
Matahari sudah muncul, tanda pagi telah tiba. Terlihat sinar matahari yang mulai mengintip dua insan yang masih berlayar di pulau kapuk. Sepertinya hari ini Shasha harus absen dari aktivitas biasanya yaitu bangun pagi . Hal ini dipengaruhi karena dirinya yang masih merasa lemah akibat asam lambung ditambah dengan perutnya yang mulai berdemo untuk meminta haknya agar diperhatikan oleh sang empunya perut.
Karena perut yang berdemo itu sehingga membuat Shasha mulai membuka matanya.
Betapa kagetnya dia saat melihat di sekelilingnya yang tampak berbeda. Mata bulatnya tertuju pada sebuah wallpaper dinding bergambar stadion bola favorit milik seseorang yang ia kenal.
Kenapa aku bisa ada dikamar ini?
What apa semalam aku benar-benar melakukannya? Sampai badanku terasa sakit semua, lagi.
Tidak ... tidak ... Gak mungkin aku sudah begitu. Lagi pula aku tak merasakan apapun.
Dengan panik ia mulai membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia merasa lega ketika melihat pakaiannya lengkap dan masih menempel di badan. Namun kelegaannya menjadi berubah saat ia ingat bahwa jika sehabis mandi dan hendak berangkat tidur ia tak pernah menggunakan dalaman, tujuannya adalah untuk kesehatan agar anggota tubuh bagian dalamnya bisa bernafas tanpa harus dihalangi oleh sebuah pakaian dalam yang menggoda iman.
Seketika ia pun spontan menutup anggota tubuh sensitif nya dengan kedua tangannya.
Haduh, gimana ini? Bodoh ah..Pura-pura gak tahu aja.
Tapi ..., aku yakin, sepertinya memang tak terjadi apapun.
Tapi mengapa aku bisa berada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Shasha mencoba mengingat kejadian semalam. Dia ingat bahwa dirinya tidak pingsan melainkan ia hanya pura-pura pingsan. Dia melakukan itu karena tiba-tiba Daniel berucap ingin meminta haknya sebagai seorang suami. Dia yang kaget dan tak tahu harus bagaiamana akhirnya berfikir pendek dengan cara pura-pura pingsan. Karena pura-pura pingsan hingga membuat dirinya benar-benar tidur lelap Sebuah rasa kantuk yang menyelimuti dirinya sukses membuat kebohongannya menjadi drama.
Keren juga aktingku.
*Tapi benarkan tidak terjadi apa-apa semalam?
Bagaimana jika terjadi apa-apa*?
Gak-gak mungkin. Dia tak mungkin tega melakukannya . Bapak orang terpelajar, tak mungkin melakukannya dengan kondisi lawan diam tak berdaya.
Sudah hampir tiga menit Shasha membuka matanya ia belum menyadari jika sedari tadi ada sebuah kepala yang menindih tangan sebelah kanannya. Shasha masih tak fokus dengan rasa berat pada tangan dan kondisi basah pada tangannya. Dirinya yan terlalu fokus dengan pikiran yang tida-tidak atas apa yang terjadi semalam.
Tak diragukan lagi, jika pemilik kepala ini adalah DanieL, suaminya. Sebuah rambut dengan model front puff dengan poni yang di buat kebelakang sehingga hanya melihat rambut saja sudah memberi kesan macho.
Apa semalaman ia tertidur begini? Kasihan.
Tak tega melihat Daniel tertidur tertelungkup dibawah dengan badan tanpa baju, membuat Shasha perlahan mengambil tangannya yang tertindih oleh Daniel untuk mengambil selimut yang menutupi dirinya dan hendak ia berikan kepada suaminya tersebut.
Hem, pantas saja tanganku terasa basah. Ternyata dia sedang memproduksi cairan dari sudut bibirnya.
Merasa ada yang mengambil sandaran kepalanya segera Daniel tersentak dan terbangun. Dengan wajah bantal ia melihat ke arah Shasha. Dilihatnya Shasha belum bangun padahal tanpa ia sadari jika Shasha sedang pura-pura memejamkan mata.
“Jam berapa ini? Aku tertidur.” ucapnya sambil mengelap cairan basah yang menempel pada tangan Shasha dan mulutnya.
What? Apa ini? Gak mungkin ini punya Gue! Tapi lebih gak mungkin lagi kalau ini punya Shasha.
Shasha merasa bahwa Daniel sudah menyadari jika ia telah membuat pulau pribadi selama semalam. Mendengar suaminya sedang berbicara lirih Shasha pun berniat menggodanya dengan membuka matanya.
Tanpa banyak bicara segera Daniel mengambil tisu yang berada dekat tempat tidur lalu mengelap tangan yang basah hasil dari karya dirinya.
“Itu air yang barusan adalah air minum yang tumpah “
__ADS_1
“Ohh, saya kira itu berasal dari mulut bapak yang mengeluarkan cairan liur.”
“Sembarangan kamu, kamu pikir aku ulat sutera?” Daniel mencoba mengelak dari pertanyaan yang menjebak .”
Mendengar ucapan Daniel membuat Shasha menahan senyum.
“Kenapa senyum –senyum?”
“Tidak ada. Hanya mengingat ucapan tadi.”sambil tersenyum hingga membuat lesung pipinya terlihat.
“Sudahlah tak usah dibahas. Gimana keadaanmu?” sambil memegang tangan Shasha.
Shasha tak kuasa mendapat perlakuan tak biasa dari Daniel. Ia menelan saliva-nya untuk mengusir kegugupannya yang berlebih.
“Kenapa kamu diam? Apa salah jika saya seperti ini?” tanya Daniel dengan lembut.
“Tidak. Ehhm, maksudnya Aku … , aku sudah tidak lagi sakit.” “ Aku kembali dulu ke kamar.”
“Kamu mau kemana? “ tanya Daniel penasaran.
“ Aku kembali dulu ke kamar.” Ucapnya lalu meninggalkan Daniel yang masih setia di dalam kamar.
**
Siang hari
Saat ini Shasha berada di dalam kamar sambil berbaring, Dirinya baru menyadari jika hari ini adalah hari Sabtu. Jadi ia tak harus tak enak dengan rekan-rekan kerjanya jika tak masuk saat ini. Baru saja berbaring ia haru mendengar suara ketukan pintu.
Tok!
Tok!
“Iya?”
“Apa buburnya sudah kamu makan?”
“Sudah.”
“Apa aku boleh masuk?” tanya Daniel dengan lembut.
“Ma—masuk kemana pak?”
“Masuk ke dalam.” sambil menggerakkan jari telunjuknya.
Menunggu jawaban Shasha terasa lama, hingga ia pun memaksa masuk dengan meninggalkan Shasha yang masih berada di ambang pintu. Sedangkan Daniel sudah memasuki kamar.
Ngapain dia masuk? Haduh untung saja kemeja Dion sudah aku taruh di keranjang pakaian kotor.
“Kenapa kamu berdiri disana?”
Shasha menghela nafas panjang sambil menutup pintu kamarnya. Setelah menutup ia pun segera berjalan kearah Daniel.
“Kemari lah, duduklah disini” ucap Daniel sambil menunjuk sebuah kursi yang berada di dekatnya.
__ADS_1
Dengan perasaan deg-degan Shasha duduk disamping Daniel. Jujur ia tak tahu harus berkata apa. Karena ini adalah awal pertama Daniel berucap dengan sangat manis tak seperti biasanya.
“Kenapa diam? “
Shasha hanya tersenyum sambil memandang kearah Daniel.
“Kamu cantik,”
“Terimakasih pak.”
“Kenapa masih memanggilku dengan sebutan Pak?”
“Lalu?”
“Panggilan itu, aku suka panggilan yang kamu ucapkan waktu itu.”
“Bie”
“Ya, aku menyukainya. Lalu apa kamu menyukai panggilan yang aku berikan padamu?”
“Ay?”
Shasha mengangguk.
“Apa artinya sekarang kita sudah baikan?”
“Baikan? Apa kita sedang bertengkar?”
“Ya, menurutku. Kamu cemburu kan dengan dia?”
Shasha hanya diam tak menjawab pertanyaan Daniel.
“Ay, dengarkan aku. Ada sesuatu yang tak bisa aku ceritakan padamu. Jika sudah saatnya nanti aku akan bercerita.”
“Jika memang masih tak bisa diceritakan tolong jangan diucapkan. Jangan membuat seseorang yang mendengarnya menjadi penasaran. Simpan sampai semuanya beres.”
“Kenapa begitu? Niatku baik, aku berkata seperti ini karena aku ingin kamu tahu bahwa bukan dia yang ada di hatiku saat ini.”
“Kalau begitu segera selesaikan misi dibalik semuanya.”
“Tapi berjanjilah, selama aku menyelesaikan semuanya tolong jangan pernah memberi ruang untuk orang lain untuk mengisi hatimu.”
“Iya,” ucapnya sambil mengangguk.
“Terimakasih,” ucap Daniel sambil mencium kening Shasha.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak.