
Kini Daniel sudah berada di Indonesia tanpa Johan. Sampai di bandara dia sudah disambut oleh seseorang yang dia sendiri belum mengenalnya.
"Siang, pak Daniel. Perkenalkan saya Jason. Saya diminta direktur untuk menjemput pak Daniel." ucapnya sambil memperkenalkan diri.
"Salam kenal." balas Daniel datar.
"Silakan ikut saya, pak. Saya akan mengambil mobil dulu." ajak Jason kepada Daniel.
Beberapa saat kemudian muncul sebuah mobil dan turunlah Jason dari mobil tersebut lalu membukakan pintu penumpang dan memasukkan koper milik Daniel kedalam bagasi, setelah itu dia memasuki kursi kemudi dan mulai melajukan kemudinya.
Di dalam perjalanan Jason yang melihat ke arah spion mencoba melihat wajah Daniel dan dilihatnya lekat-lekat.
"Ada apa kamu memandangi saya? fokus jalan!" ketus Daniel.
"Maaf pak, saya hanya memastikan saja." balas Jason.
"Memastikan apa?"
"Memastikan bahwa benar bapak adalah pak Daniel, karena saya pernah melakukan kesalahan. Saya pernah salah ambil penumpang dan ..."
"Apa kamu mau lihat kartu indentitas saya." ucap Daniel memotong penjelasan Jason.
"Ti ... tidak pak, saya rasa sudah benar, wajah bapak mirip sekali dengan yang ada di surat kabar."
Didalam mobil tak banyak yang dibicarakan. Jason yang merasa canggung mulai membuka pembicaraan.
"Pak Daniel, apa mau saya antar untuk jalan-jalan dulu sebelum besok padat dengan aktivitas kantor?" tanya Jason sambil melihat Daniel dari kaca spion.
"Tidak perlu." ucapnya singkat.
Jason yang mendengar jawaban singkat Daniel hanya menghela nafas panjang dan mulai menatap konsen jalanan ibukota yang sangat ramai penuh dengan hiruk pikuk kendaraan.
"Apa jalanan selalu seperti ini?" tanya Daniel heran.
"Iya pak, dijam pulang kantor selalu seperti ini. Bagaimana apa bapak mau saya antar jalan-jalan dulu atau langsung ke apartemen sekalian saya tunjukkan restoran paling enak."
"Tidak, saya akan memesan makanan lewat aplikasi saja nanti."
"Baiklah jika begitu pak."
Jason kembali mengemudikan kendaraan dengan lihainya hingga tak terasa saat ini sudah berada disebuah apartemen mewah milik Daniel.
Segera dirinya mengeluarkan beberapa barang bawaan milik Daniel kemudian mereka menuju ke lift. Didalam lift mereka berdua, baru pintu lift tertutup sudah tertahan, yaitu muncul dua orang wanita seksi memasuki lift.
Kedua wanita itu melihat Daniel dan Jason dengan wajah yang menggoda, Daniel dan Jason hanya bersikap dingin. Jason yang tahu bahwa kedua wanita didepannya adalah wanita panggilan sedangkan Daniel yang melihat wanita dengan model seperti itu sama sekali tak menggubris karena saat ini pikirannya tidak fokus dengan wanita melainkan pekerjaan lagipula dirinya pernah tersakiti sehingga hatinya masih belum begitu sembuh.
Kedua wanita itu mencari kesempatan dengan pura-pura terjatuh namun Jason dan Daniel sama sekali tak menggubris hingga akhirnya pintu lift terbuka dan mereka dengan kasar melewati kedua wanita tersebut lalu pintu lift pun tertutup. Kedua wanita yang ada didalam hanya dapat diam sambil saling bertatapan. Mereka heran mengapa degan pakaiannya yang seksi tidak membuat kedua lelaki tampan itu membuang muka dan sama sekali tidak menatap kepada mereka. Mereka pun berfikir sama.
"Jangan-jangan mereka berdua Gay?" tanya wanita A.
"Bisa jadi, aduh sayang banget kenapa wajah tampan sekarang tak menjamin." kata wanita B.
Daniel dan Jason berjalan melewati beberapa kamar dan tibalah dikamar yang dimaksud. Segera Daniel menekan pin. Jason tak masuk dan langsung pamit.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di dalam kamar segera Daniel merebahkan dirinya di kasur empuk. Sudah lama dia tidak merasakan kamar yang luas dan serba modern. Selama rebahan pikirannya hanya terfokus pada pekerjaan dan sebuah tantangan yang diberikan oleh Joshka, dady nya.
Selesai merebahkan tubuhnya dia segera bangun lalu berdiri menuju ke toilet untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Keesokan harinya dirinya sudah bersiap untuk memulai harinya sebagai CEO di sebuah perusahaan multinasional yang menghasilkan produk-produk konsumer paling laris yaitu JM Corporate.
Jason yang sudah berada dalam lobby tersenyum menyambut kedatangan Daniel kemudian membukakan pintu penumpang untuk Daniel kemudian dia berputar menuju ke kursi kemudi.
Didalam perjalanan Jason mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan sesuatu kepada Daniel.
"Pagi, pak? apa bapak sudah sarapan pagi?" tanya Jason basa-basi.
"Belum, nanti saja dikantor."jawabnya singkat.
"Kalau begitu boleh saya mampir ke warung makan langganan saya pak? kebetulan sejalan dengan arah kantor kita." tawar Jason.
"Terserah kamu."
