
"Tapi helm saya diatas," ucap Shasha tanpa memperhatikan bahwa Daniel sudah menyiapkan helm untuknya.
Tanpa banyak bicara Daniel memasangkan helm ke kepala Shasha dan mengunci helm tersebut.
"Cepat naik!" bentak Daniel lirih agar tak terdengar bapak dan ibu kos Shasha.
Ini adalah pertama kali Shasha naik sebuah motor yang biasanya dia lihat di televisi.
Perlahan Daniel mengendarai motor tersebut, dirasa sudah keluar dari perumahan tempat kosan Shasha segera Daniel menancapkan gasnya hingga membuat badan Shasha terpental kedepan mengenai punggung Daniel.
"Mundur jaga jarak! kamu sengaja menggoda saya dengan membenturkan gunung kembar'mu ke saya!"
"Bukannya bapak tadi yang ngegas tiba-tiba!" gumam Shasha lirih.
"Kalau naek motor konsen jangan ngantuk!"
Mendengar Daniel bicara seakan dengan nada emosi sedari tadi membuat Shasha malas menanggapi. Karena saat ini yang ada dipikirannya kenapa harus naek motor jika memang pulang ke rumah. Biasanya dia selalu menggunakan kereta api atau bus. Dirinya sudah membayangkan betapa capeknya perjalanan dari Jakarta-Surabaya menggunakan motor.
Sepanjang perjalanan Shasha berfikir kenapa tiba-tiba ayahnya berubah pikiran menyuruh dirinya segera pulang malam ini juga. Shasha melewati sebuah apartemen elit.
"Pak, mau apa kita kesini?"
Daniel tak membalas pertanyaan Shasha. Daniel mulai memasuki parkiran apartemen.
"Bapak mau apa? jangan macam-macam ya pak!" bentak Shasha keras.
"Mulut bisa diam gak! saya sendiri gak akan mau sama kamu!"
Mendengar ucapan Daniel Shasha mulai diam dan mengikuti apa yang akan dilakukan Daniel. Meski dia dan Daniel akan menikah namun dia tak mau jika dirinya harus dinodai sebelum ada ikatan pernikahan. Dirinya sudah bersiap-siap apa yang akan dia lakukan.
"Turun, ikut aku!" perintah Daniel sambil berjalan.
Shasha mengikuti arah kemana Daniel berjalan tanpa bertanya. Daniel menuju lift dan sepertinya akan masuk kedalam sebuah salah satu kamar apartemen. Daniel memasukkan kode pintunya.
"Masuk!" perintah Daniel dingin.
"Lepas!" perintah Daniel lagi.
"Apanya yang dilepas pak?" tanya Shasha dengan suara bergetar.
Daniel yang mendengar pertanyaan Shasha merasa aneh, dia menduga bahwa Shasha tegang. Dengan wajah nakal Daniel mulai mendekati Shasha.
"Helm kamu lah masa bajumu!" bisik Daniel sambil melepaskan helm Shasha.
Seketika Shasha diam dan menelan ludah.
"Untuk apa kita kesini?" tanya Shasha memberanikan bertanya.
"Besok pagi kita berangkat."
"Tapi ayah memintaku berangkat malam ini." protes Shasha.
"Sudahlah kamu diam. Besok pagi-pagi kita berangkat. Cepat tidur!" perintah Daniel.
"Tapi pak ..." belum sempat melanjutkan ucapannya ponselnya berdering.
__ADS_1
Ayah : "Apa kamu sudah sampai?" tanya Ayah dengan suara khawatir.
Shasha : "Belum, Aku ... aku ada ..." belum sempat Shasha meneruskan bicaranya diambilnya ponsel Shasha dengan paksa.
Daniel : "Shasha sudah bersama saya pak. Besok pagi-pagi kita berangkat." tegas Daniel sambil melirik Shasha lalu berjalan menjauhi Shasha agar obrolan dirinya dan calon mertuanya itu tak terdengar. Tak lama kemudian Daniel kembali sambil menaruh ponsel di sofa dekat Shasha duduk.
"Ada apa sebenarnya?" sambil melihat Daniel yang duduk disebelahnya.
"Anak kecil gak perlu tahu. Cepat tidur." Daniel mulai berdiri meninggalkan Shasha dan masuk ke kamarnya.
'Ada apa sebenarnya?' Shasha berfikir sambil memejamkan mata dan membaringkan tubuhnya di sofa.
Pagi pukul tiga Shasha sudah terbangun dan sudah membuat sarapan pagi ala kadar yang tersedia di dalam kulkas, yaitu roti bakar serta kopi. Dan tepat pukul empat Daniel sudah bangun lengkap dengan pakaian necis melihat meja makan yang sudah tersedia kopi beserta roti bakar.
"Semoga pak Daniel suka. Kopi pembuka hati" gumam Shasha.
"Kopi pembuka hati? apa maksudnya?" dari belakang suara Daniel terdengar nyaring tepat ditelinga Shasha.
"O--oo maksud saya kopi ini buat buka hati pak."
"Hati siapa yang mau kamu buka?"
"Hati bapak biar bapak ..." jelas Shasha yang terhenti karena dipotong oleh Daniel.
"... sudah cepat mandi! jangan lama-lama lima menit selesai." potong Daniel kemudian memerintah Shasha. Setelah memerintah Shasha Daniel duduk dan tersenyum kecil melihat tingkah lucu Shasha yang menggemaskan.
"Dimana pak?" polos Shasha bertanya kepada Daniel yang kembali ke ruang pantry.
"Kamar mandi." ucap Daniel tanpa memperhatikan Shasha.
"Dikamar saaaayaaaa." ucap Daniel sambil memanjangkan kata-katanya dan melotot seakan elang yang hendak menerkam anak ayam.
"I---iya pak, permisi" jawab Shasha sambil berjalan cepat menuju kamar Daniel.
'Kenapa dia selalu seperti itu. Kadang jinak kadang galak' batin Shasha yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
Lima menit kemudian.
Daniel masih belum melihat Shasha keluar dari kamarnya. Dicoba untuk menunggu beberapa menit lagi dan kesabaran Daniel mulai habis, segera Daniel menuju ke kamarnya dan akan membuka gagang pintu namun pintu sudah mulai terbuka muncullah Shasha keluar dari dalam.
"Pas lima menit kan pak," sambil mengangkat kelima jarinya di depan Daniel hingga membuat Daniel diam tak jadi marah.
"Ayo!" Daniel berucap sambil berjalan ke luar diikuti Shasha.
Kini Daniel dan Shasha sudah berada di depan lobi yang sudah disambut oleh Jason yang keluar dari mobil membukakan pintu untuk Daniel.
Sedangkan Shasha yang sudah tahu segera duduk tepat disamping Jason.
"Sha, kenapa duduk disini? dibelakang saja." Jason berucap dengan suara lirih karena dia tahu bahwa Shasha adalah calon istri bosnya.
"Bukannya waktu itu pak Daniel menolak saya, jadi lebih aman disini saja." Shasha tersenyum.
"Son, ayo berangkat. Setengah jam harus sudah sampai." pinta Daniel tanpa melihat kearah Jason.
"Siap bos." ucap Jason sambil menancapkan gas.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Shasha dibuat berdoa setiap detik karena Jason mengendarai dengan kecepatan yang laju seakan mobil balap yang sedang beradu di sirkuit balapan.
Ciitttt .....(decitan ban terdengar begitu nyaring)
Jason keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil Daniel. Sedangkan Shasha yang masih lemas berusaha menyadarkan dirinya bahwa dirinya masih hidup dan selamat dalam perjalanan. Perlahan mulai turun dari mobil.
Shasha berjalan pelan mengikuti langkah Daniel dari belakang.
Daniel tak melihat keadaan Shasha sedangkan Jason bingung apakah perlu menolong atau tidak melihat Shasha yang sedang berjalan terhuyung karena dia tak berani menyentuh calon istri bosnya.
Kini Daniel dan Shasha yang sudah berada di dalam pesawat dan ini adalah perjalanan pertama mereka berdua menggunakan pesawat komersial. Perjalanan yang ditempuh hanya kurang lebih satu jam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Satu jam kemudian kini mereka berdua sudah berada di bandara Juanda. Disana mereka segera menuju sebuah tempat parkir. Shasha yang mengekor dibelakang Daniel berusaha berjalan cepat menyamakan langkah dengan Daniel.
Sebuah mobil Range Rover Sport berwarna merah berada tepat disamping Daniel. Diambil nya sebuah kunci dari dalam sakunya celananya. Melihat itu dengan sigap Shasha mulai membuka pintu dan duduk tepat disamping Daniel.
Seperti biasa tak ada obrolan di dalam mobil. Mereka berdua sibuk sendiri dengan pikiran masing-masing. Daniel yang konsen dijalan sambil sedikit memikirkan apakah benar wanita disampingnya adalah benar-benar calon istrinya bagaimana jika, bagaimana bila. Semua itu muncul di dalam benaknya.
Sedangkan Shasha yang tak terlalu pusing dengan perjodohan hanya dapat pasrah dan menurut karena dia yakin pilihan orang tua adalah yang terbaik. Justru sekarang dia sedang konsen mengotak-atik ponselnya.
Shasha : "Halo mi? sungguhan?" Shasha begitu terkejut dan tak percaya dengan ucapan lawan bicaranya yang ada diseberang.
Shasha : "Lalu teman-teman yang lain bagaimana?"
Shasha : "Syukurlah. Tapi kenapa hanya kamarku, mi? apa salahku ya mi? gak papa mi aku gak ada barang berharga. Yasudah mi terimakasih sudah bantu untuk beres-beres kamar Shasha. Mami makin cantik." rayu Shasha kepada ibu kosnya.
"Pak, kenapa berhenti?" tanya Shasha kepada Daniel karena tiba-tiba berhenti di pinggir tol.
"Capek." jawab singkat Daniel.
"Yasudah pak, jalan sebentar aja nanti ketemu rest area bapak istirahat dulu."
"Kamu kira saya supir pribadimu. Sedari tadi saya nyetir kamu kenapa diam dan sibuk dengan ponsel!" maki Daniel kepada Shasha.
"Saya takut ganggu konsentrasi bapak nyetir." Shasha berucap hati-hati karena dia tak ingin Daniel selalu emosi jika bicara dengannya.
"Ajak saya bicara, kamu mengerti!" hardik Daniel kepada Shasha.
"Baik pak." Shasha menjawab dengan lesu karena dirinya merasa apa yang dia lakukan selalu salah.
Setelah mendapat omelan dari Daniel beberapa saat kemudian Shasha mulai membuka pembicaraan.
"Pak, tempat kos saya dirampok." panik Shasha sambil melihat wajah Daniel.
....
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1