
Tak butuh waktu lama mencari tahu alamat kos Shasha, Arden yang sudah mengetahui segera menyelesaikan makannya dan mulai membersihkan dan merapikan diri.
"Mau kemana lu Niel?" ucap Arden saat melihat Daniel yang sudah berpakaian casual dan wangi.
"Balikin tuh Tedy bear ke pemiliknya." ucapnya sambil mencukur brewoknya yang sudah mulai tebal.
"Emang lu tahu dimana alamat kosnya?" tanya Arden dengan nada mengejek.
"Udah." jawabnya singkat sambil terus mencukur brewoknya.
"Bagus kalau lu ada usaha cari tahu tentang Shasha." ucap Arden dengan riang. Arden pun sudah berpakaian rapi tak lupa menyematkan kacamata sehingga membuat dirinya makin terlihat tampan.
"Lu ikut?" tanya Daniel yang sudah selesai mencukur brewoknya.
"Iya, gue mau tahu bagaimana keadaannya sekarang, apa luka-lukanya sudah sembuh." jelas Arden sambil menggunakan jaket.
"Alasan, bilang aja lu kangen kan mau lihat dia." ucap Daniel penuh penekanan seperti seseorang yang sedang cemburu.
"Ia gue kangen. Kangeeeeeennnn banget sama Shasha." ucap Arden manja yang sengaja membuat Daniel makin cemburu.
Daniel tak menghiraukan dia mulai keluar sambil membawa koper menuju parkiran mobil, sedangkan Arden mengikuti langkah Daniel dari belakang.
Didalam mobil tak terdengar suara dari kedua sahabat yang beberapa tahun lalu pernah ada salah paham diantara mereka, dan kira-kira hampir dua tahun ini mereka sudah saling berbaikan. Suasana memang terasa hampa karena ini adalah kali pertama mereka semobil berdua tanpa ada Johan diantara mereka.
"Ar, boleh tanya sesuatu." tanya Daniel sedikit ragu.
"Sejak kapan lu mau tanya sesuatu ke gue pakai ijin, biasanya langsung tanya." ejek Arden sambil melihat sahabatnya itu.
"Lu kasih ponsel ke Shasha?" tanya Daniel hati-hati. Karena yang Daniel tahu bahwa Arden bukan tipe laki-laki yang sering memberi hadiah kepada wanita, kecuali wanita itu benar-benar special bahkan pacarnya saja tak pernah dia berikan hadiah saat mereka masih kuliah.
"Iya, tapi tidak cuma-cuma karena aku tahu dia bukan tipe wanita yang mau diberi dengan cuma-cuma."
"Apa lu memberinya syarat atau semacam tes?"
"Hanya gue dan Shasha yang tahu. Kenapa lu kepo?" bohong Arden. Sebenarnya dia sama sekali tidak memberi syarat melainkan benar-benar keinginannya untuk memberi ponsel untuk Shasha. Dia tahu jika ponsel Shasha dirusak oleh Daniel yang merupakan sahabat sekaligus sudah dianggapnya sebagai saudara.
__ADS_1
Ucapan Arden membuatnya penasaran, hingga dirinya tak sadar jika mobil terlah melewati gang kos-kosan Shasha tinggal.
"Niel, arah lu kemana? ini udah melewati dari GPS!" teriak Daniel menyadarkan lamunan Daniel.
"Oia, sorry. Gue puter balik dulu."
Kini mereka berdua sudah berada di sebuah rumah yang cukup asri, rumah tersebut bertuliskan 'Rumah Kos Idaman'.
Arden turun dari mobil disusul oleh Daniel. Tampak mereka berdua kebingungan mencari tombol bel pada rumah tersebut namun beruntung dari dalam keluar ibu kos Shasha.
"Ada yang bisa dibantu, mau cari siapa ya?" tanya ibu kos Shasha dengan penuh heran namun dengan mata melongo karena melihat ketampanan dua pria yang ada di depan rumahnya.
"Apa benar ini kos Shasha? Mahasiswi dari kampus X?" ucap Daniel formal sambil tetap memakai kacamata
"Selamat siang. Apa benar Shasha kos disini?" tanya Arden dengan lembut.
"Betul, ada perlu apa ya mencari si cantik." tanya ibu kos Shasha. Perkenalkan I ibu kosnya, dan anak-anak biasa panggil I 'kanjeng Mami' dan itu yang lagi bersiul sama burung adalah suami I, biasa dipanggil 'kanjeng Papi." jelas ibu kos Shasha.
"Salam kenal kanjeng Mami dan kanjeng Papi. Boleh kami bertemu dengan Shasha?" tanya Arden sopan.
Daniel dan Arden duduk saling bersebelahan. Berbeda dengan ibu kos, bapak kos Shasha justru tampak meneliti. Layaknya seperti seorang pemburu yang sudah melihat mangsa didepan dan hendak diterkam.
"Kalian siapa dan apa hubungannya dengan anak kami?!" tanya bapak kos dengan tegas dari arah dalam rumah karena tadi dirinya hanya memakai sarung dan kaos saat sedang bersiul dengan burung.
Badan tegap dan suara tegas bisa diketahui bahwa bapak kos Shasha adalah seorang pensiunan angkatan. Daniel dan Arden yang mendengar pertanyaan yang muncul tuba-tiba tersentak kaget karena dia tak mengira bahwa suara ibu kos yang begitu lembut saat menyambut justru berbanding terbalik dengan sang suami
"Ini calon suami Shasha, mereka saling berkenalan saat saat dia menjadi diplomat dan saya sendiri adalah pendiri dari beasiswa yang diikuti oleh Shasha." jelas Arden dengan sopan dan lembut.
"Lalu ada keperluan apa kalian kemari?" tanya bapak kos. Sedangkan ibu kos yang mendengar pembicaraan suaminya dan dua orang lelaki tampan tersebut tak percaya jika lelaki berkaca mata fashion itu adalah calon suami Shasha, karena yang dirinya tahu bahwa foto pacar Shasha tak setampan ini.
"Kita mau bersilahturahmi, karena sudah lama kita tidak bertemu. Dan tujuan dia kesini hendak memberikan koper ini. Koper ini tertinggal." ucapnya sambil menunjuk Daniel.
"Baiklah kalau tujuan kalian jelas." ucap bapak kos sambil masuk ke dalam untuk memanggil istrinya.
Sedangkan Ibu kos yang sedari tadi ternyata sudah berada dirumah sebelah untuk segera mengetuk pintu kamar Shasha.
__ADS_1
Tok ... tok ....
"Shasha mana?" tanya kanjeng mami saat pintu dibuka dari dalam.
"Mandi, kenapa Mi?" tanya Mutia.
"Ada dua COGAN dibawah cari dia." ucap kanjeng mami. "Suruh dia mandi cepat, mami sendiri penasaran kenapa mereka berdua bisa setampan itu. Jauh banget difoto waktu i..." ucapnya sambil berusaha mencari foto yang pernah Shasha tempel.
"COGAN siapa?" tanya Secil balik.
"Itu mana? foto yang dinding biasanya mana? kenapa gak ada?" tanya kanjeng mami heran.
"Lelaki itu sudah musnah alias punah. Mi ayo COGAN itu siapa?" tanya Secil dan Mutis bersamaan.
"Kalian kudet ya, COGAN itu kepanjangan dari Cowo Ganteng dan dia bilang si calon suami Shasha." jelas kanjeng mami.
"Siapa kanjeng mami? calon suami Shasha?" tanya Secil heran.
Shasha yang tidak tahu jika didalam kamarnya ada kanjeng mami heran karena suara dari kamar begitu kencang hingga terdengar di dalam kamar mandi, dirinya juga mendengar suara-suara cekikikan yang tak asing baginya.
"Lho, kanjeng mami?" sapa Shasha sambil melepas handuk yang menutupi rambut panjangnya.
"Sha, calon suami lu datang. Kenapa beda sekali dengan yang difoto. Aslinya lebih tampan." ucap kanjeng mami kepada Shasha.
"Kan sudah dibilang punah dan musnah Mi," ucap Secil jengkel karena sedari tadi kanjeng Mami yang membandingkan foto Abra dengan lelaki yang datang mengaku sebagai calon suami Shasha.
Shasha heran siapa yang dimaksud oleh ibu kosnya tersebut. Berbeda dengan Mutia, dia yang penasaran siapa dua lelaki yang datang dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat lelaki yang dibawah adalah lelaki yang dia taksir selama ini.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1
Salam sayang 🥰🥰