
"Lebih baik dinilai orang susah tapi punya uang daripada dinilai orang kaya tapi ternyata banyak hutang."
"Jadi maksudmu aku banyak hutang!"
"Saya menilai global bukan individu. Karena yang saya tahu keseringan belanja online secara tak sadar bisa membuat bengkak kantong. Itu menurut saya. Lagipula saya tak seperti bapak yang dari kecil sudah menjadi sultan. Apa yang saya punya itu semua karena tabungan saya pribadi, dengan menyisakan uang jajan dan uang hasil lomba." "Bahkan ponsel pun aku selalu membeli yang biasa kalaupun punya bagus itu karena hadiah dari kak Erza. Huh ..., tapi sayang hancur karena ulah seseorang tak bertanggung jawab.
Mendengar celotehan Shasha membuat dirinya ingat bahwa orang tak bertanggung jawab adalah dirinya.
"Kamu nyindir saya?"
"Gak. Apa bapak merasa." sambil berjalan ke arah pintu, Shasha hendak membuka pintu karena terdengar suara bel berbunyi.
"Jangan keluar! Aku saja." perintah Daniel.
"Tapi itu bunda."
"Aku bilang jangan ya jangan!" ucap Daniel keras.
"Bapak kenapa sih suka sekali membentak! Apa tak bisa bicara dengan baik dan nada lembut." sambil tetap berjalan menghampiri pintu.
"Sha, aku sudah bilang jangan buka pintunya." sambil berusaha menghampiri untuk mencegah Shasha membuka pintu.
Shasha yang sudah membuka pintu sedangkan Daniel sudah memegang pinggang Shasha dengan erat dan pintu pun terbuka.
"Kalian sedang apa?" tanya Bu Sally sambil membawa pesanan Shasha.
"Bunda," Shasha menunduk tanpa melihat ke arah bundanya karena ia merasa sangat malu.
"Kalian, teruskan saja. Bunda hanya mengantar ini." sambil memberikan kantong plastik kepada Shasha.
Shasha hanya mengangguk, dirinya tak mungkin melepas pelukan Daniel karena saat ini baju handuknya sedang terbuka dan tanpa ia sadari jika rambutnya yang panjang terlilit di kancing baju Daniel.
Sedangkan wajah Daniel terlihat tegang sehingga membuat orang yang melihatnya makin sungkan. Bu Sally menduga jika anaknya Shasha dan Daniel sedang bermesraan namun karena kedatangannya yang salah sehingga harus membuat hasrat menantunya tersebut tertunda.
Pintu pun tertutup, Shasha berusaha melepaskan dirinya dari Daniel namun malah Daniel mengeratkan pelukannya.
"Pak ..., lepaskan!"
"Yakin saya lepas!"
"Iya," ucap Shasha yakin karena dia sudah siap mengikat kain handuk sebelah kanan dan kiri dengan tali yang ada disamping.
Daniel melepas pelukannya, Shasha merasa kesakitan karena rambutnya tertarik.
"Awwww." teriak Shasha keras karena rasa sakit pada kepalanya.
"Makanya jangan sok-sokan. Kamu kira saya suka nyentuh kamu." bohong Daniel padahal sebaiknya. Daniel kembali ke posisinya memeluk Shasha.
"Lalu kenapa tadi pegang-pegang pas saya buka pintu."
"Ya kamu gak sopan, buka pintu dengan pakaian seperti itu."
__ADS_1
"Yasudah sekarang bantu saya melepas ini."
"Melepas apa?"tanya Daniel yang pura-pura tak tahu.
"Rambut pak."
"Rambut yang mana?"goda Daniel.
"Yang ini pak," sambil menunjuk rambutnya."
"Ohh saya kira rambut lainnya."
.
Shasha yang masih terlalu lugu masih tak paham dengan candaan suaminya itu.
"Emang ada yang lain. Kan yang terjepit yang ini."
"Iya cerewet!"
Daniel dengan telaten membetulkan rambut Shasha yang terlilit di kancing baju Daniel. Dengan konsen Daniel membetulkan rambut sedangkan Shasha tertegun melihat ketampanan suami diatas kertasnya itu.
Dilihat dari samping dan bawah suaminya tersebut memiliki rahang yang tegas sehingga dapat membuat orang terkesima dan langsung jatuh cinta tak terkecuali dengan dirinya yang bisa dibilang sudah mulai jatuh cinta. Bukan karena tampan dan juga bukan karena kaya tapi karena sering ribut membuat daya tarik Daniel menjadi menjadi bertambah.
"Kamu ngapain lihat saya seperti itu!" tanya Daniel yang sudah selesai membetulkan rambut yang terlilit.
Shasha yang ditanya tak mengindahkan pertanyaan Daniel. Dia masih sibuk dengan pikirannya dalam memuji suaminya tersebut.
"Iya, kenapa?" tanpa sadar ucapan tersebut keluar dari mulut Shasha.
"Hahaha, akhirnya kamu jatuh cinta sama aku. Aku sudah bilang dulu jangan pernah belajar mencintaiku sekarang bener kan kamu jatuh cinta."
Merasa kepalanya sudah tidak lagi sakit kini Shasha perlahan menjauh dan melepas dari pelukan Daniel.
"Mending saya ngaku kalau cinta daripada pura-pura bilang gak cinta, gak suka tapi berlebihan."
"Berlebihan apa?"
"Cemburu, sok-sokan gak boleh ini gak boleh itu, gak sopan, gak pantes." mulai meninggalkan Daniel yang masih mencerna ucapan dari perdebatan mereka berdua.
Mendengar ucapan Shasha ia merasa apa yang diucapkan istri diatas kertasnya itu ada benarnya juga. Cemburu tiba-tiba muncul jika ia tahu bahwa ada lelaki lain yang baik dan perhatian kepada Shasha.
Apa iya, aku jatuh cinta.
Daniel kini menyusul Shasha yang masuk ke dalam kamar sepertinya sedang berganti pakaian.
"Sha ... Shasha ..." panggil Daniel sedikit berteriak.
Apaan si, manggil pelan kan bisa. Memang hutan harus teriak-teriak. Dasar Tarsan.
"Apa?" jawab Shasha sesat setelah Daniel muncul dan masuk ke kamar.
__ADS_1
"Aku sudah membelikan tiket ayah bunda. Besok kita antar beliau ke bandara."
"Terimakasih ya pak?"
"Kamu kira gratis. Semua itu ada bayarannya."
"Ah, sudah kuduga."
"Gak usah mengeluh. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Tanpa digaji dan harus sukarela." Dengan wajah yang dibuat terlihat kejam padahal dalam hatinya ia tertawa melihat ekspresi Shasha yang datar.
"Sudah tahu, tanpa disuruh juga biasanya gitu." sambil memalingkan tubuhnya untuk keluar menuju balkon kamar.
"Mau kemana?"
"Tuh kan tanya-tanya! Belum juga lima menit bergerak sudah ditanya posisi." "Tenang-tenang pak, saya tak akan meninggalkan bapak jauh-jauh."
"GR kamu! jangan lama-lama di balkon. Segeralah masuk ada yang ingin aku berikan."
"Apa pak? hadiah aku wisuda ya?" tanya Shasha bahagia.
"Orang wisuda itu biasa aja. Gak ada yang istimewa. Yang istimewa itu setelah lulus kuliah kamu dapat dan bisa bekerja." nasehat Daniel.
"Iya saya tahu, tapi sekali-kali dapat hadiah kan gak masalah pak."
"Hambur-hambur duit saja beli sesuatu yang tak penting."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa malam telah tiba. Setelah saling mengolok dan kini tanpa sengaja tidur bersama diatas ranjang tak ada pembatas guling ataupun bantal yang berada diantara mereka berdua.
Tanpa sengaja mereka berdua telah tidur dengan posisi uang begitu dekat, beberapa menit kemudian posisi kembali berubah. Kali ini posisi keduanya saling berpelukan.
Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua. Keduanya saling berpelukan tanpa ada jarak diantara keduanya. Baik Daniel dan Shasha sepertinya sama-sama saling menikmati.
Shasha yang kondisi badannya masih lemah memutuskan untuk bangun agak siang tidak seperti biasanya lagipula dirinya sedang kedatangan bulan. Lain halnya dengan Daniel. Dia tidak merasakan tak enak badan justru yang ia rasakan adalah kenikmatan. Dia merasa nikmat dan hangat karena berada di pelukan istrinya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Keduanya terbangun saat ponsel Daniel berada tepat disamping telinganya.
****, siapa sih harus telepon pagi-pagi. Gak tahu apa hawanya lagi enak begini.
Begitu juga dengan Shasha. Dia yang mendengar nada dering ponsel yang baginya tak asing di telinganya.
Hoam..(menguap sambil mata terpejam). Suara itu kenapa ada dekat sini.
Saat ini mereka berdua terpaksa harus membuka matanya.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak