
Saat ini Shasha sudah berada di dalam mobil bersama Dion. Baju dan rambutnya yang basah ditambah dengan hembusan hawa dingin yang menyelimuti mobil membuat Shasha menjadi kedinginan. Dion yang melihat itu hanya melirik dari spion.
Jujur ia tak sanggup melihat Shasha dengan kondisi basah seperti itu, karena semakin dilihat malah membuat dirinya berdosa. Bagaimana tidak berdosa, baju Shasha yang basah membuat pakaian dalamnya menerawang karena baju yang Shasha kenakan adalah warna putih. Kali ini imannya benar-benar telah diuji. Lama tak melihat Shasha justru sekarang dirinya malah diuji melihat pemandangan indah yang selama ini ia hindari.
Pikiran kotornya yang awalnya setengah kini menjadi penuh.
“Keluar! Keluar!” sambil menempelkan kedua telapak tangannya pada dahinya dan menggosok-gosokkan dengan agak kasar seperti gatal. Dia melakukan itu agar pikiran kotornya hilang.
Mendengar kata “KELUAR” membuat Shasha berfikir bahwa dirinya diminta keluar oleh Dion.
“Oke, aku keluar, kamu buka pintunya.”
Ucapan Shasha yang meminta keluarga membuat Dion sadar bahwa ucapannya membuat Shasha tersinggung.
“Bukan … Bukan kamu.” “Aku sedang bicara dengan diriku sendiri.”
“Aku kira, kamu benar-benar akan menyuruhku keluar setelah kamu memaksaku masuk.”
“Tidak mungkin aku membiarkan mu keluar dengan kondisi seperti ini.” "Lebih baik lepas bajumu sekarang.” perintah Dion.
“Kamu kira aku wanita apa! Seenaknya kamu menyuruhku melakukan itu!”
“Bajumu basah, kamu akan masuk angin.”
“Tidak, lebih baik kamu jalankan saja mobilnya!”
“Tidak, aku tak akan menjalankan mobil ini jika kamu tak ganti baju.”
“Ohh begitu. Lebih baik aku turun saja!” sambil mencoba keluar dari mobil namun tak bisa karena Dion sudah menguncinya.
“Buka Dion!” perintah Shasha
“Tenang Cha, kamu terlalu emosi. Dengarkan dulu.” “Dibelakang ada bajuku, pakailah. Aku akan keluar saat kamu mengganti pakaian-mu.” jelas Dion.
Dion pun mengambil baju miliknya dan diberikannya kepada Shasha, kemudian ia keluar.
Mau tak mau Shasha harus menggantikan pakaiannya dengan pakaian milik Dion, yaitu sebuah kemeja berwarna biru mudah. Setelah berganti pakaian segera Shasha menekan tombol klakson. Mendengar itu segera Dion masuk.
Ternyata tak hanya Shasha yang bajunya basah, baju Dion pun juga ikut basah karena tadi ia melepas jasnya yang digunakan untuk menutupi kepala wanita yang dicintainya itu. Tanpa meminta ijin dan banyak bicara segera ia melepas baju dan menggantinya dengan kaos yang biasa ia bawa untuk latihan basket.
“Dion, apa-apaan kamu!”
“Apa?” sambil masih melepas bajunya dan hendak menggantinya dengan kaos basket.
Melihat Dion telah berganti pakaian segera ia diam tak jadi mengomel.
“Kenapa diam? Tadi berkicau.”
Shasha yang ditanya pun diam, dia malu ia kira Dion akan berbuat yang tidak-tidak.
“Kenapa diam?” sambil menjalankan laju mobilnya ia bertanya kepada Shasha.
“Gak papa.”
“Yakin, kalau gak papa kenapa tadi tegang.”
__ADS_1
“Gak.”
“Yasudah, kamu gak lapar?”
“Gak.”
Dion melihat Shasha dengan tersenyum sambil tetap berkonsentrasi melihat jalanan yang cukup padat. Derasnya hujan membuat jalanan sedikit ramai karena beberapa kendaraan melaju dengan pelan ditambah karena adanya perbaikan jalan.
“Kamu tinggal dimana?”
“Gak usah pura-pura gak tahu.”
“Kamu kenapa sih kug sewot gini? Kamu lapar ya uring-uringan terus.”
“Aku ngantuk Dion. Yasudah tidur aja. Nanti jika sampai aku bangunin.”
“Emang kamu tahu aku tinggal dimana?”
“Gak tahu.”
“Terus, kenapa kamu bilang bakal bangunin aku?”
“Ya aku tinggal bawa kamu ke apartemenku. Muda kan.”
“Sembarangan kamu.”
“Yasudah aku bawa aja ke KUA ya. Kita nikah.”
Mendengar kata nikah membuat Shasha salah tingkah karena ia takut jika Dion membahas tentang pernikahan. Apa lagi sekarang status dirinya yang sudah menikah namun belum tertulis di kartu kependudukan.
“Kenapa diam?”
“Kamu selalu begitu. Kamu mau tidak jadi -”
“Dion, nanti depan kamu berhenti ya. Aku harus turun disitu karena ada yang harus ku beli.” potong Shasha. Dia tahu jika Dion akan mengungkapkan perasaannya.
“Iya.”
Dion tahu bahwa Shasha tak ingin mendengar perasaannya namun ia berusaha sabar. Dia berfikir masih terlalu cepat jika mengungkapkan rasa setelah sehari bertemu.
“Sudah sampai Tuan putri. Aku antar ya?”
“Gak usah. Kamu disini aja. Nanti kamu kehujanan dan kena becek. Lagian kamu gak bawa baju ganti, iya kan?”
“Makasih ya,” sambil tersenyum melihat ke arah Shasha.
“Aku yang makasih. Aku keluar dulu.” sambil membuka pintu mobil.
Shasha dibuat jengkel dengan Dion karena tiba-tiba ia mengunci kembali pintu yang tadi sempat dibukanya.
“Buka, Dion!”
“Tersenyumlah lagi, karena aku rindu senyummu.”
Shasha menghela nafas dengan panjang sambi menampilkan senyum indahnya.
__ADS_1
“Makasih ya.”
Shasha pun keluar dari mobil, dia tak langsung berjalan ke apartemen karena ia takut jika Dion akan mengikuti dirinya. Ia berbelok ke arah minimarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan dia buat untuk dimasak besok pagi.
Sambil berbelanja ia memperhatikan mobil Dion dari kejauhan, ia ingin memastikan bahwa mobil tersebut benar -benar sudah berjalan dan menjauh dari area apartemennya.
Dion sudah pergi, aku harus cepat-cepat belanja dan bayar.a
**
Kini Shasha sudah masuk di apartemen. Ia tak langsung masuk ke unitnya, melainkan masuk ke kamar mandi yang ada di lobi dekat ruang resepsionis.
Disana ia melepas kemeja dan menggantinya dengan baju miliknya sendiri yang sudah lumayan kering.
Kemeja ini akan ku taruh laundry, tapi masa aku cuma nge-laundy satu baju saja.
Gimana ya? Masa aku titip Secil? Ah gak ah, yang ada nanti dia cerita bang Johan.
Dion ... Dion , kenapa kamu masih sama seperti dulu? Gak berubah.
"What jam setengah sepuluh. Haduh. Kira-kira bapak sudah datang belum ya." sambil memasukkan kemeja ke dalam tasnya.
Setelah mengganti pakaiannya dan mengelap rambutnya yang masih sedikit basah segera ia bergegas masuk ke dalam lift.
Lift pun berhenti dan pintu terbuka, denhan langkah cepat Shasha keluar dan berjalan menuju unitnya.
Segera Shasha mengeluarkan kartunya dan menempelkan di pintu. Saat masuk ia sudah melihat sepatu milik Daniel ada di rak paling atas pojok sebelah kanan.
Haduh, bisa panjang ni pertanyaannya?
Kalau aku alasan antri belanja gak mungkin, macet gak mungkin. Terus apa dunk?
Ayo otak, ayo mikir dunk!
Bego banget, kan hujan bilang aja berteduh beres.
Setelah menemukan jawaban tepat yang ia pikirkan dalam hati akhirnya Shasha dengan percaya diri melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Dia melihat kamar Daniel yang sudah tertutup namun cahayanya masih sangat terang, artinya suaminya itu belum tidur.
Sesampai di kamarnya ia mengeluarkan kemeja yang dipakainya tadi dibelakang pintu kamar dengan ditutupi jaket hoodie miliknya. Setelah dirasa aman segera ia mengunci kamarnya dari luar dan menuju ke ruang wardrobe terlebih dahulu untuk mengambil baju tidur yang akan ia kenakan sehabis mandi.
Karena habis tersapu oleh hujan turun membuat badan Shasha sedikit meriang. Ia pun memanjakan dirinya dengan air hangat. Tak perlu lama-lama ia pun segera keluar dari kamar mandi dan sudah menemukan suaminya berdiri dengan wajah seperti seorang guru yang memergoki muridnya sedang bolos pelajaran sekolah.
"Darimana saja kamu? Kenapa baru datang? Jam berapa ini?"
Belum sempat Shasha menjawab beribu-ribu pertanyaan sudah diucapkan Daniel.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak.