TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 145. DION VS DANIEL.


__ADS_3

"Dia memang istriku dan aku adalah suaminya. Mengapa kamu tidak percaya, apa kamu memerlukan bukti?"


"Iya aku ingin sebuah bukti jika kalian benar-benar sudah menikah."


Daniel pun menunjukkan buku nikah yang sengaja dia bawa karena saat ini dia berada di hotel, mengingat tanda pengenal keduanya masih berstatus belum menikah.


"Kamu lihat ini, buku nikah antara aku dan Shasha. Dan jelas aku adalah suaminya." jelas Daniel sambil menunjukkan buku nikah miliknya."


Melihat buku nikah itu Dion hanya tersenyum menyeringai, "Kalau begitu aku juga bisa meminta orang untuk menggantikan nama pada buku nikah itu dengan nama dan fotoku, yaitu Dion Putra Brata."


"Jangan keterlaluan kamu, Dion!"


"Aku gak akan sampai begini jika kamu memperlakukan dia dengan baik. Kamu kira aku tidak tahu bahwasan nya kamu sering mengajak wanita itu untuk menemanimu menghadiri undangan! Dan kelakuanmu malam itu sangat keterlaluan, untuk kesekian kalinya kamu mengajak dia." lanjut Dion memperjelas kesalahan Daniel.


"Hanya aku dan Shasha yang tahu mengapa aku melakukannya. Jadi lebih baik kamu diam tak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami." ucap Daniel semakin jengkel.


"Sudah kubilang, aku tak mungkin diam jika menyangkut kebahagian Shasha. Aku masih ingat bagaimana kamu memperlakukan Shasha malam itu. Bagaimana perasaan hatinya saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada seorang wanita yang mengaku-ngaku jika dirinya adalah calon istri dari suaminya, tak hanya itu kamu hanya diam tak bergeming saat melihat Shasha tersungkur kerena kelakuan wanita mu itu."  dengan suara bergemuruh Dion mencoba mengaduk-aduk perasaan Daniel.


Seketika perasaan menyesal Daniel muncul, dia merasa bodoh mengapa sampai ia kecolongan bahwasannya Asia jauh lebih cerdik dibanding dirinya. Dia yang meretas ponsel milik Asia untuk mendapatkan kebenaran namun justru ia mendapatkan informasi yang tidak sesuai atau bahkan dilebih-lebihkan mengenai istrinya.


"Kamu benar aku salah, dan aku ingin memperbaiki kesalahanku. Dimana sekarang istriku, aku ingin menemuinya?"


"Biarkan dia bersamaku malam ini dan selanjutnya."


"Kamu semakin kurang ajar Dion! Jangan membuat ku semakin emosi!" Daniel kembali melayangkan pukulan di pipi dan perut Dion hingga dar*h keluar dari mulut Dion. Begitu juga dengan Dion yang juga mendaratkan pukulannya kepada Daniel.


Tiba-tiba terdengar suara berteriak dari arah belakang mereka.


"Berhenti!" teriak Johan yang berusaha menahan Daniel agar tidak tersulut emosi.


"Untuk apa kamu mencegah ku! Anak kurang ajar ini harus diberi pelajaran!"


"Cukup Daniel, kamu bisa membuatnya berada di ICU."


"Biarkan saja dia tak sadar dan meninggalkan dunia ini!"


Plak


Johan menampar Daniel dengan keras, dia berusaha menyadarkan Daniel yang masih ingin memukul Dion. Johan mencengkram tangan Daniel dengan kuat. Dirinya yang berhasil menahan emosi Daniel mulai mendekat kepada Dion sambil berkata,


"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan Daniel."


"Apa yang aku rasakan tidak seberapa sakitnya jika dibanding rasa sakit yang Shasha alami." ucap Dion sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.


"Hei anak ingusan! Kamu kira aku tidak merasakan sakit karena kebodohan ku. Cepat beritahu aku dimana kamu sembunyikan istriku!" ucap Daniel yang lagi-lagi mulai tersulut emosi.


Saat Dion hendak menjawab dia melihat seorang wanita berdiri sembunyi dari balik tanaman.


"Dia akan aman bersamaku." ucap Dion sambil masih melirik wanita tersebut."


Tatapan mata Dion memancing Johan untuk mencari tahu apa yang sedang dilihat Dion. Johan cukup terkejut melihat siapa wanita yang bersembunyi di balik tanaman tersebut.


"Kenapa dia berada disini?" tanya Johan dalam hati.

__ADS_1


"Dia terlalu berani menunjukkan batang hidungnya di depanku!" batin Dion.


Dion mengira bahwa wanita yang dilihatnya adalah Asia. "Tunggu, tapi mengapa wanita ini sedikit berbeda dengan biasanya." batin Dion yang masih heran dengan perubahan wajah Asia yang lebih berisi seperti orang sedang hamil.


Johan yakin jika Dion sedang bingung dengan wajah yang mirip dengan Asia. Dalam kebingungannya Johan mulai mengatakan sesuatu,


"Dion, kamu melihat wanita itu kan? Aku tahu kamu sudah menyelidiki semuanya tapi mungkin ada yang belum kamu tahu siapa sebenarnya wanita yang berada disana. Dan apa yang kamu lakukan sekarang tak lain hanya untuk melindungi Shasha agar terhindar dari jebakan itu. Aku berterima kasih bahwasannya kamu juga telah menyelamatkan Daniel." bisik Johan.


Mendengar penjelasan itu membuat Dion merasa ada yang sesuatu informasi yang ia lewatkan, segera ia berjalan ke sebuah kamar yang telah ia pesan yaitu tepat di depan kamar Rianda.


***


Saat ini Johan dan Daniel sedang berada di dalam mobil.


"Kenapa  lu  halangin gue buat pukul dia, Jo!" bentak Daniel.


"Lu harus berterima kasih sama dia."


"Berterima kasih, maksud lu?"


"Dia telah menyelamatkanmu dan Shasha dari jebakan ini."


"Jebakan apa?"


"Gue belum menyelidiki semuanya. Yang pasti apa lu gak merasa aneh mengapa Shasha tiba-tiba mengajakmu bertemu di sebuah hotel puncak. Lu tahu sendiri istrimu itu bukan tipe wanita ribet. Jika dia ingin mengajakmu bertemu maka ia akan meminta bertemu di sebuah cafe atau di taman."


"Lalu?"


"Yang gue tahu, sebenarnya kalian akan bertemu dengan Kak Erza di sebuah kamar nomor  369, namun tiba-tiba Dion dengan sengaja membius Shasha dan segera membawa Shasha ke sebuah kamar yang aku sendiri tak tahu kamar nomer berapa."


"Ya, tapi itu bukan Erza yang sebenarnya. Itu adalah Erza gadungan. Shasha sengaja dijebak agar menemui kakaknya di hotel ini bersama dengamu. Aku mendapat informasi ini dari mantan anak buahku yang sekarang bergabung dengan Dion."


"Siapa yang melakukannya?"


"Awalnya aku mengira ini kelakuan mantan pacarmu, tapi sepertinya bukan. Aku rasa ini kelakukan Medi, saudara kembar Asia."


"Istri Abra, mantan pacar Shasha?"


"Ya."


"Kenapa dia ingin mencelakai istriku dan aku? Bukannya dia sudah mendapatkan Abra?"


"Jangan bertanya terus, gue masih menyelidikinya."


"Artinya, aku harus berterima kasih dengan anak ingusan itu?"


"Ya,"


***


Di sebuah kamar Dion sedang merasakan pedih karena beberapa lukanya yang sedang di obati oleh Riko dan dokter pribadinya.


"Aduh ... aduh ...!" rintih Dion sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Baru begini saja sudah kesakitan." ledek Riko.


"Sudah tahu sakit kenapa pakai berantem!" ucap Ruben khawatir dengan beberapa luka memar yang ada pada pipi Dion. "Sepertinya orang yang memukulmu begitu marah padamu."


"Siapa yang bilang kesakitan, aku gak sakit." ucap Dion yang berusaha meyakinkan kedua sahabatnya itu.


"Bagaimana tidak marah suami mana yang rela istrinya direbut oleh orang lain? Apalagi orang lain itu sekelas Dion." ucap Riko enteng tapi memfilter kata-katanya.


"Kamu cinta sama bini orang?" tanya Ruben kaget.


"Apaan sih! Percaya banget sama kata-kata Riko!" jengkel Dion.


"Rumput tetangga memang hijau. Memang wanita mana sih yang sanggup bikin kamu jatuh cinta? Karena setahu aku, pacar satu-satumu hanya Shasha. Setelah itu aku gak pernah lihat kamu menjalin cinta." tutur Ruben.


"Ternyata dari dulu sampai sekarang kamu memang benar-benar mencintainya," ucap Riko lirih.


"Siapa? Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Ruben dengan penuh selidik.


"Wanita itu Shasha." ucap Dion lirih.


"Wanita yang sudah menikah itu Sha-sha? Sha-Sha mantan pacar mu waktu SMA dulu?"tanya Ruben heran


"Iya, siapa lagi?"


"Sha-sha? Bukannya kalian sudah selesai?" tanya Ruben yang merupakan teman satu sekolah Dion.


"Yang sudah selesai itu Shasha nya, kalau Dionnya sih masih lanjut gaspol cinta sama dia. Cinta mati!"


"Beneran Dion? Tapi gak heran sih kalau kamu sampai cinta mati sama dia. Dia cantik dan pintar. Tapi dia sudah bersuami lebih baik kamu simpan perasaanmu."


"Tidak, aku yakin dia tidak bahagia dengan pernikahannya dan aku yang akan membuatnya bahagia."


"Kamu lihat kan dia benar-benar sakit jiwa." tutur Riko.


"Dion ... Dion..., sepertinya kamu harus merubah cara pandang tentang cinta. Mencintai pasangan itu cukup segenap cinta bukan dengan segenap jiwa karena jika putus kamu akan sakit cinta bukan sakit jiwa." ucap Ruben.


"Kata-kata darimana itu Ben?"


"Dari ustad yang tempo hari aku hadiri acaranya saat aku mengikuti pengajian."


"Tuh, kamu dengar Ruben bilang. Move On dong Dion."


"Aku akan berhenti jika aku benar-benar melihatnya bahagia.


Mendengar ucapa Dion mereka berdua pun hanya bisa saling berpandangan dan menggelengkan kepala sambil menepuk kening masing-masing.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.


__ADS_2