
Dibalik pertanyaan Shasha Jihan merasa itu adalah sebuah curhatan. Sebuah curhatan yang selama ini disimpan oleh Shasha seorang. Jihan menyimpulkan sepertinya adik iparnya enggan untuk menikah karena masih adanya sebuah bayangan masa lalu dari keduanya.
Keduanya pernah merasakan sakit. Sakit dari sebuah penghianatan. Penghianatan yang dialami keduanya berbeda. Bagi Shasha penghianatan yang dialaminya ada karena sebuah karma sedangkan bagi Daniel penghianatan ada karena cinta buta yang dibalas oleh dusta.
Menerima sebuah kenyataan bahwa dirinya dijodohkan tidaklah mudah. Namun demi rasa aman dan ketenangan orangtuanya maka ia menerima perjodohan tersebut. Berbeda dengan Daniel, dirinya harus menerima perjodohan tersebut karena sebuah hutang budi yang harus ia bayar karena Shasha telah menyelamatkan dirinya dari penculikan.
Perbincangan antara Shasha dan Jihan makin menarik hingga membuat keduanya tak sadar jika fajar sebentar lagi akan muncul. Shasha memutuskan untuk melanjutkan aktivitas di dapur memasak sedangkan Jihan diminta Shasha untuk kembali ke kamar dan beristirahat.
Jihan menurut. Shasha mulai memasak nasi, kemudian lauk pauk lalu ditatanya di meja makan dengan rapi lengkap dengan beberapa buah yang telah tersedia di dalam kulkas. Setelah selesai kini Shasha kembali ke kamarnya untuk berbaring sejenak karena letih badannya yang mulai terasa.
Setengah jam kemudian ia beranjak dari baringnya dan mulai membersihkan badannya agar tampak segar dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu ia mulai menyibukkan diri untuk membereskan tempat tidurnya yang masih berantakan karena ulahnya yang melempar-lempar bantal guling ke lantai. Tak lama kemudian terdengar ponselnya berdering, dilihatnya ponsel tersebut ternyata telepon dari calon mertuanya.
Shasha : "Assalamualaikum, iya mi?" jawab Shasha lembut.
Daniel : "Ini aku. Pagi ini aku akan menjemputmu. Jangan membuatku menunggu."
Shasha : "Kemana pak?" tanya Shasha.
Daniel : "Beli keperluanmu."
Shasha : "Lalu keperluan bapak?"
Daniel : "Keperluan kita. Tiga menit lagi aku sampai. Cepat." ucap Daniel lalu menutup panggilannya.
"Selalu seperti itu. Sabar ... sabar ... " gumam Shasha sambil menghela nafas dalam-dalam.
Segera Shasha mengganti pakaiannya dengan sebuah rok plisket cream dengan tweed jaket dan sneakers yang berwarna senada.
Selesai mengganti pakaian Shasha mulai keluar kamar dan menuju dapur. Di meja makan terlihat bunda dan ayah yang sedang sarapan.
"Mau kemana?" tanya ayah.
"Pak Daniel tadi menelpon, pagi ini kami akan pergi ke tempat perhiasan dan butik, yah." jelas Shasha sambil menyiapkan kopi yang ditaruh di termos minum dan beberapa roti garlic kesukaan Daniel.
"Itu untuk Daniel?" tanya ayah lagi.
"Iya."
"Kamu sudah tahu makanan kesukaannya?" tanya ayah dan bunda bersamaan.
"Belum, aku hanya menyiapkan saja" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa dia mencintaimu?" tanya ayah tiba-tiba.
Shasha hanya tersenyum sambil memandang wajah ayahnya.
"Kenapa ayah bertanya begitu?" tanya Sally kepada suaminya.
"Hanya ingin tahu, pengorbanan apa yang pernah dia berikan padamu?" ayah masih tetap bertanya tentang Daniel.
Shasha yang bingung dengan pertanyaan ayah mulai mengingat-ingat kebaikan Daniel.
__ADS_1
"Pak Daniel begitu baik apalagi saat di Finlandia dalam keadaan sakit. Ia yang merawat sampai Acha sembuh." senyum Shasha sambil memandang wajah ayahnya agar merasa tenang.
"Syukurlah, kalau begitu ayah dan bunda lega."
"Tapi kamu tidak sedang hamil kan?" Sally sedikit ragu bertanya.
"Kenapa bunda bertanya seperti itu?" senyum Shasha kepada bundanya.
"Bunda ... bunda penasaran mengapa calon suamimu memajukan tanggal pernikahan?"
"Itulah pak Daniel. Jika menurutnya baik maka ia tak akan menunda lama." bohong Shasha menutupi alasan yang sebenarnya.
Tak lama kemudian terdengar bunyi suara mesin mobil terparkir di depan rumah. Beberapa menit kemudian Daniel masuk dan menemui pak Idris serta bu Sally untuk izin mengajak Shasha keluar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel yang sedang menunggu Shasha masuk mulai merapikan tatanan rambutnya dengan melihat spion tengah.
"Pagi pak!" sapa Shasha saat masuk kedalam mobil.
"Hem ..., lima menit ya saya menunggu." omel Daniel tanpa memandang kearah Shasha.
"Maaf pak, tadi BAK dulu."
"Gak usah pakai singkatan kalau bicara." ucap Daniel dingin sambil mulai menggunakan sabuk pengamannya.
"Kencing pak tadi saya buang air kecil." Shasha bicara dengan menekankan dan memanjangkan kata-kata buang air kecil agar Daniel jelas.
"Tidak." jawab Daniel singkat.
Shasha yang membawa minuman dan bekal roti bingung harus bagaimana menawarkan kepada Daniel. Daniel yang sedari tadi cuek tak sedikitpun memandang ke arah Shasha.
Mobil Daniel berhenti tepat di lampu merah Shasha yang sedari tadi sedikit-sedikit melirik ke arah Daniel ragu untuk menawari hingga terdengar suara.
Kruk ... kruk ... kruk ...
Shasha yang mendengar suara itu mengatupkan kedua bibirnya sambil menahan tawa sedangkan Daniel merasa salah tingkah.
"Kenapa tertawa?" tanya Daniel dengan malu.
"Bapak lapar?" goda Shasha dengan moncolek tangan Daniel.
"Gara-gara kamu saya lupa makan."
Tanpa banyak bicara segera Shasha mengambil minuman dan bekal makanan yang sudah disiapkan.
"Buka mulut pak, a' ...." ucap Shasha sambil memberikan makanan tepat di depan mulut Daniel.
"Biarkan aku sendiri! kamu pikir aku anak kecil!" bentak Daniel.
"Bapak sedang menyetir, pasrahkan pada saya. Ayo pak, a' buka mulut." ucap Shasha lagi sambil memberikan makanan tepat di depan mulut Daniel.
__ADS_1
Daniel yang lapar mencoba pasrah dan mulai mengikuti arahan Shasha. Dengan cepat ia menelan dan membuka mulutnya. Melihat Daniel yang lahap membuat Shasha tak tega menghentikan suapannya hingga bekal roti yang dibawanya habis. Setelah itu Shasha memberinya sebotol air putih dan sebuah mug kecil yang berisi kopi.
Selesai menyuapi Daniel Shasha mulai mengambil tisu dan hendak membersihkan bekas makanan yang ada di mulut Daniel. Namun dengan cepat Daniel menampik tangan Shasha dan mengelap nya sendiri. Shasha yang sudah terlanjur membawa tisu menurunkan tangannya dan kembali melipatkan tangan di depan dada.
Bukannya tak ingin namun Daniel malu, dirinya gengsi. Tak lama kemudian terdengar suara yang membuat Shasha kembali mengatupkan kedua bibirnya sambil memandang pemandangan dari dalam jendela.
Eeuukk .... eeuukk ...
Daniel kaget mengapa harus keluar suara itu padahal biasanya jika ia sudah makan dan kenyang tak pernah muncul suara seperti itu.
"**** kenapa harus muncul suara itu." batin Daniel sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kini mereka berdua tiba disebuah toko perhiasan. Daniel yang telah memarkirkan mobilnya mulai masuk diikuti oleh Shasha. Didalam mereka sudah disambut oleh seorang wanita cantik yang mengantarkan keduanya menuju sebuah ruangan yang hanya berisi etalase perhiasan berlian.
Daniel hanya duduk tanpa enggan melihat kearah etalase perhiasan, Shasha yang melihat itu hanya diam saja dan memilih untuk duduk agak jauh yaitu diseberang Daniel. Beberapa saat kemudian muncul seorang lelaki tampan menggunakan celana pendek tanpa baju.
"Kenapa harus datang pagi-pagi?! kamu benar-benar mengganggu kesenanganku.!" nada kesal terucap dari mulut lelaki tersebut.
"Apa cincin yang aku pesan sudah kau kerjakan?" tanya Daniel dengan nada kesal juga.
Lelaki tersebut mulai mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang sedang duduk diseberang Daniel.
"Apakah wanita muda dan cantik itu yang akan menikah denganmu?" tanyanya dengan tatapan nakal.
Melihat tatapan nakal itu Daniel tak bersuara ia hanya memandang wajah Oscar dengan tatapan tajam. Melihat tatapan tajam yang seolah mengisyaratkan untuk tidak menggangu membuat Oscar tersenyum lalu mengerutkan bibirnya.
Sekitar 30 menit kemudian dari dalam muncul seorang wanita cantik nan seksi menghampiri lelaki yang sedang duduk mencari pesanan Daniel.
"Sayang kenapa sudah bangun" desah wanita yang baru muncul dari dalam dengan menggunakan baju lingerie.
"Tunggu sebentar aku sedang mencari pesanan lelaki tua ini." ledek Oscar kepada Daniel sambil memberikan sebuah cincin permata yang begitu indah.
Daniel tidak terlalu mendengarkan ledekan Oscar ia hanya konsen dengan cincin pesanannya.
Wanita disamping Oscar tak tahu malu ia bergelayutan manja di leher sambil memamerkan keseksian tubuh indahnya hingga keduanya mulai bercumbu panas dan membuat Shasha yang melihat menjadi salah tingkah sambil menelan ludah. Melihat itu cepat-cepat ia membuang mukanya dengan pura-pura mengambil dan membaca majalah yang ada didekatnya.
Melihat kelakuan Oscar yang seperti itu Daniel tak terlalu kaget. Oscar yang merupakan lelaki casanova dimana setiap malam ia akan datang dan bergonta-ganti pasangan.
Shasha yang sibuk dengan menata hatinya tak menyadari jika Daniel berjalan kearahnya dan mendekati dirinya.
"Cobalah cincin itu segera." Daniel berucap lirih tepat di depan wajah Shasha yang sedang menunduk.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1