
"Dimana aku?"
"Tempat apa ini?"
"Aku masih ada di dunia kan?" sambil berjalan Shasha mencoba mencari sebuah jalan keluar .
Dirinya merasa seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang, dia tak tahu dimana dirinya sekarang berada. Ia berusaha tetap berjalan melewati lorong yang gelap untuk mengikuti seberkas sinar yang ia yakini sebagai jalan keluar, namun betapa terkejutnya, disana ia melihat seseorang yang dikenalnya bergandengan tangan sambil tertawa lepas dan saling memandang dengan tatapan kagum.
"Bibie! Bie..!" teriak Shasha dengan suara kencang. Ia sengaja berteriak tanpa menghampiri, karena berharap Daniel akan hafal dengan suaranya.
"Mengapa dia tak mendengar ku!" Shasha merasa kecewa ternyata Daniel tak mendengarkan teriakannya.
"Bie ...! Aku disini." teriak Shasha lagi dengan kesal.
Pada panggilan ke dua Daniel masih tak menoleh ke arahnya, entah mengapa, tidak dengar atau dia terlalu sibuk berbicara asyik dengan Asia sehingga tak mendengar suara istrinya memanggil namanya.
Berkali-kali memanggil namun tak mendapat tanggapan hingga membuat istrinya itu menjadi kesal. Kekesalannya itu ia tuangkan dengan memanggil suaminya dengan sebutan yang biasa Johan lakukan jika mereka sedang bercanda.
"Woi .., kuda Niel tua!” teriak Shasha keras menirukan suara Johan.
Namun tetap sama, Daniel tetap tak mendengar.
“Sepertinya sama saja, dia tak mendengarku, apa lebih baik aku mendekatinya, agar dia tahu jika aku sedang berada disini."
Perlahan Shasha mulai berjalan mendekati Daniel yang sedang duduk tepat disebalah mantan kekasihnya itu. Shasha muncul di hadapan mereka berdua, kehadiran Shasha tak mendapat tanggapan apapun dari keduanya.
"Apa-apaan kalian bardua, mengapa tak ada rasa tak enak, kalian sadar tidak aku ada disini!!! Mengapa kalian berdua malah semakin mesra.!"
Shasha yang marah tetap tak digubris dan di dengakan oleh keduanya,
“Apa mereka tak bisa melihatku?”
“Kenapa mareka tak bisa melihatku? Sebenarnya aku ada dimana!" tanya Shasha bingung.
"Kenapa hanya ada Daniel dan wanita ini disini, bahkan mereka berdua tidak dapat melihat dan mendengarku,” ucap Shasha sambil menangis terseduh-seduh.
Meski kehadirannya tak di lihat dan suaranya tak di dengar ia tidak putus asa, dicobanya kembali dengan melambai-lambaikan tangan ke arah Daniel, berharap akan mendapat respon dari suaminya.
Berbagai macam cara sudah ia coba lakukan, mulai berteriak, mendekati, dan melambaikan tangan tetap saja diacuhkan oleh suaminya. Kini ia pun memutuskan untuk pulang, dirinya mulai berjalan meninggalkan dua insan yang terlihat di mabuk asmara. Dengan langkahnya yang gontai Shasha merasa bingung kemana ia harus pulang, karena jalan yang ia lewati sekarang bukan jalan yang biasanya ia tempuh.
Lelah dengan langkah yang tak jelas Shasha pun berhenti dan memilih untuk bersandar pada sebuah pohon yang tinggi dan rindang. Baru beberapa menit bersandar ia mendengar bunyi gemuruh diikuti oleh hawa dingin yang menyapu tubuh Shasha. Baru mendengar suara gemuruh kini terlihat awan yang mendung pertanda akan turun hujan. Dan tak lama kemudian, baru saja ia bersandar kini ia merasakan tetesan air hujan yang turun membasahi dedaunan hingga jatuh mengenai tangannya.
Saat merasakan tetesan air ia merasakan sebuah ketenangan pada hati dan perasaan nya. Entah apa yang ia dengar tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya. Suara panggilan tersebut begitu ia kenal bahkan menggetarkan hatinya.
"Bangun ... Bangunlah, aku minta maaf, aku tak sengaja tadi melempar bola."
"Bangun Cha …" ucap Dion sambil menggoyang-goyangkan tubuh Shasha yang lemas terbaring di ruangan P3K.
*“Suara siapa itu?Acha?”
“Apakah itu ayah atau bunda atau kak Erza atau kak Jihan yang memanggilku.”
“Atau Dion?”
“Karena hanya mereka berlima yang selalu memanggilku dengan sebutan itu.”
“Tuhan,aku berada did aaku ingin kembali, aku ingin menemui mereka.”*
Setelah berucap seperti itu seketika Shasha merasa kembali ke sebuah tubuh yang lama ditinggalkannya dan seketika ia membuka matanya dan melihat ada seorang lelaki yang mengenggam tangannya erat.
Kini Shasha terbangun dari sebuah mimpi yang terlihat seperti nyata, yang mana saat ini seseorang yang berada disisinya bukanlah Daniel suaminya, melainkan Dion lelaki yang pernah ada di hidupnya namun harus tersakiti karena keegoisannya yang terlalu serakah dan tak puas dengan apa yang dimiliki.
__ADS_1
“D—Dion?” ucap Shasha terbata-bata sambil membuka matanya.
“Akhirnya kamu bangun Sha, sedari tadi aku menunggumu disini.”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kamu pingsan. Kamu pingsan karena aku. Aku tak sengaja melempar bola ke arahmu.
“Aku pingsan? Mengapa ini terulang kembali?" batin Shasha.
“Iya, Entah mengapa harus terulang kembali, dan kali ini kamu benar-benar membuatku khawatir. Ini adalah pingsan terlamamu.”
“Dion, maafkan aku. Aku –“
“Minta maaf untuk apa?”
“Banyak kesalahan ku padamu.”
“Sekarang diamlah, kamu tinggal disini atau aku antar pulang?”
“Tolong antar aku pulang.”
**
Di dalam mobil.
“Dion,” sapa Shasha dengan nada lembut.
“Ya,”
“Ada apa dengan tanganmu?”
“Luka biasa?”
“Yakin?”
“Iya,”
“Dion, bajumu belum aku kembalikan. Mungkin besok.”
“Kenapa harus dikembalikan? Bukannya nanti baju kita akan berada di satu lemari?”
“Maksdunya?”
“Tidak, jangan dipikirkan. Kamu mau makan?”
“Tidak.”
Setelah pembicaraan receh tersebut kini mereka sama-sama terdiam. Shasha yang masih memikirkan tidur panjangnya tadi meyakini bahwa suara yang memanggilnya adalan suara Dion. Dirinya tak menyangka Dion yang selama ini ia sakiti, dan ia bohongi begitu perduli pada dirinya.
“Dion,” sapa Shasha memecah keheningan di dalam mobil.
“Ya, sebenarnya waktu itu aku –“
Dion yang tahu kemana arah Shasha akan berbicara berusaha menyela.
“Kamu kenapa? Waktu itu seharusnya kamu tidak lewat disana biar kamu tak kena bola. Aku takut jika kamu sering terkena bola. Bisa-bisa nanti kamu hilang ingatan.”
“Bisa aja, gak mungkin. Dion, aku mau tanya, bagaiman jika seseorang yang kamu suka ternyata menghinatimu?”
“Kenapa bertanya seperti itu?”
__ADS_1
“Jawab pertanyaanku,”
“Aku akan memaafkannya,”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintainya.”
“Bagaimana jika kamu bertemu lagi dengan kekasih yang pernah menghianatimu namun kekasihmu itu telah menikah dan menyembunyikan .”statusnya
“Entahlah. Kenapa pertanyaanmu sulit di jawab? Sudah turunlah. Ini sudah sampai.
“Terima kasih.”
Shasha keluar dari mobil Dion, ia tak memperhatikan jika ada orang yang sedang memata-matai gerak-geriknya.
**
Setelah mengantarkan Shasha, Dion tak segera pulang ia berhenti sejenak dan memilih untuk singgah di apartemen tempat Shasha berada.
Ada apa denganku? Kenapa hati dan tanganku memilih berada disini?
Dion, lu bego, harusnya lu lepasin dia. Dia itu sudah menikah? Masih banyak wanita muda dan cantik yang mengejar dirimu!
Dirinya yang bimbang, antara hati dan pikirannya memilih untuk tidak melanjutkan perjalanannya melainkan berputar-putar di area lobby.
Tanpa ia sadari ia sudah berputar -putar kurang lebih tiga puluh menit disana, hingga dirinya kaca mobil ada yang mengetuk.
"Selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu."
"Oh iya pak, saya mau parkir, ada disebalah mana ya?" Alasan Dion.
Setelah basa-basi, kini ia sudah memarkirkan mobilnya dan menuju ke resepsionis untuk memesan hunian selama beberapa hari kedepan.
Diam-diam ternyata Dion menyelidiki Daniel dan Shasha, dan sekarang ia memilih tempat hunian dekat dengan milik Daniel.
**
Ditempat lain, Shasha duduk terdiam sambil merenung tentang kejadian tadi saat dirinya pingsan. Dia tak menyangka jika Dion tak pernah berubah tetap memperlakukan dirinya dengan sangat baik meski paginya saat bertemu di pantry terlihat Dion begitu cuek dan dingin.
Dengan menghela nafas panjang Shasha mulai membaringkan tubuhnya di sofa yang ada diruang tamu.
Sudah dua hari, Bibie tidak pulang. mungkin dia benar-benar sibuk dan harus menyelesaikan misinya.
Baiklah, seprtinya aku memang harus kuat dan ikhlas.
Apapun yang sedang dilakukan oleh Daniel dan wanita itu aku yakin itu hanya bagian dari peran yang harus Daniel jalani.
Setelah rasa khawatirnya begulat dengan pikirannya, kini ia mencoba memantapkan hatinya untuk membuka ponsel yang sedari tadi sengaja tidak ia tengok.Diambilnya ponsel yang ada di dalam tasnya,.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1