Tak lama kemudian Jason tiba di warung makanan langganannya. Ketika Jason memesan makanan dari dalam Daniel melihat beberapa produk konsumer miliknya terjajar rapi di warung tersebut, hal tersebut membuat dirinya tertarik karena selama ini dia sama sekali tak pernah turun langsung ke lapangan melihat antusias beberapa konsumen dalam menikmati hasil produk miliknya. Dia pun turun mencari keberadaan Jason yang ternyata sedang antri di dalam warung.
"Pesankan aku juga. Kita makan saja disini." ucap Daniel lirih kepada Jason.
Jason yang mendengar itu sangat bahagia, karena dia dapat berlama-lama berada di warung kesukaannya itu.
Segera Daniel mencari tempat duduk dengan view yang tepat. Tak lama kemudian Jason datang dengan membawa lauk dan nasi di dalam warung.
Daniel terdiam merasa mengingat sesuatu dengan makanan yang ada di depannya. Dirinya teringat seseorang yang pernah dia ajak makan di tempat dinasnya dulu.
"Ayo dimakan pak, ini menu andalan warung disini." ucap Jason sambil makan kerupuk.
"Apa tidak ada menu lain?" tanya Daniel.
"Bapak tidak suka?silakan dicoba dulu pak. Saya yakin bapak ketagihan sama seperti pak Joshka."
"Baiklah saya coba." ucap Daniel.
Daniel mencoba makan nasi yang ada didepannya.
"Ternyata enak, pantas dia suka sekali." ucapnya lirih.
"Kenapa pak?siapa yang suka pak? istri bapak ya?" ucap Jason asal.
"Tidak. Cepat habiskan makanan nya. Kita harus sampai kantor pagi sebelum karyawan semua datang."
Daniel mulai menikmati makanan yang ada di depannya. Nasi rawon lengkap dengan cambah pendek dan daging empal serta telur asin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kini mereka sudah selesai makan didalam mobil pikiran Daniel mulai mengingat Shasha. Gadis yang pernah membuat resah hatinya.
"Kenapa kamu memilih makanan disana?"
__ADS_1
"Selain makanannya enak disana dekat kampus pak, jadi banyak para mahasiswi cantik-cantik yang beli makanan buat sarapan."
"Dekat kampus apa?" tanya Daniel penasaran.
"Kampus X, kampus paling terkenal di ibukota pak, cewe nya cantik-cantik dan pintar-pintar."
Mendengar nama kampus X hati Daniel bergetar dia ingat bahwa Shasha adalah salah satu mahasiswa di kampus X.
"Ah buat apa aku memikirkannya. Dia tidak lebih baik dari wanita itu. Mereka berdua sama saja." gumam Daniel.
"Bapak kenapa bicara sendiri?"tanya Jason sambil melihat spion.
"Kamu bisa diam! dan satu lagi jangan sering-sering lihat saya lewat spion ya. Karena saya tidak suka dilihat-lihat."
"Maaf pak."
"Satu lagi, jangan ajak saya ke warung itu lagi, kalau bisa jauhi warung itu apalagi dengan menu makanan tadi?! apa kamu mengerti?!" bentak Daniel
"I ... iya, pak. Harusnya dua pak tadi kan sudah satu pak." jawab Jason terbatas dan pelan.
'Kenapa dengan bos, padahal tadi dia begitu menikmatinya lahap. Maaf ya won rawo, kali ini aku menyalahkanmu. Gara-gara kamu mood si bos jelek.' batin Jason
Setelah dibentak Jason diam dan sama sekali tak berbicara, karena dia takut makin membuat mood Daniel jelek.
Tak terasa kini mereka telah sampai. Jason membukakan pintu mobil dan mempersiapkan Daniel. Daniel keluar dan berdiri sambil melepas kaca matanya dan menatap bangunan megah yang dibangun oleh dady nya untuk menghidupi banyak Ara karyawan. Ada rasa bangga dan bahagia namun sedikit ada sebuah beban yang dia rasakan bahwasannya dia harus bisa memajukan perusahaan yang telah dirintis ayahnya ini atau minimal adalah mempertahankan agar kwalitas dan produk barang makin diminati oleh konsumen.
"Pak mari kita masuk." ucap Jason kepada Daniel.
Daniel pun mengangguk. Mereka mulai masuk dan disambut dengan beberapa sekuriti yang sedang berjaga. Mereka semua menunduk dan memberi salam kepada Daniel. Daniel pun tersenyum balik kepada mereka.
"Woi, tampan sekali bos kita, anaknya si bos. Gila tampan banget." ucap sekuriti A.
"Iya, ketampanannya mirip banget sama gue yang brewokan gini." ucap sekuriti B.
"Jangan halu. Dengar-dengar dia belum nikah, wah bisa-bisa para karyawati yang naksir gua bakal kesengsem sama si bos." ucap sekuriti C.
"Hahaha, mulai panik. Makanya kalau cari pacar kayak Mimin gue dunk." ucap sekuriti D.
Jason dan Daniel sudah tidak terlihat batang hidungnya, mereka berdua kini telah memasuki sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang cukup besar. Bagi Daniel ruangannya kini benar-benar begitu menakjubkan, sangat berbeda dengan ruangan yang ada di kantor cabang.
"Ini ruangan saya, lalu dimana ruangan kamu?"
"Didepan ruangan bapak. Oiya pak saya ingin menyampaikan beberapa jadwal yang harus kita hadiri untuk hari ini." ucap Jason dengan serius.
.....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰
__ADS_1