TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 34. KETAHUAN


__ADS_3

Ceklek (suara pintu dibuka.)


"Kenapa?" tanya Johan heran. Johan yang jengkel akhirnya dia menerobos masuk mendahului Daniel. Keduanya dibuat terkejut kala memasuki apartemen. Dilihatnya ada sepatu pria, mereka semakin penasaran lalu melanjutkan kembali langkahnya. Di ruang tamu tampak begitu berantakan, banyak baju-baju berserakan lengkap dengan pakaian dalam pria maupun wanita. Baju berserakan itu tidak sama dengan baju yang dikenakan lelaki yang ada dalam pikiran Daniel. Dalam pikirnya baju yang sama dengan yang dikenakan Monti semalam.


Johan tampak bersorak riang karena dirinya yakin Asia saat ini sedang berada dalam satu selimut dengan lelaki, "akhirnya kamu dapat membuka lebar matamu, bahwa Asia tidak pantas untuk dipertahankan." ucapnya lirih.


Daniel benar-benar tak dapat berfikir dengan jernih, dia tak ingin melanjutkan langkahnya kedalam kamar karena dirinya yakin jika dia masuk kedalam kamar akan ada hati yang tersakiti yaitu hatinya. Johan yang melihat temannya itu pura-pura mengiba dengan mendekati, "kenapa, apa yang kamu pikirkan?" tanya Johan datar.


Daniel tak mampu menjawab pertanyaan itu, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Lu gak boleh gini, ayo kita lanjutkan untuk menangkap basah kekasihmu As--."


"Jangan sebut namanya di depanku lagi, aku muak!" potong Daniel dengan nada keras.


"Lalu apa yang akan lu lakuin sekarang!"


"Kita tunggu mereka berdua bagun." ucap Daniel pasrah.


"Buat apa kita harus menunggu!" ucap Johan jengkel.


"Jang-!"


Ucapan Daniel yang belum selesai tidak dihiraukan oleh Johan. Segera dia masuk kedalam kamar tersebut, begitu berdosa kedua matanya ketika melihat dua orang insan sedang tertidur pulas tanpa sehelai kain menutupi tubuh keduanya. Johan yang melihat tubuh Asia sama sekali tak tertarik baginya tubuh yang terbuka seperti itu tak membuatnya terang*ang sama sekali melainkan kata jijik. Betapa kagetnya Johan kala melihat wajah lelaki itu bukan Monti.


Johan keluar dari kamar tersebut dan memberitahu Daniel bahwa lelaki yang berada dikamar dengan Asia bukan Monti melainkan orang lain. Daniel tersenyum getir ternyata pikirnya benar lelaki yang sedang bersama Asia bukan Monti tapi orang lain. Dirinya tak menyangka bahwa semudah itu Asia menyerahkan tubuhnya kepada lelaki. Keyakinan Daniel salah, dia mengira bahwa Asia melakukannya dengan Monti dan dirinya, bahkan mengira keperawanan Asia telah diambil oleh Monti.


Makin hancur hati Daniel saat dia mengingat dirinya dan Asia memadu kasih bergulat badan sampai mengeluarkan keringat hingga menambah gairah diantara keduanya. Berulang kali Daniel melepaskan peluhnya saat melihat Asia yang pandai memanjakan dan menggoda dirinya. Saat itu adalah untuk pertama kalinya Daniel melakukannya, yang dia sesalkan adalah dia melepas keperjakaannya dengan wanita murahan, wanita yang dipilihnya, wanita yang dipertahankannya hingga dia dimusuhi oleh kedua orangtuanya.


Menyesal pasti, berdosa juga iya. Dirinya berharap kelak pasangan hidupnya nanti dapat menerima kekurangannya.


"Sudah biarkan saja mereka berdua sampai bangun, kita tunggu saja disini!" ucap Daniel pasrah.


Johan berusaha menuruti kemauan Daniel, namun pikirannya masih berfikir bagaimana membuat dua orang itu agar segera bagun. Kali ini dia mendapat ide, dia ingat bahwa dirinya memiliki nada panggil suara sirine. Segera dirinya menyalakan suara tersebut lalu di putarnya keras dan ditinggalkannya ponsel di dalam kamar. Tanpa menunggu lama suara sirine tersebut berhasil membuat kedua orang yang tertidur itu terbangun dan kebingungan. Mereka berdua yang berlarian ke luar kamar tak sadar jika mereka tidak menggunakan sehelai kain tak hanya itu mereka juga masih tidak menyadari bahwa ada orang lain di dalam selain mereka. Mereka tersadar saat suara sirine tersebut sudah berhenti. Dan betapa kagetnya Asia saat melihat Daniel sedang duduk di ruang tamu yang berada di depan kamar.


Sorot mata Daniel yang tajam membuat Asia ketakutan dan memilih lari kedalam kamar untuk mengambil apapun yang ada disana guna menutupi tubuhnya yang hanya terlihat kulit saja.


"Sayang siapa dia? kenapa dia bisa berada di apartemen mu? tanya lelaki yang berada di kamar.


"Dia temanku." jawab Asia cuek.


"Tapi kenapa dia bisa masuk ke apartemen mu, benar-benar tak sopan!" ucap lelaki itu dengan geram karena menurutnya ada orang lain yang tak diharapkan masuk dan menganggu tidurnya dengan suara sirine tadi.


"Kalian keluar dari sini atau aku akan laporkan kalian ke polisi! kata Johan lantang di depan kamar.


"Apa hak mu melaporkan kami, ini apartemen kekasihku, justru aku yang akan melaporkan kalian. Beraninya kalian membuatku marah kalian tak tahu siapa aku." jelas lelaki itu tak kalah lantang.

__ADS_1


"Siapa kami, tanya kekasihmu!" ucap Johan singkat.


Akhirnya bertanya kepada Asia. Tak banyak yang dijelaskan Asia yang jelas sekarang Asia sudah mengemasi semua barang-barang nya lalu di taruh nya ke dalam koper miliknya.


Setelah mengemasi barang-barangnya lelaki tersebut keluar dari kamar dan sengaja menabrak kan pundaknya ke pundak Johan lalu dia menghampiri Daniel yang sedang duduk di ruang tamu. "Jangan dekati Asia, dia milikku!"


Asia yang melewati Daniel pun berbisik "maaf, dari dulu aku memang tak pernah mencintaimu, dari awal aku mendekatimu hanya ingin memanfaatkan mu dan waktu seminggu kemarin yang kita habiskan tak berarti apa-apa karena kamu tak memuaskan tak hanya itu tapi uang sama sekali tidak memuaskan. Kerjamu hanya seorang diplomat dan hanya apartemen seperti ini yang mampu kamu berikan padaku. Ambil, aku tak butuh !" ucap Asia sinis.


Hatinya perih bagai diiris sembilu. Daniel geram dengan ucapan Asia. Dia ingin sekali menampar wajah Asia namun ditahan oleh Johan. Johan yang sedari tadi berada disamping Daniel berusaha meredam kemarahan sahabatnya itu.


Setelah kepergian dua orang tersebut Daniel membanting semua barang-barang yang ada di depannya, tak peduli barang apa pun itu. Dirinya tak memperdulikan itu barang pecah belah atau tidak yang pasti jika mudah digapai dan dilihat di depannya maka tak luput untuk di lemparnya.


"Dia kira dia siapa? Wanita kurang aj*r, tak tahu diri, wanita hin*, jal*ng, rubah betina, lubang buaya!!" ucap Daniel geram dan penuh emosi.


"Daniel cukup, tahan emosimu untuk apa kamu memaki dia dengan membanting barang-barang yang ada di apartemen ini, lebih baik jual apartemen ini lengkap dengan isinya." ujar Johan sambil menghampiri dan menepuk pundak Daniel.


"Siapa lelaki tadi?!" tanya Daniel dingin.


"Dimitri Adi Handoko, anak dari pengusaha batu bara Handoko grup. Asia dan Dimitri menjalin kasih sejak sekolah dan mereka berpisah saat Asia memutuskan untuk tinggal dan memilih meniti karir di sini. Sebenarnya keputusan Asia untuk ke Bali karena dia ingin bertemu dengan Dimitri disana."


"Lalu Monti?"


"Dia datang ke Monti hanya jika Monti membutuhkan jasanya. Awalnya dia ingin menyewa rahim Asia namun dia beralasan bahwa dirinya tidak subur lagipula rahimnya tak sehat. Hal itu dibuktikan dengan bukti-bukti pemerikasaan dari dokter. Bukti itu hanya sebagai pelengkap kebohongan nya saja." ujar Johan.


"Gue dan Arden sengaja menyadap ponsel Asia."


"Menyadap?"


"Ia, karena gue gak tega sama mami Melly, gue ingin buka hati lu. Sedangkan Arden, dia ingin membantu Alessia menyelidiki suaminya." jelas Johan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Daniel lebih banyak diam, dia menjadi lebih dingin dengan orang disekitarnya terutama kaum hawa.


Daniel kini tidak terlalu peduli dengan penampilan, bulu-bulu nya dibiarkan tumbuh tak terawat, wajahnya yang kacau dengan lingkaran hitam dibawah mata terlihat jika dirinya kurang tidur dan hampir setiap hari dia selalu mabuk-mabukan.


Dirinya yang kacau lantas membuat pikirannya kacau juga, dia telah mengajukan pensiun dini menjadi seorang diplomat, pertimbangan itu di ambil karena dia terbakar dengan kata-kata Asia yang mengatakan bahwa pekerjaan nya hanya seorang diplomat yang berpenghasilan kecil.


Melly mengetahui bahwa keadaan anaknya sedang tidak baik-baik saja namun dia sengaja tak menampakkan diri dihadapan Daniel, kecuali jika Daniel mendatangi dirinya dia akan menyambut anaknya tersebut dengan kehangatan seorang ibu. Dirinya hanya menanyakan kabar anaknya itu melalui Johan. Dia sengaja bersikap begitu agar anaknya menyadari kesalahannya bahwasannya telah memilih wanita yang salah.


Lain halnya dengan Joshka, baginya Daniel adalah segalanya, anak semata wayang yang dia banggakan menjadi tak berdaya hanya karena seorang wanita ******, dirinya tak terima. Segera dia terbang dari London ke Finlandia untuk menyadarkan anaknya dengan caranya.


Setelah menempuh perjalan beberapa jam kini Joshka sudah berada di bandara Helsinki Vantaa. Johan yang menjemput kedatangan Joshka.


"Dad ...." panggil Johan keras.

__ADS_1


Mendengar suara khas Johan segera Joshka mencari sumber suara tersebut, kemudian di menghampiri. Johan yang lama tidak bertemu dengan Joshka segera memeluk erat saudara kembar dari ayah angkatnya itu.


" Apa kabar Nak?" tanya Joshka.


"Aku baik, tapi anak Dady tidak." ucap Johan lesu.


"Apa istriku datang menemui dan menghibur?" tanya Johan penasaran.


"Tidak, tapi rutin menanyakan keadaan dan mengirim makanan untuk Daniel melalui ku. Kami sekarang tidak lagi tinggal di rumah dinas melainkan apartemen."


"Lalu bagaimana nasib para pekerja disana, setahuku Daniel yang membawa mereka semua untuk bekerja disini?"


"Hanya ada empat orang saja, jadi Mami memperkerjakan mereka dirumah." jelas Johan.


"Apakah Daniel mengetahui kedatanganku?"


"Tidak, aku sengaja memberi kejutan."


"Lalu bagaimana dengan gadis kecil itu?"


"Gadis kecil? Maksud dady, Shasha?" tanya Johan heran.


"Iya, gadis yang menyelamatkan nyawa anakku, dia anak pemberani anak seusianya pasti tidak akan bisa melakukan dan seberani dia." ucap Joshka kagum sambil mengingat kejadian 13 tahun silam."


"Mereka berdua sudah saling mengenal, namun pertemuan pertama mereka yang buruk."


"Buruk kenapa?"


Johan akhirnya menceritakan semuanya tak ada yang dia tutupi, termasuk adegan ciuman keduanya. Mendengar itu Joshka malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha ..., aku tak menyangka anakku yang sudah cukup dewasa, dari mana dia belajar berciuman seperti itu?"


"Entah sepertinya bukan belajar tapi menurun dari sifat dady." ucap Johan cekikikan sambil tetap menyetir.


"Sepertinya iya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa jam kemudian, tak terasa kini mereka berdua tiba di apartemen Daniel. Joshka yang tak sabar ingin melihat keadaan anaknya langsung menuju ke kamar namun tak menemukan Daniel, ternyata anaknya berada di balkon. Sebelum menemui anaknya, Joshka mengintip dari balik jendela dilihatnya tubuh Daniel dengan perasaan iba ...


Ditunggu updatenya ya readers setia ku ...🥰🥰


Jangan lupa like dan comment..


Salam sayang dari aku🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2