
"Tidak." jawab Shasha singkat.
"Kamu terpesona dengan tubuhku?" tanya Daniel sengaja.
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu lihat?"
"Ini." Shasha memberikan sapu tangan biru yang tadi ia terima dari Rachel.
"Kenapa bisa ada di kamu?"
"Tadi dia datang, dan ini." Shasha memberikan secarik kertas berisi nomor telepon kepada Daniel. Lalu berjalan menjauhi Daniel dan bersiap untuk pergi tidur tentunya di bed sofa seperti biasa.
"Kamu cemburu?" tanya Daniel.
Shasha tak menggubris pertanyaan Daniel. Ia pura-pura memejamkan mata sambil menghadap ke arah sandaran sofa.
"Ingat ya, diantara kita tak ada hubungan apa-apa. Status kita hanya sebatas di buku nikah selebihnya tidak ada." jelas Daniel.
Baru beberapa menit mengatakan itu Daniel merasa menyesal, lagi-lagi apa yang ia ucapakan dengan lantang kini berubah menjadi sesal jika itu berhubungan dengan status pernikahannya.
"Saya tahu." jawab Shasha sambil memejamkan mata. "Aku akan wisuda dua hari lagi, apa bapak bisa datang?"
"Jangan mimpi kamu saya datang ke wisuda, bisa tahu semua orang tentang status kita."
"Baiklah kalau begitu carilah alasan agar tak dapat hadir, karena saya tak mungkin melarang orang tua saya hadir."
"Sehari sebelum acara aku akan keluar negeri. Ajaklah ayah dan bunda tinggal disini."
Shasha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Daniel. Lagipula ia yakin bahwa kedua orangtuanya tak mungkin mau tinggal di apartemen yang hanya ada beberapa kamar dan ia yakin pasti kedua orangtuanya akan lebih memilih hotel dekat kampus.
Setelah pembahasan itu, kini mereka berdua sudah sama-sama tertidur. Kali ini Shasha yang sudah mempersiapkan diri tak lagi harus kedinginan atau resah jika saat tidur bajunya terbuka, karena kini ia sudah menggunakan bed cover mini yang ia beli tadi bersamaan dengan baju.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari.
Seperti rutinitas biasanya Shasha selalu membuat cemilan dan sarapan pagi. Namun kali ini berbeda, ia bangun lebih pagi dan tentunya semuanya sudah tersedia lebih awal. Selesai semuanya, ia memilih untuk pergi keluar dan berjalan santai menghirup udara pagi disekitar apartemen.
Ia berniat kembali ke apartemen setelah jam dimana Daniel dan Johan sudah berangkat. Dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul sembilan segera ia kembali ke apartemen dan benar sesuai prediksinya saat membuka pintu ia sudah tak melihat batang hidung keduanya.
"Saatnya gue makan, lapar oi," gumam Shasha.
Sedang enak-enaknya makan ia melihat pesan masuk dari ponselnya.
Bang Jo: "Sha, thanks cemilan dan sarapannya."
__ADS_1
Membaca pesan masuk dari Johan membuatnya tersenyum sendiri, 'dari dulu sampai sekarang Johan yang dia anggap seperti saudara sendiri tak pernah berubah, selalu bersikap baik meski kadang menjengkelkan.'
Selesai makan segera ia membersihkan setiap sudut ruangan, dan juga mencuci pakaian kotor lalu mandi. Setelah itu ia memilih untuk keluar dari apartemen dan pergi ke kampus. Di kampus ia hanya ingin menuju ke tempat free WiFi dimana disana banyak para mahasiswa berkumpul untuk mengerjakan tugas.
Ditempat tersebut ia merasakan kerinduannya akan masa-masa saat ia mengerjakan tugas kampus bersama teman, sahabat dan tentunya Brian.
"Aku ingin melanjutkan S2, setidaknya setelah aku mendapatkan pekerjaan atau aku akan mencari beasiswa." gumam Shasha lirih.
Ditempat itu tak banyak yang ia lakukan, dia hanya membuka laptop untuk mengecek email, CV, info lowongan kerja dan juga informasi tentang beasiswa. Disana Shasha duduk ditemani laptop dengan segelas jus strawberry banana dan cemilan makaroni pedas asin kesukaannya.
Tak terasa ia menghabiskan waktu cukup lama ditempat tersebut, dan menurutnya sudah waktunya ia harus kembali ke apartemen. Untuk memburu waktu ia harus menggunakan motor. Segera ia memesan ojek motor melalui sebuah aplikasi yang terkenal.
Tak butuh waktu lama ia mendapatkan pengemudi. Kurang lebih 45 menit kini ia sudah sampai di apartemen. Segera ia masuk dan menaiki lift. Saat hendak masuk ke dalam lift ia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf .... maaf ...." ucap Shasha spontan kepada lelaki yang ditabraknya.
"It's okay." jawab singkat lelaki tersebut tanpa memandang Shasha.
Shasha yang kaget ternyata ia menabrak seseorang yang tangannya diperban.
"Mas, saya benar-benar menyesal. Sekali lagi saya minta ma—" ucapan Shasha terhenti saat lelaki tersebut mengangkat wajahnya.
Sama dengan Shasha, lelaki tersebut harus diam tak bersuara, sepertinya ia kaget saat melihat wanita yang ada di depannya.
Kini kedua netra mereka saling bertatapan. Shasha yang merasa pernah melihat tatapan mata itu mencoba menyelami waktu dan berusaha mengingat dimana ia bertemu mata itu. Begitu juga dengan lelaki tersebut, ia yang bingung harus berkata apa karena wanita dihadapannya adalah wanita yang sempat menarik perhatiannya hingga membuat tangannya harus diperban seperti ini.
"Kamu supir ojol yang biasanya mengantarku kan?" tanya Shasha lirih.
"Kamu yang menolongku saat itu kan?"
Pertanyaan belum sempat dijawab kini lift sudah terbuka.
Ting, (lift pun terbuka)
Lelaki itu hanya diam dan pura-pura tak mendengar pertanyaan Shasha, dengan buru-buru lelaki itu keluar. Begitu juga dengan Shasha, ia mengikuti langkah laki-laki itu karena Shasha juga berada di lantai yang sama.
"Tunggu, mas ya menolongku waktu itu,kan?" sambil sedikit lari Shashsa mencoba mengejar langkah kaki yang sudah keluar dari lift. "Mas, apa luka itu gara-gara waktu itu?"
Lelaki itu diam dan berbalik kebelakang untuk menghampiri Shasha.
"Tiga pertanyaanmu benar, dan untuk pertanyaan terakhir salah. Diriku seperti ini bukan karena kesalahanmu, tapi karena salahku yang kurang berhati-hati saat menolong mu."
"Ada satu lagi pertanyaanku, apa hubungannya anda dengan pak Ahmad?"
Belum juga pertanyaan terjawab, terdengar suara lelaki paruh bayah memanggil nama seseorang.
"Tuan, ini obatnya."
__ADS_1
Mendengar suara itu segera Shasha memiringkan kepalanya hendak memastikan suara siapa yang telah memanggil lelaki yang ada di depannya ini.
Pak Ahmad kaget bukan main saat penumpang langganannya harus muncul dihadapannya dan sedang berbicara dengan majikannya, yaitu Martin.
"Pak Ahmad, bapak mengenal lelaki ini?" tanya Shasha.
"I––iya, jawab pak Ahmad terbata. Dirinya sendiri tipe yang tak pandai berbohong jadi akan sangat kentara jika sedang berbohong.
"Bapak masuk saja kedalam, biar saya saja yang menjelaskannya." jelas lelaki itu kepada pak Ahmad.
Segera pak Ahmad berlalu dari kedua insan yang sedang berbincang. Martin menjelaskan kepada Shasha dari awal dan alasannya mengapa menggantikan pak Ahmad untuk beberapa hari.
Setelah mendapat penjelasan dari Martin rasanya begitu lega bahwa apa yang selama ini dia pikirkan salah, ia mengira bahwa pak Ahmad dan Martin adalah suruhan Leon.
Keduanya berbincang dengan hangat, seakan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Shasha yang ingat bahwa ia memiliki tugas segera berpamitan dan berjalan ke koridor kamar apartemennya. Tanpa Shasha sadari ternyata ia menjatuhkan sesuatu dan segera diambil oleh Martin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam hari.
Kini Martin mengetahui bahwa Shasha berada di kamar nomor XXX. Pukul tujuh Martin berniat mengajak Shasha untuk makan malam bersama. Segera Martin berjalan ke kamar yang bersebrangan dengan koridornya.
Ting Tong.
Ting Tong.
Daniel yang sudah datang dan sedang bersantai harus berdiri dan membuka pintu siapa tamu yang datang menganggu aktivitas nya menonton bola.
"Ia, ada apa?" tanya Daniel kepada lelaki yang ada dihadapannya.
"Bisa bertemu dengan Shasha?"
Daniel yang tak ingin Shasha keluar malam pun mulai mencari-cari alasan.
"Sepertinya dia sudah tidur. Maaf dengan siapa nanti saya sampaikan."
"Martin, baiklah tolong sampaikan jika saya datang menemuinya." Martin tersenyum lalu pamit undur diri.
Setelah menutup pintu segera Daniel menghampiri Shasha yang sedang berada di dapur mencuci beberapa piring.
"Sha, siapa Martin? tanya Daniel sambil bersedekap tangan.
"Martin?" tanya Shasha sambil berusaha mengingat nama yang tak asing ia dengar. "Dia lelaki yang menyelamatkanku waktu itu." jelas Shasha.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak