
Sebenarnya Dion tidak marah, dia hanya ingin menggoda Shasha. Entah mengapa semenjak lama tak bertemu dengan Shasha ia merasa gemas dan ingin sekali menggoda. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan akan terpancar.
Di dalam mobil Shasha hanya menoleh ke samping sambil memandang jalanan dan kendaraan yang berada disamping mobil nya. Pandangannya terpecah saat ia melihat sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan rendah. Sepeda motor yang dikendarai seorang lelaki muda dengan teman wanitanya yang dibonceng, wanita tersebut menyandarkan kepala pada punggung sang lelaki sambil memeluk erat dari belakang. Melihat pemandangan itu Shasha teringat saat dirinya di bonceng oleh Daniel. Saat itu untuk pertama kalinya Daniel mengajaknya bermotor dan singgah ke apartemennya untuk istirahat.
Huh ..., kenapa aku jadi ingat-ingat masa itu.
Mengingat masa itu membuat Shasha tanpa sadar meneteskan air mata, bayang-bayang Daniel kembali muncul diingatan nya. Untuk membuyarkan bayang-bayang Daniel kini Shasha memilih untuk membenarkan posisi duduknya dengan menyandarkan kepala ke jok mobil sambil menengadah ke atas dan memejamkan matanya.
Dion yang konsen menyetir kini pandangannya beralih kepada Shasha.
"Kamu kenapa?" tanya Dion khawatir.
Shasha yang ditanya tak menjawab, merasa pertanyaan nya tak dijawab Dion kembali menggoda Shasha dengan pertanyaan lainnya,
"Kenapa nangis?"
"Siapa yang nangis?" jawab Shasha sambil mengelap air matanya yang keluar dari sudut matanya.
Dion tak menyangka jika Shasha benar-benar menangis.
"Lha, ternyata beneran kamu nangis? Apa karena aku bentak tadi?" tanya Dion iseng.
"Gak, emang kamu kira aku bocil, di omongin gitu aja ngembek."
"Bukannya kamu memang bocil, tuh lihat tinggimu tak berubah-ubah meski kita sudah lama tak bertemu."
"Dion, kamu benar-benar ya. Memang kenapa kalau tinggi ku segini, toh sekarang aku jadi seorang sekertaris."
"Apa hubungannya memang antara tinggi badan dan sekertaris?''
"Ada lah kriteria sekertaris kan harus tinggi."
"Masa, kalau kriteria jadi suami kamu gimana?"
Pertanyaan Dion membuat Shasha tak dapat menjawab dan lebih memilih diam.
"Kug diam? Jawab dunk!"
"Dia gak banyak bicara." jawab Shasha singkat.
"Oh,,,jadi cuman itu? Oke."
Dion kembali melanjutkan laju kendaraannya, kira-kira sejam lagi dia akan sampai ditempat tujuan. Sejam kemudian kini Dion dan Shasha telah berada di tempat parkir.
"Pak, ei maksudku, Dion tolong kamu keluar dulu ya, aku mau merapikan penampilan aku?"
"Oke."
Di dalam mobil Shasha merapikan dandanan nya baik baju sampai dengan make up. Selesai merapikan semuanya kini Shasha turun dari mobil. Kini mereka berdua masuk ke dalam hotel dan disambut dengan ramah oleh sang resepsionis.
"Selamat siang bapak dan ibu, ada yang bisa dibantu? Bapak dan ibu ingin memesan kamar hotel dengan paket honey moon? Jika ia kami akan merekomendasikan beberapa paket honey moon yang terlaris ditempat kami." ucap resepsionis dengan ramah.
"Maaf mbak, kita lagi gak pesan kamar. Kami dari PT TRATA LAND."
"Oh maaf bu, saya kira bapak dan ibu mau berbulan madu."
"Gak papa,"
"Baik bu, nanti teman saya akan mengantarkan bapak dan ibu ke ruangan meeting."
__ADS_1
Melihat itu Dion hanya menahan senyum, ia tak mengira bahwa orang-orang disekitarnya akan mengira Shasha adalah istrinya.
Baguslah, jika orang-orang melihatnya seperti itu. Doa yang baik-baik di Aminkan saja.
Dion dan Shasha kini berada di ruang meeting.
"Dion, kenapa masih sepi?"
Dion tak menjawab pertanyaan Shasha, ia sibuk membuka pesan email dari ponselnya.
"Dion, memang kita mulai jam berapa sih?"
Dion masih tak menjawab pertanyaan Shasha, ia masih tetap sama sibuk dengan ponselnya itu.
"Dion kamu dengerin aku gak sih!" bentak Shasha.
"Dengar."
"Terus kenapa gak dijawab aku tanya?"
"Kan aku sudah bilang jam berapa kita meetingnya."
"Sudah tahu sore kenapa kita harus ada disini jam segini."
"Kenapa memangnya?"
"Yasudah aku mau cari makan dulu." ucap Shasha sambil meletakkan tasnya dan hendak keluar.
Saat hendak berdiri, Dion tiba-tiba menggandeng tangannya dan membawakan tas Shasha yang sempat ditaruhnya tadi.
"Dion, ada apa? lepasin tangan ku."
"Ayo kita makan." ajak Dion sambil menggandeng jari jemari Shasha.
Dion tak menggubris perkataan Shasha, dirinya melanjutkan langkahnya dengan mengajak Shasha makan siang di restoran hotel.
Sesampainya disana, beberapa sajian makanan sudah dihidangkan.
"Kamu tunggu disini, aku akan mengambilkan kamu makanan." ucap Dion seakan seorang ayah sedang mengambilkan makanan untuk putrinya.
"Gak Dion, aku aja yang ambil."
"Sha, kamu mau bibir saya terbang ke bibirmu?"
Perkataan Dion sukses membuat Shasha sedikit bingung mengartikan, bibir terbang. Setelah ia sadar maksud dari Dion segera ia mengerutkan dahinya dan sedikit kesal. Melihat wajah Shasha yang kesal Dion segera mengambilkan buffet makanan yang sudah disediakan. Tak hanya memakan makanan yang sudah tersedia, Dion juga sudah memesan menu dessert terlaris dari hotel ini, yaitu ice cream creamy nya.
***
Kini Dion dan Shasha sudah berada di ruang meeting, Dion tampak amat bahagia karena tanpa disadari Shasha sedari tadi ia mengambil foto Shasha yang sedang makan dengan berberapa gaya. Puas memandangi gambar yang ada di ponselnya tak lama kemudian terdegar suara langkah kaki yang ia duga sebagai kliennya.
Pertemuan pun berlangsung kurang lebih satu jam lamanya. Dion tak pernah menyangka bahwa mantan pacarnya itu memang benar-benar memiliki paket komplit. Rasa untuk memiliki seutuhnya kembali muncul di hatinya. Melihat Shasha yang begitu kompeten membuat kliennya terlihat menarik dan Dion yakin sebentar lagi mereka akan deal soal harga. Dan ternyata apa yang dipikirkan Dion benar.
"Maaf bu Shasha ini apanya pak Dion ya?"
"Saya sekertarisnya, pak"
"Baru ya bu?"
"Gak pak, sebelumnya Shasha ini ada di bagian marketing, karena saya tertarik dengan semua yang ada pada dia makanya saya memilihnya untuk jadi sekertaris saya," jelas Dion.
__ADS_1
"Pak Riko masih bergabung kan pak?"
"Ia pak, Riko itu asisten saya, sedangkan dia ini sekertaris saya." ucap Dion sambil tersenyum lembut kepada Shasha.
"Saya rasa tak lama lagi kita akan menerima undangan."
"Undangan apa ya pak?" tanya Shasha spontan.
"Undangan pernikahan kalian berdua. Kalian tahu tidak, jodoh itu misteri. Bahkan mencintai suami atau istri orang lain juga termasuk jodoh itu. Saya dan istrinya juga begitu, soalnya."
"Bagaimana ceritanya, pak?" pancing Dion.
"Hahaha, saya akan menceritakannya nanti saat kita bertemu lagi. Bu Shasha dan Pak Dion minggu depan saya dan istri akan merayakan ulang tahun pernikahan kami. Apa kalian berdua bisa datang?"
"Pasti kami akan datang." jawab Dion dengan yakin.
"Terimakasih saya jadi merasa muda lagi jika melihat kalian berdua." "Untuk undangannya akan kami kirimkan ke kantor pak Dion.
Selesai acara meeting, kini Dion dan Shasha segera masuk ke dalam mobil dan kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan Dion mendengar Shasha yang sedang mengomel-ngomel tak jelas. Kali ini Shasha tidak diam dia lebih menggebu-gebu dalam menanggapi ucapan kliennya tadi.
"Gila! mencintai jodoh orang lain itu juga takdir! Gila banget tuh orang! Sadar gak sih tuh orang berdosa. Gak boleh seperti itu." ucap Shasha geram.
Mendengar itu Dion hanya diam tak berani menanggapi dirinya memilih untuk konsen melihat jalanan.
"Dion, kamu kug gak komen sih?"
"Dion! Kamu dengar aku gak sih!"
"Aku lebih baik diam daripada salah ucap."
"Memang kamu mau bilang apa? Jangan-jangan kamu mau bela kaum mu ya?"
Mendengar ucapan Shasha membuat Dion mendelik. Dia yang belum menyampaikan pendapat nya sudah di uring-uring Shasha.
"Kenapa kamu mendelik begitu!"
"Aku kaget, aku belum komen kenapa kamu bisa se emosi gitu."
"Ya, gimana gak emosi kalau kamu jawabnya begitu."
"Memang aku jawab apa?"
"Aku lebih baik diam daripada salah ucap. Itukan sudah jelas kalau kamu bakal jawab kamu bakalan se frekuensi sama dan setuju sama kelakuannya."
"Sekarang aku tahu, mengapa toilet wanita selalu berada di sebelah kanan?"
"Toilet wanita, kenapa sampai ke toilet bicaranya."
"Ya ada lah, because women is always right(karena wanita selalu benar)
Mendengar itu Shasha hanya senyum-senyum sendiri, ia tak menyangka jika dia yang jengkel kini mulai redah dengan perkataan Dion yang menggelitik.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.