
Berulang kali Shasha keluar dari kamarnya dan berdiri untuk melihat pintu, namun semakin ditunggu semakin sesak rasanya, ia merasa pintu yang dilihatnya itu sedang menertawakan dirinya sambil berucap , "Idih yang uda mulai bucin? Syukurin Bibie belum datang. Wekkk."
Kenapa pintu itu seakan mengolok-olok ku bahkan seperti menjulurkan lidahnya. Awas aja ya kalau nanti Bibie datang gantian aku yang akan olok kalian.
Setelah berperang batin dengan pintu ia pun kembali masuk ke kamarnya untuk melepas penat dan letihnya yang seharian bekerja di kantor maupun dirumah dengan berbaring diatas ranjang yang empuk.
Niatnya hanya ingin rebahan namun rasa capek dan lelahnya membuatnya menjadi terlelap. Dengan pulas ia pun akhirnya tertidur. Shasha yang lupa tidak menutup pintu di balkon membuat udara dari luar memasuki kamarnya tanpa permisi, hingga menyapu tubuhnya yang tidur hanya dibalut dengan kain tipis tanpa kehangatan dari selimut. Rasa dingin dan gigitan nyamuk membuat Shasha terbangun dari tidur pulasnya.
“Dasar nyamuk nakal,beraninya gigit aku, istri dari Daniel Habibie Joshka.” ucap Shasha sambil terkekeh.
"Hoammmm ..., jam berapa ini?" ucap Shasha lirih sambil membuka matanya untuk mengintip jam dinding yang ada di depannya, kemudian ia segera berdiri dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit oleng.
Pasti Bibie sudah datang, aku akan mengetuk kamarnya dan mengajak makan malam.
Saat hendak keluar dari kamar terdengar ponselnya berdering tanda ada pesan masuk .
Ah biar saja, aku panasin dulu masakannya baru setelah itu aku akan melihat pesan tersebut.
Dengan penuh semangat Shasha memanaskan masakannya, selesai memanaskan ia pun segera bergegas bergerak ke kamar Daniel. Diketuknya pintu tersebut namun tak ada jawaban. Shasha yang penasaran pun mencoba membuka pintu dan ternyata kamar dalam keadaan kosong.
Kenapa dia belum datang?
Apa pekerjaannya membuat dia harus kerja sampai tak pulang.
Kemana ya?? Jangan -jangan sedang bersama wanita itu. Hussh aku ngomong apa sih. Gak boleh berfikir buruk karena fikiran buruk bisa menjadi nyata.
Lebih baik aku ke kamar untuk mengecek ponsel siapa tahu Bibie memberitahuku posisi dimana dia sekarang.
Dengan wajah cemberut dan hendak meninggalkan kamar, pandangannya terganggu saat melihat sebuah foto yang ada di dekat nakas tempat tidur. Sebuah foto yang menggambarkan raut wajah bahagia dua orang insan yang sedang dimabuk asmara berada di dalam sebuah kamar sambil saling menempelkan kepala mereka.
Sejak kapan foto mereka berdua disini? Sepertinya aku baru melihatnya.
Masa lalu mereka terlihat sangat indah dibanding dengan masa laluku.
Diangkatnya pigura ukuran kecil tersebut, dengan tatapan tak suka dilihatnya foto tersebut lekat-lekat. Namun lambat laun memandang foto tersebut membuat Shasha berpikir akan sesuatu.
Asia memang cantik, dia sempurna. Sebenarnya dia wanita yang tepat untuk Bibie.
__ADS_1
Shasha merasa kesal dengan dirinya sendiri, bukannya jengkel dengan foto wanita tersebut justru sebaliknya. Ia malah memuji kecantikan rivalnya itu. Kekesalannya ia lampiaskan dengan menggulingkan pigura.
Pasti wanita itu yang menaruhnya. Dasar wanita sinting.
Kini ia keluar dari kamar Daniel dan ingin segera menuju ke kamarnya untuk mengecek ponsel miliknya yang sempat berdering tadi.
Kira-kira siapa yang mengirim pesan? Sepertinya aku halu jika yang mengirim pesan tersebut adalah Bibie. Hahahhaha.
Nomor siapa ini? Bahkan dia mengirimkan pesan dan ...
Shasha yang sedari tadi bergumam dengan dirinya sendiri harus merasakan sesak yang tak terkira.
No name : “Jangan tunggu Daniel pulang, ia sedang tidur denganku.”
No name : “Lu baru baca pesan gue. Baguslah, berarti mata lu sekarang lagi ON.”
No name : “ Kenapa gak respon? Respon dunk! Jangan-jangan lu sekarang lagi nangis di pojokan.”
No name : “ Ni gue kirim foto, kami berdua habis bercinta.”
(Beberapa menit kemudian)
Asia mengirimkan foto Daniel yang sedang tertidur pulas disebelahnya).
Hatinya terasa sakit. Ia tak menyangka semua apa yang Daniel ucapkan adalah kebohongan. Pertama ia menjamin bahwa Asia tak akan mengetahui lokasi apartemennya, kedua ia yang berjanji tak akan bersentuhan bahkan berhubungan badan.
Shasha tidak percaya begitu saja, ia pun coba menghubungi Johan . Namun Johan yang dihubungi berkali-kali tak ada jawaban.
Apa yang disembunyikan abang dari aku?
Kenapa tak seperti biasanya, biasanya jam berapa pun aku menelfon pasti abang angkat.
Ayo angkat Bang, angkat please.
Berulang kali Shasha menelfon Johan namun tetap tak ada jawaban. Hingga Shasha yang tak dapat berfikir panjang mulai menghubungi Melly, ibu mertuanya. Perbedaan waktu 11 jam membuat Shasha tak sungkan jika menelfon mertuanya sekarang.
Tak butuh waktu lama akhirnya mertuanya tersebut mengangkat telefon dari menantu kesayangannya.
__ADS_1
Melly : “ Gimana kabarnya Sayang? Lama ni gak kasih kabar ke mami! Kalian ngapain aja sih disana, sekali-sekali nengokin Mami dan Dady disini.”
Shasha : “ Ia Mi,gimana kabar Mami, Dady dan juga opa termasuk Alea, uncle Joshki dan tante Lily?
Melly : “Mereka semua baik dan sehat. Gimana kabar bunda dan ayah?”
Shasha : ” Baik semuanya.”
Melly : “Mana Daniel?” Kenapa gak kelihatan ?
Shasha : “Sedang tidur.” Jawab Shasha singkat.
Setelah saling bertukar kabar, tanpa menghitung waktu segera Shasha bertanya nomor ponsel milik Daniel. Setelah mendapatkannya nomor telepon Shasha mencoba menghubungi nomor tersebut namun ponsel yang dihubunginya ternyata mati.
Tak ada lagi harapan SHasha ingin mengetahui kebenaran, dengan perasaan yang campur aduk Shasha berusaha menerima pasrah sebuah kenyataan tentang kebohongan suaminya yang telah mengingkari ucapannya sendiri dan juga kenyataan untuk menerima bahwa suaminya itu tak pulang dan memilih untuk bermalam dengan Asia.
Shasha pun kembali memutuskan untuk kembali tidur dengan pikiran yang tak karuan.
**
Pagi ini ini Shasha tak lagi menyibukkan diri seperti biasanya, kali ini ia benar-benar tidak membuat sarapan pagi, karena ia harus menghabiskan makanan semalam yang ia masak. Sebelum berangkat ia juga sudah memastikan untuk tak lagi membawa kartu-kartu pemberian dari Daniel bahkan sebuah cincin pernikahan yang biasanya ia pakai kini tak lagi ia sematkan di jari manisnya itu.
Saat keluar dari lift ia melihat Johan datang dan memasuki lobi seperti sedang menelfon seseorang. Sepertinya seseorang yang ditelpon Johan adalah Shasha, karena berulang kali ponsel Shasha berbunyi. Sebelum membuat keributan di jalan Shasha membuka tasnya untuk mengambil ponselnya dan menggantinya dengan mode sunyi. Setelah menggantinya dengan mode sunyi kini tak ada lagi gangguan lagi pada ponsel Shasha dan ia dapat berjalan sampai ke halte bus dengan tenang.
Bisanya Shasha dari apartemen langsung berangkat namun untuk hari ini tidak, ia memilih untuk singgah sementara di taman dekan apartemennya. Entah mengapa ia melakukan itu yang jelas ia merasa lelah dengan apa yang terjadi semalam hingga saat ini. Ia pun mulai menengadah kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya sambil mengangkat kedua tangannya keatas diikuti dengan hembusan nakas yang panjang. Ia melakukan itu semua untuk membuat dirinya merasa relax
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,
comment atau kasih.
__ADS_1