
"Lha, kan pas momennya."
”Apaan sih bang, momen apa lagi?”
"Sekarang Jum'at, kemarin berarti malam Jum’at."
"So?"
"Hari paling bagus buat bunuh setan."
"Sudah lah Bang, bisa tidak bicaranya yang logis. Dari tadi bunuh setan terus kita berdua gak paham."
"Abang, tolong kali ini Abang yang masak ya , Shasha benar-benar lelah tak enak badan."
"Siap ratu! yang penting ada persediaan di kulkas.
Shasha kini kembali ke ruang wardrobe untuk mengambil pakaian gantinya sebelum masuk ke kamar mandi dan menyiapkan pakaian kerja untuk Daniel. Setelah selesai mandi ia segera duduk di pantry menemani Johan yang sedang makan.
"Bang, Shasha gabung ya,"
"Ayo sini. Ini sudah Abang goreng ayam ukepnya. Enang banget Sha, coba kalau kamu jualan di Finlandia pasti banyak beli." ujar Johan sambil menghisap tulang ayam gurih menurutnya.
"Boleh-boleh, nanti kalau Shasha lulus dan belum dapat kerja Shasha ke sana aja ya Bang, Shasha mau dagang. Selain jual disana coba jualan ke Jepang juga bang, aku jualan penyetan disana pasti laris ya bang."
"Penyetan, apaan itu?"
"Pokoknya semua yang digoreng dicampur sambal terus di penyet." jelas Shasha.
"Apa gak ada nama lain Sha?"
"Gak ada Bang. Abang tau tidak, itu impian aku lho bang."
"Impian?"
"Iya, bisa buat orang kenyang karena masakan Shasha."
"Bagus-bagus, tapi Abang penasaran, sejak kapan kamu bisa masak?"
"Sejak jauh dari ayah bunda Shasa belajar masak, Bang."
"Hebat, Lho bukannya besok kamu wisuda ya?" Johan yang sedang enak-enaknya makan harus berhenti
"Ah masa, kata siapa?" Shasha berusaha tenang karena dirinya dan Daniel sudah membicarakan ini yang mana jelas-jelas Daniel tak akan datang di wisuda Shasha.
"Ia, kenapa jadi aku yang ingat kamu yang lupa."
"Gak Bang, terus kenapa sekarang kamu gak berangkat ke kampus?"
"Aku gak enak badan." jawab singkat Shasha lalu melanjutkan makan.
Tak lama berselang, Daniel menghampiri Shasha.
"Lima menit lagi temui saya di kamar, ada yang ingin saya bicarakan." bisik Daniel kepada Shasha hingga membuat Shashsa merasa kegelian.
__ADS_1
"Bisa tidak jika sedang aku gak usah mesra-mesraan gitu."
"Mesra apanya, geli yang ada." sambil berdiri menuju tempat cuci piring.
Selesai mencuci piring ia berjalan ke kamar untuk menemui Daniel.
"Iya pak?"
"Besok kamu wisuda kan, so malam ini aku berangkat bersama Johan."
"Oke."
"Selama aku tak ada akan ada seseorang yang menjagamu. Dan tenang tak akan ada gelap lagi, karena sebentar lagi akan ada barang datang yang akan menemanimu dalam kegelapan."
"Apa itu?"
"Kamu lihat sendiri. Aku mau mandi siapkan baju yang akan aku bawa selama aku ke Korea."
"Berapa hari bapak disana?"
"Terserah saya."
"Apa saya boleh ajak sahabat menginap disini?"
"Kamu pikir ..." belum sempat Daniel melanjutkan kalimatnya segera Shasha menyela.
"Iya pak, gak usah. Gak usah dilanjutin bicaranya." sambil meninggalkan Daniel yang terbengong karena Shasha yang sudah berani memotong pembicaraannya.
Shasha yang berjalan keluar dari kamar masih melihat Johan yang duduk sambil makan dan menyesapi tulang ayam.
"Asli Sha, ini luar biasa. Kalau sudah sehat tolong buatin ayam kayak begini ya. Mau gue jadikan oleh-oleh buat mama, papa dan Alea."
"Wuih, di ekspor ceritanya?"
"Iyalah, kita ada restoran Indonesia disana. Abang yakin lidah mereka gak jauh beda dengan lidah kamu."
"Oke siap."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah Daniel dan Johan berangkat kini Shasha sendirian di apartemen. Ia segera keluar untuk menjemput kedua orang tuanya di stasiun. Shasha pergi menggunakan transportasi umum karena ia malas memesan ojek online.
Kini Shasha telah berada di stasiun. Seperti biasa sambil menunggu kedua orangtuanya ia menghabiskan waktunya dengan membaca novel online di aplikasi kesayangannya. Shasha begitu mendalami dan terbuai dalam alur cerita novel yang ia baca hingga dirinya tersenyum dan jengkel sendiri. Ia tak menyadari bahwa kereta api kedua orangtuanya telah sampai. Pak Idris dan Sally berjalan mencari keberadaan Shasha di ruang tunggu dan ia melihat sesosok gadis yang sedang tersenyum dan sesekali cemberut.
Di dekatinya gadis tersebut, dan Shasha pun kaget ia tak menyangka bahwa kedua orangtuanya telah tiba. Shasha segera mencium tangan mereka berdua. Selesai bersalaman Shasha mengajak keduanya untuk pergi menggunakan alat transportasi umum. Dalam perjalanan kedua orangtuanya tak henti-hentinya selalu melepas senyum saat melihat Shasha.
"Ayah Bunda, kenapa?" tanya Shasha.
"Ayah tak menyangka bahwa anak terakhir ayah sekarang bukan lagi gadis melainkan seorang wanita muda yang sudah bersuami."
"Oia, kemana suamimu?" tanya pak Idris.
"Oia, mas Daniel memberitahuku agar aku menyampaikan permintaan maaf karena tak dapat menjemput."
__ADS_1
"Iya gak papa. Kita tahu bahwa suamimu itu sibuk." ujar Sally.
"Bukan bunda, bukan sibuk. Mas Daniel tadi pagi berangkat ke Korea, ada urusan pekerjaan yang tak dapat diwakilkan." jelas Shasha bohong.
"Tak apa Sha, kami berdua tak masalah."
"Iya, Shasha juga. Lagian ini kan wisuda Shasha cukup ada bunda dan ayah saja aku sudah bahagia."
Tak terasa kini mereka sudah di depan hotel. Segera Shasha menemui resepsionis hotel untuk check in, dirinya tak perlu memesan karena Daniel sudah memesankan semuanya.
"Sha, gak salah kita berada di kamar hotel sebesar ini"? Sally berucap sambil mengagumi semua barang-barang yang ada di setiap sudut ruangan.
"Shasha, jangan terlalu menghamburkan uang." nasehat pak Idris.
"Ayah, Bunda. Mas Daniel yang memesankan. Shasha hanya menjalankan amanah perintah saja."
"Jika suamimu yasuda, ayah dan bunda takut jika kamu terlalu boros akan membuat suamimu jengkel."
Mendengar itu Shasha hanya tersenyum menanggapinya.
Shasha tidur disini saja ya dengan kalian. Daripada harus sendiri disana.
"Boleh, mana yang membuatmu nyaman dan tenang saja, Nak." ucap Sally sambil memegang rambut anak kesayangannya itu.
Kini malam telah tiba. Shasha memutuskan untuk segera istirahat karena besok pagi ia harus di make up untuk acara wisuda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari.
Terdengar suara ketukan pintu. Shasha tahu bahwa itu adalah MUA yang dipesankan Daniel untuk dirinya.
"Bapak, meski kamu tak hadir tapi kamu cukup membantu." Shasha terkekeh.
"Mbak, mau yang bagaiamana?"
"Yang flawless ya mbak."
"Oke siap. Dari permintaan mbak saya sudah tahu bahwasannya mbak tak terlalu suka yang tebal."
"Hihihihi, betul 100 buat mbak, dan 1000 buat saya."
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam kini Shasha sudah berubah cantik, lengkap dengan kebaya dan make up naturalnya
"Waw, saya kagum sama mbak. Asli cantik banget. Andai saja lelaki pasti saya sudah naksir sama mbak."
"Hemmm, bisa saja. Ini kan karena tangan ajaib mbak. Jika bukan mbak yang make up maka saya tak akan secantik ini." puji Shashsa.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak