
"Saat itu gue sengaja taruh kamera rahasia di apartemen Asia buat jaga-jaga. Karena gue ngerasa lu uda gak beres waktu itu."
"Gak beres gimana?" sedikit emosi.
"Iyalah, gue tuh asisten lu, jadi sangat lazim jika gue tahu daily activity lu. Dan gue jengkel tiba-tiba lu ajuin cuti bertepatan dengan kedatangan wanita laknat itu."
"****. Jangan-jangan lu pasang kamera tersembunyi juga disini?" Daniel berdiri dan hendak memeriksa semua ruangannya.
"Hahahha harusnya iya ya."
"Sialan lu, gue gak rela lu ngelihat tubuh istri gue." protes Daniel.
"Haha, apa yang mau gue lihat. Gue tahu sebenarnya kalian berdua belum begituan kan? Betulkan?"
Mendengar itu Daniel menjadi malu dan salah tingkah.
"Sok tahu. Berarti lu pasang kamera disini kan?" Daniel pura-pura emosi.
"Ah malas bicara sama lu. Ayo berangkat." ajak Johan yang malas menanggapi sikap kepura-puraan Daniel.
Johan yang sudah keluar segera diikuti oleh Daniel.
Langkah Johan yang lebih dulu dibanding Daniel membuat dirinya harus tertinggal dan terpaksa menyimpan semua kata-kata yang hendak ia obrolkan kepada Johan.
.
.
Di dalam mobil.
"Jo, jadi menurut lu gimana? Apa dia memiliki rekaman itu?"
"Entah, gue gak berani jawab yang pasti untuk memastikan lu harus main cantik. Lu ikutin semua permainan dia dulu, sampai disaat dia terlena dengan kebaikanku baru lu obok-obok dan cari tahu semua kebohongan dia dan gantian lu yang punya kartu AS dia."
Mendengar saran dari Johan membuat Daniel paham dan ia pun berniat segera menyelesaikan permainan yang dilakukan oleh Asia untuk dirinya dan tak ingin memberitahu Shasha. Karena harapannya adalah ia tak ingin Shasha terlibat antara dirinya dan Asia, mengingat ayah Asia adalah Leon.
"Tapi Niel, lu harus beritahu Shasha kedatangan Asia. Karena gue yakin selama kehadiran Asia waktu akan tersita dan lu bakal jarang bertemu Shasha." saran Johan.
Baru saja Daniel berfikir untuk tidak menceritakannya kepada Shasha namun Johan memberi saran yang bertolak belakang dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Sorry Jo, gue gak ikutin saran lu. Gue punya pemikiran sendiri." batin Daniel.
"Gimana Niel, lu setuju."
Daniel tak menjawab dia hanya mengangguk tanpa melihat kearah Johan.
.
.
Dilain tempat , Shasha yang sedang melakukan tes psikotes di sebuah perusahaan multinasional. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang real estate.
Selesai melakukan tes psikotes kini ia harus break sementara. Karena beberapa jam lagi akan dilanjutkan dengan pengumuman bagi beberapa peserta yang lulus ke tahap selanjutnya. Shasha merupakan kandidat yang paling muda dibanding peserta lainnya.
Sambil menunggu pengumuman ia lebih memilih berada di kantin sambil minum dan makan cemilan favoritnya, yaitu makaroni pedas level tertinggi dengan harapan tidak ngantuk dan meredamkan sedikit kekecewaannya kepada Daniel.
Beberapa karyawan terutama dari kaum Adam banyak yang melirik Shashsa. Mereka tak tahu jika wanita yang diliriknya sudah berstatus menikah. Shasha yang dipandangi merasa tak nyaman ia hanya bisa menundukkan pandangan dan berbincang dengan salah satu rekan sesama pelamar.
Tak terasa satu jam telah berlalu, dan pengumuman pun di beritahukan. Nama Shasha berada di peringkat pertama. Bagi Shasha itu adalah hal biasa mendapatkan nilai tinggi. Karena mendapat nilai tertinggi ia pun mendapatkan kesempatan pertama untuk tes wawancara.
Saat tes wawancara Shasha harus menghadapi beberapa penguji dari masing-masing divisi. Salah satunya adalah pak Brata sang owner yang mana tak menampakkan jika dirinya adalah sang pemilik perusahaan.
Shasha sendiri tak tahu jika pak Brata sebenarnya orang yang tak asing baginya namun karena Shasha hanya bertemu dengan pria tersebut sekali saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Karena kamu pernah menjadi bartender dan saya adalah penikmat kopi saya tantang kamu untuk membuat kopi kepada kami berlima dengan beberapa berbagai rasa favorit kami." tantang pak Brata.
Merasa ditantang Shasha semakin tertarik dan antusias dengan memberi tantangan balik.
"Jika saya bisa membuat minuman hingga semua penguji disini senang dengan minuman yang saya buat, apa yang akan saya dapatkan?" tantang Shasha balik.
"Hari ini juga kamu bisa langsung bekerja, betul kan bapak ibu?"
"Apa tidak terlalu berlebihan pak?"
"Tidak, direktur kami sangat mengapresiasi karyawan yang memiliki soft skill. Apa kamu siap?"4
"Siap."
"Ikut saya," sambil mengajak Shasha ke ruangan pantry yang berada disebalah.
__ADS_1
Shasha tak mengetahui jika ruangan yang saat ia tempati adalah ruangan meeting besar yang berdekatan dengan ruang CEO dan direksi.
Melihat ruangan pantry yang lengkap dengan peralatan kopi mulai dari aeropress, Vietnam drip, alat kopi espresso manual dan French press. Melihat banyaknya macam-macam peralatan kopi nyalinya sedikit ciut karena yang biasanya ia gunakan adalah alat kopi esprsso manual dan aeropress.
Shasha tak ingin sombong menggunakan semua alat yang ada dihadapannya meski sebenarnya ia tahu teknik membuat kopi dengan masing-masing alat di depannya.
Dengan cekatan Shasha mulai membuat kopi dengan rasa berbeda yaitu ; macchiato, cafe late, cappucino, americano dan
espresso.
"Done, silakan dinikmati pak," ajak Shasha kepada para pengujinya.
Mereka semu menikmati kopi buatan Shasha. Tak ada satu kata keluar dari mulut mereka, mereka benar-benar dibuat bungkam oleh Shasha dengan cita rasa kopi khas buatan Shasha.
Setelah puas menikmati kopi saatnya Shasha mendapatkan saran dan kritik dari hasil buatannya. Shasha mendengarkan dengan seksama. Tak lama setelah itu ia dinyatakan lulus dan diterima.
Sesuai dengan janji yang diberikan kini Shasha telah menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan tersebut.
Mendapat informasi bahwa dirinya diterima membuat Shashsa bahagia. Dirinya tak menyangka bahwa keahliannya dapat mengantarkan dirinya mendapatkan sebuah pekerjaan.
"Nesha Himalaya Ayesha, selamat kamu diterima."
"Selamat ya, "ucap salah satu diantara mereka.
Dengan wajah tersenyum gembira Shasha keluar dari perusahaan tersebut. Dirinya tak menyangka ia bisa mewujudkan keinginannya sendiri yaitu setelah lulus kuliah ia mendapat pekerjaan.
Dari wajahnya ia terlihat sangat begitu bahagia. Dia benar-benar tak menyangka.
Diteriknya matahari ia memutuskan untuk tetap pulang, ia ingin segera cepat-cepat sampai dan membaringkan tubuhnya sejenak sambil sedikit menghayal.
Meski dirinya sedang bahagia namun ia masih menyimpan sedikit kekesalannya kepada Daniel yang telah membuatnya kecewa. Dirinya tak menyangka bahwa Asia yang selama ini ia hina-hina karena sikap buruknya justru malah sekarang ia harus menjilat ludahnya sendiri dengan terlihat bahagianya dan tersenyum riang berada disamping Asia.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak