TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 44. PEMBUKTIAN ABRA.


__ADS_3

"Siapa wanita itu?" tanya Medi dengan nada keras.


Abra yang bingung harus menjawab pertanyaan kekasihnya mulai memutar otak dan dengan spontan dia menjawab.


"Dia pembantu baru, dan aku memergoki dia sedang membuka lemari baju kita. Entah apa yang dia ambil makanya aku memarahinya."


"Jangan bohong kamu Mas." ucap Medi keras.


"Kalau kamu tak percaya kamu bisa tanya temanku, apa aku ke kampus dan sampai jam berapa aku di kampus. Silakan kamu tanya. Seharusnya kamu bukan memarahiku tapi wanita itu." ujar Abra sambil menunjuk Shasha.


Shasha yang mendengar itu kaget, kenapa tiba-tiba Abra jadi menuduh dirinya. Jadi dia adalah wanita yang membuat masa depan mu cerah, batin Shasha.


"Hei kamu, sudah aku bilang cepat kamu keluar dari sini!" bentak Abra.


Abra sendiri tak tahu harus berkata apa, dia yang harus menyelamatkan cita-citanya tak mungkin membela Shasha.


"Tunggu! Jika memang wanita ini tak ada hubungannya denganmu tampar dia Mas!" perintah Medi.


"Buat apa aku menamparnya? aku tak mau jika nanti dia mengadu ke kantor polisi dan mencoreng namaku. Aku sudah memarahinya habis-habisan, biarkan dia pergi saja."


"Tidak, buktikan jika memang kamu dan dia tidak ada hubungan apa-apa dan memang benar dia pembantu yang dikirim adikmu."


Abra mendekati Shasha dan mulai menampar Shasha.


Plak ... plak ...


"Terus!" perintah Medi.


Plak ... plak ....


"Aku sudah peringatkan tadi sebelum aku berangkat. Agar tidak memasuki kamarku. Kenapa lancang!!" bentak Abra sambil kembali menampar Shasha.


Medi yang melihat tersenyum puas, kini dirinya yakin bahwa Abra tidak berbohong dan memang wanita didepannya itu tidak ada hubungannya dengan Abra. Dari dulu kamu memang tidak suka denganku Brian, kamu mau menguji kesetiaan kakakmu sendiri, kamu lihat kan sekarang wanita cantik suruhanmu akan kembali dengan keadaan tidak baik, hahaha ....


"Cepat kamu pergi!Jangan pernah menampakkan wajahmu di depan kami." bentak Abra.


Shasha yang sedari tadi sudah menangis dan kini ditampar keras membuat air matanya semakin deras mengalir tapi hebatnya dia tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, yang terdengar hanya suara tangisannya sambil memegang perihnya bekas tamparan yang dilakukan Abra pada kedua pipinya. Wajahnya yang menunduk kini mulai perlahan naik dan mencoba menatap Abra berharap ada rasa iba yang muncul dari diri Abra, akan tetapi tatapan mata itu mulai pudar saat dia mendengar Medi bersuara tinggi.


"Mas, dia ternyata mengambil hadiah yang aku letakkan di dalam lemari itu. Dan dia telah memecahkannya." rengek Medi yang keluar dari kamar sambil mengambil kotak besar yang merupakan kejutan kado ulang tahun untuk Abra.


Shasha yang tak tahu jika hadiah itu adalah barang pecah belah dan dia yang melempar hadiah itu.


"Dasar, wanita ******. Kamu sadar tidak jika kamu hanya pembantu. Belum juga satu hari kerja tingkah lakumu sudah meresahkan. Lu tahu tidak berapa harga hadiah itu. Lu gak akan sanggup beli. Bahkan jika diri lu dijual tetap barang ini yang berharga!"


"Kurang ajar kamu, seharusnya kamu tidak disini cepat kamu keluar dari sini!!" teriak Abra. Abra yang berusaha mengusir Shasha keluar agar penyiksaan yang dialami Shasha cepat usai.


Shasha yang hendak keluar tangannya ditarik Medi hingga mengenai guci yang berada diatas meja hingga pecah dan Shasha sendiri jatuh diantara pecahan barang tersebut.


"Uuppss ..., sorry gue gak sengaja. Sini gue bantu berdiri."


Ternyata Medi tidak benar-benar menolong Shasha. Ketika Shasha meraih tangan Media tiba-tiba Medi melepas dan Shasha kembali terjatuh di pecahan barang tersebut.


Shasha yang kesakitan mencoba menahan rasa sakitnya. Dirinya berusaha berdiri sambil meraih lalu memegang meja yang berada di dekatnya.


Sedangkan Abra yang melihat itu merasa perih hatinya, wanita yang dia cintai harus merasakan kesakitan bertubi-tubi. Namun apa mau dikata dia hanya memikirkan cita-citanya.


"Hei. Ayo cepat bangun. Rasanya aku belum puas untuk memberimu pelajaran. Berani-berani nya kamu masuk ke kamar kami dan membuka lemari kami. Lancang kamu. Jika kamu ingin menggoda lelaki silakan tapi jangan menggoda calon suamiku. Wajahmu bidadari tapi kelakuanmu iblis. Apa dengan kamu masuk ke kamar kami akan membuat calon suamiku tergoda dengan dirimu?! Jawab aku! kenapa dari tadi diam?!" teriak Medi dengan geram.


Akhirnya Shasha mulai berbicara.


"Saya minta maaf, saya lancang masuk ke kamar. Maafkan saya." ucap Shasha lirih.


Medi yang tak puas dengan ucapan permintaan maaf Shasha mulai menarik rambut Shasha hingga membuat kepala Shasha mendongak ke atas.


"Sakit mba ... , tolong lepaskan saya." ucap Shasha sambil merintih menangis.


"Sakit ... Kamu bilang sakit. Itu juga yang aku rasakan saat ini. Hatiku sakit saat melihatmu keluar dari kamar itu. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan tunanganku."

__ADS_1


"Sayang, maksudmu apa? aku tidak ada hubungannya dengan wanita ****** ini. Saat aku pulang dari kampus aku melihat dirinya sudah berada di kamar. Dia tak sebanding dengan dirimu."


"Tampar dia lagi, aku masih belum puas membuatnya sakit. Tampar dia terus sampai aku bilang berhenti baru hentikan."


"Baiklah akan ku lakukan."


Plak ... plak ..


Plak ... plak ...


Tak hanya menampar tapi Abra juga menendang kaki Shasha, dia sengaja melakukan itu agar Medi mempercayai dirinya. Sedangkan Shasha yang sudah berlinang air mata mulai tak tahan, dirinya mencoba menutup mata dan berdoa.


"Cukup ... cukup ... maafkan saya. Saya sudah lancang. Sekali lagi tolong maafkan saya." ucap Shasha lirih sambil menatap mata Abra.


Tatapan mata yang penuh dengan linangan air mata telah menjadi saksi dari kelakuan Abra yang sangat bengis memperlakukan dirinya.


Medi yang melihat Shasha kesakitan tersenyum puas menyaksikan Abra memukul wanita suruhan adiknya di depan matanya.


"Cukup mas, suruh dia pergi sebelum pikiranku berubah." perintah Medi kepada Abra.


Abra segera membuka pintu.


"Aku minta maaf." bisik Abra lirih kepada Shasha lalu segera ditutup pintunya dengan sangat keras.


Shasha yang sudah berada diluar kamar segera mengambil dan memakai kacamata


yang ada didalam tasnya sambil menggunakan masker lalu melanjutkan langkahnya untuk menuju lift. Keluar dari lift segera menghampiri taksi yang berjejer disana.


Ceklek


"Selamat malam, mau diantar kemana mba?" tanya sopir taksi.


"Ke hotel X, pak." jawab Shasha singkat.


"Lho mba yang tadi, mba kenapa suaranya beda?" tanya pak sopir.


"Baik mba." jawab pak Baskoro singkat.


Sepanjang perjalanan Shasha berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar dan tak terlihat oleh pak Baskoro. Namun seberusahanya Shasha menahan tangis tetap masih terdengar suara sesenggukan.


Perjalanan terasa sangat panjang, karena tak ada senda gurau di dalam taksi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tak terasa akhirnya taksi berhenti di depan lobi hotel dimana Shasha menginap.


"Mba, sudah sampai." ucap pak Baskoro lirih.


"Baik pak. Terimakasih."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dilain tempat Daniel yang sedang meeting tiba-tiba mendapat telepon dari kedua orangtuanya secara bergantian.


"Pak, direktur dan istrinya sedari tadi menelpon bapak dan saya. Sebaiknya segera bapak angkat telepon beliau mungkin ada sesuatu yang penting." ucap Jason.


"Maaf semuanya, saya ijin keluar sebentar." ucap Daniel kepada beberapa karyawannya yang berada diruang meeting.


Daniel : "Maaf, Daniel sedang meeting. Ada apa Dad?"


Melly : "Ini bukan Dady, ini mami."


Daniel : "Iya mi?"


Melly : "Kalau kamu sayang mami, peduli sama mami segera kamu berangkat ke Jogja, sekarang juga!"


Daniel : "Tunggu, ada apa mi, Daniel gak akan berangkat kalau mami gak jelaskan alasannya."


Melly : "Daniel, tolong mami." ucap Melly sambil menangis tiba-tiba.


Daniel : "Ada apa mi? kenapa mami menangis? tolong jangan buat Daniel khawatir."

__ADS_1


Joshka : "Segera kamu pulang dan Jason akan mengantarmu ke bandara. Disana kamu akan bertemu dengan Mario."


Daniel : "Tapi Daniel harus ganti baju dulu dad."


Joshka : "Tak perlu, kamu ganti di pesawat saja."


Daniel : "Tapi, kenapa harus buru-buru seperti ini, sampai harus menggunakan pesawat pribadi?"


Joshka : "Nanti sampai sana kamu akan tahu. Sesampai bandara di Jogja kamu akan dijemput sampai ke hotel. Jika keadaanya sudah membaik segera ajak dia kembali. Ingat kalian harus satu kamar!"


Melly : "Daniel, mami mohon tolong jaga dia demi mami."


Daniel : "Iya mi."


Daniel menutup telepon, dirinya mulai membereskan semua barang-barangnya yang ada di meja, lalu keluar ruangannya.


"Bos, ayo." ajak Jason.


"Iya." ucap Daniel singkat.


Kini mereka berada di dalam mobil, Jason yang tak seperti biasanya mengendarai pelan kali ini benar-benar melaju cepat karena kebetulan jalanan yang tak begitu ramai.


"Aku heran ada apa mereka berdua menyuruhku cepat-cepat berangkat ke Jogja?" tanya Daniel.


"Mungkin ada sesuatu yang penting disana, bos."


"Sesuatu apa ya Son, aku penasaran. Dan kenapa hatiku sendiri tak tenang dan gelisah tak seperti biasanya. Ada apa denganku, Son?"


"Apa ini pertama kalinya bos merasakan begini?"


"Tidak, ini yang kesekian kalinya dan itu pasti berhubungan dengan dia."


"Dia siapa bos? pacar bos?"


"Bukan!"


"Bos yakin gak mau cerita sama saya? saya ini penakluk cinta." ucap Jason sombong.


"Penakluk atau penangkal?" ejek Daniel.


"Oo itu biasa bos, jangan ada kata menyerah dalam cinta."


"Kenapa berhenti?"


"Sudah sampai bos."


Jason pun mengantarkan Daniel sampai ke dalam hingga Daniel naik kedalam pesawat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tidak sampai satu jam Daniel sudah berada di Jogjakarta, dirinya yang sudah berganti pakaian saat di dalam pesawat. Disana dia sudah dijemput.


"Pak Daniel?" sapa seorang lelaki paruh bayah. "Mari ikut saya, pak." ucapnya sambil mengajak Daniel ke arah mobil.


"Betul pak."


Didalam mobil tak ada pembicaraan diantara keduanya. Daniel yang masih bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi mencoba menerka-nerka sambil menelaah ucapan Melly, sang mami yang mengatakan kalimat tolong jaga dia demi Mami.


"Apa ada hubungannya dengan dia? tapi buat apa dia disini? bukannya selama ini kita satu kota? lalu wanita yang mana lagi ini?" gerutu Daniel.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


Salam sayang 🥰🥰


__ADS_2