
Sore ini Shasha hanya berdua saja bersama Daniel berada dirumah. Ecka yang sudah pergi jalan-jalan bersama Rianda dan Dion untuk melihat keindahan kota pelajar di malam hari.
Dion yang mencintai Rianda mulai membuktikan kepada kekasihnya itu bahwa cintanya tak main-main. Dirinya benar-benar akan mengubur masa lalunya dan berniat memulai hidup dengan wanita yang telah menemaninya selama beberapa tahun terakhir ini. Dia adalah Anda, panggilan kesayangan Rianda dari Dion.
"Anda ... Terimakasih." ucap Dion kepada Rianda sambil melihat Ecka yang sedang bermain gelembung sabun.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Rianda yang pandangannya tak lepas dengan tetap mengawasi Ecka.
"Dengan kesabaranmu kamu telah membuka mata hatiku bahwa tak perlu mengejar yang tak pasti tapi lihatlah seseorang yang peduli dan tulus pada kita. Dan seseorang yang tulus itu adalah kamu."
"Benarkah? dan dengan kesetiaan mu juga telah membuatku percaya bahwa kamu lelaki yang pantas untuk diberi cinta." ucap Rianda sambil tersenyum dan mengerlingkan matanya.
Gemas dengan tingkah Rianda membuat Dion mencuri kesempatan dengan mencium pipi Rianda.
"Apa ini? Kamu mencium ku? Bisa diulangi lagi." Rianda kaget namun juga bahagia.
"Setelah kita halal aku akan mencium mu tak terhingga tanpa kamu minta." ucap Dion sambil mencubit hidung Rianda yang mancung.
Dion begitu bahagia malam ini, ternyata Tuhan telah mengirim jodohnya diwaktu yang tepat bukan diwaktu yang cepat.
Tuhan ..., mungkin engkau tidak mentakdirkan aku dengan dia karena engkau telah mempersiapkan aku untuk menemani wanita ini.
Begitu juga dengan Rianda yang merasa jika malam ini benar-benar indah. Dirinya yang beniat menjanda selama nya karena ditinggal meninggal oleh suami tercinta ternyata tidak dikabulkan oleh sang Kuasa.
Aku tak pernah berfikir bahkan berniat untuk menikah lagi dan mengganti namamu dengan nama lelaki lain.
Tapi, apalah daya diriku yang mengikuti jalan takdir dalam menjalani skenario Tuhan.
Dan hanya Tuhan yang membolak-balikkan hati umatnya dari tak suka menjadi suka dan dari benci menjadi rindu.
***
Dilain tempat, Shasha dan Daniel yang berada dirumah hanya berdua bingung harus bagaiamana, biasanya mereka berdua akan berkomunikasi jika ada Ecka diantara mereka kalaupun tidak ada sang putra Shasha hanya menjawab dengan dingin jika Daniel mengajaknya bicara.
Shasha yang masih setia dengan diamnya sama sekali tidak mengajak bicara Daniel meski kini keduanya sedang berada ditempat yang sama yaitu dapur. Shasha yang sedang merapikan belanjaannya tadi.
Merasa tidak diajak bicara oleh istrinya ia mencoba menyibukkan diri dengan hal lainnya, yaitu dirinya asal mengambil bahan baku yang tadi Shasha pesan kepada tukang sayur depan rumah.
__ADS_1
Melihat Daniel yang sok sibuk, Shasha penasaran betapa terkejut dirinya saat melihat Daniel sedang mengiris-iris ayam yang tak sesuai dengan yang biasa Shasha lakukan.
"Bie! Stop!" teriak Shasha.
Daniel kaget ternyata istrinya memanggil dirinya dengan panggilan kesayangan, ia yang mendengar itu merasa bahagia dan menahan senyumannya namun tetap melanjutkan mengiris-iris daging ayam tesebut.
"Aku bilang stop-stop. Kenapa diteruskan." Shasha spontan mendatangi Daniel.
Daniel yang didatangi Shasha menjadi salah tingkah, dia tak menyangka keisengan nya membuahkan hasil. Kini dirinya pura-pura diam sambil menyembunyikan kegirangannya.
Yes ... yes...
Ayo come on baby...
"Kenapa dilanjutkan, biarkan aku yang melakukan nya." ucap Shashsa yang berusaha merebut pisau dari tangan Daniel. Kini tangan mereka saling menyentuh hingga Daniel tak terasa jika jarinya tak sengaja keiris oleh mata pisau yang tajam.
"Aku hanya ingin membantu." jawab Daniel datar.
"Jangan, aku aja!" sahut Shasha yang kemudian terlihat ada darah keluar.
Shasha terlihat biasa sedangkan Daniel seketika panik saat melihat darah ada di tangan Shasha.
"Aku rasa darah ini keluar bukan dari tanganku." celetuk Shasha
Daniel mencoba percaya dengan celetukan Shasha dan mulai melihat jemari yang mengapit jemari Shasha. Perlahan Daniel melepaskan jari yang dihisapnya dan mulai melihat jarinya sendiri.
"Iya jariku ternyata," sambil tersenyum ke arah Shasha dan mengarahkan jarinya yang berdarah kearah Shasha. "Apa kamu tak ingin menghisapnya?"
Shasha ingin sekali tertawa melihat ekspresi Daniel namun ia tahan, ia lalu menarik tangan Daniel menuju tempat cuci piring untuk membasuh darah pada jari Daniel.
"Sudah." ucap Shashsa singkat lalu meninggalkan Daniel yang masih tertegun. Dirinya tahu jika harapan Daniel agar Shasha menghisap luka seperti apa yang Daniel lakukan bulan malah mencuci lalu meninggalkan.
Setalah tertegun dia segera menuju ke dapur dan berdiri dibelakang Shasha. Shasha tahu bahwa suaminya itu berada dibelakangnya namun ia memilih untuk diam saja.
Cukup lama Daniel berada dibelakang Shasha dan membuat Shasha penasaran apa yang dilakukan suaminya dibelakang.
"Untuk apa berdiri dibelakang ku." tanya Shasha tanpa menoleh kebelakang. Merasa tak dijawab segera Shasha berbalik dan secara kebetulan tiba-tiba lampu padam.
__ADS_1
"Ahhhhhh!" teriak Shasha sambil memeluk Daniel yang ada tepat dibelakangnya karena kaget tiba-tiba lampu padam.
"Sepertinya Sang Kuasa telah mendengar doaku." celetuk Daniel sambil membalas erat pelukan istrinya itu.
"Jangan salah paham aku memelukmu bukan -" sekejap mulut Shasha ditutup dengan telunjuk Daniel.
"Diamlah, jangan bicara dan berontak. Setidaknya rasa rindu ini mulai terobati." ucap Daniel sambil erat memeluk Shasha.
Lama tidak merasakan pelukan membuat kerinduan Shasha mulai terobati. Kini keduanya saling memeluk, mereka sama-sama merasakan kenyamanan.
"Ay, bolehkan aku mencium mu?" tanya Daniel dengan penuh harap.
Tanpa menjawab pertanyaan Daniel segera Shasha mencium bibir Daniel. Daniel yang kaget tidak menyangka bahwa Shasha yang memulainya lebih dulu.
"Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang engkau beri, aku berjanji akan membahagiakan wanita dihadapanku ini." batin Daniel sambil memeluk erat.
"Tuhan apa ini jawabannya? Dia yang selalu ada di dalam pikiran dan doaku meski kami berjauhan." batin Shasha sambil meneteskan air mata bahagia.
Daniel tak menyia-nyiakan kesempatan ini segera ia ******* bibir kenyal istrinya. Tak hanya bibir, kini kedua nya mulai bermain lidah dan bibir Daniel merambat ke dagu hingga leher jenjang Shasha dan seketika lampu pun menyala.
Saat lampu menyala mereka masih belum berhenti untuk saling menikmati satu sama lain, mengobati rasa rindu diantara mereka. Keromantisan tersebut berlangsung cukup lama hingga terdengar suara bel berbunyi yang berbunyi berulang kali hingga membuat mereka menyudahinya.
Kini mereka saling pandang dan tersenyum terlebih Shasha yang terlihat malu-malu menyembunyikan kesenangan nya. Wajahnya yang putih tampak kemerahan dan itu membuat Daniel semakin gemas hingga ingin mengulanginya lagi namun dengan lembut Shasha menolak.
"Maaf, aku harus melihat siapa yang datang." ucap Shasha sambil tersenyum dan hendak berjalan kearah pintu utama.
Belum sempat Shasha berjalan langkahnya dihentikan Daniel.
"Jangan tampilkan senyum mu ke orang lain, karena senyum mu hanya milik ku. Dan aku tidak rela jika harus bagi-bagi dengan mereka."
Lagi-lagi Shasha tersenyum sambil mengangguk.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.