TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 98. GARA-GARA BUKET BUNGA.


__ADS_3

Penasaran dengan siapa yang datang Daniel pun menghampiri siapa seseorang yang dimaksud Shasha sebagai pengagum rahasia dari dirinya.


"Hai, pak." sapa Rachel dengan riang kepada Daniel.


"Ada perlu apa?" tanya Daniel dingin.


Rachel kaget, ia tak menyangka jika tanggapan Daniel dingin ditambah sorot matanya yang tak seperti biasanya. Sorotan mata yang tajam hingga mampu membuat orang yang memandangnya menjadi ketakutan hanya dengan sebuah tatapan.


"M-mmaaf pak, saya kesini hanya untuk mengantarkan ini." ujar Rachel sambil menunjukkan sebuah buket bunga anyelir berwarna merah muda.


"Dari siapa dan untuk siapa?" tanya Daniel dengan kesal.


"Untuk mbak Shasha, dari ..." Rachel tersentak menjawab pertanyaan lawan bicaranya itu namun ia berusaha berfikir kerasa darimana asal bunga tersebut karena ia sudah berjanji kepada sepupunya untuk tidak memberitahukan namanya.


"Dari siapa?" bentak Daniel keras.


"Pengagum rahasia mbak Shasha." jawab Rachel.


Mendapat jawaban tersebut membuat Daniel makin kesal.


"Apa maksudnya? Sebagai resepsionis harusnya kamu paham. Siapa pengantar bunga ini dan apa maksud bunga ditunjukkan untuk is —,"


"Bapak!" teriak Shasha. "Sudah pak, ini sudah malam banyak orang sudah tidur. Kasihan mbak Rachel, dia kan hanya disuruh memberikan dia gak salah." ucap Shasha kepada Daniel yang tiba-tiba muncul.


"Mbak Rachel, bunga itu untuk saya?”


Rachel yang ditanya mengangguk.


“Harum sekali bunganya, saya titip ucapan terimakasih ya. Bunganya sudah saya terima, terima kasih ya mbak,” ucap Shasha.


Daniel yang melihat kedua wanita itu berbicara hanya memperhatikan dan memilih untuk tak berdiri di sebelah Shasha.


“Bapak, ini bunga buat saya bukan bunga buat istri bapak. Jadi jangan salah paham ya pak,” ujar Shasha berusaha menjelaskan karena tadi Daniel hampir saja keceplosan.


“Kalau begitu saya pamit dulu ya Sha.” bisik nya lirih. “Gue gak akan ganggu bos lu lagi, ternyata dia tak sesuai dengan kriteriaku apalagi nyatanya dia sudah beristri.” lanjut Rachel lalu berpamitan dan hanya menundukkan kepalanya untuk keluar dari unit apartemen milik Daniel.


Ucapan Rachel saat pamit sudah tak seperti biasnya. Kini tak ada lagi gaya centil nan menggoda saat dirinya berpamitan.


**


Setelah kepergian Rachel segera Daniel berucap, “Cepat masuk!”. Shasha pun mengikuti perintah Daniel untuk masuk.


“Kamu ngapain tadi keluar!”


“Gak enak di dengar tetangga, suara bapak kenceng.”


“Kamu kira suara saya kayak mesin mobil balap!”


Shasha tak menggubris ucapan Daniel, ia lebih fokus kepada kartu ucapan bunga yang tadi diberikan oleh Rachel. Melihat itu Daniel merasa geram ia pun terbakar api cemburu.

__ADS_1


Dari belakang Daniel merebut paksa buket yang dibawa Shasha hingga membuat bunga tersebut jatuh dan berhamburan ke lantai.


"Pak, kenapa bapak merebut bunga milik saya?" kesal Shasha sambil mengerutkan dahinya.


"Dari siapa bunga itu?" tanya Daniel yang tak kalah kesal.


"Saya gak tahu, makanya saya baca. Lagipula buat apa bapak tanya."


"Apa pun yang berhubungan dengan kamu aku wajib tahu." jawab Daniel kikuk. Karena sebenarnya Daniel sendiri bingung pada dirinya mengapa tiba-tiba emosinya tak terkontrol.


"Kenapa? Kenapa bapak harus tahu? Memang kita siapa, pak?" tanya Shasha lagi dengan nada yang masih kesal.


"Kamu lupa kita siapa? Aku suami kamu dan kamu istriku."


Kali ini Daniel berkata benar-benar dari hati, ia sendiri tak tahu mengapa lidahnya berucap demikian, sepertinya kali ini benar-benar ia terbakar cemburu. Dirinya tak rela Shasha mendapat kiriman bunga di saat tak ada momen yang terjadi.


"Suami? Istri? Bapak lupa dengan ucapan sendiri," sambil tersenyum sinis. "Itu hanya dibuku nikah, Bapak sendiri yang bilang jangan ada cinta diantara kita, sembunyikan status pernikahan kita. Bahkan kartu identitas kita masing-masing pun masih lajang, bukan? Dan satu lagi bapak sendiri yang meminta, agar saya tak perlu mencintai bapak."


Mendengar itu Daniel merasa tertampar. Semua ucapan Shasha adalah kata-kata yang ia sampaikan kepada Shasha saat setelah menikah.


"Saya tahu itu." ucap Daniel sedikit bingung harus menjawab apa. "Maksud saya, kamu tinggal bersama saya jadi saya harus tahu semua apa yang kamu lakukan termasuk dibelakang saya."


"Kenapa gitu? Saya saja tak pernah mencampuri urusan bapak. Mau bapak pergi dengan kekasih bapak. Mau bapak bermesraan dengan kekasih bapak. Terserah bapak. Buat apa saya harus protes ke bapak lagipula siapa saya, saya gak penting dimata bapak. Saya bukan siapa-siapa." ucap Shasha sambil berlalu meninggalkan Daniel menuju ke ruang laundry hendak menjemur baju, Dirinya yang kesal tak memperdulikan bunga yang jatuh dilantai tadi.


Dia yang jatuhin tuh bunga biar dia yang sapu itu ruangan sampai bersih. Oga gue. Capek.


Shasha merasa lega setelah mengutarakan uneg-unegnya, akhirnya apa yang ia pendam beberapa hari ini terlontar sudah. Berjuta kekesalan yang ada di hatinya kini telah keluar dengan lancar. Hingga membuat dirinya merasa lega.


Dia … Dia bicara mantan. Artinya wanita yang tadi pagi di mini market adalah Shasha. Kenapa pakaiannya rapi sekali.


Tak banyak bicara segera ia menuju ke ruang laundry dan melihat baju yang sedang di jemur oleh Shasha.


“Jadi, baju dan rok span itu milikmu?”


Shasha tak menjawab ia hanya mendengarkan tanpa enggan menjawab. Ia lebih fokus menjemur baju lainnya.


“Sha, aku tanya. Apa itu baju milikmu?” ucap Daniel dengan nada selembut mungkin.


“Mau baju siapa lagi. Dirumah ini hanya ada kita.”


“Ohh. Karena aku lihat orang mirip kamu dan pakai baju seperti kamu.”


“Hem mirip ya. Bilangnya istri tapi gak tahu itu istrinya atau bukan.” gerutu Shasha pelan.


“Kamu bilang apa?”


“Gak,” ucap Shasha hendak keluar dari ruang laundry.


Tahu jika Shasha hendak keluar Daniel pun menggodanya dengan menghalang-halangi Shasha yang hendak keluar.

__ADS_1


“Ckck, bapak mau keluar atau masuk?” tanya Shasha dengan malas.


“Masuk dan keluar.” jawab Daniel usil.


“Ckck, jangan bercanda.”


“Bisa tidak kalau bicara lihat wajah saya.”


“Gak bisa.”


Gemas melihat kelakuan Shasha Daniel menggendong Shasha ala bridal style dan membawanya ke kamarnya dan menjatuhkan tubuh Shasha di sofa bed yang pernah ia gunakan untuk tidur sebelumnya.


Shasha merasa tubuhnya terbang dan melayang, ia kaget tak menyangka jika suaminya itu akan menggendong dan membawa dirinya ke kamar utama, yang tak lain kamar milik Daniel.


Tubuh Shasha terjatuh di sofa empuk, dan sedikit ditindih oleh Daniel. Dirinya merasa kesulitan bernafas, tak hanya itu jantungnya menjadi berdegup kencang tak karuan.


“Sekarang tatap mataku dan jawab pertanyaanku!”


Kali ini kedua mata mereka saling bertatapan, Shasha dapat melihat jelas sebuah mata indah yang dimiliki suami blasteran-nya itu, hidung yang mancung, bibir yang merah tipis ditambah jenggot tipis tumbuh di sepanjang rahang dan dagu membuat suaminya itu tampak benar-benar seperti malaikat yang turun dari surga. Tak hanya Shasha yang menilai suaminya namun Daniel juga, ia melihat istrinya itu dalam-dalam. Sebuah mata lebar bak kacang almond, dengan hidung mancung ditambah dengan bibir merah nan tipis, dua giginya yang gingsul serta dekik yang muncul di kedua pipi membuat istrinya itu bak bidadari surga yang dikirimkan Tuhan untuk dirinya.


Sepersekian menit mereka berdua saling pandang dan saling menilai, hingga sebuah ponsel milik Daniel berbunyi membuat keduanya tersadar. Daniel yang tersadar dari lamunannya tak langsung melepas kungkungan-nya.


“Jawab pertanyaanku. Bunga dari siapa itu?”


“Aku hanya menerima bunga meski aku tak tahu siapa pengirimnya.”


“Kenapa kamu tersenyum saat menerimanya?”


“Aku hanya tersenyum kepada bunganya dan aku tak tersenyum kepada penerimanya.”


“Lalu apa yang kamu lakukan tadi saat di mini market?”


“Sama seperti bapak, aku disana sedang berbelanja. Bedanya aku sendiri dan bapak bersamanya.”


Mendengar itu Daniel merasa malu, kungkungan-nya yang erat kini menjadi lemah. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Shasha untuk melepaskan diri dan keluar dari kamar Daniel.


Daniel sadar jika Shasha melepaskan diri dan keluar dari kamarnya, ia pun kini merobohkan dirinya di sofa bed.


“Apa dia cemburu?” gumamnya sambil sedikit tersenyum.


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


__ADS_2