TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 89. SELEPAS WISUDA.


__ADS_3

Mendengar itu baik ayah dan bunda sedikit kecewa dengan ucapan Shasha. Tak lama kemudian kini mereka tiba di studio foto. Segera Shasha keluar dar mobil dan memasuki studio tersebut. Mutia dan Secil menyambut kedatangan Shasha dan orangtuanya. dengan senyum merekah.


"Ayah dan bunda duduk dulu ya, Shasha cek ke atas dulu."


Ayah dan bunda memilih untuk duduk dikursi tunggu diikuti Nicky.


"Kemana aja? lama banget." omel Secil sambil mengikuti Shasha dan


"Gak kemana-mana, tadi dijalan beb." sambil tersenyum lebar berusaha agar kedua sahabatnya itu tidak jadi marah kepadanya.


"Lu gak tahu suami lu mukanya mirip kepiting yang direbus lama. Itu kepala kalau di dekatin kelihatan asapnya ." lanjut Mutia.


"Suamiku? pak Daniel?" tanya Shasha tak percaya."


"Ya lah, mau siapa lagi? masa iya Abra!" jengkel Secil yang masih ngedumel.


"Hussst! Jangan sembarangan bicara. Bisa denger tuh suaminya. Yang ada dia makin marah tau." Mutia menanggapi ucapan Secil.


Shasha tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Ia segera naik ke ruangan studio yamg sudah di booking.


Belum juga mengetuk pintu tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang.


"Darimana saja?" tanya Daniel sambil menyudutkan Shasha di sebuah ruangan studio yang tidak berpenghuni.


"Dari kampus langsung kesini. Bapak gak jadi berangkat?"


"Gak usah tanya-tanya, jawab pertanyaan saya."


"Sudah dijawab pak. Pak, tolong jangan seperti ini, gak enak dilihat orang."


"Memang kenapa? asal kamu tahu studio ini sudah aku sewa jadi tak akan ada pengunjung lain selain kita."


"Ooo, pantas saja bapak berani begini'in saya."


"Aku sudah bilang jangan pernah temui dia. Kenapa kamu masih menemuinya!"


"Siapa pak?"


"Masih pura-pura tak tahu?"


"Memang saya gak tahu siapa yang bapak maksud."


"Kita selesaikan dirumah." ucap Daniel sambil melepaskan Shasha yang sedari tadi ia pepet.


Daniel meninggalkan Shasha yang masih terdiam di pojok ruangan. Melihat Daniel berjalan segera Shasha menyusulnya dan berusaha mendahului langkah Daniel.


Shasha salah sangka, ia mengira Daniel akan masuk keruangan studio yang sudah disiapkan ternyata ia turun kebawah sepertinya menemui mertuanya yang masih berada dibawah bersama dengan Nicky.


Shasha sudah membuka pintu dan ia mendapat banyak omelan.


"Kalian kemana aja sih. Kita nunggu!" Johan berbicara dengan nada mengomel.


"Abang! Maaf tadi –" jelas Shasha namun terputus.


"Tak apa, suami mu mana?"

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan muncul Daniel diikut oleh kedua orangtua Shasha dan Nicky. Johan yang dari tadi ngomel mulai memudar, ia pun segera menyalami tangan kedua orang tua Shasha. Kelakuan Johan membuat semua orang yang di dalam menahan tawa.


Shasha tak terlalu memperdulikan kehadiran Daniel, baginya Daniel memang memberikan dirinya kejutan tapi yang membuatnya terkejut adalah perkataan Martin tentang dua wanita kembar, yaitu Medi dan Asia.


Sesi pemotretan antara Shasha dan keluarga selesai sekarang tinggal Shasha dan para sahabatnya.


"Apakah sudah lengkap?" tanya Bram, sang fotografer.


"Tunggu, ada tiga orang yang masih diluar." cegah Mutia yang sedari tadi menunggu kehadiran seseorang.


"Tiga ? Siapa lagi? bukannya tinggal tunggu pak Ibnu dan Miss.Rina? Dimana beliau?" tanya Shasha.


"Kami disini," ucap salah satu dari mereka. Dari suaranya Shasha tidak asing dengan suara tersebut.


"Bang Arden?" panggil Shasha sambil menoleh kebelakang.


Shasha terhalang oleh sebuah buket bunga besar lengkap dengan boneka Teddy bear yang begitu besar.


"Happy graduation ya sayang," ucap miss Rina yang menghampiri Shasha sambil membawa bunga diikut oleh pak Ibnu.


"Terimakasih banyak." Shasha membalas pelukan miss Rina.


"Ehem ..."


"Pak, terimakasih ya." sapa Shasha.


"Iya, kamu pantas mendapatkan nilai A. Semua isi skripsi, pertanyaan yang aku berikan mampu kamu jawab."


"Hihihi, itu semua karena bimbingan dari miss Rina."


"Kug ditahan?" tanya Arden.


"Sama dia aja bang, kalau sama Shasha jangan." sambil menunjuk Mutia yang sekarang menjadi salah tingkah.


"Woi, ayok!" ajak Johan yang tak sabar ingin mengekspresikan banyak gaya."


Hampir satu jam waktu telah berlalu. Selesai acara foto bersama kini masing-masing dari mereka pamit undur diri termasuk Nicky. Namun sebelum pulang ia berbisik kepada Daniel.


"Bos, di mobil banyak sekali hadiah."


"Hadiah apa?"


"Mulai dari bunga sampai dengan boneka. Bagaiamana ini?"


"Hadiah dari dan untuk siapa?" tanya Daniel.


"Dari fans istri bos."


"Lelaki?"


"Pastinya."


"Kalau begitu kamu pilih saja sendiri, kamu kasih kemana aja terserah kamu, sisakan beberapa saja. yang paling besar." ujar Daniel.


"Bagaimana jika dia marah?"

__ADS_1


"Bilang saja aku yang suruh!"


Kini mereka semua keluar dari studio foto tersebut. Daniel menjadi sopir untuk keluarganya sedangkan Johan, Arden memiliki jadwal nonton bersama Mutia dan Secil.


Daniel mengantar ke hotel mertuanya istirahat. Ia pun memesan kamar hotel dengan kelas presidential suite. Setelah mengantar orang tuanya ke kamar Shasha segera menuju ke kamar yang dimaksud.


Sesampainya disana ia terkejut melihat Daniel sudah duduk bersedekap sambil menyilang'kan kakinya.


"Bapak?" sapa Shasha untuk mencairkan suasana.


"Duduk!" perintah Daniel.


"Sudah pak."


"Kamu kira ucapan saya main-main!"


"Ucapan apa ya pak?"


" Kamu kira ucapan ku main-main? Ingat ya aku tak akan segan menalak'mu.!"


"Pak, aku tak pernah mendekatinya, dia yang datang mendekatiku."


"Tapi kan kamu bisa menolak.!" "Setidaknya , kamu punya mulut kan? bicara! jangan diam saja!"


Mendengar perkataan Daniel yang menurutnya kasar membuat dirinya memilih untuk diam dan tak memandang ke arah Dani.


"Kamu dengar tidak apa yang saya katakan."


Kenapa sih? kenapa selalu seperti ini. Marah-marah tak jelas!


"Iya." segera Shasha beranjak dari duduknya dan ingin segera pergi melepas semua yang ada di kepalanya karena acara wisuda tadi serta mengganti pakaiannya.


"Mau kemana kamu!" bentak Daniel. "


"Kamar mandi." ucap Shasha singkat.


Didalam kamar mandi, Shasha melepaskan semuanya tanpa tak terkecuali. Bahkan beban yang ada di pikirnya ia lepaskan, dia memilih berendam di bathtub dengan menaburkan semua aroma terapi yang menurutnya harum dan relaks.


Meski berusaha relaks tapi tak bisa 100% berhasil, itu semua karena dirinya memikirkan Daniel. Bagi Shasha sikap Daniel tak pernah bisa ditebak, kadang menjadi pribadi baik, kadang pula cuek.


Kurang lebih 45 menit segera Shasha mulai membasuh tubuhnya dan menggunakan baju handuk yang tersedia disana. Keluar dari kamar mandi ia sudah melihat Daniel yang sedang duduk memainkan ponsel.


Shasha tak terlalu memikirkan keberadaan Daniel dengan dirinya yang saat ini hanya menggunakan baju handuk. Shasha segera mengambil ponselnya yang ada di tas dan menelpon Sally, bundanya untuk membawakan baju miliknya yang berada di kamar kedua orangtuanya.


"Kamu jadi anak benar-benar tak sopan ya!"


"Maksud bapak?" "Saya tak menyuruh berlebihan, saya hanya meminta tolong memberikan baju saya yang berada di kamar ayah dan bnda." lanjut Shashsa.


"Kamu seperti orang susah saja. Tinggal buka aplikasi dan klik baju yang kamu mau, bayar dan kirim, simpel kan?" jelas Daniel enteng.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


__ADS_2