
Siang ini, Riko mengajak Shasha untuk makan siang di sebuah cafe yang ada di depan kantor mereka.
"Tumben ngajak kesini?" tanya Shasha tanpa basa-basi, karena dia tahu sangat jarang Riko
mengajak dirinya berdua bersantai di cafe.
"Gak ada acara hanya ingin berbicara empat mata."
"Pasti ada maunya!"
"Lha uda tahu."
"Mau apa?"
"Sha, aku mau nikah?" ucap Riko lirih.
"Sungguh, kapan?"
"Bulan depan."
"Selamat ya. Terus kenapa harus ngajak aku ketemu di cafe. Apa hubungannya?"
"Hubungannya banyak."
"Gak usah basa-basi aku tahu. Mau cuti kan?"
"Lha itu kamu tahu."
"Oke, gak masalah. Lagipula cuti gak sampai sebulan kan?"
"Iya. Gak papa ya?"
"Oke."
"Kamu benar-benar pengertian. Semoga kamu bisa segera bersatu dengan jodohmu."
"Aamiin."
***
Tak terasa bulan yang dinanti Riko tiba, Shasha yang sudah terbiasa bekerja tanpa bayang-bayang Dion mulai bisa mengatur ritme kerjanya. Kali ini ia bekerja bersama pak Brata, baginya bekerja bersama pak Brata sangat mengasikkan dan tak se-menakutkan yang Ia bayangkan. Sikap ke bapakannya membuat Shasha nyaman bahkan pak Brata justru menganggap Shasha sebagai anak perempuannya.
"Sha, malam nanti kamu datang bersama siapa?" tanya pak Brata sesaat setelah meeting selesai.
"Bersama Rianda, pak."
"Rianda? tim marketing bukan?" tanya pak Brata sambil mencoba mengingat-ingat.
"Betul pak."
__ADS_1
"Sepertinya kemarin saya menugaskan dia untuk keluar kota selama beberapa hari."
"Oiya saya lupa, saya yang mengurus tiket keberangkatannya."
"Sudah sama saya saja. Kalau kamu merasa tak enak nanti ada yang menjemputmu, kita bertemu disana."
"Maafkan saya ya pak jadi merepotkan seperti ini" ucap Shasha tanpa merasa curiga.
***
Malam pun tiba, Shasha yang sudah siap dengan menggunakan gaun mini dress berwarna biru dongker dengan model neck tweed dengan tatanan rambut simple bun saat ini sedang menunggu datangnya sebuah mobil jemputan seperti yang pak Brata janjikan saat di kantor tadi. Dirinya menunggu di depan teras rumah sambil membaca novel online pada ponselnya.
Hampir setengah jam Ia menunggu tak lama kemudian terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya sambil membunyikan suara klakson beberapa kali.
Segera Shasha keluar dan mengunci pagar namun suara klakson itu tetap terdengar berulah-ulang membuat bising di telinga terlebih ia merasa tak enak jika tetangga disebelah rumahnya merasa terganggu. Tak ingin suara bel tersebut berbunyi terus ia pun dengan cepat-cepat mengunci pagar tanpa memastikan apa pagar rumahnya benar-benar sudah terkunci.
Segera Shasha keluar dari pagar dan mulai membuka pintu mobil, dia yang tak ingin diperlakukan layaknya seperti pemilik mobil memilih untuk membuka pintu penumpang yang berada disamping pengemudi. Namun sepertinya pintu tak dapat dibuka sehingga dengan terpaksa ia duduk di bangku belakang.
"Pak, seharusnya saya duduk di depan. Saya kan bukan pak Brata.
Sang supir tidak menanggapi ucapan Shasha meski dia sedang berusaha mengajak bicara.
Sombong banget sih ni supir?
Namun dilihat dari punggungnya bahwasannya punggung yang masih kekar dan tegap membuktikan jika yang berada di depan usianya terbilang masih muda.
Namun yang membuat Shasha lebih khawatir adalah supir mengemudi dengan ugal-ugalan sehingga membuat Shasha ketakutan dan berpegangan erat pada headrest yang ada di depannya sambil memejamkan mata.
Saat dirinya sedang melepaskan pegangannya Ia mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca namun tiba-tiba gas dipijak dengan kecepatan yang sangat kencang hingga membuat Shasha terjungkal dan keningnya terbentur pada tiang besi headrest di depannya.
Sang supir yang melihat itu hanya diam tak berani berkata-kata meski hatinya ingin sekali menolong namun ia kuatkan untuk tidak peduli.
"Aduh ...," ucap Shasha lirih sambil memegang keningnya.
"Pak, tolong pelan sedikit. Jika bapak tidak dapat membawa penumpang bapak aman lebih baik bilang biar saya naik yang lain." geram Shasha.
Sang sopir tetap tidak merespon, ia tetap saja melajukan kendaraannya dengan kencang hingga tak terasa kini mereka telah berada di sebuah tempat dimana acara pernikahan berlangsung.
Meski merasa jengkel Shasha tetap mengucapkan terimakasih meskipun ia tahu tidak akan ada tanggapan. Tanpa banyak bicara Shasha pun keluar dari mobil dan menuju ke sebuah taman tempat acara berlangsung untuk menemui pengantin yang sedang berbahagia.
Selama berjalan menuju ke taman Shasha masih berfikir siapa sebenarnya supir tadi. terlihat dari kaca spion atas jika dilihat dari baju yang dipakai memang seperti bukan seorang supir, baju rapi berwarna putih(Hem) dipadukan dengan blazer biru dongker, celana jins putih abu-abu ditambah dengan sepatu sneakers putih.
Siapa sebenarnya orang tadi?
Shasha yang kini sudah sampai di taman melihat tak terlalu banyak orang yang datang karena memang yang diundang hanya sebagian, seperti para kolega dan beberapa teman-teman kantor.
Saat Shasha sedang berdiri di pojokan Ia melihat kehadiran pak Brata yang juga sedang berdiri dari arah berlawanan dengan dirinya ditemani dengan seseorang yang tak asing menurut Shasha.
Bukannya itu Dion?
__ADS_1
Syukurlah wajahnya sudah tidak apa-apa.
Pakaian itu? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?
Tanpa sengaja pandangan keduanya saling bertemu. Namun ekspresinya tidak seperti biasanya. Lelaki dihadapannya cenderung membuang muka jika bertemu.
Pak Brata yang melihat Shasha pun menyapa.
"Kamu cantik, Nak.." puji pak Brata.
"Terimakasih pak."
"Pak Dion apa kabar?" tanya Shasha dengan ramah.
Dion tidak menjawab dia hanya mengangguk.
Merasa tidak dijawab membuat Shasha kecewa, dia tak menyangka jika Dion akan berubah.
"Sha, kamu ini aneh ya kenapa harus tanya kabar Dion disini? Kenapa tidak saat di mobil tadi?"
Shasha kaget dia tak menyangka jika sopir yang membuatnya jengkel dan terjungkal tadi adalah Dion.
Dion tak menyangka jika Pak De nya berucap jujur padahal saat dirumah tadi mereka sepakat tidak memberitahu siapa yang mengantar sekertaris nya itu.
Shasha melihat ekspresi pak Brata yang terlihat salah tingkah begitu juga dengan Dion.
"Sepanjang perjalanan tadi saya tertidur pak." jawab Shasha enteng dan berusaha tak memperlihatkan raut kecewa meski jauh di lubuk hatinya Ia tak menyangka jika Dion akan tega memperlakukan dirinya seperti tadi.
***
Selama menghadiri acara pernikahan Riko dan Rachel tak banyak yang dilakukan Shasha. Ia memilih untuk duduk bersama dengan orangtua Riko. Tak terasa acara pun hampir selesai Shasha memilih untuk pulang lebih awal menggunakan mobil online.
Shasha yang sudah berpamitan dan memesan mobil online segera keluar dan memasuki mobil tersebut. Di dalam mobil Shashsa menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.
Ada sesuatu yang tidak diketahuinya bahwa supir yang saat ini mengantarnya adalah orang yang sama saat dia pergi ke acara pernikahan Riko dan Shasha, dia adalah Dion.
Shasha masih tak menyadari kehadiran Dion meski aroma parfumnya sudah menghiasi seisi mobil.
Saat ini Shasha sudah berada didepan rumah dan memberikan uang cash kepada sang supir tanpa menatap wajah. Setelah membayar Shasha keluar dan mulai memasuki rumahnya.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.