TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 125. SERBA SALAH.


__ADS_3

Shasha yang kini menjadi sekertaris di sebuah perusahaan Real Estate terbesar di Ibukota tak pernah menyangka jika ia akan bekerja di kantor mantan kekasih yang pernah ia sakiti. Begitu juga dengan Dion, niatnya yang ingin kembali ke tanah air dan menerima amanah dari para investor agar memimpin di kantor pusat tak pernah menigra jika dirinya akan bertemu dengan Shasha, mantan kekasih yang amat ia sayang.


Sebuah pertemuan yang tak terduga dimana pantry dan kopi yang menjadi saksi mereka berdua bertemu setelah sekian lamanya tak saling jumpa. Harapannya untuk kembali memiliki seutuhnya harus pupus saat tahu jika mantan kekasihnya itu sudah menikah diam-diam. Sakit hati dan tak terima sempat menggorogoti hatinya, yang mana rasa benci sempat muncul ber-iringan dengan amarah yang kembali muncul saat  mengingat alasan


Shasha yang ingin mengakhiri hubungan mereka saat masih sekolah adalah Shasha ingin fokus belajar dan tak ingin menjadi penghambat kesuksesan Dion.


***


TRATA LAND, adalah perusahaan Real Estate yang didirikan oleh dua saudara yaitu Brata dan Putra. Dengan keuletan dan kepintaran yang mereka miliki akhirnya perusahaan mereka berkembang pesat. Namun semua itu berubah disaat Putra dan istrinya sedang meninggal saat sedang melihat proyek mereka di Kanada. Mia dan istrinya tak tahu jika terjadi aksi kejar-kejaran antara gangster yang dipimpin oleh Monty dengan polisi setempat.


Saaat itu, Mia dan Putra sedang melintasi jalan dan dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju tanpa kendali hingga membuat  jika di depannya ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti. Hingga kecelakaan pun terjadi dan mengakibatkan Dion menjadi seorang yatim piatu.


Saat itu Dion masih berusia 17 tahun, dirinya yang baru saja putus cinta harus menelan sebuah pil pahit bahwa


kedua orangtuanya harus tiada. Kepergian kedua orangtuanya membuatnya menjadi pribadi yang lebih tegar, didikan dari Brata yang merupakan kakak dari sang ayah lah yang membuat mental Dion tumbuh menjadi mandiri dan juga cakap, hingga kini namanya dikenal di dunia bisnis.


Pak Brata begitu mencintai Dion dengan sepenuh hati, ia yang tidak menikah merasa bahagia dengan memiliki Dion sebagai keponakan sekaligus anaknya.


**


Sudah tiga bulan Dion berada di Ibukota memimpin perusahaannya, bagi Dion ini adalah tanggung jawab yang besar. Dalam kesibukan dan kebenciannya ternyata diam-diam dia masih memperhatikan Shasha. Mulai dari tinggal di apartemen yang sama, hingga dirinya yang dengan sengaja tak menampakkan batang hidungnya di depan Shasha karena ia sedang menyelidiki Daniel yang menurutnya tega telah menduakan Shasha.


Sebarnya ia tak memerlukan sekertaris, baginya asisten seperti Riko sudahlah cukup. Namun saat mengetahui


apa yang sudah dilakukan oleh Daniel  membuat Dion tak ragu untuk memilih Shasha menjadi seorang sekertaris sehingga dapat menemani hari-harinya. Tak hanya itu Dion ingin menguak sebuah fakta kelakuan Daniel.


"Apa kamu sudah tahu jadwal agendaku hari ini?" pertanyaan pertama Dion yang diberikan kepada Shasha.


"Belum pak."


"Lalu, kenapa kamu diam saja?" tanya Dion dengan meninggikan suaranya.


"Ti-"


"Kalau tidak tahu kamu cari tahu, tanya Riko! Riko saja seorang lelaki bisa paham jadwal kerja saya!"


"Iy-"


 "Cepat cari tahu, kamu harus belajar cepat jangan lelet!" bentak Dion kepada Shasha.


Merasa dirinya dibentak-bentak oleh Dion membuat Shasha kaget, ia tak mengira Dion akan berbuat seperti itu. Tak ingin terbawa perasaan Shasha diam dan menyadari kesalahannya. Ia pun segera beranjak berdiri untuk pergi ke ruangan Riko.


"Mau kemana kamu?"


"Ke depan," jawab Shasha sambil berdiri.


"Gak usah."


"Kenapa? Bukannya tadi saya diminta cari tahu tentang agenda bapak?"


"Kan gak harus kedepan, lewat telepon bisa?"


Shasha kembali duduk, dan mulai menghubungi Riko namn tak juga diangkat oleh Riko. Berulang kali Shasha mencoba dan hasilnya sama saja.

__ADS_1


“Gimana?”


 “Belum pak, ini teleponnya gak diangkat.”


“Terus kalau gak diangkat kamu diam saja!”


 “Iya lebih baik saya kesana tanya langsung.” ambil berucap Shasha berdiri dan hendak keluar dari ruangan Dion.


Akhirnya, aku bisa keluar dari ruangan laknat ini, setidaknya lebih baik berlama-lama di ruangan pak Riko.


 “Pak, dari tadi disini?” tanya Shasha pada Riko namun Riko yang ditanya hanya diam.


“Pak ..” panggil Shasha lembut.


Lagi-lagi Riko yang dipanggil tidak dengar, sebenarnya ia mendengar namun ia sengaja tidak mendengar panggilan


Shasha karena ingin mengerjai sekertaris baru Dion.


Kenapa semua orang diruangan ini menjengkelkan!


Merasa tidak dihiraukan Shasha pun memilih untuk pergi keluar untuk bertemu dengan pak Brata. Karena menurutnya hanya lelaki paruh bayah itu yang dapat mengerti dirinya dibandingkan dengan


kedua lelaki labil yang ada di ruangannya.


 Langkah Shasha terhenti saat namanya dipanggil.


 “Shasha!” mendengar seseorang memanggilnya membuat langkah Shasha berhenti.


“Kak Rianda,” Shasha pun diam menunggu Rianda datang menghampirinya.


“Gimana disana?” tanya Rianda penasaran.


“Aku harus banyak belajar kak, aku perlu adapatasi dan belajar cepat.”


“Kakak yakin kamu bisa. Aku rasa dia pernah menolongmu saat di ruang P3K kan?”


“Iya."


“Kamu mengenalnya sebelumnya?”


“Gak, kak” bohong Shasha. “Kak, aku balik dulu ya.”


"Tumben, bukannya biasanya kita menghabiskan waktu setengah jam di toilet?”


“Lain kali kakak masuk kesana. Biar kakak tahu gimana buasnya dia.” Ucap Shasha lalu berpamitan.


Rianda sedikit kecewa karena belum sempat ia bercerita banyak Shasha sudah mengakhiri pembicaraan mereka. Namun dirinya menyadari karena saat ini Shasha tak bisa bebas seperti biasanya.


Mungkin dia mulai tertekan karena ada dua laki-laki disana, setidaknya dia harus bisa sabar. Semgat Shasha.


**


Dengan langkah cepat Shasha memasuki ruangannya namun sebelum masuk ke ruangan ia sudah melihat wajah Riko yang menyeramkan melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Darimana kamu?”


“Toilet,”


 “Cepat masuk dia sudah mengaum.”


 “Mengaum? Perasaan belum setengah jam aku diluar.” Ucap Shasha lirih sambil melihat jam ditangannya.


Meski sedikit kesal dengan kelakuan Dion yang berlebihan namun jujur dia merasa  takut jika melihat ekspresi


wajah Dion. Dengan langkah tergopoh-gopoh Shasha memasuki mengetuk lalu masuk ke dalam ruangan


"Darimana? tanya Dion sambil memandang wajah Shasha yang terlihat sangat jengkel dengan semua tingkah


dirinya.


"Toilet."


"Kenapa tak pamit?"


"Tadi sekalian ada di depan pak,"


"Lain kali jangan seperti itu," "Ibarat kamu sedang berada seruangan dengan seseorang


setidaknya ucapkan satu patah dua kata agar suasana kerja menjadi lebih nyaman."


"Baik pak, terimakasih sarannya."


"Bagaimana, apa kamu sudah mengetahui jadwaku hari ini?"


Shasha ingat bahwa sedari tadi itulah yang diminta oleh Daniel, sedangkan Riko yang tidak bersahabat jika


ditanya membuat Shasha bimbang harus bagaimana memberi jawaban.


"Kenapa diam! Apa kamu tidak lihat saya sedang bicara?"


"Iya pak saya dengar, saat ini saya sedang memikirkan jawaban apa yang tepat saya berikan ke bapak, agar bapak tidak marah-marah terus."


Mendengar ucapan Shasha membuat dirinya tersenyum kecil, namun senyuman itu tutupi dengan jari jemarinya agar tak terlihat Shasha. Sejujurnya Dion merasa sangat bahagia karena kini bisa merasakan berduan lagi dengan Shasha namun dengan situasi yang beda. Dulu mereka saling bertutur kata lembut jika bertemu sedangkan sekarang sebaliknya dan


Berada di dekatmu sungguh berbeda, rasa ini tak pernah aku temukan dengan wanita selain dirimu. Nyaman, sebuah kata yang tak pernah hilang dan selalu ada jika berada di dekatmu.


Andai kamu belum menikah aku akan mengajakmu menikah sekarang.


Aku akan selalu mengawasi pernikahanmu, jika sampai setahun status kalian belum berubah maka aku akan merebutmu darinya dengan caraku.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.


__ADS_2