
Mengapa Medi melakukannya?
Aku rasa antara Shasha dan aku tidak ada urusan dengannya.
Bukannya Abra lebih memilih Medi daripada Shasha, lagipula sekarang mereka sudah menikah.
Saat sedang memikirkan alasan mengapa Medi yang menjadi dalang penjebakan tiba-tiba lamunan nya buyar ketika Johan muncul dihadapannya.
"Niel, Shasha sudah sadar. Dan sekarang dia sedang perjalanan pulang." ucap Dion kepada Daniel yang sedang bersandar.
"Apakah anak ingusan itu yang mengantarnya pulang?" tanya Daniel lirih dengan raut wajah kecewa.
"Tidak, dia bersama dengan teman perempuannya."
"Syukurlah. Gue takut jika Shasha akan jatuh cinta kepada lelaki itu."
"Kenapa? Lu merasa tersaingi?" ledek Johan.
"Gak, tapi gue takut."
"Takut kenapa?"
"Mereka adalah mantan kekasih sedangkan gue adalah pendatang baru di kehidupan Shasha, dan masih berusaha mengetahui apa yang disuka dan tidak disukai, sedangkan lelaki itu sudah mengetahui semua tentang Shasha."
"Lalu lu nyerah gitu aja?"
"Bukan nyerah, gue ngerasa gak diberi kesempatan oleh waktu untuk memperbaiki kesalahan bahkan membuktikan janji pun gue gak bisa."
"Bukan gak diberi kesempatan oleh waktu tapi lu yang belum meluangkan waktu untuk memperbaiki kesalahan dan satu lagi untuk membuktikan janji yang terpenting adalah sebuah niat. Ingat, tidak ada kata terlambat, kalian berdua itu sudah menikah artinya kalian sudah ditakdirkan bersama."
"Ditakdirkan bersama tapi tidak bersatu, apa istimewanya? Beda dengan lelaki itu, Shasha tidak ditakdirkan bersama tapi buktinya mereka selalu bersatu." ucap Daniel membuat Johan tertegun, dia tak menyangka jika sahabat sekaligus saudara angkatnya itu berkata pasrah.
"Lu gak boleh nyerah gitu aja. Buktinya kalian dulu terpisah lalu bertemu dan sekarang kalian sudah menikah bukan?" ucap Johan sambil menepuk bahu Daniel yang terlihat frustasi.
Belum sempat Daniel menanggapi tiba-tiba ponsel keduanya berbunyi, raut wajah keduanya saling berpandangan. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi namun setelah menerima pesan itu segera keduanya berkemas dan mengadakan meeting mendadak.
"Gue sudah bilang kan, gue gak pernah diberi kesempatan oleh waktu untuk memperbaiki kesalahan." ucap Daniel sambil berjalan dengan wajah tegang.
"Jaga ucapanmu, ucapan adalah doa. Lebih baik kita fokuskan kesini dulu, setelah ini selesai berjanjilah kepada dirimu untuk menyelesaikan masalahmu dengan Shasha."
"Belum selesai masalah satu sudah muncul satu lagi. Setidaknya jangan sampai Dady tau, aku takut kesehatannya akan terganggu."
"Ya, kalau lu mau buat bokap lu sembuh caranya satu."
"Apa?"
"Bikin istri lu hamil,"
"Lu kira bikin anak kayak bikin adonan tinggal racik, masak lalu makan!"
Johan yang mendengar itu hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Di rumah kontrakan.
Setelah kepulangan nya dari puncak segera Shasha merapikan dan membersihkan rumahnya yang baru sehari Ia tinggalkan, memang tidak terlalu banyak debu yang menumpuk namun Shasha rindu jika dalam sehari dia tidak memegang peralatan kebersihan seperti sapu, sulak dan alat pel.
Shasha yang sedang membersihkan rumahnya tanpa mengenal waktu tak merasa jika waktu sekarang sudah hampir petang, perutnya mulai bernyanyi pertanda rasa lapar mulai menemani dirinya. Dirinya yang hendak memasak ingat jika tak ada stok makanan di kulkas. Dia yang enggan memesan makanan lewat online karena malas menunggu sehingga lebih memilih abang-abang yang berjualan lewat depan rumah.
Ting ...
Ting ...
Mendengar suara bakso segera Shasha keluar dan berlari dari dapur menuju ruang tamu sambil membuka pintu.
"Bakso, Bang!" teriak Shasha dari dalam, dia berjalan cepat menuju teras rumah.
Mendengar ada yang memanggilnya tukang bakso pun berhenti.
__ADS_1
Alhamdulillah, baru keluar sudah ada yang panggil.
Shasha keluar dari dalam rumah, daster rumahan pendek tanpa lengan menutupi tubuh seksinya, namun tidak menutupi kulit putih beningnya, rambut yang digelung keatas tak beraturan semakin membuat Shasha terlihat cantik. Dirinya yang keluar dari dalam rumah terlihat seperti seorang bidadari yang hendak kembali ke khayangan, meski badannya masih lengket karena campuran keringat sisa bersih-bersih tadi tetap tak mengurangi kecantikannya.
Waw ..., ini bidadari atau manusia?
"Pak, baksonya masih ada?" tanya Shasha sambil tersenyum hangat sehangat kuah bakso.
"Pak, baksonya ada?" tanya Shasha lebih keras untuk menyadarkan lamunansi tukang bakso yang sedari tadi melihat ke arahnya tanpa berkedip.
"Ada banyak Neng Oskab nya. Maaf Neng, Abang terhipnotis"
"Oskab? Bakso ya? Bapak orang mana?" tanya Shasha yang lebih menanggapi bahasa abang bakso dari pada kata-kata hipnotis yang keluar dari mulut tukang bakso didepannya itu.
"Saya orang sini asli, tapi anak kuliah di Jawa, jadi saya sedikit-sedikit tau bahasa walikan." jawab tukang bakso sambil menuangkan kuah kedalam mangkok yang Shasha bawa dari rumah.
"Makasih ya pak." ucap Shasha sambil memberikan uang.
"Kembali kasih. Cuma satu mangkok?"
"Iya, kan mangkoknya satu pak."
"Lha suaminya gak makan, Neng?"
"Suami saya sudah kenyang," bohong Shasha, dia sengaja berkata demikian agar dia merasa aman.
Selesai membayar Shasha segera berjalan kembali kedalam rumah dengan membawa semangkuk bakso sambil bergumam, "Darimana dia tahu jika aku sudah menikah? aku kan penghuni baru ditempat ini."
"Ternyata istrinya cantik, pantas saja gak pernah dikeluarin. Hebat juga Pak Yoga memilih istri."ucapnya lirih.
Pak Tobby yang merupakan tukang bakso langganan Yoga tidak tahu jika rumah tersebut sudah dikontrak paksa oleh Rianda untuk Shasha tinggal. Sedangkan Yoga sendiri jika ditanya status jawabannya selalu sudah beristri, maka tak heran jika tukang langganan baksonya berkata dan mengira demikian.
Setelah membayar bakso segera Shasha kembali ke rumah tanpa disadarinya ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya,
Bidadari malam dari mana itu?
Bukankah Yoga masih tugas dan baru pulang minggu depan?
Apa dia saudara Yoga, pacar atau calon istri ya?
Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran lelaki yang tak lain, tetangga Yoga.
***
Keesokan paginya Shasha yang bersiap untuk berangkat kerja dikagetkan dengan sebuah motor Vespa 946 Christian Dior keluaran terbaru berhenti tepat di depan rumahnya.
"Haduh ..., siapa lagi ini? Kenapa harus berhenti tepat di depan rumah? Apa tidak ada tempat parkir lagi?" batin Shasha sambil membuka pagar rumahnya.
"Pagi!" sapa Tio kepada Shashsa yang baru saja keluar dari dalam rumah dan sedang mengunci pintu.
"Pagi!" jawab Shasha singkat sambil mengunci pagar rumah.
"Mbak baru disini?"
"Iya."
"Aku Tio, tetangga depan rumah."
Shasha hanya tersenyum sambil berpura-pura melihat jam ditangan.
"Mau berangkat sama saya?" ajak Tio.
"Tidak terima kasih."
"Yakin? Saya gak keberatan kug mbak."
Tin ...
Tin ...
__ADS_1
Baru saja Shasha menolak tiba-tiba terdengar suara klakson mobil tepat berada disamping Tio. Mobil tersebut membuka kaca bagian penumpang. Shasha yang tahu jika itu mobil Rianda segera naik.
"Halo,Tio? Kita duluan ya." ucap Rianda yang berada di dalam mobil kemudi.
"Hati-hati," ucap Tio sambil melambaikan tangan kepada Rianda dan Shasha.
Mobil Rianda pun bergerak dan perlahan menjauhi Tio yang masih setia berada di depan rumah Shasha. Didalam mobil Rianda mulai menggoda Shasha.
"Fans baru?" ledek Rianda.
"Katanya sih tetangga depan rumah." jawab Shasha cuek.
"Cowo tadi itu namanya Tio,"
"Iya, tadi dia juga bilang gitu."
"Memang kamu sudah kenalan?"
"Gak."
Melihat Shasha yang sepertinya tak ingin berbicara banyak mengenai lelaki tadi membuat Rianda mengajak Shasha berbicara lainnya.
Tak terasa kini Shasha dan Rianda sudah sampai di kantor, seperti biasa sebelum jam kerja mereka selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke toilet hanya untuk mengoleskan make up tipis, setelah itu mereka pergi ke pantry untuk menemani Shasha membuatkan minuman yang akan dibawa untuk menemani hari-hari mereka bekerja.
Sebuah kopi latte favorit keduanya sudah dibuat oleh Shasha, Rianda yang berjalan masuk ke ruangannya begitu juga dengan Shasha. Saat memasuki ruangannya dia sudah melihat Riko yang terlihat begitu sibuk.
"Ko, selamat pagi."
"Pagi."
"Sibuk amat, mau aku bantuin?"
"Boleh banget, nanti kita lembur dan mungkin akan lembur selama sebulan."
"Kenapa? Ada apa?"
"Entahlah, Dion tiba-tiba menghilang. Bahkan pak Brata tidak tahu kemana dia. Yang pasti dia berpesan untuk tidak mencarinya!"
"Lalu kamu nurut gitu aja?"
"Iyalah, orang dia bosnya."
"Gak bisa gitu dunk. Itu namanya dia gak tanggung jawab. Disini dia kan bosnya, harusnya dia bisa kasih contoh kita."
"Kenapa kamu jadi bawel sih! Aku saja gak keberatan. Mungkin saja dia sedang operasi wajah karena bekas beberapa pukulan lebam yang dilakukan suami kamu beberapa hari yang lalu."
"Apa separah itu?"
"Kamu lihat sendiri kan! Sudah ah aku kerjakan ini dulu. Kamu kerjakan tuh tugasmu. Jangan harap kamu bisa
pulang kalau belum selesai!"
Mendapat ancaman begitu segera Shasha masuk ke ruangannya dan mengerjakan beberapa dokumen yang sudah menumpuk di mejanya.
Apa iya lukanya separah itu?
Shasha berusaha konsentrasi mengerjakan tugas yang ada di depannya, setidaknya dia berusaha agar tugas-tugas miliknya tidak terbengkalai dan tak lupa dia juga membantu Riko yang merupakan asisten Dion.
Waktu terus berjalan tak terasa hampir satu bulan lamanya Shasha tidak bertemu dengan Dion yang merupakan bosnya, kekhawatiran tentang keadaan Dion mulai mengusik dirinya, namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkan di depan Riko terutama kepada pak Brata yang beberapa minggu ini mulai sering menampakkan batang hidungnya selama memimpin beberapa pertemuan penting.
***
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1