TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 57. PEMBALASAN DANIEL.


__ADS_3

"Tapi kenapa hanya kamar saya saja yang diacak-acak bahkan disana ditemukan pisau pak." terang Shasha.


"Banyak yang tak suka dengan kamu. Jadi wanita jangan gampangan." bohong Daniel karena sesungguhnya dirinya sudah tahu bahwa itu dilakukan oleh anak buah Leon yang ingin menghabisi Shasha. Dendam Leon kepada Shasha karena telah menyelamatkan dirinya.


"Maksud bapak apa?" kesal Shasha saat mendengar ucapan Daniel yang seakan menghina dirinya.


"Pernyataan saya benar bukan. Dirimu terlalu gampang untuk dirayu oleh mantan kekasihmu itu, dan dirimu terlalu gampang untuk diberi sebuah barang." sindir Daniel.


Mendengar itu Shasha diam berusaha menguatkan hatinya karena ucapan Daniel tak semuanya salah.


"Kenapa diam? jadi kamu belum mencari tahu PR yang aku berikan padamu? Tak perlu susah mencari jawabannya, sekarang sudah tahu kan PR apa yang aku maksud."


Mendengar itu Shasha mulai ingat sebuah PR yang diberikan oleh Daniel kepada dirinya saat akan pulang dari tempat kosnya.


"Makanya yang punya harga diri!"


Lagi-lagi dia mendengar ucapan itu dari mulut Daniel. Shasha hanya memalingkan wajah dan menoleh ke luar jendela berusaha menahan air mata agar tidak keluar namun akhirnya keluar juga. Karena air mata terlanjur keluar sekarang dia harus menahan suara tangisnya agar tak di dengar oleh Daniel.


Semua hinaan yang diucapkan Daniel membuat Shasha teringat dengan lelaki paling baik yang pernah menjadi mengisi hari-harinya, yaitu Dion. Dion yang merupakan mantan kekasihnya tak pernah sekalipun menyakiti bahkan berkata kasar kepada dirinya meski umur Dion dibanding dengan yang lain paling mudah namun Dion begitu santun dalam memperlakukan dirinya.


Hanya satu kata yang ada yaitu menyesal. Namun semua itu adalah salahnya yang membuang Dion demi memilih dan mempertahan Abra. Jika diberi kesempatan dia ingin meminta maaf kepada Dion lalu menghilang dari hadapan Dion karena tak sanggup menahan rasa malu.


Diamnya Shasha sambil meneteskan air mata dan menahan suara tangis sedikit terdengar oleh Daniel. Daniel hanya melirik namun terkadang juga keterlaluan. Terkadang dirinya tak dapat mengontrol emosinya jika bertemu Shasha yang lagi-lagi dia anggap mirip dengan Asia yaitu sama-sama sikap selingkuhnya itu.


Namun tiba-tiba terngiang ucapan Arden yang membuatnya berfikir bagaimana jika ada lelaki yang mau menerima kekurangan Shasha?.


"Tidak mungkin, tak ada yang mau menerima kekurangannya. Lelaki mana yang mau dengan tukang selingkuh seperti dirinya!" batin Daniel kemudian tanpa sadar berteriak dan menoleh ke arah Shasha.


Shasha yang mendengar teriakan Daniel tak menggubris, dia yang sedang melamun tak sedikit pun bergeming. Daniel yang melihat Shasha sedang menyadarkan kepalanya di kaca mencoba memanggil


"Hei, kamu tidur?" panggil Daniel.


Mendengar Daniel memanggil dirinya Shasha pun pura-pura memejamkan matanya.


"Kamu tidur? atau pura-pura tidur!" tanya Daniel memastikan.


Shasha tetap tak menjawab pertanyaan Daniel.


"Aku tahu kamu pura-pura tidur. Seharusnya kamu tak perlu marah. Aku berkata seperti ini agar kamu koreksi diri."


Shasha mendengarkan semua ucapan Daniel namun tetap dia diam sambil sedikit melirik ke jendela karena dia yakin bahwa mobil mereka sudah berada di jalanan dekat rumahnya.


Tiga puluh menit kemudian tak terasa sudah memasuki perumahan milik keluarga Shasha. Bangunan rumah sederhana berwarna coklat dan cream sudah terlihat. Segera Daniel berhenti tepat di depan rumah tersebut, disana sudah terparkir sebuah mobil Mercedes Benz tipe Mercedes Maybach S560 berwarna hitam metalik di halaman rumah Shasha yang sangat luas.


Tanpa melihat Daniel yang masih sibuk setelah memarkirkan mobilnya Shasha hendak turun namun dikunci otomatis oleh Daniel.


"Tunggu aku. Usap ingusmu itu." perintah Daniel sambil masih sibuk memarkirkan mobil.


"Jaga sikapmu jangan seperti anak kecil. Jangan sampai aku bongkar kelakuan nakalmu itu kepada ayah dan bunda mu!"

__ADS_1


"Jadi bapak yang memberitahu siapa Abra kepada ayahku?" Shasha yang kesal mulai mengeluarkan suaranya.


"Bukan aku, tapi kakakmu."


"Tak mungkin kakakku seperti itu." elak Shasha yang membela kakaknya.


"Karena ucapan kakakmu itu makanya pernikahan kita dipercepat. Mereka mengira Abra adalah suruhan Leon."


"Tapi itu salah?! Aku harus meluruskannya." ucap Shasha sambil berusaha membuka pintu mobil.


"Masih saja kamu membela mantan kekasihmu itu. Sudah biarkan saja. Aku sudah menyetujui rencana pernikahan ini asal ada beberapa syarat yang hanya kita berdua saja yang tahu."


"Terserah bapak. Mau beberapa syarat, 10 syarat, 20 syarat terserah yang penting setelah nikah aku ingin bekerja."


"Oke, aku juga memiliki syarat."


"Apa?" serius Shasha.


"Tidak sekarang, akan aku beritahu setelah kita menikah." ucap Daniel lalu membuka pintunya.


Melihat Daniel yang sudah berjalan memasuki halaman rumah segera Shasha menyusul mengikuti langkah Daniel dari belakang.


"Assalamualaikum," salam Shasha kepada semua orang yang berada di ruang tamu.


"Waalaikumsallam," jawab semua orang yang ada di rumah.


"Mami cari siapa?" tanya Daniel heran.


"Mana Shasha? tadi mami denger suaranya."


"Saya disini." lirih Shasha sambil mencoba tersenyum dan menyalami tangan calon mertuanya itu.


"Ia mi, tadi kita bangun pagi sekali. Shasha yang menyiapkan semuanya mulai dari makanan hingga pakaianku bahkan kami tidur bersama.


Shasha tak percaya dengan ucapan Daniel dirinya tak menyangka bahwa Daniel dapat berucap begitu.


"Pak!" seru Shasha kepada Daniel sambil mengerutkan dahinya ke arah Daniel.


"Kenapa harus malu sebentar lagi kita akan menikah, bukan? jawab Daniel enteng seakan tanpa ada beban.


Mendengar itu Melly merasa anaknya terlalu terbuka dalam berucap.


"Maaf pak Idris Daniel masih ada budaya timur, dia belum terlalu paham budaya barat. Sebentar lagi anak kita menikah mungkin itu adaptasi yang dilakukan keduanya."


"Saya paham bu tapi setidaknya Shasha paham mana seharusnya mana yang boleh dilakukan dan tidak selama belum menikah." ujar ayah dengan nada kecewa.


"Mungkin Shasha sedang belajar bagaimana memperlakukan calon suaminya." bela Joshka. " Kalau begitu lebih baik dipercepat saja pernikahan Shasha dan Daniel, aku tak ingin mereka berdua kebablasan." imbuh Joshka.


"Tolong jangan sekarang, tunggu saya lulus dan mendapat pekerjaan. Saya akan sulit mencari pekerjaan jika status saya sudah menikah." alasan Shasha berharap pernikahannya ditunda.

__ADS_1


"Urusan bekerja mudah nak, kamu bisa bekerja di kantor bersama Daniel." Melly mencoba membuat Shasha tenang dan tidak terlalu berfikir mengenai pekerjaan.


"Saya percayakan anak saya kepada kalian jika dia sudah menikah dengan Daniel. Terimakasih banyak pak Joshka dan ibu, serta nak Daniel." kata ibu Sally, bunda Shasha.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah pembicaraan dua keluarga, diputuskan pernikahan akan dilakukan dalam waktu dekat.


Shasha yang berada didalam kamar ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya dia memang tak keberatan dengan perjodohan namun yang dia pikirkan adalah masa depannya dan syarat yang akan diberikan Daniel pada dirinya.


Lamunannya buyar kala terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya.


Tok ... tok ....


"Shasha, ini ayah. Ayah tahu kamu belum tidur. Temui ayah di halaman belakang, ada yang mau ayah bicarakan."


Shasha tahu bahwa kali ini ayahnya sedang marah. Biasanya ayah selalu memanggilnya dengan panggilan manja.


"Apa yang akan dibicarakan ayah? apa beliau akan bertanya tentang Abra? Atau ayah akan memarahiku gara-gara perkataan pak Daniel tadi." pikir Shasha tanpa henti dan bingung harus menjawab apa. 'Haruskah aku berkata jujur kepada ayah?'


Shasha keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian yang sedari tadi belum dia ganti menuju ke halaman belakang rumah. Disana hanya ada ayah yang duduk sambil menundukkan wajahnya.


"Ayah," sapa Shasha sambil mengambil tempat duduk tepat disamping ayahnya.


"Jawab ayah dengan jujur. Apa yang sudah kamu lakukan dengan lelaki bule tampan itu?"


"Maksud ayah apa?"


"Ayah tak menyangka anak perempuan ayah menyiapkan pakaian dalam lelaki yang bukan suaminya. Bukankah ayah sering menasehati kamu banyak." suara tinggi Ayah mulai membuat Shasha takut.


Shasha hanya menunduk tak berani melihat muka ayahnya.


Sedangkan Daniel tertawa lebar karena dia melihat Shasha sedang diintimidasi oleh ayahnya.


"Rasain, gara-gara kopermu aku terkena skandal di keluargaku. Wkwkwkwk, rasain pembalasanku." tertawa Daniel dalam hati lalu ditinggalkannya Shasha dan dia duduk di depan berkumpul dengan kedua orangtuanya dan bunda Sally.


Melihat anaknya yang sedang tertunduk membuat hati ayah luluh dan tidak jadi memarahi Shasha. Dirinya memaklumi dan menganggap apa yang diucapkan tuan Joshka dan istrinya ada benarnya.


"Ayah minta maaf, kamu telah terikat oleh perjodohan ini. Namun perjodohan ini tak hanya karena kamu menyelamatkan Daniel saat penculikan itu namun kakekmu dan ayah tuan Joshka ternyata sudah merencanakan perjodohan ini. Jadi ayah rasa semoga kalian berjodoh."


Mendengar ayahnya yang tak jadi emosi membuat dirinya tenang dan tersenyum kepada ayahnya.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2