TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 150. SALAH KIRIM


__ADS_3

Saat perjalanan pulang dari kota B ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari sang Bunda bahwa ayah sedang sakit. Tanpa banyak berfikir segera Shasha meminta supir untuk mengubah rutenya menuju ke bandara. Setelah sampai di bandara ia segera memesan penerbangan agar dapat segera sampai di rumah untuk melihat kondisi ayahnya.


Perjalanan yang ditempuh tak sampai satu jam, kini Shasha telah berada di rumahnya. Keadaan ayah yang tidak baik-baik saja membuat Shasha nekat membawa ayahnya untuk berobat di sebuah rumah sakit.


"Bunda, bagaimana kondisi ayah?"


"Ayahmu masih belum bangun, " ucap Sally dengan nada lemah.


"Sejak kapan ayah seperti itu?" tanya Shasha panik.


"Awalnya ayah hanya mengeluh sakit pada dada, lalu kemarin malam tiba-tiba dia merasakan sesak setelah membuka laptop nya untuk melihat beberapa foto pernikahan kakak mu dan kamu."


"Apa ayah se-canggih itu? Bukankah ayah tidak bisa menyalakan laptop dan darimana dia mendapatkan laptop?"


"Suamimu yang memberikan laptop untuk ayah."


"Daniel datang menemui kalian?" tanya Shasha kaget.


"Husst! Kenapa kamu tidak sopan? Kalian sudah cukup lama menikah kenapa kamu hanya memanggil nama suamimu!" geram Sally kepada anaknya.


"Ehm ... aku dan dia sudah seperti teman, jadi kadang kami hanya memanggil dengan nama saja tanpa ada embel-embel." bohong Shasha.


"Jangan seperti itu, bersikaplah santun dan sopan kepada suamimu. Ingat, dia itu suamimu, langkahnya ke surga akan berhenti jika kamu berperilaku buruk."


Shashsa hanya mengangguk tanpa berekspresi, hanya mereka berdua yang tahu masalah yang sedang terjadi.


"Kenapa kamu diam? Apa ada yang kamu pikirkan?"


"Tidak Bun, kalau begitu bunda yang bertanya. Kenapa selama kalian menikah baik kamu dan Daniel tidak pernah mengunjungi kami secara bersamaan?"


"Ohh, i-itu karena -" Shasha masih berfikir dan mencari jawaban yang tepat namun saat hendak melanjutkan ucapannya terlihat seorang perawat mendekatinya dan meminta agar Shasha segera ke ruangan dokter.


Shasha berjalan menuju ke ruangan dokter, saat memasuki ruangan Shasha mulai menyapa dan ia terkejut. Kedua mata mereka saling berpandangan, mereka berdua tak pernah menyangka bahwa akan bertemu kembali setelah sekian lama. Shasha berusaha bersikap biasa begitu juga dengan Abra.


"Apa anda wali dari pak Idris?"


"Iya Dok."


"Pak Idris mengalami serangan jantung ringan. Apa bapak seorang perokok?"


"Tidak, Dok."


"Kalau begitu apa di rumah ada yang merokok?"


"Tidak ada juga."


"Kalau begitu apa pak Idris memiliki darah tinggi."


"Iya, ayah punya. Tapi apa yang memicu tekanan darah tinggi?"


"Faktor stres dan banyak pikiran. Sebisa mungkin jangan biarkan bapak berfikir terlalu berat agar tidak stress sehingga memicu kerja jantung nya."


"Baik Dok, terima kasih penjelasannya." ucap Shasha langsung berdiri dari tempat duduknya tanpa menyapa Abra mantan kekasihnya yang kini telah berhasil menjadi dokter sesuai cita-citanya.


Abra yang ingin menghentikan langkah Shasha dan ingin menanyakan kabar harus pupus saat seorang perawat memasuki ruangan nya yang mengingatkan bahwa beberapa menit lagi adalah jadwal Abra untuk melakukan visit(kunjungan) kepada beberapa para pasien paska operasi.


Shasha yang kini berjalan keluar dari ruangan Abra berfikir apa yang membuat ayahnya stres. Dengan langkah pelan dan hati -hati dia mulai memasuki kamar ayahnya, berharap agar ayahnya tidak terbangun karena suara pintu dan langkahnya. Ternyata ayah tidak sedang tidur, dia sedang duduk bercerita riang dengan bunda. Namun ada yang berbeda dengan tatapan ayah saat melihat ke arah Shasha.


Kenapa tatapan ayah seperti itu?

__ADS_1


Apa yang salah dengan aku?


Seharusnya ayah akan memeluk ku, karena kita sudah lama tidak bertemu.


Berusaha cuek dan tidak mengindahkan tatapan tajam ayahnya Shasha pun mulai mendekati sang ayah.


"Ayah, Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Shasha kepada ayahnya sambil mencium tangan.


"Baik." jawab pak Idris singkat. "Kemana Daniel?" tanya pak Daniel melanjutkan ucapannya.


"Mas Daniel sedang sibuk, mungkin besok atau lusa ia baru bisa datang." alasan Shasha.


Mendengar jawaban itu pak Idris hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatap Shasha dengan malas.


Tok!


Tok!


Mendengar suara ketukan pintu membuat pak Idris tersenyum dan kembali duduk sambil bergumam, "pasti ini Daniel."


Beberapa orang yang ada di dalam ruangan menantikan siapa sosok yang datang, Shasha tampak terkejut ternyata orang yang mengetuk pintu tersebut tak lain adalah Dion.


What, kenapa dia ada disini?


Tahu darimana dia aku ada disini?


"Selamat siang," sapa Dion kepada semua orang yang ada disekitar.


"Maaf, siapa ya?" tanya Sally dengan ramah.


"Saya atasan Shasha, saya mendengar bahwa ayah Shasha sedang sakit."


Pak Idris yang melihat kehadiran Dion merasa tidak senang, dia melihat Dion dengan tatapan tajam.


Dion memilih duduk di dekat Shasha. Melihat posisi Dion duduk membuat pak Idris semakin geram dan memilih untuk tidur membelakangi Shasha dan Dion.


"Ayah .. Ibu ..., aku keluar dulu mau mencari minuman." ucap Shasha untuk yang berusaha mencairkan suasana.


"Jangan Sha, biar ibu saja yang keluar. Kebetulan ada yang ingin bunda beli."


"Kalau begitu saya saja yang keluar, biar ibu dan Shasha disini untuk menjaga bapak." ucap Dion berusaha menawarkan diri.


"Jangan ... jangan, saya saja. Kebetulan saya ada keperluan karena hendak bertemu dengan teman saya yang suaminya juga sedang dirawat di sini."


"Baiklah bu, biar aku yang menjaga ayah." ucap Shasha sambil berdiri dan mendekat ke arah ayahnya.


Kini Sally sudah keluar dari ruangan dan hanya tinggal tiga orang saja di dalam ruangan. Pak Idris yang sedari tadi membelakangi Shasha dan Dion mulai geram saat mendengar Dion bicara.


"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu akan ke kota S?" tanya Dion.


"Untuk apa? Bukannya saya tadi sudah berpamitan pulang, Pak?" tanya Shasha balik.


"Kalian berdua keluar dari ruangan ini! Aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua!" teriak pak Idris tiba-tiba.


Mendengar ayahnya berteriak membuat Shasha heran dan terkejut.


"Ayah ada apa? Ayah kenapa?"


"Jangan memanggilku ayah! Diriku tak sudi memiliki anak berdosa seperti mu!"

__ADS_1


"Ayah kenapa? Shasha salah apa yah?" tanya Shasha sambil menangis.


"Sudah aku bilang jangan memanggilku ayah! Aku tidak punya anak tukang selingkuh dan pezinah seperti mu!"


"Cukup pak! Bapak jangan asal bicara seperti itu! Dia adalah anak bapak dan -"


"Diam kamu! Kalian berdua pezinah! Kalian bukanlah pasangan suami istri tapi mengapa kalian tidur bersama! Kenapa kamu tega melakukan dosa seperti itu! Apa kurangnya suamimu! Mau ditaruh dimana muka ayah jika melihat Daniel dan keluarganya!"


"Shasha salah apa yah! Shasha tidak pernah melakukan hal bodoh seperti ayah yang tuduhkan kepada Shasha." sambil menangis Shasha berucap dan berusaha meraih tangan ayahnya.


"Jangan sentuh ayah! Ayah tidak mau tangan berlumur dosamu itu memegang tangan ayah!"


"Ayah! Kenapa ayah seperti ini? Shasha tidak melakukan kesalahan apapun! Shasha masih suci dan belum tersentuh!"


"Maksud kamu! Kamu mau bilang kalau kamu masih gadis!"


"B--bukan itu maksud Shasha. Aku hanya milik suamiku, Daniel." jawab Shasha yang hampir saja kelepasan bahwasannya dia dan Daniel masih belum berhubungan suami istri.


"Aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua! Pergi kalian!" usir pak Idris kepada Shasha dan Dion dengan suara keras dan bergetar.


Terdengar deruhan air mata yang masih belum keluar namun telah membanjiri mata lelaki yang berusia hampir senja tersebut. Bahkan sebuah kekecewaan jelas terdengar dari suaranya.


Shasha dan Dion keluar dari kamar tempat pak Idris dirawat. Dengan masih berlinang air mata Shasha mencoba mengingat-ingat apa yang telah dia lakukan sehingga membuat ayahnya marah. Dirinya ingat ucapan bundanya bahwasannya ayah tiba-tiba pingsan saat melihat foto yang ada pada laptop.


Dion  yang juga telah diusir keluar dari kamar merasa ada yang tak beres dengan lelaki berumur empat yang sedang terbaring di brankar rumah sakit. Jelas sekali kemarahannya bahkan dia seakan tak sudi melihat kehadiran dirinya dan Shasha.


Sepertinya ada yang tidak beres, apa ini berhubungan dengan apa yang aku lakukan semalam?


Jika iya, mengapa pak Idris bisa tahu, padahal aku hanya mengirimkan foto-foto itu kepada Daniel.


Jangan-jangan Daniel sengaja mengirmkannya kepada ayah Shasha agar meilhat kelakuan anaknya?


Jika iya, artinya Daniel benar-benar keterlaluan!


Dion pun meminta anak buahnya menyelidiki perihal keaslian email milik Daniel. Dengan harap-harap cemas ia menunggu kabar informasi anak buahnya sedangkan Shasha berusaha mengambil laptop yang sengaja ditinggalkan di dalam mobil yang ada diparkiran rumah sakit. Saat sampai di parkiran rumah sakit Shasha segera masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang sambil menyalakan laptop, dibukanya setiap album yang ada pada laptop. Satu persatu di ceknya, baginya tak ada yang ganjil dari album.


Shasha mulai beralih ke sebuah browser, dan dia melihat bahwasannya ada beberapa pesan masuk pada email.


Sejak kapan ayah memiliki email?


Apa Daniel juga mengajarinya mengirim surat lewat email?


Dan betapa terkejutnya Shasha saat dia membuka pesan tersebut, dia melihat dirinya dan Dion sedang tidur bersama. Shasha terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Segera ia mencari keberadaan Dion dengan mulai menelfonnya berulang kali.


Sedangkan Dion yang baru saja mendapat pesan dari anak buahnya bahwasannya Daniel memilik dua email, untuk alamat email lama Daniel itu lama tidak aktif hampir empat tahun dan baru aktif digunakan beberapa bulan terakhir ini. Dan sepertinya alamat email Daniel telah digunakan oleh orang lain.


** **, jangan -jangan email itu digunakan oleh ayah Shasha!


Artinya aku salah kirim??


.


.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2