
"Lu, kenapa sih sama Shasha. Selalu gak pernah akur." ucap Arden sambil mencoba memasang seat belt dan kacamata minusnya yang berada di dalam saku.
Pertanyaan Arden tak dijawab Daniel malah dia segera menutup jendela Arden lalu segera menancapkan gas.
"Niel. Lu suka gak sama dia?"
"Terpaksa." Daniel berani berucap demikian karena dia yakin bahwa Arden tidak mencintai Shasha, jadi dia merasa tak ada saingan jika dia dari dulu memang sudah mencintai meski kadang rasa cinta itu berubah jadi benci dan jengkel.
"Tapi kenapa lu keberatan jika Shasha ..." tanya Arden yang terpotong.
"Sudahlah, gue gak konsen dijalan. Bicara lainnya aja, topik yang lebih penting." potong Daniel.
"Yasudah kalau gitu gue bilang aja sama Richard kalau Shasha sedang jomblo." pancing Arden agar Daniel emosi.
"Richard? dokter play boy itu? lu sebenarnya abangnya atau bukan sih, kenapa malah di lempar lagi ke buaya!" geram Daniel mendengar ucapan Arden.
"Justru cowo buaya akan takluk dengan wanita tipe Shasha." jawab Arden enteng.
"Jangan! sepertinya dia tak akan mencintai Shasha sungguh-sungguh. Lingkungan Richard tidak baik untuk Shasha." jelas Daniel.
"Jadi, lingkungan yang baik itu seperti apa?" tanya Arden balik.
"Ya ... yang pasti ... jangan seorang dokter yang play boy. Lu tahu sendiri gimana bejatnya Richard."
"Kalau begitu aku akan mengenalkannya dengan seorang pebisnis muda, kakaknya adalah temenku."
"Lu kenapa sih sibuk banget cari jodoh buat Shasha, pikir aja hidup lu lagian dia itu masih kuliah, harus kerja. Banyak yang harus dia pikirkan." ketus Daniel menanggapi ucapan Arden.
"Niel, lu lupa. Gue itu gak akan tenang jika lihat Shasha belum nikah, setidaknya setelah dia nikah maka akan ada yang jagain dia. Lu ingat kejadian waktu dia keracunan obat dan saat di bandara. Itu bukti bahwa dia masih jadi target Leon. Lu ingat kan siapa yang tolong lu? dan siapa yang bakar rumah itu?"
Seketika Daniel diam, dia merasa apa yang diucapkan Arden benar walau bagaimana pun Shasha pernah menyelamatkan hidupnya. Seharusnya dirinya dapat mengontrol emosinya untuk menerima masa lalu Shasha dan tidak menyamakan bahwa semua wanita itu pembohong.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dilain tempat, yaitu kos Shasha.
Shasha yang masih memikirkan ucapan Daniel tentang sebuah PR. Dirinya masih berfikir keras apa maksud ucapan Daniel mengapa berkata bahwa dirinya tak memiliki harga diri. Ucapan itu masih terngiang ditelinga Shasha.
"Mut, akhirnya impian lu terkabul. Lu ketemu dia lagi." bahagianya Secil melihat wajah Mutia yang sumringah.
"Ia Ciel, gue gak sangka. Ternyata feeling gue bener."
"Sha, lu kenal darimana sih?calon suami lu cakep juga." goda Secil sambil menoel-noel lengan Shasha dengan jari telunjuk kanannya.
"Calon suami gue, jangan sembarangan kalian." jengkel Shasha sambil menampilkan wajah tidak suka.
"Dia kenapa?" bisik Secil kepada Mutia.
"Sha, kamu marah sama aku?" tanya Mutia dengan wajah sedih, karena dia takut jika Shasha cemburu dan takutnya Shasha mencintai lelaki impiannya, karena sedari tadi pandangan Shasha tertuju pada Arden.
"Gak! gue jengkel sama cowo tua belagu, sok cakep, sok cool, sok bersih dan sok semuanya." ujar Shasha dengan nada dongkol.
"Yang mana, sepertinya mereka berdua sama-sama tua?" tanya Secil dengan enteng tanpa tahu jika Mutia berharap Shasha tidak mencintai Arden.
"Menurut lu yang mana yang menjengkelkan?" tanya Shasha balik.
"Gak ada, semuanya menyenangkan, kedua wajah mereka meneduhkan hati." kata Secil dengan wajah riang gembira sambil membayangkan kedua wajah tampan tadi.
__ADS_1
"Kamu suka sama babang Arden?" tanya Mutia penasaran karena Shasha tidak menjawab pertanyaannya dengan spesifik.
"Gak, gue gak suka sapa-sapa. Gue sekarang jomblo."
"Terus, kenapa marah-marah begitu?" tanya Mutia semakin panik.
"Kalian gak tahu, tadi gue bicara sama siapa?"
"Ya itu kan calon suami lu? kalian ketemu dimana?" tebak Secil sambil memakan Snack gurih yang ada didalam toples.
"Kalau jadi, semoga hanya wacana saja." jawab Shasha singkat.
"Wait-wait maksudnya ini gimana?" tanya Secil kepo yang kemudian diikuti Mutia sambil duduk di dekat Shasha.
Belum sempat Shasha menjawab Secil yang memiliki mata dan mulut stereo mulai bicara.
"Lu gak pakai pakaian dalam?" tanya Secil sambil melebarkan matanya.
"Iya, gue gak sadar kalian tahu sendiri sehabis mandi mana pernah gue pakai, tadi kan langsung turun." jelas Shasha dengan suara lirih.
"Pantes pak Daniel marah sampai lepas jaket tadi." tebak Mutia.
"Iya, dan untungnya bang Arden gak pakai kacamata, jika pakai aduh calon pacar lu matanya sudah gak perjaka." tawa Secil kepada Mutia.
"Ngomong-ngomong gimana ceritanya kalian berdua bisa kenal bang Arden?" tanya Shasha yang masih tak percaya dengan perkataan Arden tentang kedua sahabatnya yang mengikuti job fair.
Secil dan Mutia bingung harus menjawab apa. Jika bicara jujur mereka takut dibilang lancang. Akhirnya mereka pun memilih diam sambil pura-pura mengecek ponsel berharap agar Shasha lupa dengan pertanyaannya.
Keberuntungan berpihak pada mereka berdua karena ponsel Shasha berdering dan Shasha mengangkat panggilan tersebut menuju balkon kamar.
Sepuluh menit kemudian Shasha kembali masuk ke dalam kamarnya dengan wajah berseri.
"Dua minggu lagi akan ada wisuda dan gue ikut periode wisuda besok." ujar Shasha dengan riang gembira.
"Senangnya, kita kapan Mut?" tanya Secil kepada Mutia.
"Sabar Ciel, gue garansi kita lulus tepat waktu." yakin Shasha sambil menatap kedua mata sahabatnya lekat-lekat.
Shasha yang sudah lupa dengan pertanyaan yang dia ajukan kepada Secil dan Mutia justru sekarang menyuruh kedua sahabatnya untuk melanjutkan pekerjaan tertunda mereka, yaitu mencari referensi untuk skripsi.
"Yuk guys, kalian semangat, gue masakin makanan buat makan malam kalian. So kalian fokus kerjain skripsi ya." perintah Shasha kepada kedua sahabatnya.
Shasha yang kini sedang berada di dapur berhenti sejenak saat memasak karena ponselnya yang berdering. Melihat tak ada nama yang muncul melainkan hanya sebuah nomor menandakan bahwa no yang menghubungi Shasha adalah nomor baru.
"Biarkan saja, gue gak kenal palingan juga nanti kirim pesan kalau penting ." gumam Shasha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Shasha yang tengah berada di kampus berpapasan dengan miss Rina dan pak Ibnu.
"Siang." sapa Shasha sambil melempar senyum kepada kedua dosen kesayangannya itu.
"Mau ketemu saya?" tanya miss Rina sambil membalas senyum Shasha.
"Iya, mau kembalikan ini." ucap Shasha sambil memberikan buku yang sedari tadi dipegangnya.
"Sha, bagaiamana luka mu?" tanya pak Ibnu sambil meneliti bekas luka Shasha yang sudah mulai memudar.
__ADS_1
"Luka? kamu kenapa?" panik Miss Rina.
"Gak ada Miss, tenang saja. Itu hanya lecet-lecet saja." bohong Shasha.
"Lecet iya tapi itu bukan luka biasa itu penganiayaan. Apa lelaki yang mengaku sebagai calon suami mu itu yang melakukan." geram pak Ibnu.
"Bukan, bukan dia. Justru dia yang menolongku." elak Shasha yang tak ingin Daniel disalahkan.
"Lalu siapa yang melakukan?"
"Kakakku yang melakukan." ucap Brian tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Mendengar suara yang dikenalnya seketika Shasha menoleh diikuti dengan miss Rina dan pak Daniel yang penasaran mencari sumber suara.
"Kak! kakak kenapa kesini?" tanya Shasha tak percaya jika Brian mengatakan itu.
"Kamu siapa?" tanya miss Rina
"Aku Brian." jawab Brian datar sambil memandangi wajah Shasha.
"Apa kakak mu itu manusia atau binatang!" bentak pak Ibnu keras sambil melotot.
"Sudah-sudah saya sudah sembuh. Saya sudah kembali semula dan tak kurang satu apapun." ucap Shasha berusaha menenangkan pak Ibnu agar tidak emosi dengan Brian.
Miss Rina yang tak tahu apa-apa merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dan mencoba meminta penjelasan kepada mereka bertiga terutama Shasha namun tak ada satupun kata keluar dari mulut Shasha hingga mulai bertanya kepada Ibnu kekasihnya itu.
"Kenapa kamu tidak menceritakan itu padaku. Jadi saat itu kamu pergi ke Yogja bukan pulang ke rumah?" tanya miss Rina penuh selidik.
"Karena itu masalah saya miss, lagipula itu tak penting. Saya bukan wanita yang tepat buatnya. Setidaknya saya sudah tahu bahwa seperti apa dirinya yang sesungguhnya." ujar Shasha dengan nada suara yang masih gemetar mengingat itu.
Beberapa saat kemudian setelah penjelasan Shasha, akhirnya pak Ibnu dan miss Rina pamit meninggalkan Shasha dan Brian yang sedang berbincang di depan danau kampus
"Apa yang dilakukan kakakku padamu benar-benar keterlaluan, aku minta maaf." ucap Brian tanpa melihat Shasha.
"Kenapa kakak yang meminta maaf?" balas Shasha dengan bertanya balik.
"Karena aku memberitahumu password apartemen Abra, aku sendiri tak pernah mengira bahwa mereka berdua tinggal bersama." jelas Brian.
"Sudah lah kak, tak perlu diungkit semua sudah terjadi. Tuhan mematahkan hatiku untuk menyelamatkan aku dari orang yang salah kak. Jadi .." ucap Shasha sambil menghela nafas sambil tersenyum.
"Puitis sekali." senyum Brian sambil menahan gelak tawanya. " Betulkan, apa yang aku katakan benar. Kamu'nya aja yang tak percaya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku?" tanya Brian yang kini bicara serius sambil memandang Shasha.
"Apa kak?"
"Sejak kapan kamu berkenalan dengan lelaki kaya itu?" selidik Brian dengan nada seakan mengintimidasi.
"Pak Daniel? aku mengenalnya saat di Finlandia dan dia seorang diplomat saat itu."
"Bagus..wanita baik akan mendapat lelaki yang baik pula." kata Brian sambil mengelus rambut Shasha.
Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang melihat mereka berdua dengan tatapan tak suka ....
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