
Saat ini Daniel sedang duduk di sebuah sofa sambil menggendong buah hatinya. Berulang kali ia menatap wajah istrinya dari jauh dan wajah anak yang baru saja Shasha lahirkan.
"Dok, kapan istri saya akan bangun?"tanya Daniel kepada dokter yang baru saja selesai melakukan operasi bedah dan saat ini sedang menghampiri Daniel di sebrang dimana Shasha masih terbaring.
"Segera pak, kemungkinan istri bapak sedang tertidur."
"Dok ... Dok !" panggil salah suster kepada dokter dengan nada khawatir.
Daniel tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh dokter dan perawat tersebut karena adanya penghalang, yaitu masker.
Dokter segera mengecek kondisi detak jantung Shasha. Sikap dokter yang tadi tenang kini berubah. Ia segera menghampiri Shasha, di ceknya detak jantung Shasha. Daniel sendiri yang melihat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Saat ini yang dilihat Daniel adalah dokter memeriksa kondisi pernafasan istrinya . Daniel yang hendak berdiri menghampiri istrinya di halangi oleh suster agar Daniel diminta untuk keluar dari ruang operasi, karena untuk persalinan sudah selesai dan tak hanya itu bayi yang tadi di gendong Daniel pun diminta.
"Sus, kenapa anak saya?"
"Maaf pak, kami harus menaruhnya terlebih dahulu disini untuk mendekatkan dia dengan istri bapak untuk inisiasi dini. Jadi, tolong bapak tunggu di kamar pasien ya?" ucap suster dengan penuh pengertian.
Daniel menuruti ucapan suster, baginya yang penting anaknya sudah lahir dan sebentar lagi istrinya yang berada di dalam sedang ditangani oleh dokter. Meski hati Daniel berasa tak menentu saat melihat apa yang baru saja dilihatnya dengan ucapan istrinya yang masih terngiang di telinga.
Tidak akan terjadi apa-apa.
Semoga ini hanya perasaanku saja.
Beberapa saat kemudian Daniel keluar dari ruang operasi. Diluar terlihat banyak sekali orang yang menunggu, ada orang tua, mertua, paman bibi dan ketiga sahabatnya.
"Daniel, bagaiamana operasinya?" tanya pak Idris yang cemas.
"Shasha sudah melahirkan, anak kami perempuan." ucap Daniel dengan wajah setengah bahagia.
"Ibu apa masih di dalam, Yah?" tanya Ecka yang tiba-tiba turun dari pelukan Joshka.
"Ibu ... ibu sebentar lagi akan bangun. Kamu berdoa ya nak. Lebih baik kita sekarang menunggu di kamar pasien."
"Hore .... Hore .... Ecka punya adik bayi cewek...." ucap Ecka kegirangan.
Sally dan Melly saling berpelukan, mereka berdua begitu bahagia termasuk Joshka dan Idris yang bersyukur sambil menitikkan air mata.
Berbeda dengan Alea yang curiga dengan wajah sepupunya itu. Ia segera pergi ke sebuah ruangan dimana ia harus berganti pakaian dan mencuci tangannya terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari Shasha.
***
Di dalam kamar pasien.
Daniel yang sedang membuka pintu kaget saat mendengar suara ...
Surprise
Ternyata istri dari para sahabatnya yang tak lain sahabat dari istrinya datang juga. Mereka memberikan kejutan dan hadiah untuk kelahiran anak kedua Shasha-Daniel termasuk mendekor ruangan yang biasa layaknya kamar pasien pada umumnya menjadi kamar dekorasi lucu dan meriah.
"Terimakasih kejutannya," ucap Daniel dengan wajah bahagia sambil tersenyum namun pandangan matanya terlihat kosong seperti ada yang sedang dipikirkan.
"Niel, mana Shasha dan bayinya?" tanya Mutia dan Secil.
Daniel berusaha tenang menjawab pertanyaan tersebut. "Sebentar lagi mereka berdua akan kemari."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian perawat datang dengan membawa bayi yang baru saja dilahirkan oleh Shasha tadi.
Tok .... Tok ...(Terdengar suara ketukan dari luar.)
"Pak, bayinya saya taruh disini ya." ucap seorang suster kepada Daniel.
"Terimakasih sus, lalu istri saya?" tanya Daniel dengan tatapan tajam.
Belum sempat menjawab pertanyaan Daniel Alea muncul.
"Daniel, ikut aku." ucap Alea sambil menarik tangan Daniel.
"Lepas! Aku sedang bertanya kepada suster bagaimana keadaan istriku!" bentak Daniel.
"Makanya ikutlah denganku." ucap Alea dengan tenang. Dirinya tidak marah karena tahu jika sepupunya ini sedang khawatir dengan keadaan istrinya.
Mendengar suara Daniel yang keras membuat semua orang yang ada disana saling berpandangan termasuk Ecka.
Melihat Daniel seperti itu segera Joshki menggendong Ecka untuk diajak melihat bayi yang sedang tidur dengan pulas.
"Adik, ini Abang. Tadi ayah berbicara keras karena khawatir dengan ibu." ucap Ecka lirih kepada adiknya. Joshki yang mendengar itu menatap istrinya yang sedari tadi berada disamping bayi. Mereka berdua tertegun, tak percaya jika anak sekecil Ecka bisa bicara seperti itu.
Joshka yang tadi datang bersama Alea, Joshki dan Ratih memilih di luar kamar, namun saat mendengar ketegangan yang ada di dalam membuat dirinya memilih untuk masuk.
"Ikut Dady." ucap Joshka dengan tatapan tajam.
Rasa lemas pada lututnya mulai menghinggapi Daniel. Dirinya tahu jika telah terjadi sesuatu pada istrinya, dia yang hampir terjatuh dengan sigap Joshka memegangi tubuh Daniel.
"Berdirilah! Kuatkan hatimu!" bisik Joshka. "Yakin dan berdoalah bahwa belahan jiwamu akan sembuh, Nak." lanjut Joshka menguatkan Daniel.
Daniel mencoba berdiri tegak keluar dari kamar dan mengikuti Alea yang sudah berjalan didepan. Disana ia melihat mertuanya tertunduk lemas termasuk Melly, maminya.
"Dady tidak dapat menjelaskan. Masuklah, dokter sedang menunggu mu."
Dengan menghela nafas panjang ia mencoba melangkah cepat hingga memasuki ruangan dokter.
"Pak Daniel, sebelumnya saya mengucapkan selamat atas kelahiran putrinya. Namun disini saya harus menjelaskan bahwa ibu masih harus dirawat karena sesaat setelah operasi tadi istri bapak mengalami serangan jantung.
"Serangan jantung? Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Daniel kaget.
"Istri bapak belum sadar, dan sekarang ada di ruang ICU."
Deg.
Hati Daniel berdegup kencang, rasa tak enak mulai menerpa dirinya, entah apa yang ia rasakan saat ini. Tiba-tiba rasa takut kehilangan istrinya muncul pada dirinya. Ia mulai menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Pak, berdoalah. Beri kekuatan kepada istri bapak. Bapak boleh bersedih tapi jangan lupa berdoa dan ingat kedua anak bapak."
Seketika kekuatan Daniel muncul saat senyum Ecka muncul di pikirannya dan terngiang suara tangisan putrinya yang baru saja dilahirkan oleh Shasha.
Daniel mencoba berdiri dan tegar menghadapi kenyataan bahwa istrinya masih belum sadar. Ia berusaha menenangkan hatinya dengan sebuah ucapan sang istri yang selalu terngiang ditelinga sesaat sebelum istrinya di bius.
Bie, aku pamit tidur dulu. Kamu yang kuat ya sayang. Aku percaya kamu bisa. Setelah anak kita lahir berilah dia nama terindah. Tolong jaga dan sayangi mereka.
***
__ADS_1
Daniel melangkah ke ruangan ICU, ia melihat dari kaca kondisi istrinya. Dirinya tak sanggup melihat namun ia berusaha memaksakan untuk melihat wanita yang dicintainya sedang terbaring dengan ventilator yang terpasang pada mulut.
Tanpa sadar kedua air matanya keluar membasahi wajah tampan nya, tak sanggup melihat kondisi istrinya. Daniel mencoba duduk berjongkok sambil menundukkan wajahnya ke bawah seketika tangisannya mulai pecah , rambutnya yang biasa rapi kini tampak berantakan karena tanpa sadar berulang kali ia menarik rambutnya karena merasa pernah berbuat jahat kepada istrinya.
Tuhan, cobaan apa yang engkau berikan padaku.
Tolong sadarkan istriku ...
Aku tak sanggup melihat dia terbaring seperti itu ....
Aku mohon sadarkan dia ....
Aku janji aku akan bersikap lebih baik dan tidak akan pernah menyakiti atau menyia-nyiakan nya.
Kabulkan doa ku ...
Berilah aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan dan kebodohan yang pernah aku lakukan padanya.
Aku mencintainya ...
Daniel yang menangis berjongkok mulai menyeka air matanya, ia masih memejamkan matanya untuk menguatkan hatinya.
Rasa rindunya untuk bercengkrama dengan sang istri muncul, karena ia ingin memberikan kabar berita tentang kedua anak mereka. Kini Daniel yang sudah tenang mencoba untuk berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar dimana sang istri sedang terbaring.
Krek ... (Terdengar suara pintu dibuka)
Tidak ada senyum dan sapa yang biasanya dilakukan oleh Shasha seperti biasanya saat menyambut kedatangan suaminya. Saat ini yang terdengar hanya suara monitor yang mengiringi ucapan Daniel.
Daniel mencoba duduk disamping istrinya sambil mencium tangan istrinya.
"Sayang ... anak kita sudah lahir. Dia cantik sekali tapi mirip aku, dan aku sudah menggendongnya. Pasti kamu mau juga ya? Kalau begitu bangunlah sayang."
Daniel yang berbicara sendiri tahu jika mungkin tak ada balasan namun dirinya tetap berharap bahwa sang istri akan merespon semua ucapannya.
"Sepertinya kamu masih ingin tidur ya, Ay? Kalau begitu tidurlah dulu. Kebetulan si kecil juga masih bubu tapi tolong jangan lama-lama ya karena Ecka berulang kali bertanya kemana ibu, aku sudah mengatakan pada nya bahwa ibu masih tidur tapi dia menjawab kenapa ibu seperti snow white lama sekali tidurnya dan dia memintaku untuk mencium mu. Dia benar-benar mirip sepertimu, romantis.
Untuk kesekian kalinya Daniel mengajak bicara istrinya yang sedang terbaring dan tetap tidak ada respon. Dirinya tak menyerah ia tetap mengajak bicara, meski tidak mendapat tanggapan setidaknya Shasha akan mendengar semua yang diucapkan olehnya.
"Kalau kamu masih belum ingin bangun sekarang tak apa tapi berjanjilah untuk kuat seperti aku yang kuat merawat adik. Dia begitu senang sekali minum, belum ada satu jam dia selalu menangis untuk minum. Oh ia aku lupa, sesuai permintaanmu aku telah memberinya nama, sebuah nama yang indah yaitu Zyva Himalaya. Apa kamu suka?" tanya Daniel sambil mengelus tangan istrinya. " Zyva artinya bercahaya dan Himalaya adalah nama belakangmu."
Semua keluarga yang melihat Daniel dari balik kaca merasa sedih. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah. Melly dan Sally sama-sama menyembunyikan tangis mereka di pundak suami mereka, begitu juga dengan Alea dan Ratih yang tak kuasa menahan air mata mereka.
***
Tak terasa sudah seminggu Shasha dirawat di ruang ICU. Dokter telah mengatakan bahwa gagal jantung yang dialami Shasha karena terkena Emboli Cairan Amnion atau biasa disebut Emboli air ketuban.
Emboli air ketuban adalah komplikasi yang terjadi ketika cairan ketuban atau bagian-bagian dari janin memasuki aliran darah ibu melalui dasar plasenta rahim. Kondisi ini bisa terjadi selama persalinan maupun setelah proses melahirkan selesai.
Mengetahui bahwa istrinya mengalami kondisi tersebut Daniel dan keluarga tidak dapat berkata-kata, mereka hanya berusaha dan berdoa agar Shasha segera sadar.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.