
Shasha membuka pintu dan memasuki ruang kerjanya.
Krek …(suara pintu)
Beberapa pasang mata melihatnya termasuk Rianda.
“Shasha?” ucap Rianda lirih dengan raut wajah kaget kepada gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya.
Shasha yang dipandang oleh beberapa rekan kerjanya hanya membalas dengan senyum.
“Lu kan lagi sakit, kenapa harus maksain sih?” tanya Dimas yang khawatir.
“Gak papa, sudah enakan kug.” jawab Shasha lirih kepada Dimas yang duduk di depannya.
“Uda makan?” tanya Rianda yang duduk di sebelah Shasha.
Shasha hanya meringis memperlihatkan barisan giginya yang putih dan gingsul.
“Ngapain senyum, gak akan ngefek di aku.” goda Rianda.
“Belum kak.”
“Kenapa? Apa gara-gara lelaki tadi?”
“Gak ada hubungannya, Kak. Uda ah kak, mau lanjut ngerjain ini dulu.” ucap Shasha.
Baru saja Shasha membetulkan posisi duduknya ia mendapat telepon dari pak Denny yang tak lain managernya untuk masuk ke ruangan.
Ada apa ini? Kenapa aku harus dipanggil?
“Kak, kakak pernah dipanggil pak Denny masuk ke dalam?”
“Dipanggil sendiri gak pernah, seringnya berdua atau minimal bertiga.” “Manager kita itu lain daripada yang lain, untuk menghindari fitnah dan hal-hal tak diinginkan itulah alasannya mengapa dia selalu memanggil kami masuk ke ruangan lebih dari satu orang.”
“Oh …”
“Emang kenapa?” tanya Rianda penasaran.
“Shasha disuruh masuk.” bisik Shasha.
“Ada apa?” ucap Rianda tanpa bersuara.
Shasha hanya mengangkat bahunya, dan segera masuk ke ruangan Pak Denny.
Tok!
Tok!
“Permisi, Pak.” sambil membuka pintu dan menutupnya kembali.
Apa yang diucapkan Rianda benar, ternyata ada satu orang lainnya di dalam. Ia tak mengetahui seorang satunya itu siapa karena memang ia tak mengenalnya. Bahkan wajah Managernya saja ia masih belum begitu hafal. Yang ia yakini jika yang masih berumur itu adalah managernya.
“Bapak memanggil saya, ada apa pak?”
“Saya dengar tadi kamu tidak ikut di aula. Kenapa?”
“Asam lambung saya naik, jadi saya tak kuat berdiri dan harus istirahat.”
Sambil mengangguk-angguk mendengar jawaban Shasha seakan paham dengan apa yang dirasakan anak buahnya itu.
“Kamu belum makan, bukan? Makanlah di sofa itu! 15 menit dari sekarang harus selesai, jika tidak saya akan melaporkanmu ke HRD karena kamu tak ikut ke aula dengan alasan sakit.
Tak ingin mendapatkan teguran atau SP dari HRD, ia pun segera membawa makanan tersebut ke sofa dan memakannya dengan lahap dan cepat.
*Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Hihihihi* …,
__ADS_1
Perut, aku menepati janjiku? Sekarang makanlah sepuas-mu.
Pak Denny dan salah seorang lelaki muda nan tampan itu kembali berbicara mengenai pekerjaan sambil sesekali keduanya membahas tentang agenda audit yang akan dilaksanakan hari ini.
Sebenarnya apa hubungan antara pak Dion dengan karyawan baru itu? Kenapa sampai membawakan makanan dengan cara seperti ini?
Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya wanita cantik yang sedang makan itu?
Setengah jam kemudian Shasha yang sudah selesai makan dan minum. Setelah itu ia segera beranjak dari kursinya.
“Pak, saya sudah selesai.” sambil membawa bungkusan makanan yang akan dia buang di keranjang sampah dekat mejanya.
“Mau kamu bawa kemana itu? Sudah taruh sini aja, nanti akan saya buang sendiri.”
Shasha hanya menurut, lalu ia keluar dari pintu ruangan Managernya dengan perut yang kenyang kemudian segera duduk ditempat duduknya.
“Sha, ngapain tadi di dalam?” tanya Kevin yang duduk di depannya.
“Bapak tanya, semalam yang ngerjain laporan audit siapa saja?” bohong Shasha.
“Terus?”
“Terus-terus? Berisik! Sudah jangan tanya-tanya. Kerjain bentar lagi lu yang ikut meeting audit sama pak Arie dan Pak Denny.” bentak Rianda.
Kevin tahu jika Rianda sudah berkata seperti itu artinya kita satu tim harus serius, karena beberapa menit lagi audit akan segera dilakukan.
Kegiatan audit memakan waktu cukup lama, kini sudah hampir jam pulang kerja namun Kevin , pak Arie dan pak Denny masih belum kembali. Semua yang ada di ruangan sudah bersiap untuk pulang namun tidak dengan Shasha. Ia masih mengerjakan tugasnya yang harus ia selesaikan karena beberapa hari kedepan ia harus menghandle kerjaan Rianda yang mendadak diminta untuk segera melakukan perjalanan dinas ke luar kota .
Semangat! Jam enam setidaknya aku harus selesai agar tidak kemalaman dirumah.
“Sha, belum pulang?” tanya pak Arie yang masuk ke ruangan.
“Belum, pak.”
“Lho, kamu masih disini,” tanya pak Denny yang berjalan dibelakang pak Arie.
“Sha, kug belum pulang? Ngerjain apa sih?” tanya Kevin yang muncul dibelakang pak Denny.
“Ini ,” sambil menunjuk dokumen yang berada di tangannya.
“Huhhh …, lu itu ngerjain atau dikerjain sih! Sudah pulang sana!” usir Kevin.
“Iya-iya, nanggung Bang. Lima menit lagi deh,”
“Oke gue temenin kalau gitu.”
Beberapa saat kemudian pak Arie dan pak Denny pun berpamitan pulang. Jadi hanya ada Kevin dan Shasha yang berada di ruangan.
“Sha, kayaknya gue gak bisa nungguin lu. Ni nyokap barusan kirim pesan untuk antar ke rumah temannya.”
“Ia bang, gak papa. Santai aja.”
“Maaf ya. Gue pamit dulu. Bye and take care ya,”
Shasha hanya mengangguk sambil melambaikan tangan.
Setelah kepulangan Kevin kini hanya dirinya yang berada di ruangan. Ditengoknya kanan dan kiri sudah terlihat sepi artinya sudah hampir malam. Shasha pun melihat jam ditangannya yang belum menunjukkan pukul enam maka ia pun kembali mengerjakan pekerjaannya.
Kurang 30 menit, lebih baik aku kerjakan saja.
Naek busway masih ada kug. Tenang santai.
Lagipula ini hari keduaku kerja, gue harus do the best.
Shasha kembali mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan tentunya teliti. Terlalu serius mengerjakan hingga membuat perutnya lapar dan kini membuat badannya menjadi demam.
Haduh, kenapa tiba-tiba lapar, jam berapa sih ini?
__ADS_1
What??? Lewat 30 menit. Pantesan lapar, pusing dan sekarang demam bercampur jadi satu.
Huh…, Semangat!
Segera ia membereskan semua berkas-berkas yang ada dimeja-nya dan segera keluar dari ruangannya. Saat ia keluar dan hendak memasuki lift yang terbuka ia kaget kerena ada Dion dan lelaki yang ditemuinya tadi di ruangan pak Denny tadi siang.
Melihat keberadaan Dion, ia memilih untuk tidak ikut masuk ke dalam lift yang terbuka tadi.
"Kenapa harus ketemu Dion,lagi!" batin Shashsa dengan sedikit kesal.
“Mbak, masuk tidak?” ucap seseorang lelaki tampan disebelah Dion sambil menahan tombol agar pintu lift .tetap terbuka
“Tidak, saya menunggu lift berikutnya saja.”
Dion yang mendengar alasan Shasha segera keluar dan menyuruh asistennya itu untuk turun dulu.
“Kenapa keluar?” tanya Shasha kesal.
“Aku mau berdua bersamamu.” jawab Dion enteng sambil memandangi lift.
Melihat Shasha yang kesal dengan kelakuannya ia pun segera menarik Shasha untuk masuk ke dalam lift sebelah yang hanya diperuntukan untuk seorang direktur dan CEO. Sebenarnya Dion tahu jika Shasha belum pulang dan ia memilih untuk menaiki lift karyawan
“Dion, lepaskan! Jangan begini.”
“Ayo masuk!” Dion menggenggam erat sambil menarik tangan Shasha untuk masuk ke dalam lift.
“Dion lepaskan! Pasti banyak CCTV disini!”
“Memangnya kenapa?”
“Aku dan kamu itu karyawan baru. Jadi jangan seperti ini!”
Dion hanya tersenyum mendengar ucapan wanita yang telah membuat dirinya jatuh cinta sampai sekarang. Dia tahu jika Shasha adalah karyawan baru, begitu juga dengan dirinya yang tak menyangka dengan kedatangannya untuk mengurus bisnis pamannya di sini . Kini justru membuat dirinya harus bertemu dengan kekasih lamanya.
Lift pun berhenti. Dan langsung menuju ke tempat parkir mobil Dion.
“Kenapa liftnya turun sini! Ini bukan pintu masuk.”
“Sudah, ayo keluar.”
“Gak, ini bukan pintu masuk. Dion, please jangan bercanda.”
“Aku gak bercanda, badanmu demam. Kamu harus cepat pulang. Aku yang akan mengantar."
“Tidak, aku bisa pulang sendiri.”
“Diluar hujan Acha, kamu akan makin demam nanti.”
“Gak! Aku mau pulang sendiri.” sambil berlari Shasha mencoba berjalan dan mencari jalan keluar.
Shasha dengan cepat berlari hingga berada di halaman depan kantor. Ternyata apa yang dikatakan Dion benar. Dirinya yang berlari dengan segenap kekuatannya untuk mengurangi pukulan air hujan yang mengenai dirinya, namun tetap telah membuat bajunya menjadi basah.
Beruntung, baru saja dia sampai di halaman kantor Dion berhenti tepat di depan Shasha. Segera ia melepas jasnya untuk dijadikan payung agar Shasha tak terlalu kehujanan.
“Ayo masuk, atau aku akan menggendong-mu!”
Tak punya pilihan akhirnya Shasha terpaksa menuruti dan masuk ke dalam mobil.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak