TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 142. MAKAN SIANG.


__ADS_3

"Pak, kenapa diam? Jika sudah tidak ada yang dibicarakan saya keluar dulu." tanya Shasha kepada Dion.


"Sudah cukup, kembalilah segera selesaikan pekerjaanmu."


Shasha keluar dari ruangan Dion, dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


Tanpa terasa waktu pagi telah berlalu dan saat ini hampir tiba waktu makan siang, Riko yang kelaparan segera masuk keruangan Shasha dan hendak mengajak Shasha untuk makan bersama.


"Sha, makan yuk!" ajak Riko.


"Duluan saja, aku sudah kenyang."


"Kenyang? Makan apa?" tanya Riko penasaran.


"Nih," tunjuk Shasha sambil mengeluarkan beberapa jajanan favoritnya yaitu keripik kentang.


"Masya Allah Shasha, itu hanya cemilan. Ayolah makan siang, aku sendirian tahu."


"Kenapa gak ajak bos saja?"


"Aku yakin dia gak akan mau."


"Kenapa?"


"Karena kamu gak ikut."


"Apa hubungannya sama aku."


"Karena hanya kamu yang ada dihatinya." ucap Riko jengkel kemudian berjalan meninggalkan Shasha.


"Tunggu ... tunggu ....!" teriak Shasha mengejar Riko.


"Apa?" Riko menoleh kebelakang.


"Aku ikut, kita makan di kantin kan?"


..


"Ya."


Saat ini menu berkuah yang tersaji adalah rawon empal dan gule kambing. keduanya mengambil menu favorit masing-masing. Riko yang sudah selesai mengambil sepiring nasi dan semangkuk gulai kambing segera mencari tempat duduk yang kosong. Sedangkan Shasha yang masih rempong berada di etalase kantin masih bercengkrama dengan ibu kantin.


Shasha yang sedang membawa sepiring nasi mencari keberadaan Riko, setelah menemukannya ia segera berjalan ke arah asisten bosnya itu.


"Sha, kamu makan nasi atau minum kuah?" tanya Riko yang heran melihat isi dari piring Shasha.


"Nasi lah, kenapa?" jawab Shasha dengan hati riang, karena lama dirinya tak menyantap makanan kesukaannya itu.


"Mana ikan dan nasinya?" tanya Riko yang sedang melihat Shasha mengaduk-aduk nasi agar bercampur dengan kecambah dan sambal.


"Tunggu," Shasha beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu yang tertinggal.


Riko yang penasaran dengan apa yang diambil Shasha memilih untuk tidak makan dulu dan tak lama kemudian Shashsa datang dengan membawa kerupuk, kecambah pendek satu wadah kecil dan dua butir telur asin yang sudah dibelah jadi dua.


"Apaan itu?"


"Ini itu ibarat pasangan hidup, rawon tanpa tiga ini rasanya hambar." ucap Shasha sambil menaburkan tambahan kecambah di tempat kecil itu kedalam piringnya.


Shasha pun mulai makan setelah meracik semuanya. Dengan gaya ala-ala chef yang sedang mencicipi masakan Shasha berkata, "ulalah, wenaknya pol."


Melihat itu Riko tertawa terbahak-bahak, dia tak menyangka jika sekertaris cantik yang ada di depannya ini benar-benar kocak.


"Hahahha, terus apa hubungannya sama pasangan hidup?"

__ADS_1


"Ya rasanya hambar aja kalau gak saling melengkapi." ucap Shasha sambil mengigit kerupuk putih kesukaannya.


Dasar wanita aneh, mungkin sifatnya ini yang bikin Dion jatuh cinta dan tak dapat berpaling.


"Makan apa?" tanya Shasha yang sekarang melihat makanan yang dimakan Riko.


"Ini gulai kambing,"


"Tapi kenapa model dagingnya begitu?"


"Sssst jangan kenceng-kenceng. Ini namanya torpedo."


"Ohh jadi ini yang namanya torpedo. Bukannya ini untuk meningkatkan libido."


"Betul sekali. Kamu memang sekertaris pintar."


"Tunggu-tunggu, kamu belum menikah kan? lalu kenapa ingin meningkatkan libido?"


"Dasar anak bawang, sekarang itu lagi hits cicip dulu sebelum halal." bohong Riko, padahal dirinya sendiri penasaran dengan rasa dan khasiat torpedo. Baginya adalah urusan terakhir jika libidonya meningkat setidaknya ia akan bermain solo.


"Otak memang rusak. Kalau model laki kayak kamu semua bisa habis stock wanita baik."


"Husssh,, diem. Makan saja." ucap Riko sambil menahan senyum.


Saat mereka sedang menikmati makanan terdengar suara gaduh beberapa karyawan wanita yang membicarakan bahwasannya kantor mereka kedatangan pria tampan, berbadan tegap, yang tak kalah tampannya dengan CEO mereka.


"Kenapa sih mereka, seperti tidak pernah melihat lelaki tampan saja?" tanya Riko heran.


"Biarkan saja, itu normal mereka menikmati keindahan dunia."


"Tapi kenapa kamu biasa saja dan gak ingin melihat? Apa berarti kamu gak normal?


"Sembarangan! Aku ini anti sama yang tampan-tampan, yang gak tampan aja nyakitin apalagi yang tampan."


"Berarti kamu sadar." ucap Shasha sambil terkekeh.


"Asem, biarpun wajah pas -pas an begini tapi yang suka sama aku antri tahu. Bahkan Rachel pun terkintil-******."


"Hahahaha," tawa Shasha tak dapat dibendung hingga membuat Dion yang sedang mencari keberadaan mereka hafal jika itu adalah suara Shasha.


"Ehem, kenapa ketawamu besar sekali jika bersama Riko?" tanya Dion yang tiba-tiba muncul dan duduk disamping Shasha.


"Pak Dion," sapa Shasha sambil menutup mulutnya yang masih penuh dengan makanan.


"Jangan bicara kalau makan, nanti kalau kamu tersedak aku yang bingung."


"Kamu makan rawon Sha? Sudah habis berapa piring?"


"Baru satu pak."


"Aku ambilin lagi ya buat kamu." Dion menawarkan diri dan hendak berdiri, namun Shasha menahan lengannya.


"Sudah jangan, jangan malu-maluin aku. Lain kali aja kita makan diluar." ucap Shasha yang tak sadar dengan ucapannya untuk mengajak Dion makan bersama.


"Sudah gak papa."


"Gak Dion! Gak!" ucap Shasha sambil melotot ke arah Dion. Dirinya masih tak sadar jika lelaki yang dipelototi nya adalah bosnya.


"Sha, lu benar-benar berani ya. Aku baru tahu ada sekertaris melototi bosnya."


Dion hanya menahan senyum dan tawanya, ia tak menyangka jika Shasha mulai memperlakukan dirinya sama seperti dulu saat mereka masih pacaran.


"Maaf pak, saya gak sengaja." Shasha meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku malah suka kmau seperti ini, kamu mirip Shasha tujuh tahun yang lalu."


Mendengar ucapan sahabat sekaligus bosnya itu membuat Riko menepuk jidatnya, "Lebih baik aku segera pergi dari sini.


"Riko, jangan pergi.


"Bos, gimana? Pesona ku lebih oke, bukan?"


Dion hanya mengangguk dan melihat Shasha yang masih makan.


Beberapa saat kemudian istri pak Mukit datang menghampiri sambil membawa sepiring nasi rawon lengkap dengan telur ceplok.


"Terima kasih ya Bu," ucap Dion kepada Bu Mukit.


"Sama-sama, Pak Dion."


Riko heran melihat piring yang ada di depannya.


"Ini buat siapa?"


"Aku lah."


"Sejak kapan kamu suka kuah hitam ini? Perasaan selama mengenalmu aku gak pernah lihat kamu makan ini."


"Sejak aku mulai melihat wanita impianku muncul lagi."


Mendengar itu Shasha menjadi tersedak dengan kerupuk yang ia makan.


*Uhuk!!


Uhuk*!!!


"Kamu gak papa?" tanya Dion khawatir.


"Ya. I am Oke."


"Kalian berdua memang aneh, yang satu telur asin yang satunya telur ceplok. Apa nikmatnya coba?


"Ayo sini coba. Daripada menikmati torpedo apa enaknya." ledek Shasha kepada Riko.


Dion tak percaya jika Riko dengan terang-terangan makan torpedo di depan Shashsa. Mendengar itu Dion segera mempercepat makannya agar Shasha tak terkontaminasi oleh kelakuan Riko yang terkadang sedikit mesum ucapannya.


Tak terasa jam istirahat telah usai segera mereka bertiga meninggalkan kantin. Di dalam perjalanan menuju ruangannya dia baru ingat bahwasannya Shasha kedatangan tamu.


"Sha, kamu kedatangan tamu. Lebih baik kamu temui dulu di ruang tunggu."


"Tamu? kenapa hanya saya pak?"


"Kamu mau saya temani?"


"Oh ti-tidak, maksud saya iya saya sendiri yang kesana."


"Yasudah kita berpisah disini, segera kamu temui dia. Jika saya sudah selesai menandatangani berkas. Jika sudah selesai saya akan menyusulmu.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2