamana, Nak?"


Shasha : " Baik Bun, Acha kangen Bun ... Acha mau dipeluk bunda. Acha minta maaf ya Bun, Acha sudah menyusahkan kalian."


Bunda : " Kamu bicara apa? Bunda dan ayah juga kangen berat. Bunda selalu masak-masakan kesukaanmu disini. Bunda selalu lipat semua baju-bajumu di lemari, Bunda juga selalu masuk ke kamarmu, semua dari kamu bunda rindu kamu,Nak."


Tut...Tut...tut...


Perbincangan antara ibu dan anak itu terpaksa harus berakhir saat ada seseorang yang memasuki ruangan tersebut dan mengambil paksa ponsel tersebut lalu direbutnya.


"Pak, maksud bapak apa? Kenapa main rebut-rebut ponsel saya."


"Saya yang tanya, maksud kamu apa. Kenapa kamu bisa berada di ruang kerja saya dan menyentuh barang-barang yang ada disini.!"


"Bapak yang menyuruh saya menunggu disini."


"Jangan mengada-ada kamu. Saya gak pernah mengijinkan orang asing seperti kamu masuk keruangan saya."


"Sepertinya bapak amnesia. Saya kasih saran ke bapak lain kali kalau bicara dicatat. Ingat ya pak di catat!" emosi Shasha sambil menekankan kata Catat dengan suara yang dipanjangkan.


"Kamu mulai berani ya, jangan pernah menyanggah setiap ucapan-ku." ucapnya sambil mencengkram tangan Shasha.


"Pak. Lepaskan tangan saya. Sakit pak!" teriak Shasha.


"Saya gak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu minta maaf!"


"Minta maaf untuk apa?"


"Kamu masih tidak menyadari kesalahanmu! Aku tidak akan melepaskan tanganmu sampai kamu menyadari kesalahanmu."


Shasha mulai kesakitan dengan cengkraman dan tangan yang dipelintir oleh Daniel. Shasha mulai menghembuskan nafas berat lalu mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Aku salah, seharusnya aku tak memasuki ruangan neraka ini tanpa ijin, sudah ya pak!" kesal Shasha.


"Tak hanya itu. Kamu lancang menyentuh barang-barang saya!"


"Tapi itu milik saya pak, itu ponsel milik saya!"


"Tapi itu ada di meja saya, dan saya yang sudah memperbaiki ponsel kamu yang jelek itu." ucap Daniel penuh emosi lalu dibantingnya lagi ponsel itu.


Shasha kaget karena ponselnya dibanting lagi oleh Daniel. Daniel sendiri juga tak menyangka dia akan menjadi emosi kala melihat ponsel itu sambil terbayang-bayang kelakuan Shasha yang mirip dengan Asia. Perlahan Daniel melepaskan cengkraman itu. Tangan Shasha yang terlepas dari cengkraman mulai memilah ponsel yang berserakan itu. Shasha berusaha tegar dan menahan tangisnya. Tanpa melihat Daniel segera Shasha keluar dari ruangan itu meninggalkan Daniel yang masih berdiri diam tak percaya dengan tindakannya yang bisa seperti itu.


Di dapur dia melihat Mbok Jum yang sedang masak, Shasha sengaja tak menyapa Mbok Jum karena dia takut terlihat air matanya keluar, padahal Mbok Jum sudah siap-siap akan menyambut sapaan Shasha. Namun saat dia hendak keluar pagar dia berpapasan dengan Johan, mau tak mau Shasha harus menyapa Johan sambil menata emosinya. "Bang, saya titip berkas ini, tolong mintakan tanda tangan dia. Usahakan besok sudah di tanda tangani ya bang." ucap Shasha lalu meninggalkan Johan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Johan memasuki rumah dan masuk ke ruang kerja Daniel.


"Niel ... ini buat lu, dari Shasha. Segera lu tanda tangani besok aku serahkan ke Shasha."


Daniel masih diam tak menggubris ucapan Johan.


"Niel ... Daniel, lu denger gak gue bicara apa?"


"Sorry Jo, kenapa Jo?"


"Buruan lu tanda tangani ya. Gue mau main PS dulu, gue ke kamar lu dulu ya."


Daniel pun mengangguk. Dirinya duduk lama di ruang kerjanya sambil mengingat kejadian tadi, menurutnya dia terlalu kasar. Daniel merasa frustasi dengan dirinya sendiri, di usap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Lalu mulai menggaruk rambutnya.


Tok... tok... tok...


"Pak, saya masuk mengantarkan minum dan cemilan."


"Masuk, Mbok."


"Pak, neng Shasha sudah pulang, tumben cepat sekali baliknya, biasanya makan malam dulu."


"Ia Mbok,"


"Pak, tadi neng Shasha bibi suruh masuk ke ruang kerja bapak."


"Kenapa mbok menyuruh dia masuk ke ruang kerja saya. Ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh aku dan Johan atau hanya atas ijinku saja orang lain boleh masuk." bentak Daniel.


"Tapi tadi bapak yang suruh, mana berani saya menyuruh orang masuk kesini tanpa ijin dari bapak." jelas Mbok Jum.


"Benar begitu Mbok?maafkan saya ya Mbok ...,"


Daniel sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal atas tindakannya tadi. Entah setan apa yang ada dirinya kali ini sehingga membuat dirinya menjadi lelaki kasar. Dirinya menjadi kasar karena masa lalu Shasha. Dia tidak terima dengan perlakuan dan tindakan Shasha di masa lalu. Saat Daniel sudah mulai fokus dia dikejutkan dengan mendapatkan telepon dari seseorang..........


Siapakah orang itu?


Jangan lupa like dan comment ya 🥰🥰


Salam sayang 🥰😍😘

__ADS_1


__ADS_2